
Aline dan Ayah Zaki tiba di Rumah Sakit Soedibyo menggunakan sepeda Motor gigi tipe PesonaX, motor gigi jaman dulu. Sepeda motor kesayangan Ayah Zaki yang dikendarainya itu masih terlihat mulus dan rapi karena perawatan rutin. Menurutnya kendaraan bermotor itu adalah saksi hidupnya. Jadi, meskipun sekarang keadaan sudah merubah kehidupannya, Ayah Zaki akan selalu menggunakannya di saat tertentu seperti sekarang ini.
"Maaf ya, Nak! kamu pasti kepanasan naik si giron," ucap Ayah Zaki saat Aline membuka helmnya.
Giron adalah sebutan untuk motor gigi Ayah Zaki. Singkatan dari Gigi Rontok, diberi nama itu karena pernah mengalami gigi rontok saat motor itu melaju membuat kepanikan Aline saat itu. Aline menyebut giron untuk motor Ayahnya.
"Gak pa-pa, Yah!" Aline merapikan rambut dengan ikat rambut lalu mengikatnya asal.
Tak lupa ia mengeluarkan Kacamata besar miliknya. Mungkin dengan berpenampilan seperti dulu, anak buah dari Tuan Wijaya tidak akan mengenalinya.
"Mari kita masuk!" ajak Ayah Zaki seraya merengkuh pundak Aline sambil berjalan.
Saat akan melewati anak buah Tuan Wijaya yang berada di pintu masuk rumah sakit, kedua pria berseragam itu meneliti wajah Aline. Ayah Zaki marah melihatnya.
"Apa-apa kalian, melihat putri saya seperti itu!" bentak Ayah Zaki.
"Maaf, Pak! saya hanya bertugas menghalangi seseorang agar tidak lolos masuk ke dalam rumah sakit ini," ucap salah satu anak buah Tuan Wijaya.
"Saya salah satu keluarga dari pemilik rumah sakit ini, kalian jangan macam-macam." berang Ayah Zaki lagi dengan suara membentak.
"Maaf, Pak. Maaf ... silakan masuk!" Kedua anak buah Tuan Wijaya memberi hormat dengan sedikit menunduk dan meminta maaf kepada Aline dan Ayah Zaki lalu memberi mereka berdua jalan agar bisa melewati penjagaan.
Ayah Zaki dan Aline memasuki loby. Aline tersenyum senang saat melewati penjagaan itu, unjuk jempol diberikannya kepada sang Ayah yang pandai berakting mode galak di hadapan mereka.
"Wah ..., Ayah hebat banget sih aktingnya! jago mengelabui mereka juga. Tapi Yah, penjagaan masih ada di lantai atas di mana ruangan Galen berada," ucap Aline pelan takut obrolannya terdengar orang lain.
Sore itu, di ruangan ICU khusus keluarga Wijaya, hanya ada Tomy yang menemani Galen. Kondisinya masih sama hanya sesekali memberikan respon melalui gerakan tangan.
Aline dan Ayah Zaki tiba di lantai delapan, dimana ruang ICU itu berada. Penjagaan ketat masih harus dilewati mereka berdua. Dua orang berbadan tinggi tegap dengan serius mengintrogasi Ayah Zaki.
"Mohon maaf, bisa saya lihat kartu identitas Anda, Pak?" tanya salah satu pria berbadan tegap itu.
__ADS_1
"Saya Kan tadi sudah bilang, Saya keluarga dari Tuan Wijaya. Kenapa harus menunjukkan identitas segala," geram Ayah Zaki.
Aline merasa sedikit khawatir kalau usaha mereka kali ini akan smaa seperti sebelumnya, gagal tanpa hasil.
Ayah Zaki masih berdebat dengan dua orang penjaga. Dari dalam ruang tunggu, Tomy yang baru saja mendapat kabar dari Tuan Wijaya agar menemani Galen sampai Bara, kakak tiri dari Tuan mudanya itu datang menggantikannya.
Tuan Wijaya sedang mengantarkan Oma Ratih yang bersikukuh ingin menemui Bella wanita yang dulu sangat diharapkan Galen. Dari kabar yang didapatnya, keberadaan wanita itu tidak lagi berada di negara N, tetapi berada di daerah Bekasi. Tempat orang tuanya berada.
Oma Ratih berpikir mungkin dengan hadirnya Bella bisa membantu Kesadaran Galen. Oma Ratih sama sekali tidak mengetahui kedekatan Galen bersama Aline selama ini. Sikap Galen jadi lebih tertutup perihal perasaannya setelah kepergian Bella ke luar negeri satu tahun lalu.
Perdebatan masih terus berlanjut. Aline meninggalkan mereka yang masih berdebat. Ayah Zaki kekeuh tak mau mengeluarkan identitas nya. Tomy yang mendengar perdebatan itu keluar dari ruang tunggu. Berpapasan dengan suster yang akan memeriksa kondisi Galen.
Suster tersebut mengangguk sopan dibalas dengan gerakan yang sama oleh Tomy. lekas masuk ke dalam ruang ICU untuk memeriksa Galen. Sedangkan langkah asisten Tuan Wijaya itu mengarah ke arah perdebatan yang ia lihat tak jauh dari ruang ICU.
“Sepertinya Saya kenal orang itu,” batin Tomy seraya mendekat ke arah mereka.
"Pak Zaki! benarkan, Anda Pak Zaki?" panggil Tomy membuat Ayah Zaki terkejut.
Saat berhadapan dengan Tomy, Ayah Zaki terlihat gugup. Beliau khawatir Anggara Wijaya berada di sana.
"Tomy ..., apa kabar?" Ayah Zaki mengulurkan tangan untuk berjabat tangan.
"Kabar Saya baik, Pak! Sudah lama sekali kita tidak bertemu, Pak? Tuan Wijaya pasti sangat senang berjumpa dengan Anda. Tapi sayang Beliau sedang tidak ada di sini sekarang!" keluh Tomy seraya melepaskan jabatan tangannya.
Ayah Zaki tersenyum kecut mendengarnya.
"Syukurlah Anggara tidak ada di sini,” batin Ayah Zaki.
"Dia adalah sahabat Tuan Wijaya, jadi kalian kembalilah berjaga," titah Tomy kepada para penjaga suruhannya.
Dua orang bertubuh tegap itu mengikuti perintah asistennya. Setelah mendengar penjelasan dari Tomy, para penjaga itu kembali ke tempat di mana seharusnya mereka berjaga.
__ADS_1
Aline berjalan cepat ke ruang ICU Ayah Zaki terlihat berusaha menahan Tomy dan mengajaknya berbicara untuk memperlambat waktu.
"Bagaimana kalau kita duduk sebentar di sana!" ajak Ayah Zaki menunjuk bangku besi di depan ruang tunggu.
Tomy mengikuti ajakan Ayah Zaki, karena memang sudah lama dirinya di perintahkan mencari Pak Zaki oleh Tuan Wijaya.
Aline menoleh ke arah Ayahnya dan asisten dari Tuan Wijaya itu. Ia merasa aneh dengan sikap Auah Zaki.
“Kenapa Ayah terlihat akrab sekali? Apa mereka saling kenal?” batin Aline.
Aline mengangkat bahu. “ Huh ... terserah merekalah!” Aline terus melangkah mendekati ruang ICU.
Suster yang baru saja keluar dari ruangan itu berpapasan dengannya merasa baru melihat dirinya setelah satu minggu lebih Tuan muda Alex di rawat di sini.
“Permisi, Sus!” sapa Aline saat suster itu keluar dari ruangan ICU.
Suster itu menghentikan langkahnya lalu mengangguk pelan ke arah Aline.
“Kenapa, Mbak?”. tanya Suster kearah Aline.
“Saya boleh masuk menjenguk? Saya saudara dari Tuan muda,” ucap Aline ragu. Ia takut Suster itu merasa curiga kepadanya.
Suster mengalihkan pandangannya ke arah Tomy, ingin meminta persetujuannya. Dilihatnya asisten yang mengambil kuasa penuh penjagaan itu sedang mengobrol bersama Pria yang datang bersama wanita di hadapannya ini. Tanpa ragu suster itu memperbolehkan Aline masuk ke dalam ruangan.
“Sepertinya memang saudara dari Tuan Wijaya. Tuan Tomy juga terlihat akrab sekali dengan pria itu,” batin suster jaga.
“Silakan, Mbak! Tapi tolong agar tidak mengganggu kenyamanan pasien,”
Aline mengangguk lalu tersenyum bahagia. Dengan perlahan gadis itu membuka pintu lalu masuk kedalam ruangan ICU, sebelumnya Ia harus berganti pakaian khusus saat berada di dalam nanti. Hatinya berdebar, rasa senang sedih bercampur saat ini. Perasaan rindu yang beberapa hari ini dipendam akan tercurahkan.
“Gal ... Aku datang!” Aline berucap dalam hati. memantapkan hati dan raganya untuk mengetahui kondisi Galen saat ini.
__ADS_1
bersambung