
Restoran Billcurt
Pelayan restoran datang ke meja yang tadi di tunjuk Aline. "Si Mbaknya kemana, ko tas nya di tinggal?" pelayan itu celingukan mencari pemilik tas.
Ketika menaruh minuman yang masih berada dalam nampan di atas meja, pelayan itu sedikit menunduk. Dilihatnya ponsel yang tergeletak di bawah kursi.
"Ini ponsel siapa? Baterainya habis! Apa jangan-jangan wanita tadi diculik?" pikir pelayan itu.
Si pelayan berjalan tergesa mencari keberadaan Aline di sekitar restoran.
"Gak ada,"
Tas dan ponsel milik Aline di bawa pelayan itu ke dalam restoran. Pelayan menceritakan kejadian di depan kepada pemilik restoran yang kebetulan berada di sana saat itu.
"Coba hubungi nomer yang ada di ponsel itu." titah Pak Dodi, pemilik restoran itu. Ia tidak mau restoran miliknya tersangkut dan dibawa-bawa dalam kasus kasus ini.
"Ponselnya mati, Bos. Saya cas dulu!" ucap pelayan itu.
Cittt....
Mobil dengan kecepatan tinggi itu tiba-tiba memaksa berhenti saat sampai di tempat tujuan.
Bukk....
Terdengar pula surat pintu yang ditutup kasar oleh pengemudi mobil tersebut.
Para pelayan dan beberapa pengunjung yang tengah menikmati santap sore di restoran tersebut menoleh ke arah sumber suara.
Semua menatap ke arah Galen dengan penuh tanda tanya.
"Kenapa orang itu," bisik salah satu pengunjung restoran.
"Entahlah!" jawab salas satu teman satu mejanya.
Galen berjalan cepat memasuki restoran.
"Permisi, Tuan! Ada yang bisa saya bantu?" sapa pelayan dengan ramah.
"Apakah ada seorang wanita kemari menanyakan pesanan tempat atas nama Alex?" tanya Galen seraya berusaha menstabilkan emosi dan rasa khawatir yang ia rasakan saat ini.
"Oh, Anda teman wanita itu?" seru pelayan yang tadi melayani Aline.
"Ya, dimana dia sekarang?" Galen seakan tak sabar ingin mengetahui keberadaan Aline.
"Saya juga tidak tahu, Tuan. Tadi dia memang menanyakan pesanan tempat atas nama tuan Alex, tapi karena tak ada yang memegang atas nama tersebut. Wanita itu menunggu di luar sana. Katanya mau menunggu orang yang membuat janji dengannya. " Pelayan itu menceritakan dengan sopan dan jelas. "Tapi saat saya mengantarkan minuman pesanan wanita itu, Dia sudah tidak ada di sana. Dia hanya meninggalkan tas dan ponsel yang jatuh di bawah kursi, " tutur pelayan itu.
Tas dan ponsel yang sudah berisi sedikit baterai itu diserahkan kepada Galen. Di terimanya barang-barang milik Aline.
__ADS_1
"Arrrghh... " Pikiran Galen kacau, otaknya masih terus berpikir kemana Aline dan siapa yang melakukan ini padanya. Pria itu merebahkan tubuhnya di salah satu kursi yang tak jauh dari dirinya. Kedua tangan yang bertumpu di atas meja dengan jemari yang memijit pelan keningnya.
Tak lama Aldo pun datang dengan berlari, asistennya itu lalu mendekatinya.
"Maaf, Tuan, Saya terlambat!"
Galen mendongakkan kepala menatap Aldo.
"Bagaimana apa kamu sudah tau siapa yang melakukan ini semua?" tanya Galen dengan tatapan tajamnya.
"Ya, sudah Tuan, tapi tunggu sebentar!"
Saat Aldo akan memberitahu bosnya. Ia memerintahkan pelayan restoran mendekat ke arahny.
"Suruh pengunjung yang ada di dalam sini keluar, saya akan bayar dua kali lipat untuk menyewa tempat ini satu jam kedepan." bisik Aldo kepada pelayan tersebut.
"Tunggu, Tuan saya harus lapor pemilik toko dulu!"
"Saya tidak mau dibantah. Lakukan sekarang juga!"
Si pemilik toko datang menghampiri, pelayan yang berpapasan dengannya langsung memberitahu keinginan Aldo.
Ia langsung memerintahkan semua pelayan menutup sementara restoran tersebut.
Pemilik toko berjalan cepat menghampiri Galen dan Aldo. "Maaf, Tuan. atas ketidaktahuan pelayan saya kepada Anda Tuan Muda Alex." pria itu membungkuk hormat meminta maaf. Saya akan melakukan apa yang Anda mau.
Dengan waktu singkat restoran sepi dari pengunjung.
"Kenapa kamu bisa gegabah seperti ini, Al!"
"Maaf, Tuan!
"Brengsek..." Galen menggebrak meja di hadapannya kemudian berdiri dan mendorong meja tersebut sampai terpental jauh. Galen meluapkan kekesalannya.
Sebab itulah Aldo memerintahkan tempat itu kosong. Ia tahu dengan sikap bosnya yang akan mengamuk jika mengeluarkan kekesalan.
"Tangkap dia, jangan biarkan lolos, bawa dia ke hadapanku hidup atau mati! berani dia menyentuh calon istriku sedikit saja, takkan ku biarkan ia bisa menghirup udara lagi. Kerahkan semua orang untuk mencari Aline, Al! kita harus menemukannya hari ini juga." Galen berjalan keluar restoran.
"Baik, Tuan!" Aldo membungkukkan badannya saat Galen melewati dirinya.
Lekas ia memerintah semua anak buahnya untuk bersial mencari Aline. setelah iti Aldo mengeluarkan sebuah cek dengan nominal besar untuk ganti rugi kepada restoran tersebut lalu diberikan kepada pemilik restoran itu. Pria berkacamata yang selalu setia menemani Galen berjalan menyusul bosnya yang sudah lebih dulu memasuki mobil.
"Terima kasih, Tuan!" pemilik restoran menerimanya seraya membungkuk hormat kepada Aldo.
Pemilik toko merasa bersyukur dibayar dengan nominal uang setara dengan satu minggu restoran itu buka. untuk mengganti kerugian barang dan kehilangan pengunjung hanya dalam beberapa jam.
Kini Galen tak lagi mengendarai mobil sendiri.
__ADS_1
"Lain kali, lakukan tugas mu sendiri jangan menyuruh toko bunga untuk mengantarkan bunga."
"Maaf, Tuan. Saya akan lebih teliti dan berhati-hati lagi!"
Aldo merasa bersalah karena ia tak mengantarkannya langsung bunga itu kepada Aline.
...***...
Sebuah rumah yang tampak tak terawat dari luar menjadi tempat Ferdi membawa Aline.
Tempat ini jauh dari bangunan yang lain. Harus memasuki gang sempit agar bisa masuk ke rumah ini.
Rumah kosong itu yang menjadi tempat Ferdi tinggal saat ini. Ia kehilangan keluarganya setelah keluar dari penjara, semua karena Galen.
Dan hari ini dendam yang ia pendam selama ini kepada Galen akan terbayar dengan memberikan kejutan untuk Galen.
Di atas tempat tidur berukuran sedang terlihat tubuh gadis cantik yang terlelap dengan tangan dan kaki yang terikat.
Gadis itu masih dalam keadaan tak sadar akan obat bius yang diterimanya.
Ruangan yang tak begitu besar itu menjadi tempat pembekapan Aline. Hanya ada Ferdi dan tiga orang yang berjaga di pintu depan.
Ferdi terus mengamati wajah cantik itu, tangannya terulur menyentuh untaian rambut yang tersulur menutupi wajah cantiknya.
"Cantik! putih Aku sudah tidak sabar melihat Pemuda itu menagis meraung melihat orang yang dicintainya kesakitan dan terluka. Aku akan membuat gadis ini merasakan kesakitan yang aku rasakan selama ini." Ferdi tersenyum sinis, jemarinya terus menyusuri bagian wajah Aline yang terlihat cantik, membuat jiwa lelakinya keluar.
Kedipan mata dan sedikit gerakan dari alis Aline menandakan gadis itu akan segera tersadar dari obat biasanya.
Perlahan mata dengan bulu mata lentik itu mengerjap terbuka.
"Siapa kamu?" refleks Aline menjauhkan wajahnya dari tangan Ferdi ketika membuka mata dengan kesadaran yang sudah pulih.
Ferdi terkekeh renyah lalu memajukan wajahnya agar lebih dekat dengan Alien.
Gadis itu meronta, merasakan kedua kaki dan tangannya terikat di keempat sudut temapt tidur.
"Lepaskan aku! siapa kamu?" teriak Aline lantang. Aline membulatkan mata, terlihat wajah ketakutan dengan tubuh gemetar di sana.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung>>>