
Tuan Wijaya seperti devaju dengan peristiwa seperti ini. Ia teringat dengan Almarhumah istri tercintanya yang selalu terkenang. Menunggu seseorang yang berharga dalam hidupnya, Putra dari mendiang Istrinya harus berjuang untuk hidup di dalam ruangan operasi.
Di dalam sana Galen harus berjuang. Oma Ratih dan Ruang Wijaya tak hentinya berdoa agar Galen bisa kuat melewatinya.
Papa dari pria yang kini sedang di operasi itu akan melakukan apapun kali ini. Bahkan untuk bersujud di kaki seseorang yang teramat terluka hatinya karena fitnah darinya pun ia bersedia. Dia tidak mau kehilangan lagi seseorang yang teramat ia sayangi.
Sikap dingin dan angkuh yang selama ini ia tunjukan hanga ia jadikan untuk menutupi rasa bersalahnya kerapuhan hatinya.
Berbeda dengan Tuan Wijaya dan Oma Ratih yang tengah diliputi rasa cemas dan khawatir. Nyonya Mariska lebih memilih menghindar dengan dua orang itu.
Wanita itu pamit kepada Tuan Wijaya karena merasa bosan di sana. Seperti biasa Tuan Wijaya pun acuh dan tidak memperdulikan istrinya itu.
"Ck ... percuma ijin, jawabannya pasti sama, terserah ...," geritu Nyonya Mariska seraya terus melangkahkan kakinya meninggalkan ketegangan di depan ruang operasi.
Setibanya di loby rumah sakit, Wanita itu masuk ke dalam taksi online yang sudah di pesan sebelumnya. Wanita itu pun sudah mengatur pertemuannya dengan Seno, lelaki yang sudah tiga tahun ini berhubungan dengannya di belakang Tuan Wijaya.
"Daripada jenuh nungguin operasi tuh bocah, mending shoping dulu. Ochard road ya pak," titahnya pada supir taxi online.
Nyonya Mariska sibuk dengan ponselnya. Melihat apakah ada pesan balasan dari Seno. Beberapa hari harus menemani suaminya, ia harus berpisah dengan selingkuhan nya itu.
Nyonya Mariska biasa bertemu setiap hari setelah kepergian Tuan Wijaya ke kantor. Kebutuhan batin yang jarang ia dapatkan dari Tuan Wijaya bisa ia dapatkan dari Seno.
Ochard Road adalah pusat ritel di Singapura, dengan outlet yang memberikan diskon, department store, dan butik kelas atas, hidangan kelas dunia, dan pusat perbelanjaan berada di sana. Di samping nya pun terdapat hotel-hotel mewah. Oleh karena itu Ochard Road terkenal sebagai syurga bagi para pecinta belanja.
Sungguh keberuntungan untuk Nyonya Mariska bisa ikut menemani Tuan Wijaya ke negara ini. Salah satu hobinya berbelanja barang antik dan mewah setelah menjadi istri satu-satunya Tuan Wijaya itu pun bisa ia lakukan saat ini. Di tambah Pria yang selalu membuatnya tebang ke nirwana dan memberikan kepuasan itu menyusulnya ke negara itu. Semua atas perintah Nyonya Mariska.
"Honey ... Aku sudah sampai! kamu di mana?" sapa Seno dari sebrang telpon.
"Benarkah? Wah ... Aku senang sekali mendengarnya! tunggu ya, sebentar lagi Aku juga sampai. Kangen banget sama kamu, Beb!" Nyonya Mariska berucap manja.
Nyonya Mariska sengaja menggunakan Taxi online saat ini, padahal ada supir pribadi Tuan Wijaya di sana. Jika menggunakan jasa supir Tuan Wijaya, wanita itu tidak bisa bertemu dengan Seno. Tanpa ia sadari salah satu anak buah Tuan Wijaya mengikutinya sesuai perintah Tomy.
...🌱🌱🌱...
Tiga buah paper bag berisi barang barang mewah tergantung di tangan kiri Seno. Tangan kanannya merangkul pinggang dari tubuh seksi wanita yang usianya tidak muda lagi itu. Sesekali pria yang menjadi selingkuhan Nyonya Mariska itu menciumi tekuk lehernya .
__ADS_1
"Sabar dong, Beb! jangan di sini malu di lihat orang." Nyonya Mariska menahan Seno agar tidak berlebih dalam mencumbunya di depan umum.
Usai berbelanja mereka berdua pergi ke kamar hotel mewah yang letaknya tak jauh dari pusat perbelanjaan itu.
Salah satu orang suruhan Tomy yang diperintahkan membuntuti istri dari bosnya itu melaporkan keberadaan Nyonya Mariska bersama seorang laki-laki yang sama dengan di Indonesia kepada Tomy.
Keberadaan Tomy yang saat ini bersama Tuan Wijaya langsung membisikkan berita tersebut kepada beliau.
Tuan Wijaya menyeringai mendengarnya. "Berani sekali mereka bermain api di belakangku. Biarkan mereka bersenang-senang dulu, awasi terus! biar Saya yang akan beri penghianat itu pelajaran," ucap Tuan Wijaya pelan namun tegas. Dia tidak mau Oma Ratih terganggu olehnya.
Mereka masih menunggu di ruang operasi.
Lampu indikator yang berada di atas pintu ruangan itu otomatis padam, menandakan usainya tindakan operasi di dalam ruangan tersebut.
Oma Ratih begitu antusias saat mengetahui operasi itu selesai. Beliau lekas berdiri di depan pinjm berharap dokter memberikan kabar terbaik untuknya.
Ceklek
pintu ruangan tersebut terbuka. Dokter yang memakai baju hijau dengan penutup kepala itu muncul di balik pintu. Seragam yang biasa dipakak saat operasi.
"Operasinya berhasil Nyonya, cairan yang menumpuk di belakang kepala sudah bisa dikeluarkan. Kita tinggal menunggu pasien sadar agar dapat melihat apakah ada akibat dari operasi yang sudah di jalani saat ini." Dokter menjelaskan dengan detail tapi tak membuat Oma Ratih sedikitpun lega mendengarnya.
"Berapa lama dia akan sadar, Dok?" Oma Ratih kembali bertanya. Tuan Wijaya berdiri menghampiri Oma Ratih. Merangkul kedua bahu lalu mengusap pelan pundaknya seakan memberikan ketenangan di sana.
"Saya tidak bisa memprediksikan waktu untuk itu! Kita berdoa saja, semoga cucu Anda bisa cepat sadar."
"Untuk sekarang ini, pasien tidak boleh di jenguk dulu. tunggu kondisinya stabil pasca operasi. Setelah itu anda bisa melihatnya sesuai peraturan yang berlaku di rumah sakit ini, Nyonya! Saya permisi! masih ada beberapa pasien yang harus saya tangani, Sabar ya, Nyonya!" Dokter itu meneouk pelan pundak Oma lalu berjalan menuju ruangan prakteknya.
Oma Ratih menggelengkan kepala mendengar penuturan Dokter Bedah Syaraf yang menangani operasi Galen.
"Sabar, Mah!" Tuan Wijaya kembali memberi kekuatan. Padahal perasaan juga rapuh melihat putra kandungnya dari balik jendela kaca yang memperlihatkan kondisinya saat ini.
"Tapi, Gar! Oma gak akan sanggup kalau Galen kenapa-napa. Kenapa ini semua terjadi kepadanya?" Oma Ratih kepalanya di dada bidang Tuan Wijaya.
Setetets air mata mengalir di pipi Tuan Wijaya. Sesuatu yang ia tahan sedari tadi agar tidak menangis akhirnya tak bisa ia bendung. Buliran air mata terus menentes, Ia usap perlahan. Kemudian dipeluknya tubuh wanita tua yang kini bersandar di dadanya.
__ADS_1
Mereka saling memberikan kekuatan. Doa tak henti mereka panjatkan untuk Galen. Sama seperti gadis yang kini berada di dalam kamar.
Oma Ratih meregangkan pelukannya. Ia teringat dengan kejadian Galen yang sempat mengalami koma bebapa waktu lalu. oma teringat bahwa Aline lah yang membuat Galen tersadar. Dia berpikir mungkin saja kali pun akan sama.
"Jemput Aline ke sini, Gar! mungkin saja dengan kedatangan dia, bisa membantu Galen cepat sadar! Oma mohon luluhkan hati Zaki, kalian adalah sahabat jangan karena keegoisan. Anak kalian jadi korbannya." Oma Ratih kembali menatap Galen dari luar ruangan yang berlapis kaca.
"Saya akan berusaha, Mah! Saya akan kembali ke tanah air , harusnya masalah ini selesai dari dulu. Hanya ego dan kesibukan ku yang mengulurnya sampai sekarang."
"Segeralah, Aline bilang Ayahnya sudah mulai luluh mendengar penjelasan Aline, tinggal kamu yang berusaha," ucap Oma Ratih tanpa memandang lawan bicaranya.
"Baik, Mah! Saya akan selesaikan satu urusan dulu di sini! setelah itu saya akan bertolak pulang ke Indonesia. Kabari Gara terus tentang kondisi Galen. Terima kasih banyak sudah begitu menyayangi Galen.
"Kamu ini bicara apa? sudah sepantasnya Oma seperti ini. Kalian adalah anak dan cucu Oma."
Tatapan Oma Ratih dan Tuan Wijaya mengarah ke arah yang sama, tapi tidak dengan pemikiran mereka. Keduanya termenung dengan pemikiran mereka masing-masing.
...🌱🌱🌱...
Aline duduk diatas tempat tidur miliknya seraya memegang Figura kemudian dipeluknya erat figura yang menampilkan gambar dirinya dan Galen.
Mereka berselfi dengan mimik wajah jelek. Aline mengembangkan pipinya sedangkan Galen memiringkan kedua bola matanya. Kenangan saat ia bersama di sebuah taman kota.
Setiap melihat foto itu rasa kangen Aline sedikit terobati. Keceriaan dan sifat jahil Galen terhadap Aline meninggalkan kenangan tersendiri untuknya.
Aline duduk bersila seraya memejamkan mata. Tangan kiri memegangi figura sedangkan tangan kanannya menggenggam liontin dari kalung pemberian Galen.
"Aku kangen, Gal." ucapnya sendu.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung