Fake Love

Fake Love
Berita Duka


__ADS_3

Kesepakatan perjanjian kedua pimpinan dari BAZ Express dan Aksara grup berakhir dengan kesepakatan kerja sama antara kedua perusahaan tersebut.


Abbas El Amin yang merupakan pimpinan dari BAZ Express setuju dengan samua anggaran yang di rincikan oleh pihak pengelolaan pembangunan.


Aksara grup yang bernaung dalam dunia bisnis sudah sejak lama telah membangun puluhan bahkan ratusan gedung-gedung tinggi di Indonesia bahkan sampai ke mancanegara. Yayasan pendiri tempat ibadah yang ia lakukan saat ini pun tak lepas dari hasil pembangunan yang dilakukan oleh perusahaan yang Galen pimpin saat ini.


"Beritahu Pak Abbas kalau saya tidak jadi meminjau tempat di Surabaya hari ini," titahnya pada Aldo.


"Siap Tuan!" Aldo segera menghubungi Rio, asisten dari Abbas. Cukup lama Aldo berbicara dengan Rio melalui sambungan telepon. Sedangkan Galen terlihat begitu serius dengan laptop di hadapannya.


Pemimpin dari Aksara grup itu ingin segera menyelesaikan pekerjaannya karena sore ini dia sudah berjanji kepada istri tercintanya untuk makan malam berdua. Kegiatan yang selalu ia lakukan setiap minggunya. Waktu berdua dengan sang istri karena Baby Zayn ada Amih Winda yang menemaninya malam ini.


Galen menyempatkan menghubungi Aline disela kesibukannya pagi ini.


"Sayang...." sapa Galen dari seberang telepon.


"Hm...," balas Aline parau karena saat pagi ini Aline masih berada di tempat tidurnya. sedang memberi asi pada Baby Zayn.


"Jangan lupa nanti sore, Mas jemput. Seperti biasa," lanjut Galen dengan suara menggoda.


"Iya, Mas! Aku sudah tahu, sudah dulu ya. Baby Zayn lagi mimi asi. Jadi susah kalau sambil pegang ponsel , direbut terus sama dia!" Aline sedikit menjauhkan ponsel karena Baby Zayn mengulurkan tangannya hendak merebut ponsel tersebut.


"Mana Baby Zayn nya Daddy? video call, Yang!" titahnya pada Aline.


"Hai... Boy!" panggil Galen pada Baby Zayn.


Plup...


Bayi montok berusia tiga bulan itu seketika melepas cepat ****** mimi tempat keluarnya asi yang bersumber pada gunung kembar Aline. Mencari sumber suara yang memanggil namanya.


"Aw... Zayn... Pelan Sayang," ujar Aline seraya menahan cairan yang muncrat dari gunung kembarnya yang hendak mengenai wajah Baby Zayn.


Aline lekas membungkus sesuatu yang indah itu.


"Daddy di sini, Sayang!" Galen kembali memanggil Zayn.


"Hai... Boy! Jagoan Daddy kuat sekali mimi asinya. Daddy bagi dong!" ocehnya kepada Baby Zayn.


Baby Zayn yang masih belum bisa bicara itu hanya menegaskan penglihatannya ke layar ponsel yang diarahkan oleh Aline kepadanya.


Baby Zayn mengoceh layaknya suara bayi yang berceloteh. Baby montok itu sudah sangat mengenal suara daddy nya bahkan melihat wajah Galen saja, baby Zayn langsung tersenyum.


Tangan dan kaki baby Zayn digerakkan seakan ingin minta di gendong oleh Galen.


"Oh... Boy... Kamu gemesin banget sih! Bikin daddy mau cepet-cepet pulang saja!" oceh Galen saat mendapat sambutan dari Baby Zayn yang merespon dirinya dari video call.


"Dia sudah sangat hapal dengan suara dan wajahmu, Mas!" ucap Aline tapa mengalihkan sambungan video call dari hadapan Baby Zayn.


"Ya... karena baby Zayn selalu bersamaku! Dan waktu kita berdua jadi berkurang. Makanya nanti sore dandan yang cantik, kita pergi menghabiskan waktu berdua. Aku ada kejutan baru untukmu!" ucap Galen sambil terus mengajak baby Zayn bercanda tanpa suara hanya wajah Galen yang di buat selucu mungkin agar baby Zayn tertawa meresponnya.


"Jangan bilang kamu membelikan lagi baju dinas untukku, Mas!" sahut Aline.


"Hahaha... Kamu pintar sekali, Yang! Kali ini model keluarnya terbaru. Kamu pasti suka," sambung Galen. Ia sangat senang saat lelucon wajah yang ia tunjukkan membuat baby Zayn terus tertawa.

__ADS_1


"Bukan aku yang suka. Tapi Mas!" balas Aline.


"Aku malah lebih suka kamu tidak memakai baju saat bersamaku," celetuk Galen.


"Mas... kalau ngomong ya di filter dong, ada Zayn loh!" Aline mengalihkan layar ponsel kepadanya. Matanya melotot pada Galen. Suaminya itu hanya menyengir membalasnya.


"Maaf, Yang!" Tatapan Galen beralih kepada Aldo yang memberinya sedikit isyarat. "Yang... Sudah dulu ya, jangan lupa nanti sore. Ok!"


"Ya, Mas."


"Love you... Sayang!"


"Love you to... Mas!"


Sambungan video call pun terputus.


"Kenapa, Do!" tanya Galen kepada Aldo.


"Asisten Tuan Abbas menunda pertemuan dengan pihak kita nanti siang, Tuan!"


"Alasannya?"


"Tuan Abbas sedang melakukan pernikahan dadakan!" tutur Aldo membuat Galen menghentikan antensi dari laptopnya.


"Pernikahan dadakan?" Galen sedikit terkejut. "Apa yang terjadi, bukannya dia bilang akan melamar pujaan hati kenapa jadi menikahinya? Apa Abbas di grebek warga sampai dia dinikahkan secara mendadak?" tebak Galen dengan segala pemikirannya.


Aldo hanya mengangkat bahu merespon pertanyaan bosnya. "Asistennya sama sekali tidak memberikan alasanya, Tuan!" lanjut Aldo.


Aldo memasang muka masam serba salah memberi jawaban kepada Galen. Padahal tadinya bertanya dan Aldo menjawab dengan apa adanya.


Abbas dan Galen telah menjalin hubungan baik semenjak kerjasama mereka terjalin. Mereka berdua seumuran sehingga membuat Galen dan Abbas lebih cepat dan gampang berinteraksi melanjutkan perkenalan mereka menjadi berteman baik.


"Tapi kamu bilang aku menunda kepergianku ke Surabaya hari ini?"


"Sudah, Tuan."


"Bagus... Do, tolong kamu cek beberapa proposal dari yayasan perusahaan. Pembangunan masjid di daerah Cianjur bukannya sudah mulai terealisasikan?"


Galen membuka berkas proposal rincian biaya pembangunan masjid.


"Bukannya minggu depan Tuan Wijaya yang akan meninjau pembangunannya ke sana, Tuan?" Aldo memberitahu.


"Benarkah? Syukurlah kalau begitu karena saya lihat jadwalnya tidak sesuai dengan agenda saya. Benarkan?"


Aldo mengangguk untuk membenarkan karena jadwal peninjauan ke Cianjur bentrok dengan jadwal kerja Galen dengan perusahaan lain.


"Ada satu lagi yang harus saya beritahu, Tuan!" sambung Aldo


"Apalagi, Do!"


"Non Kartika akan sampai besok pagi di Indonesia," ucap Aldo membuat Galen tersenyum kecil.


"Anak itu kenapa tidak memberitahuku!"

__ADS_1


"Tadi Non Kartika menghubungi Tuan, tapi ponsel Tuan sedang sibuk. Jadi dia menghubungiku.


"Oh... Apa saat sambungan telepon tadi dia menghubungiku," pikir Galen.


"Sepertinya, Tuan."


"Biarlah! besok juga dia pasti langsung ke rumah tidak sabar bertemu dengan Baby Zayn." Bara kembali dengan fokus pada pekerjaannya.


Galen kembali fokus pada pekerjaannya. Hari ini hanya ada rapat dengan pihak investor. Jadi kegiatan Galen tidak kelaur dari gedung perusahaan. Cukup meneliti dan memeriksa beberapa berkas yang harus ia tanda tangani.


Ia harus lebih teliti sebelum menanda tangani sebuah catatan penting. Ia tidak mau cerita dari Abbas bahwa seseorang pernah terjebak karena ia tidak teliti dalam menanda tangani sebuah berkas penting. Menyebabkan orang itu harus menanggung kesalahan dari perbuatan yang tidak pernah ia lakuakn.


Sebab kita tidak tahu, sifat dan niat orang lain. Entah itu orang terdekat atau seseorang yang tidak senang kepada kita.


Jadi seorang pemimpin harus lebih teliti dalam hal apapun karena satu kesalahan saja bisa membuat semuanya kacau.


Tok...Tok... Tok....


Aldo yang sedang memeriksa beberapa pekerjaan di laptop lekas berdiri saat mendengar ketukan pada pintu ruangan Galen.


Galen yang duduk di kursi kebesarannya hanya melirik sesaat kemudian kembali fokus dengan pekerjaannya.


Aldo baru saja membuka pintu, seseorang lalu berbisik kepada Aldo. Ia membisikan sebuah berita keoada asisten Galen itu.


"Baik, akan saya sampaikan kepada Tuan Alex. Terima kasih informasinya." Aldo kembali menutup pintu lalu berjalan mendekati Galen.


"Permisi, Tuan!" Aldo menyela pekerjaan Galen.


"Ada apa lagi, Do?"


"Ada berita duka dari Bu Sarah. Beliau meninggal dunia!" ucap Aldo sontak membuat Galen menghentikan pekerjaanya.


"Inalilahi Wainalillahi Rojiun... Kapan meninggalnya?"


"Tadi pukul tujuh pagi, Tuan! Tapi seseorang menelpon ke kantor ini menanyakan keberadaan Sandra."


"Sandra?"


Aldo menganguk pelan.


.


.


.


Baca kelanjutan ceritanya yak....


Sandra sedang otw.. Duh apa yang terjadi sama Bu Sarah. Padahal Sandra sudah dapat uang buat operasi besok.


Sabar ya Sandra....


"

__ADS_1


__ADS_2