
"Kenapa?"
"Apa kamu tidak lihat kondisi putriku saat ini, ia terlihat terpukul dengan kejadian yang menimpanya. Sedangkan pernikahan mereka tinggal beberapa hari lagi! Aku minta batalkan pernikahan ini. Sebelum undangan yang sudah tercetak tersebar luas!" Ayah Zaki berbicara pasrah. Ia tidak tahu harus berbuat apa lagi.
Ayah Zaki tahu. Semua persiapan sudah berjalan dengan baik. Contoh undangan untuk pelanggan setia Ayah Zaki dan teman-teman Aline sudah di terimanya kemarin sore. Ia bepikir sebelum undangan tersebar lebih baik di batalkan daripada membuat Keluarga Wijaya merasa malu.
"Kita tidak bisa mengambil keputusan sendiri, Zak. Galen dan Aline harus tau tentang ini," serah Tuan Wijaya.
"Keputusan Aline? apa kamu tega bertanya masalah ini kepadanya? setelah apa yang dialaminya?" gertak Ayah Zaki.
Tuan Wijaya terdiam sesaat, membenarkan ucapan Ayah Zaki.
"Kita tunggu Galen datang. Bagaimana pun dia harus kita ajak bicara masalah ini." ujar Tuan Wijaya.
Ayah Zaki menghela nafas berat. Dari tadi pagi ia pusing memikirkan masalah ini. Ia juga tidak tega melihat keadaan putrinya.
Pihak kepolisian meminta bukti visum tapi saat akan memeriksa Aline, gadis itu memberontak ketakutan. Sepertinya ia mengalami perlakuan berat sehingga membuat putrinya itu histeris ketakutan.
Nanti sore dokter sudah meminta persetujuan orang tua Aline untuk memberi obat bius kepada putrinya. Agar visum segera dilakukan. Hanya dengan cara itulah prosesnya bisa berjalan tanpa ada histeris dan penolakan.
Sungguh pukulana berat untuk Bu Winda dan Ayah Zaki.
"Apa kamu tidak merasa malu nantinya, Gar, jika meneruskan pernikahan anak-anak kita? Putriku korban pemerkosaan. Dia sudah tidak suci lagi. Aku ikhlas jika kalian membatalkannya." Ayah Zaki melanjutkan ucapannya dengan nada sedih dan putus asa.
__ADS_1
"Kamu ini bicara apa, Zak. Jangan bicarakan masalah ini dulu! Aku tahu kamu sedih dan terpukul. Kita cari jalan keluarnya sama-sama. Bocah itu kenapa lama sekali balik lagi ke sini?" gerutu Tuan Wijaya, ia tidak sadar sudah melimpahkan pekerjaan yang menumpuk pada putranya.
Keduanya masih berbicara rencana ke depannya tentang masalah Aline. Tuan Wijaya juga tak diam saja. Secara diam-diam dia juga mengerahkan orang suruhannya untuk cepat menangkap bajingan seperti Ferdi. Sungguh satu orang penjahat membuat Tiga orang yang berkuasa turun tangan mencarinya.
Tuan Wijaya juga mendapat pesan dari Bara bahwa anak buahnya ikut membantu Galen menemukan penjahat itu.
Ruang Perawatan Aline
"Sudah, Teh! Neng kenyang." Aline menolak suapan yang kembali disodorkan Zainab kepadanya.
Zainab meletakkan makanan di atas nakas. Lumayan, Aline bisa menghabiskan beberapa suap nasi dengan cumi balado kesukaannya.
Aline melihat Bu Winda yang terlelap di sofa. Semalaman tidak bisa tidur membuat wanita itu kelelahan dan kurang tidur. sehingga saat Zainab datang menemani Aline. Bu Winda duduk di sofa, lalu tak sadar memejamkan matanya saking lelahnya.
"Aku mau pulang, Teh!" ucap Aline pelan dengan pandangan lurus masih menatap Bu Winda.
Zainab yang duduk pada kursi di samping brankar lekas berdiri lalu memegang bahu Aline lalu mengusapnya pelan.
"Setelah ijin dari dokter, kita pulang, Neng. Sekarang biarkan Ibu Neng tidur dulu, dia juga butuh istirahat! Neng Aline mau tidur lagi atau apa?" tawar Zainab dengan lembut.
"Aku mau mandi, Teh." sahut Aline.
"Baiklah, hayu atuh! Teteh bantu ke kamar mandi." Zainab mencoba membantu Aline turun dari brankarnya.
__ADS_1
Saat akan berjalan menuju kamar mandi Aline menolak dituntun Zainab. Rasa linu dan sakit di pergelangan tangan dan kaki nya sangat terasa. Pundak dan seluruh badannya terasa remuk, seperti kebas di beberapa bagian tubuhnya.
"Aline bisa sendiri, Teh." Aline melepas tangan Zainab yang memegang kedua pundaknya.
Gadis itu merasa tubuhnya tidak pantas untuk disentuh. Tubuhnya kotor bekas sentuhan pria brengsek itu. Dengan pelan dan langkah yang terasa sakit di pergelangan kakinya, Aline berusaha masuk ke dalam kamar mandi. Ia juga merasa jijik dengan tubuhnya sendiri.
.
.
.
Bersambung>>>>
Aline kamu kuat... kuat...
Bersabarlah kebahagiaan menantimu di depan sana.
.
.
.
__ADS_1