Fake Love

Fake Love
Kondisi Uwa Madi


__ADS_3

Mobil yang di kendarai Galen telah meninggalkan halaman rumah Ayah Zaki.


"Sebaiknya kalian beristirahat, sudah malam!" titah Ayah Zaki kepada Aline dan Zainab.


"Iya, Yah," jawab Aline.


"Iya, Bang." Zainab mengikuti.


Pria yang sudah berumur tapi masih terlihat gagah itu merangkul wanita yang berdiri di sampingnya. "Kamu juga harus istirahat, dari pagi Ayah liat kamu sibuk sekali mempersiapkan semua ini," ucap ayah Zaki pelan dan lembut kepada Bu Winda.


"Iya, Bang!" Bu Winda pun melingkarkan tangannya di pinggang sang suami kemudian melangkah hendak menuju kamarnya.


"Dih! Ayah sama Ibu masih ada kita juga udah mesra-mesraan aja!" cibir Aline, ia dan Zainab berjalan mengikuti langkah kedua pasutri itu dari belakang.


"Mesra setelah menikah itu harus, Lin! Jangan malu juga untuk bersikap manis dan mesra kepada pasangan kita. Anggap aja yang lain ngontrak!" ucap Ayah Zaki tanpa menatap Aline.


Ayah Zaki terlihat berbisik kepada Bu Winda, itu membuat Aline semakin sebal.


"E-eh malah bisik- bisik lagi si Ayah nih?" Aline mempercepat langkahnya mendekati Ayah Zaki karena ia merasa risih melihat ayahnya itu sesekali berbisik sambil mencium pipi Ibunya.


Aline yang melihatnya merasa malu, tapi orang yang melakukannya biasa aja.


Bu Winda pun terbiasa mendapat perlakuan mesra dari Ayah Zaki, jadi ia tidak merasa risih atau malu jika di lihat orang lain karena menurutnya halal ko, selagi yang diperlihatkan di hadapan orang lain masih di batas kewajaran.


"Ayah! ih ... nanti kalau mau mesra-mesraan di kamar. Ada teh Zainab loh." Aline mengibaskan rangkulan sang Ayah pada Ibunya sambil berbicara setengah berbisik kepada Ayah Zaki.


"Kenapa kamu yang kepanasan. Wah, Ayah tau ni! daritadi kamu gak sempet mesra-mesraan sama Galen ya. Jadi panasnya sekarang!' Ayah Zaki tertawa renyah meledek Aline.


Bu Winda tersenyum geli, mengingat kebersamaan Aline dan Galen seperti Tom & Jery bukan seperti pasangan romantis lainnya.


"Ih, Ayah gak asik ah!" Aline menghentakkan kakinya merasa kesal karena Ayah Zaki malah meledeknya.


Dengan mengerucutkan bibir dan wajah yang di tekuk, Aline berjalan cepat mendahului ketiganya. Menunjukan mode marah kepada ayahnya.


Ayah Zaki makin keras menertawakan tingkah Aline yang saat ini berada di anak tangga menuju kamarnya.


Di ujung anak tangga terakhir tepatnya di lantai dua rumahnya, langkah Aline terhenti mengingat sikap Galen kepadanya.


Gadis itu terdiam sambil tersenyum sendiri. "Aku malah senang dengan sifat jahilmu sekarang, Gal. karena itu memanglah sikapmu sebenarnya. Semoga ingatanmu cepat kembali, kalau bisa sebelum kita menikah," batin Aline.


"Tapi kembali atau tidak ingatannya harusnya tak jadi masalah. Toh dia tetep sama Aku," gumam Aline seraya menutup wajahnya malu karena ucapannya sendiri.


Tiga orang yang berada di lantai bawah tengah memperhatikan kelakuan Aline di atas sana.

__ADS_1


"Lihat anakmu, Bu. tadi cemberut ngambek! sekarang senyum sendiri sambil menyembunyikan wajahnya lagi." Ayah Zaki menggelengkan kepala melihat tingkah Aline, kemudian melanjutkan langkah menuju kamarnya.


"Dia anakmu juga, Bang!" seloroh Bu Winda agar di dengar Ayah Zaki.


Bu Winda tidak mengikuti suaminya masuk ke dalam kamar, tidak sopan rasanya meninggalkan Zainab sendiri di sana.


"Iya-iya. Ayah tunggu di kamar, Jangan lama-lama, Bu! Ayah mau ngajak berkelana." Ayah Zaki berteriak dari dalam kamar membuat suara itu terdengar samar dari luar tapi Bu Winda masih jelas mendengarnya.


"Apaan sih, ga jelas! nyuruh istirahat tapi malah ngajak berkelana. Palingan berkelananya ke hutan rimba, E-eh hutan gundul ding! kemarin 'an baru papas habis semak belukar ku." Bu Winda tertawa geli seraya menutup mulutnya sendiri.


Membayangkan tongkat sakti Ayah Zaki berkelana di hutan gundulnya Bu Winda.


"Win!" panggil Zainab membuyarkan imajinasi Bu Winda.


"Ya, kenapa?" Bu Winda terkejut dengan panggilan Zainab.


"Besok aku mau pulang ke Cianjur. Aline juga tidak jadi ke sana 'kan? pasti dia akan sibuk mempersiapkan pernikahannya beberapa minggu kedepan!" papar Zainab membuat Bu Winda mengerutkan alisnya.


"Kenapa mendadak begini, Nab? emang Uwa Madi menyuruhmu pulang?" Bu Winda penasaran kenapa tiba-tiba Zainab ijin untuk pulang ke kampung halamannya.


Zainab menggeleng pelan. "Aku kasian aja sama bapa, Beliau sudah tua. Aku tidak tega meninggalkannya lebih lama."


"Oh, ya. Benar juga. Lalu siapa yang mengelola penggilingan padi punya Uwa?"


"Loh ko, bisa?" Bu Winda seakan tak percaya dengan ucapan Zainab.


Uwa Madi- kakak dari ibunya itu terkenal dengan kekayaannya di kampung halaman nenek dari Aline. Bu Winda sama sekali tidak tahu kondisi Uwa Madi saat ini karena Zainab sama sekali tidak menceritakannya. Hanya keadaan Uwa Madi yang Bu Winda tau sesng sakit-sakitan saja.


Akhirnya Zainab menceritakan semuanya kepada Bu Winda. Tak ada yang ia tutupi sama sekali. Bahkan dengan masalah rumah tangganya yang harus berakhir. karena kejadian itu.


"Sabar, Ya! Aku benar-benar tidak tau sama sekali kalau kamu tidak cerita. Nab."


"Aku malu menceritakan nya, Win. Tapi kamu tenang aja, Aku masih punya rumah ko, di Cianjur. Jadi kalian bisa pulang kalau mau mudik ke sana!"


"Iya, Aku pasti akan pulang. Sudah lama sekali semenjak kedua orang tuaku meninggal, Aku dan Bang Zaki tidak pernah ke sana."


"Ya, karena kedua pusara orang tuamu ada di Jakarta. Kamu benar-benar melupakan kampung halaman ibumu dan menetap di Jakarta sama Almarhum Babeh Rojali, jadilah Winda si gadis kota," cibir Zainab membuat Bu Winda tertawa.


"Kamu benar, Nab. Dan kalian lah yang sering mengunjungiku daripada aku yang pulang kampung. Harusnya aku yang berkunjung ke saudara yang lebih tua." Akunya.


"Ya benar sekali, kamu ingat apa yang sering di ucapkan Bapa di telpon?"


Bu Winda mengangkat Alis seraya mengangguk.

__ADS_1


"Ari Kamu, Win. Poho apa jalan balik ka kampung. Iraha balik, teh? Awas weh, ku Uwa lelepken di sawah mun te balik."


(Kamu ini Win, lupa ya jalan pulang ke kampung. Kapan pulang? Awas aja sama Uwa di masukin ke sawah kalau kamu tidak pulang)


Zainab dan Bu Winda berucap kompak dengan kata-kata yang sama sambil tertawa cekikikan. Karena setiap Uwa Madi menerima telpon dari Bu Winda kata itulah yang pertama di ucapkan setelah mengucap salam.


"Bu!" panggilan Ayah Zaki menghentikan tawa mereka.


Bu Winda membungkam mulutnya karena sudah jadi kebiasaanya kalau tertawa suka kebablasan.


"Cepat masuk sana, tuh Bang Zaki udah gak sabar ngajak berkelana," usir Zainab dengan mendorong tubuh Bu Winda pelan.


"Ih, kenapa jadi kamu yang gak sabar sih? Kamu pengen ya di kunjungi si tongkat sakti." Bu Winda mengejek lalu mengambil langkah seribu memasuki kamarnya.


"Winda!" teriak Zainab.


Bu Winda tertawa puas sudah membuat Zainab kesal.


"Kita omongin lagi deh, rencana kamu pulang ke Cianjur, besok!" seru Bu Winda muncul dari balik pintu lalu menutup kembali pintu tersebut.


Zainab membalas dengan senyuman.


Wanita cantik itu pun lekas masuk ke dalam kamarnya untuk beristirahat.


Malam lamaran ini menjadi malam yang penuh kebahagiaan untuk semuanya.


*


*


*


Beraambung.>>>


mampir ke karya temanku yuk bantu ramaikan.



.


.


.

__ADS_1


__ADS_2