Fake Love

Fake Love
Kehangatan Galen


__ADS_3

Sesampainya di parkiran Galen terdiam sesaat. Rasa pusing dan mual akibat minuman beralkohol yang ia minum masih terasa. Galen berpikir harus segera pulang. Aline pasti menunggunya.


Kamu pasti menungguku, Sayang! Aku harus segera pulang.


Batin Galen tidak peduli dengan keadaannya saat ini, lebih baik Aline mengetahui keadaan yang sebenarnya daripada ia menghindar malam ini dari Aline.


Galen sedikit terhuyung ketika sampai di dekat mobil. Sandra yang ada di belakangnya sigap menopang tubuh Galen yang hampir terjatuh.


"Kamu tidak apa-apa, Gal?" tanya Sandra khawatir.


Galen menggeleng pelan. Padahal keadaanya saat ini terlihat jelas lemahdengan wajah yang sedikit pucat.


Gejolak rasa di perut yang seakan diaduk-aduk kembali Galen rasakan.


Huekk... huekk...


Galen memuntahkan semua isi dalam perutnya.


Sandra membantu dengan memijit tengkuk leher Galen.


"Apakah ada minyak angin di mobilmu, Gal?" tanya Sandra.


"Ada di dalam mobil!"


"Mana kuncinya?"


Galen lekas merogoh kantong mengambil kunci mobil lalu menyerahkannya kepada Sandra.


Dengan cepat Sandra membuka pintu mobil lalu mengambil mintak angin di dalam sana. Tak lupa air putih yang ada juga Sandra ambil.


"Minum dulu, Gal." Sandra menyerahkan satu botol air putih kepada Galen.


"Terima kasih."


Sandra juga membantu membalurkan minyak angin ke sekitar leher Galen.


"Sama-sama."


Setelah di rasa sudah tidak ada lagi yang ingin di muntahkan. Sandra membantu Galen masuk ke dalam mobil.


"Biar aku yang bawa mobil."


Galen hanya mengangguk pasrah. Rasanya ingin cepat sampai rumah. Kepalanya sangat berat dan ingin segera beristirahat.


Dalam perjalanannya Galen menghubungi Aldo. Agar kekacauan yang ia buat di cafe tadi segera terselesaikan jangan sampai ada berita yang menyebar lebih dulu.


Aldo yang tengah asik bercumbu mesra dengan Rima yang makin terlihat menggemaskan dengen perut yang sedikit membuncit karena kehamilanya harus berakhir tanpa tambahan ronde.


Drttt.... drttt...


Ponsel Aldonterus bergetar tanpa nada dering. Aldo menyadari siapa orang yang meneleponya, tapi ia mengacuhkannya sesaat. Karena suara indah dari Rima lebih menggoda jiwa daripada harus melirik ponsel yang terus bergetar akibat panggilan masuk dari Galen.


"Kak... Akh... Ada telepon... ugh... " ucap Rima terbata karena sentuhan Aldo semakin membuatnya terhanyut dalam kabut gelora.


"Ya, sebentar lagi, Sayang!" ucapnya parau sambil terus memainkan permainan yang dengan Rima.

__ADS_1


Drtt.... Drt....


Aldo kembali melirik ponselnya sesaat. Pria yang masih dipenuhi gairah itu melakukan permainan cepat namun lembut agar tidak menyakiti bayi dalam kandungan Rima yang diprediksi berjenis kelamin laki-laki.


"Akh... " Aldo mencapai pelepasannya.


Segera ia mengecup kening Rima. Peluh keringat masih terlihat di sana.


"Terima kasih, Sayang! Maaf... sepertinya aku harus meninggalkanmu sebentar. Aku janji tidak akan lama!" Ucap Aldo lalu berdiri pelan dari tempat peraduannya.


Rima mengangguk lemah karena permainan lembut namun mampu membuat si ibu hamil itu terkulai tak berdaya karena pelepasannya.


Selimut Aldo sampirkan ke tubuh istrinya yang terlihat lucu dengan tubuh polos dengan perut baby bump nya.


"Papa pergi dulu, jangan nakal!" ucap Aldo berbicara pada perut buncit Rima seakan sedang berbicara pada bayi itu. dielusnya pelan lalu dicium perut buncit itu lalu beralih mencium bibir Rima sekilas.


Ibu hamil itu sudah menutup mata karena lelah. Aldo tersenyum bahagia melihatnya.


Dengan cepat Aldo mengangkat telepon yang masih bergetar. Sambil bergerak cepat memakai pakaiannya.


"Kemana saja kamu? Kenapa baru angkat telepon dariku?" bentak Galen dengan suara lemahnya. Kalau keadaanya tidak lemah seperti ini, sudah habis dimakinya.


"Maaf... Tuan!" jawab Aldo singkat. Tidak mungkin ia memberitahu alasannya terlambat mengangkat telepon.


"Bereskan kekacauan di cafe The Moon sekarang juga. Jangan sampai ada berita yang keluar sedikitpun tentang kejadian tadi! Lakukan dengan cepat!" Galen memerintah dengan suara yang lemah namun tegas.


"Siap... Tuan, Maaf... Apa Anda baik-baik saja?" Aldo merasa ada yang berbeda dengan Tuannya itu.


"Aku akan memberitahu mu besok! Cepat selesaikan kekacaian itu," titah Galen lagi."


"Siap... Tuan!"


Sementara Galen, ia bersandar pada sandaran di bangku depan. Sandra tak banyak bicara, ia fokus mengendarai mobil meluncur membelah jalanan ibukota yang lenggang malam ini.


"Antar aku ke apartement saja!" titah Galen yang sudah tidak berdaya. Kepalanya yang terasa berat dan pusing akibat pengaruh alkohol di tambah kondisi tubuh yang yang memang akhir-akhir ini kurang fit.


Sandra mengiyakan lalu mengarahkan mobilnya ke arah apartement Galen yang jaraknya memang tak jauh dari lokasinya saat ini.


Cukup lima belas menit waktu yang di tempuh Sandra untuk sampai di apartement Galen.


Sandra meminta bantuan salah satu penjaga untuk membawa Galen ke lantai atas. Ia tidak sanggup harus memapah tubuh kekar itu seorang diri.


"Aku masih kuat berjalan," oceh Galen saat tubuhnya dipapah oleh Sandra. Tapi tidak dihiraukan karena ucapan itu hanya penolakan semata Galen kepada Sandra.


Wanita itu tidak peduli. Ia tahu Galen tetap ingin menjaga jarak dengannya meskipun dalam keadaan selemah ini. Sandra tetap tidak ingin meninggalkan Galen dalam keadaan seperti ini


Hueekk...


Lagi-lagi Galen merasakan mual ingin muntahkan sesuatu tapi tidak ada yang keluar dari dalam mulutnya.


"Sabar, Gal! Sebentar lagi sampai!" ucap Sandra yang berjalan di sampingnya.


"Tolong buka pintunya, Bu!" ucap penjaga yang membantu mereka.


"Gal... apa sandi apartementmu!" Sandra mencoba menyadarkan Galen.

__ADS_1


Galen yang masih bisa mendengar ucapan Sandra mengulurkan tangannya ke arah kotak kecil di samping pintu. Memasukkan jari ke dalam kotak kecil itu, menempelkanya di mesin pencetak sidik jari.


Ternyata agar bisa memasuki apartement mewah itu tidak memakai kata sandi tetapi sidik jari Galen dan sidik jari Aline lah bisa membuka akses untuk memasukinya.


Sandra masih di bantu penjaga membwa masuk Galen.


"Cukup di sini saja, Pak! Terima kasih atas bantuannya!" ucap Sandra kepada penjaga yang membantunya.


"Sama-sama, Nona!" penjaga itupun berlalu meninggalkan Sandra dan Galen.


"Apa penjaga itu tidak mengenali Galen, ya?" Sandra berpikir keras.


Setahu dia Galen sudah lama menempati apartement ini. Tapi kenapa penjaga yang bertugas malam ini sma sekali tidak mengenali pemilik apartement di gedung ini.


Lekas Sandra kembali ke dalam untuk membantu Galen. Ia melihat Galen terbangun, berjalan sambil memegangi kepala menuju kamarnya.


Galen mengira Sandra sudah pergi dari sana.


Dengan sigap Sandra mendekat. "Gal... Biar aku bantu!" Sandra meraih tangan Galen, lalu di sampirkan ke bahunya. Dengan pelan Sandra membawa Galen ke kamarnya.


Pandangan mata Galen yang samar dengan penglihatannya yang berputar membuat Galen salah mengira.


"Terima kasih, Sayang! Syukurlah aku sudah sampai rumah. Aku rindu kamu, aku lebih lega berasa di sisimu, Sayang! Kamu tahu ternyata benar dugaanmu tadi, Tuan Pokcoy pasti ada di balik kejadian itu." Galen terkekeh kecil sambil berceloteh mengira wanita yang memapahnya adalah Aline.


Dengan bersusah payah, akhirnya Sandra bisa membawa Galen ke dalam apartement. Sandra tidak membalas ucapan Galen. Ia diam saja, mendengarkan ocehan pria itu. Sandra tahu Galen mengira dirinya adalah Aline.


"Eugh... " lengkap Sandra saat ia berhasil memapah tubuh berat Galen ke tempat tidur di kamar apartementnya.


Sandra menghela napas berat. Melihat Galen yang tertidur lelap setelah berceloteh banyak kepadanya.


"Bahkan ketika kamu dalam keadaan lemah seperti ini pun, di hati dan pikiranmu hanya ada Aline, Gal! Sebesar itukan cintamu kepadanya. Apakah aku salah ingin memiliki pria sepertimu," ucap Sandra sambil menatap Gaken yang memejamkan mata sambil berjongkok mensejajarkan dirinya di hadapan Galen.


Rambut bagian depan yang sedikit panjang menutupi mata Galen membuat Sandra mmeberanikan diri mengulurkan tangannya. Tepat di depan wajah yang mempunyai garis rahang yang keras dan tampan, Sandra menggantungkan jemarinya. Ada gematar yang memaksa Sandra membelai wajah tampan dari pria yang ia suka beberapa bulan ini.


Pertemuannya pertama kali dengan Galen di Singapore membuat Sandra tersenyum saat mengingat kejadian itu.


Perlahan jemari itu menempel di pipi Galen. "Andai aku yang menjadi pasangan mu saat ini, Gal. Bahagia sekali rasanya hati ini." Sandra terkejut saat Galen malah menempelkan tanganya di atas tangan Sandra seakan Galen menikmati sentuhan jemari Sandra.


"Aw..." Sandra terjatuh di atas tubuh Galen setelah pria yang ada di hadapannya itu menarik tubuhnya.


Galen menarik Sandra ke dalam pelukan. Memeluknya erat, Galen masih belum tersadar siapa yang ada dalam pelukannya saat ini.


Sandra tidak berani bersuara. Ia malah menikmati pelukan Galen.


Ijinkan aku menikmati sentuhan ini walaupun hanya sesaat. Aku janji setelah ini, rasa terhadapmu akan aku kubur dalam.


Sandra membalas pelukan Galen. Mereka berdua berpelukan dalam kehangatan malam ini. Jika Galen mengira wanita yang ada di hadapanya adalah Aline. Sandra malah menikmatinya. Saat ini ia merasa bahagia bersama Galen meski hanya sesaat, tidak peduli esok hari akan terjadi apa. Tapi ia nyaman merasakan kehangatan dari Galen meski dalam ketidaksadarannya.


.


.


.


Baca kelanjutan ceritanya ya..

__ADS_1


Masih memasuki sedikit konflik...


Dasar Sandra mengambil kesempatan dalam kesempitan...😡


__ADS_2