
Aline sangat terkejut saat tangannya ditarik dari belakang. Tubuhnya juga ikut di putar, sejenak ia memejamkan mata sampai Aline merasa ada tangan yang membelit pinggangnya. Saat mata Aline terbuka sosok yang ia cari berada di hadapannya sambil tersenyum.
Aline memukul pelan dada Galen karena telah membuatnya ketakutan.
Aline tak bisa bersuara karena masih di dalam air. Segera Galen mengandeng Aline agar ikut berenang lalu naik ke atas permukaan.
Plush... Fiuh..
Galen menyemburkan air yang sedikit masuk ke dalam mulutnya. Sedangkan Aline membasuh wajahnya saat tiba di permukaan.
"Mas... Darimana sih? bikin aku khawatir saja?" omel Aline yang masih berenang mengapung di atas air. Keduanya masih berada di atas air. Kakinya mereka terus bergerak-gerak di dalam air.
"Maaf, Sayang! Tadi pas kita masuk ke dalam air, Aku lihat pemandangan indah di dalam sana! Jadi Aku ke sana sebentar. Apa kamu tahu, apa itu?"
Aline menggeleng pelan sambil terus mengusap wajahnya yang basah. Matanya terlihat memerah karena tidak menggunakan kacamata berenang saat menyebutkan diri ke dalam air.
Aline memang bisa berenang, tapi ia tidak tahan jika harus lama berada di dalam air laut, apalagi jika tidak menggunakan alat bantu menyelam.
"Surga bawah laut yang pasti membuatmu senang jika melihatnya. Ayo ikut aku!" Galen mengajaknya naik ke atas, menuju tempat duduk bersantainya sebelum mereka menceburkan diri ke laut. Ada tangga yang terpasang pada sisi tiang penyangga membantu Galen agar lebih mudah naik. Galen juga membantu istrinya naik dengan hati-hati.
"Kenapa malah naik, Mas. Kamu enggak mau ajak aku lihat ke dalam sana?" tanya Aline sedikit kecewa dan diam berdiri sambil melipat tangan di depan dada setelah sampai di pelataran kayu. Air menetes dari lingerie yang ia pakai, membasahi alas kayu yang terhubung ke kamar mereka.
"Justru, aku akan ajak kamu ke sana, Sayang!" Galen merangkup wajah Aline lalu mencium bibirnya sekilas, kemudian terus menarik Aline agar mengikuti.
Kalau berlama-lama menatap keindahan yang ada di depan matanya saat ini, Apalagi tubuh Aline yang basah, makin memperlihatkan jelas indahnya lekuk tubuhnya. Sungguh godaan terberat untuk Galen. Bisa jadi Galen gagal mengajak Aline melihat surga yang tersembunyi di bawah laut. Yang ada ia akan membawa Aline menuju surga. Surga kenikmatan yang menjadi candu untuknya saat ini.
"Kenapa kita malah mau ke kamar. Mas, Jangan bilang kalau mau nyerang aku, lagi!" Aline menatap tajam suaminya. Karena Galen sangat tidak bisa di tebak.
Suaminya akan tiba-tiba merubah keputusan seenak hatinya saja. Meskipun Aline selalu menikmati apa yang dilakukan Galen kepadanya.
Galen menoleh ke belakang lalu menatap Aline dengan tatapan mengoda. "Kalau iya, kenapa?" Galen tersenyum jahil sambil mengerlingkan matanya, jawaban Galen membuat Aline mengerucutkan bibir dengan wajah cemberutnya.
"Hahaha ... Kalau kamu mau, kita main dulu, sebentar!" ucap Galen genit berhasil membuat Aline menghentikan langkahnya. Galen makin terkekeh melihat istrinya seperti ketakutan.
Galen melangkah ke arah meja di depan kamarnya. Pria itu mengambil handuk yang telah di siapkan petugas hotel di meja yang berada di luar kamar lengkap dengan minuman hangat dan dua pasang pakaian menyelam beserta perlengkapannya.
"Keringkan dulu, badanmu. Kita akan snorkeling ke dalam laut sana!" Galen menyampaikan handuk ke tubuh Aline, membantu istrinya untuk mengeringkan tubuhnya. Setelah selesai, tak lupa Galen juga memakai handuk untuk menutupi bagian tubuh bawahnya. Celana boxer yang Galen pakai basah.
Aline melihat Galen membawa sesuatu ke dalam kamarnya. Karena penasaran ia pun mendekati meja, matanya mengarah pada benda dan pakaian berenang yang ada di atas meja.
"Peralatan menyelam... Apa benar, Mas Galen akan mengajakku menyelam ke dalam laut sana?" pikir Aline.
Tak lama Galen kembali, ia sudah rapi berganti pakaian. Hanya perlengkapan menyelam yang belum terpasang di tubuhnya.
"Kenapa malah bengong? Ah... Apa benar si Vivi sudah kangen sama Benjhon?" goda Galen membuat Aline malu.
Istrinya itu memalingkan wajahnya yang merona karena malu.
"Apaan sih!" elaknya.
__ADS_1
Galen terus memperhatikan istrinya. Senyumam menggoda masih ia pancarkan kepada Aline.
"Mas... jangan liatin aku kayak gitu, Ih!"
"Jadi Snorkelingnya gak?" tanya Galen.
Aline langsung meraih pakaian renang miliknya, lalu berganti masuk ke kamar untuk mengganti pakaiannya. Lebih baik menghindar dari godaan suaminya itu.
"Mau aku bantuin gak, Yang, ganti bajunya?" teriak Galen.
"Gak usah, aku bisa sendiri. Bisa-bisa bukannya ganti baju kamu malah ikut lepas baju mu, Mas!" balas Aline dengan suara agak keras agar Galen mendengarnya.
"Kamu, pinter banget sih, Sayang!" Kalau kamu maksa sih, aku sih ikhlas aja." sahut Galen lalu menyeruput minuman hangat yang dipesannya, ia juga menyicipi makanan ringan pendamping minuman hangat yang di suguhkan pagi ini.
Aline keluar dari kamar. Ia juga sudah rapi dengan pakaian menyelamnya.
Sebenarnya snorkeling tidak harus memakai pakaian menyelam. Hanya akan lebih terjaga keamanan berenang di dalam laut. Pakaian menyelam bisa melindungi tubuh dari batu karang, dan sengatan ubur-ubur dan mempermudah gerak tubuh di dalam air.
Melihat Aline sudah siap. Galen membantu memasangkan Masker pada Aline.
"Pakai masker ini, pandangan ke dalam laut akan lebih jelas. Kamu bisa dapat lebih menikmati terumbu karang. Selain itu masker juga berfungsi untuk menutup area hidung. Sewaktu snorkeling, kamu akan bernapas lewat mulut, sehingga bagian hidung memang akan tertutup." Galen membantu Aline memakai peralatan menyelam lalu menjelaskan dengan pelan agar Aline mendengarkan fungi dan keginaan benda tersebut.
"Bagaimana pas tidak? Apa terlalu kencang?"
"Cukup, Mas. Pas kok!"
Setelah memakaikan masker Galen kembali meraih snorkel lalu menyerahkannya pada Aline.
Alien menerimanya, meskipun pandai berenang tapi Aline baru pertama kali memakai peralatan menyelam ini. Karena itulah Galen menjelaskan kegunaan dari masing-masing benda yang ia pakaikan kepada Aline.
"Alat ini penting banget supaya kamu tetap bisa bernapas di dalam air. Snorkel berupa selang dan mouthpiece (pelindung mulut). Sebaiknya juga snorkel yang dipakai memiliki mouthpiece yang pas di mulut, tidak terlalu besar atau terlalu kecil. Tapi, Mas pilihkan dari bahan yang buat kamu nyaman untuk mengunakannya." Galen masih terus menjelaskan fungsi dari alat menyelam itu.
"Terima kasih, Mas!" ucap Aline
Galen tersenyum manis lalu mengecup singkat bibir yang jadi candu baginya itu.
Aline di arahan untuk duduk di kursi. Wanita diam saja saat di pasangi alat menyelam, ia manut dengan perintah Galen.
Kembali Galen memasangkan Fin pada kaki Aline.
"Fin disebut juga kaki katak. Sebenarnya alat ini tidak wajib dikenakan saat snorkeling. Tapi dengan memakai fin akan ada daya dorong yang lebih kuat saat kamu berenang di laut. Gerakanmu akan lebih cepat dan gesit. Kita akan berjelajah di dalam sana, apa kau kuat?"
"Kuat, asal aku bersama kamu, Mas! Jangan sesekali jauh dariku!" ucap Aline cepat.
"Pasti, Aku tak akan pernah jauh dari kamu!"
__ADS_1
Aline lega mendengarnya. Ia merasa bahagia, Galen memperlakukan nya sangat istimewa. Bahkan Galen rela berjongkok untuk memakaikan benda berbentuk kaki katak itu ke kaki Aline. Galen memastikan ukurannya pas dan nyaman saat Aline memakainya.
Terdapat dua jenis kaki katak, yaitu model kaki tertutup (full foot) dan tumit terbuka (open heels). Kaki katak model tertutup memiliki ukuran seperti halnya sepatu, bawalah yang sesuai dengan ukuran kaki. Sedangkan model tumit terbuka biasanya memiliki strap untuk menyesuaikan bentuk ukuran kaki.
Dan yang Aline gunakan saat ini adalah fin model kaki tertutup. Galen kembali memilihkam benda yang bisa melindungi Aline dari benturan atau goresan terumbu karang.
"Mas..."panggil Aline saat Galen sibuk memakailan fin di kakinya.
"Apa, Sayang!" Dengan pelan dan hati-hati tangan Galen bergerak memasangkan benda berbentuk kaki katak itu pada kaki Aline.
"Kapan, Mas mempersiapkan ini semua?" tanya Aline. Ia merasa heran dari tadi suaminya itu selalu menempel padanya. Kapan waktunya Galen menyiapkan ini semua.
Galen menyunggingkan senyum. "Bukan aku yang menyiapkannya," celetuk Galen. Dan usai sudah fin terpasang sempurna di kaki Aline. Sekali lagi pria yang masih berjongkok itu memastikan kekencangan benda tersebut agar ketika istrinya bergerak di dalam air tidak ada kendala.
"Lalu siapa yang menyiapkannya?" tanya Aline heran, kenapa bisa pas semua di tubuhku. Hebat sekali mereka, bisa sesuai dengan kebutuhan pengunjungnya." puji Aline membuat Galen sedikit tak terima.
"Mereka hanya menyiapkan. Tapi aku yang memerintahkannya, Yang! Aku tidak mau salah satu dari mereka memikirkan dan membayangkan bentuk tubuhmu saat memilihkam baru renang," sungut Galen tak terima Aline malah memuji pihak hotel wajah Galen masih menunduk saat mengoceh.
Aline menarik sedikit sudut bibirnya, lalu merangkup wajah Galen, mengarahkannya agar menatap dirinya.
"Iya, Aku percaya, Mas! Kamu itu lebih hebat dari mereka. Kamu 'kan pangeran yang aku, Mas!" Aline mengecup singkat bibir Galen. Membalas perlakuan manis suaminya itu.
Senyuman memgembang di wajah Galen. Kecupan singkat itu seakan jadi penambah energi untuk Galen. Ia langsung bersemangat untuk melakukan kegiatannya pagi menjelang siang hari ini. Karena saat ini adalah waktu yang tepat untuk mereka menyelam.
"Siap buat snorkeling bersamaku, Yang?"
"Siap, Mas...,"
Galen memakaikan perlengkapan terakhir pada Aline. Ia memasangkan pelampung pada tubuh istrinya itu. Meskipun pandai berenang. Aline tetap harus memakai pelampung. Ini memastikan agar ia aman.
"Ok.... let's go!" Galen menarik Aline untuk berjalan menuju di sisi jembatan. Dari sanalah Galen dan Aline akan meluncur ke dalam laut.
Ada beberapa orang yang akan menemani mereka menjelajah di dalam air menyaksikan keindahan dalam laut.
Berjaga-jaga agar tidak ada sesuatu yang tidak di inginkan.
"Mas..., Tunggu!" cegah Aline.
"Kenapa, Yang?"
Aline menatap tajam kepada Galen. Memandanginya dari atas sampai bawah tubuhnya.
.
.
.
__ADS_1
Baca terus kelanjutannya ya....