Fake Love

Fake Love
Tak Sebanding Dengan Penderitaan


__ADS_3

Bukk


Satu pukulan mendarat di rahang pipi Tuan Wijaya.


"Ayah ... hentikan!" Aline berlari mendekati ayahnya berusaha menghentikan sang ayah agar tidak kembali memukuli Tuan Wijaya.


"Kamu, diam di sana, Nak! ini urusan Ayah! dan Kamu Wijaya itu pukulan karena kamu telah memfitnah dan membuat ku sengsara kala itu."


Tuan Wijaya tersungkur seraya memegangi pipi yang terkena pukulan Ayah Zaki. Ia tidak memberontak dan melawan. Dibiarkanlah Ayah Zaki mengeluarkan kekesalan padanya. Pukulan itu tak sebanding dengan penderitaan Zaki selama ini.


Ayah Zaki kembali mendekat. "Kenapa diam saja, hah... kamu tak bisa melawan." Ayah Zaki meraih kerah baju Tuan Wijaya sehingga sahabatnya itu kembali berdiri tegak.


Tak sampai di situ, masih dengan kesal Ayah Zaki melampiaskan kembali kekesalannya. "Bukk ... dan ini untuk kekecewaan Indira terhadap suami yang tega memfitanh dan mengkhianatinya." pukulan kedua mendarat di perut Tuan Wijaya. Tuan Wijaya kembali tersungkur di lantai seraya meringis kesakitan memegangi perutnya.


"Ayah ..., cukup yah! Aline mohon kita bicarakan ini baik-baik!" Aline menangis melihat Ayahnya memukuli Tuan Wijaya. Gadis itu hendak mendekati Ayah dari pria yang ia cintai, tapi Bu Winda menghadangnya.


Satu sisi ia takut sang Ayah akan mendapat masalah. Satu sisi dia merasa khawatir dengan Tuan Wijaya.


Bu Winda mendekati Aline agar ia tidak mendekati ayahnya. Beliau takut putrinya terkena salah pukulan. Sebelumnya Bu Winda memanggil salah satu karyawan wanita yang kebetulan lewat di dekatnya. Ia menyuruhnya untuk memanggil karyawan laki-laki agar melerai perkelahian di teras belakang.


Ayah Zaki berbalik badan memandangi taman kecil di hadapannya seraya melipat tangan di dada. Membiarkan Tuan Wijaya merasakan sakit akibat pukulannya. Rasa sakit itu tak sebanding dengan sakit hatinya selamat bertahun-tahun.


Sebenarnya Ayah Zaki sudah memaafkan Tuan Wijaya, tapi ketika mendengar penuturannya tentang Indira ia kembali kesal. Wanita yang ia anggap seperti adiknya itu harus meninggal sebelum merasakan sendiri merawat putranya.


Ayah Zaki bahkan sudah menyayangi Galen semenjak dari kandungan. Karena seringnya Indira meminta sesuatu saat masa ngidam kepadanya.

__ADS_1


Tuan Wijaya berusaha berdiri sambil berpegangan pada tiang kayu yang tak jauh darinya. Dua orang pelayan datang dengan tergesa.


"Maaf, kami datang terlambat, Bu. Dimana perkelahiannya?" tanya salah salah satu pegawai yang datang ke teras.


Ayah Zaki melirik ke arah pegawainya. "Tidak ada perkelahian! kalian kembali saja bekerja," titah Ayah Zaki dan langsung mendapat anggukan dari kedua pegawainya itu.


Salah satu pegawainya yang tadi sempat di perintahkan memanggil seseorang si dalam mobil itu merasa heran. Orang yang mengaku Tuan Wijaya itu mengalami luka lebam dj wajahnya seraya memegangi perut.


"Masa sih tak ada perkelahian, ko orang itu sampai lebam begitu!" ucap salah satu pegawainya dalam hati. Tapi ia lebih memilih diam dan mengikuti perintah bosnya agar kembali bekerja.


Ayah Zaki kembali mendekat ke arah Tuan Wijaya yang sudah berdiri tegak. terlihat lebam di pipi kanannya.


Aline dan Bu Winda terlihat khawatir melihatnya. "Yah! Aline mohon, cukup!" lirih Aline dengan tatapan memohonnya.


Ucapannya sama sekali tak berpengaruh terhadap Ayah Zaki, ia terus mendekati Tuan Wijaya sambil berkata. "Bagaimana, sakit bukan? itu hanya sedikit luka, Anggara Wijaya. Aku sudah puas telah membalas sakit yang dulu kamu berikan untukku." Ayah Zaki tertawa renyah setelah berucap.


"Kapan lagi Aku bisa mengalahkan si pemilik


sabuk hitam taekwondo. Kalau bukan karena keadaan pasrah tak mungkin Aku bisa memberikan luka lebam dan pukulan tepat sasaran. Hahaha" Ayah Zaki kembali tertawa renyah membuat Aline dan Istrinya mengerutkan alis.


Aline menoleh ke Ibunya seakan meminta penjelasan apa yang terjadi dengan Ayahnya. Bu Winda hanya mengedikkan bahu tanda ttak mengerti.


"Shitt ... kamu memanfaatkan keadaan, Zaki!" teriak Tuan Wijaya lalu berjalan cepat dan melayangakan pukulan ke arah Ayah Zaki. Dengan cepat Ayah Zaki bisa menghindar.


"Om ... sudah! kenapa jadi balas memukul begini. Hentikan!" cegah Aline dengan suara meninggi. ucapan Aline kembali tak digubris.

__ADS_1


Bu Winda terlihat gemetar ketakutan.


"Nak, gimana ini?" Bu Winda memegangi tangan Aline.


"Aku harus menghadang mereka, Bu!" seru Aline.


Tuan Wijaya dan Ayah Zaki saling berhadapan. keduanya bersiap mengepalkan tangan seolah berada di ring tinju. Tatapan mereka saling beradu tajam. Sudut bibir Ayah Zaki sedikit terangkat, memberikan senyum meremehkan untuk Tuan Wijaya. Itu semakin membuat pria di depanya terlihat geram.


"Za ... ki!" teriak Tuan Wijaya dengan penekanan ucapan.


"Anggara Wijaya!" balas Ayah Zaki dengan gigi gemetuk.


Keduanya sama-sama berjalan saling mendekat. Saat jarak mereka hanya beberapa jengal, keduanya terdiam.


.


.


.


.


.


Dan apa yang terjadi selanjutnya.....

__ADS_1


Jangan lupa dukungan kalian berarti untuk ku.. like, komen dan vote. Terima kasih sudah membaca karyaku.


__ADS_2