Fake Love

Fake Love
Menantu Seperti Dia


__ADS_3

Di halte tak jauh dari kantor Aksara grup, Sandra terlihat sedang menunggu angkutan umum. Galen yang kebetulan melintas menghentikan mobilnya saat melihatnya. Ia mengajak gadis itu untuk pulang bersamanya, karena Galen tau kediaman Aline melewati tempat tinggal Sandra.


Galen membuka kaca mobil lalu menyuruh Sandra masuk ke dalam mobil tersebut.


"Masuklah!" titah Galen.


Sandra sempat terdiam mendapat tawaran tumpangan dari Galen. Gadis menatap sekelilingnya. Beberapa karyawan tengah memandangnya dengan tatapan curiga, karena mereka tahu mobil yang berhenti di hadapan mereka saat ini adalah pemimpin perusahan tempat mereka bekerja.


"Saya mau ke tempat Aline, kita satu arah. Ayo, masuklah!" titahnya lagi.


Sandra mencoba tak menghiraukan tatapan yang tertuju padanya, daripada ia harus menunggu lama di halte. Gadis itu ingin segera pulang karena hari semakin sore, sudah waktunya makan sore untuk ibunya di rumah.


Tanpa ragu Sandra membuka pintu mobil. Ia mendudukan dirinya di bangku penumpang tepat di samping Galen. kemudian mobil mewah berwarna hitam itu melaju meninggalkan halte yang makin ramai oleh orang-orang yang akan menunggu angkutan umum.


Salah satu karyawan yang mengenal Sandra sebagai karyawan baru berbisik kepada teman yang bersama dengannya.


"Dia karyawan baru yang membantu pak Aldo 'kan?"


"Ya, benar! ada hubungan apa dengan bisa baru kita?" tanya temannya penasaran.


Mereka kasak kusuk membicarakan Sandra, karyawan baru yang terlihat dekat dengan pemimpin baru perusahaan tempat mereka bekerja.


Semua karyawan yang bekerja di perusahaan Aksara grup itu belum ada yang mengetahui kabar tentang bos barunya yang akan melangsungkan pernikahan.


Galen baru beberapa hari ini menduduki kepemimpinan di perusahaan Aksara grup. Ia mulai menjalani status baru sebagai pemimpin perusahaan.


"Apa tidak merepotkanmu?" tanya Sandra saat mobil itu melaju.


"Sama sekali tidak! lagian kita satu arah, jadi tidak masalah bagiku." sahut Galen.


Sandra mengangguk kembali.


Hening, tak ada lagi obrolan di antara mereka. Keduanya terdiam sesaat.


"Bagaimana acara lamaran semalam, lancar?" tanya Sandra basa basi memecah keheningan.


"Lancar, pernikahan kami akan di gelar satu bulan mendatang. Hari ini Saya dan Aline akan menemui pihak IO untuk mengurus semuanya," jelas Galen.


"Syukur lah, semoga berjalan baik sampai hari pernikahan, ya!"


"Terima kasih,"


"Sama-sama" Sandra tersenyum simpul kemudian menunduk pelan terlihat seperti memikirkan sesuatu.


Sikap Sandra sedikit berbeda kali ini. lebih banyak diam, dan itu di rasakan Galen yang mengenalnya cerewet dan banyak bicara saat di Singapura.


"Ada apa? sikapmu tak seperti biasanya!"


Galen merasa sikap Sandra menjadi pendiam, banyak bicara dan serba ingin tau biasanya mendominasi sikap Sandra selama ini.

__ADS_1


"Ya, kenapa?" Sandra tidak fokus saat Gaken bertanya kepadanya.


Galen tersenyum miris. "Apa Aldo terlalu banyak memberi mu pekerjaan? sampai kamu banyak melamun seperti ini!" cibir Gen membuat Sandra menggelengkan kepala.


"Tidak, bukan karena pekerjaan. Maaf aku sedang memikirkan sesuatu, jadi tidak fokus dengan pertanyaanmu."


Galen mengangguk pelan lalu kembali fokus dengan kemudi nya.


"Jangan terlalu banyak memikirkan sesuatu, jalani aja apa saat ini kita hadapi.


Kamu beruntung masih bisa bersama ibumu sampai saat ini." Galen berucap tanpa menatapnya.


"Ya, harusnya aku lebih banyak bersyukur, Semoga aku masih bisa mewujudkan keinginan ibuku," ucap Sandra lirih.


Gadis itu juga terkesima dengan ucapan Galen. Bagaimana bisa ia menghapus perasaan kepada pria yang berada di sampingnya itu. Kebaikannya sungguh membuat hati Sandra semakin di buat gusar.


Sandra tetap harus menahan perasannya. "Aku mencintaimu, Gal. Biarlah meski tak berbalas perasaan. tapi berada di dekatmu sudha membuat hati ini merasa senang." Sandra sesekali menatap Galen yang tengah serius mengemudikan mobilnya.


Pria yang masih berpakaian kemeja itu melajukan mobilnya membelah kota Jakarta dengan segala hiruk pikuk dan keramaian di waktu sibuk sore hari.


"Bagaimana keadaan ibumu, San?" tanya Galen pada Sandra memecah kebisuan mereka berdua.


"Alhamdulillah, sudah membaik! terima kasih atas perolonganmu waktu itu. Kalau saja kamu tidak datang membawa ibuku, aku tidak tahu akan seperti apa keadaannya?" jawab Sandra.


"Syukurlah kalau ibumu sudah membaik, kalau kamu butuh sesuatu ungkapkan saja pada Aldo, bilang aku yang menyuruhmu."


"Terima kasih, Gal.


"Bukankah itu Ibumu?" Galen menepikan mobilnya.


"Ibu, sedang apa dia diluar!" Sandra lekas keluar dari mobil lalu berjalan cepat menghampiri Bu Sarah.


"Ibu, kenapa ada di sini? ngapain?" tanya Sandra khawatir kalau merangkuk tubuh ibunya yang terlihat kurus itu.


Kondisinya sudah mulai stabil tapi sewaktu waktu bisa ngdroo kembali jika pencangkokan ginjal masih belum di lakukan.


Setiap minggunya Bu Sarah harus menjalani cuci darah rutin. Itulah yang membuat Sandra rela melakukan berbagai cara untuk mendapatkan uang.


"Ibu nyariin Bi Erma! tadi ia bilang mau beli obat tapi sampai sekarang gak balik lagi, perut ibu lapar, ibu mau beli bubur di sebrang sana." Bu Sarah menunjuk tukang bubur yang biasa mangkal di sebrang gang.


"Bi Erma ini kenapa bisa ceroboh begini."


"Bu duduk dulu, di sini" Galen mengajak Bu Sarah duduk di pos tak jauh dari gang.


"Biar Saya yang belikan buburnya. Ibu tunggu di sini."


"Jangan, biar Saya aja! Kamu kan ada janji dengan Aline. takutnya dia nungguin." cegah Sandra.


Galen melihat jam yang ada di pergelangan tangannya. "Masih lama, Sebentar ya, Bu!" ucap Galen dengan nada lembut dan sopan kepada Bu Sarah.

__ADS_1


Pria tampan itu menyebrang melintasi jalanan. Ia tak merasa risih saat orang melihat ke arahnya ikut mengantri bubur demi seorang ibu.


"Dia pria baik, Ibu lihat ketulusan dari matanya," ucap Bu Sarah, tatapannya mengarah kepada Galen di sebrang jalan.


"Dia memang baik, Bu. Sangat baik!"


"Andai ibu dapat menantu seperti dia, ibu pasti tenang saat pergi nanti kamu sudah berada bersama orang yang tepat," ucap Bu Sarah lirih.


Sandra menggenggam tangan Bu Sarah yang terasa dingin." Jangan berbicara seperti itu, Bu. Ibu akan sehat lagi. Sandra akan lakukan apapun agar ibu bisa mendapatkan donor ginjal yang tepat untuk ibu."


Bu Sarah menepuk pelan tangan yang mengenggam tangannya, lalu tersenyum lembut ke arah Sandra. "Kamu sudah terlalu banyak mengorbankan dirimu demi sakit ibu ini, Nak. Sudah waktunya kamu mencari kebahagiaan mu. Doa ibu akan selalu bersamamu, Nak. Asal kamu ingat kita boleh bahagia tapi atas usaha kita sendiri bukan bahagia di atas kesedihan orang lain. Jadikan pengalaman kita sebagai pelajaran untuk masa depanmu."


Sandea mencium tangan yang ia genggam. "Iya bu, Sandra akan ingat itu."


Galen setengah berlari menghampiri mereka berdua. Dengan tiga kantung bubur di tangannya.


"Maaf, lama, Bu! ini buburnya dan sekali lagi maaf saya harus segera pergi!" Setelah menyerahkan bubur kepada Sandra. Galen membungkuk sopan kepada Bu Sarah.


"Tak perlu meminta maaf, Nak! harusnya Ibu dan Sandra yang bilang begitu. Terima kasih, kamu selalu membantu kami. Semoga kebahagiaan selalu menyertaimu," balas Bu Sarah.


"Kalau begitu saya permisi, Bu!"


"Ya, Hati-hati. Sampaikan salam Ibu kepada calon istri dan keluargamu, Nak!"


Galen tersenyum lalu mengangguk. "Akan Saya sampaikan, Bu! Saya pamit, Assalamu'alaikum."


"Waalaikumsalam." jawab Sandra dan Bu Sarah kompak.


Galen masuk kedalam mobil lalu melajukan mobilnya menuju kediaman Aline. karena Aline baru saja menghubunginya dan memberitahu kalau pihak penyelenggara sudah menelponnya.


.


.


.


.


Tinggalin jejak kalian dong biar gak sepi di lapak ini...


Mampir juga ke karya teman author.


yuk lihat kisahnya di sana.



.


.

__ADS_1


.


Jangan lupa dukungannya juga ya๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜


__ADS_2