Fake Love

Fake Love
Kontraksi


__ADS_3

Galen dan Aline masih terkekeh mengingat kejadian tadi sore. Baby boy memberikan tendangan pada perut Aline saat Galen maju mundur manja pada tubuh Aline.


Kini Aline dan Galen bersiap untuk tidur. Mereka berdua masih mengobrol santai di atas tempat tidur. Seperti biasa Galen mengelus perut Aline, tidak ada pergerakan di sana. Itu membuat Gaken merasa curiga.


"Kenapa dia diam saja, Yang?" Galen heran biasanya setiap ia sentuh sambil diajak bicara pasti baby boy akan merespon.


"Itu tandanya baby boy bosan, Mas!" Aline semakin terkekeh saat Galen terus mengelus perutnya mengajak baby boy berbicara.


"Boy... apa kamu lelah?" Galen berbicara di hadapan perut buncit Aline. "Yang... apa dia tidur?" tanyanya pada Aline.


Istrinya itu hanya mengangkat bahu pelan. Matanya sudah satu karena mengantuk.


Tak membutuhkan waktu lama Aline sudah menutup matanya. Tertidur karena sentuhan Galen yang terus mengusap perutnya.


Aline berubah posisinya menghadap kiri, karena posisi itu sangat bagus untuk ibu hamil.


Posisi ini disarankan karena dapat meningkatkan aliran darah ke plasenta, sehingga janin akan memperoleh aliran darah dengan optimal. Selain itu, posisi ini dapat mencegah rahim menekan organ hati yang terletak di bagian kanan perut.


"Mas... pinggangnya dong! sebelah sini." Aline menunjuk bagian yang ingin dielus. Kemudian ibu hamil itu melanjutkan tidur manjanya.


Sentuhan Galen selalu menemani pengantar tidurnya.


Galen menatap wajah Aline terlihat damai dalam tidurnya. Kemudian dikecupnya penuh kasih dibagian perut.


"Selamat tidur baby boy." Kemudian beralih pada kening Aline. "Selamat tidur, Sayang!" ucap Galen berbisik di telinga Aline.


Tak ada balasan dari istrinya itu, mungkin Aline sudah memasuki dunia mimpi.


Galen pun bersiap untuk menyusul Aline ke dalam mimpi. Ia membaringkan tubuhnya di belakang Aline. Memeluk tubuh istrinya dari belakang. Kemudian menarik selimut untuk menutupi tubuhnya dan Aline.


Karena seperti biasa Aline hanya tidur memakai dress tipis. Tanpa segitiga bermuda. Mendekati hari persalinan Aline selalu merasa kegerahan saat tidur padahal AC sudah menyala.


Tengah malam Aline kembali terbangun dari tidurnya. Sudah hampir tiga kali ini Aline terbangun. Seperti biasa untuk buang air kecil. tapi usai keluar dari kamar mandi, Aline sedikit meringis.


Ia sengaja tidak membangunkan Galen karena melihat walah lelah suaminya itu yang dari tadi menemaninya.


"Ssh.... kenapa pinggangku panas sekali, sakit juga," keluh Aline lalu berjalan pelan ke tempat tidur.


Sejenak ia terdiam merasakan rasa mulas yang datang, Aline tidak mau terlalu cepat mengambil tindakan. Saat ini ia harus bersikap tenang, Seperti apa yang di ajarkan dokter kandungan kepadanya. Aline harus mengenali tanda persalinan. Dan saat ini Aline yakin ia sedang mengalaminya.


Aline merasakan kontraksi pada kandungannya. Ia melihat waktu sambil merasakan kontraksinya, takut itu hanya kontraksi palsu mendekati persalinan.


Kontraksi kembali terjadi. Rasa sakit pada sekitar pinggang dan sakit dibagian perut.


Aline menarik napas lalu membuangnya perlahan saat kontraksi yang ia rasakan datang tiap setengah jam sekali. Alhasil Aline tidak bisa tidur karena kontraksi yang Aline rasakan semakin lama semakin terasa.


"Mas..." panggil Aline dengan suara parau menahan sakit.


"Hm..." Galen terlihat malas membuka mata.


"Mas... Perutku sakit!" Aline meremas sprei merasakan kontraksi yang datang kembali.


Galen dengan cepat bangun dari tidurnya setelah mendengar ucapan Aline.

__ADS_1


"Kamu kenapa, Yang?" tanya Galen khawatir, melihat Aline meringis menahan sakit.


Aline kembali menarik napas dan membuangnya perlahan. Hanya itu yang bisa dilakukannya.


Kontraksi hilang lagi. Dan di saat itu, Galen memberitahu Oma Ratih dan Papanya. Tak lupa Galen menghubungi Ibu mertuanya.


"Sebaiknya ke rumah sakit segera, Gal. Biar cepat di tangani dokter." titah Oma Ratih saat mengelus pinggang Aline.


"Ya, Oma." balas Galen.


"Sayang ganti baju dulu, ya. Kita kerumah sakit sekarang," ajak Galen dan anggukan dari Aline ia dapatkan.


"Sebentar, aku ambilkan pakaianmu!" Galen berjalan menuju walk-in closet. Setelah mendapatkan pakaian yang sekitarnya pas untuk istrinya, Galen membantu Aline untuk mengganti pakaian yang saat ini dipakai dengan yang baru diambilnya.


"Pakai kain segitiga 'kan?"


"Pakailah, Masa kerumah sakit tidak pakai itu," Omel Oma ratih.


"Biasanya dia tidak mau pakai, Oma. Ribet katanya pas bulak-balik kamar mandi," sahut Galen.


Alin hanya bisa tersenyum mendengar penuturan Galen. Rasanya ia tak sanggup berbicara. "Kenapa tidak bangunin Mas daritadi!" tanya Galen lalu memakaikan kain berbentuk segitiga itu kepada Aline.


Galen harus berjongkok lalu perlahan menaikkan nya ke atas agar pas dipakai Aline dan tidak terselip.


Aline menggelengkan kepala lemah. "Kasihan... Mas kayaknya lelah banget." ucapnya parau sambil meringis.


"Mas, Antar aku ke kamar mandi dulu!" pinta Aline.


"Mau Mas gendong?"


Dengan pelan dan sangat hati-hati Galen memapah Aline. Galeb juga ikut masuk kedalamnya.


"Aku mau pipis dulu, Mas."


"Tidak apa, Mas tunggu kamu di sini saja! Galen membuka kain segitiga itu sampai di batas paha. kemudain Aline duduk di wc duduk untuk buang air kecil.


Aline merasakan ada sesuatu keluar dari jalan lahir. Sambil meringis Aline berdiri setelah membersihkan diri dan memencet tombol yang otomatis menyiram air bekas buang air kecilnya.


"Mas ada sesuatu yang keluar dari sini." Aline menunjuk tubuh bagian bawahnya. "bisa tolong ambilkan tisu?" pinta Aline.


"Sebentar."


Galen terlihat sibuk tak karuan. Hanya minta mengambilkan tisu saja, Galen sampai lupa dimana akan megambilnya.


"Kamu cari apa, Gal? Kenapa istrimu di tinggal sendiri di kamar mandi?" oceh Oma.


"Aline minta tisu, Oma! Ada sesuatu keluar dari jalan lahirnya.


Setelah menemukan yang ia cari Galen dengan cepat kembali ke kamar mandi.


" Lendirnya makin banyak keluar, Mas!" ucap Aline.


Galen semakin sibuk dan panik.

__ADS_1


"Kita kerumah sakit sekarang. Biar segera dapat penanganan ya!" ajak Galen.


Aline pun mengangguk menyetujuinya. Galen kembali Aline memakai kain segitiga nya.


"Sabar ya, Sayang. Kita kerumah sakit sekarang. Ok. Jangan sakiti mommy-mu. lahirlah dengan lancar dan sehat." Galen berbicara pada Perut Aline.


Lagi-lagi kontraksi datang. Kali ini Galen sudah siap untuk membawa Aline. Galen menggendong istrinya kelaur dari kamar mandi.


"Oma... Kita ke rumah sakit dulu!" Galen berjalan melewati Oma Ratih.


Wanita paruh baya itupun mengikutinya dari belakang dibantu Mbak Ira.


Ternyata pak supir sudah siap. Tuan Wijaya yang memberitahunya dan menyuruh untuk bersiap.


Saat melihat Galen keluar dari lift. Tuan Wijaya lekas membukakan pintu.


Galen dengan sangat hati-hati mendudukkan Aline dikursi belakang. Barulah ia masuk dan duduk di sebelah Aline.


"Terimakasih, Pah! Oma aku dan Aline pergi dulu. doakan persalianannya lancar.


"Amin... Yang kuat ya, Nak!" ucap Oma Ratih kepada Aline dan mendapat senyuman yang sedikit meringis dari Aline.


"Pergilah lebih dulu, Papa akan menyusulmu. Papa juga sudah menghubungi pihak rumah sakit kalau kamu sedang dalam perjalanan ke sana," tutur Tuan Wijaya.


"Sekali lagi Terima kasih, Pah!


Tanpa banyak basa-basi lagi, mobil yang membawa Aline akhirnya meninggalkan halaman kediaman Wijaya menuju Rumah Sakit Soedibyo.


***


"Baru masuk pembukaan lima," ucap Dokter Laila dokter yang menangani kehamilan Aline.


Sebenarnya jam praktek Dokter Laila sudah berakhir jam tiga sore tadi. Tapi atas perintah kepala pimpinan rumah sakit dokter tersebut harus datang jam berapapun diperintahkan.


"Sebaiknya diajak jalan perlahan agar pembukaan bertambah." Ucapnya lagi.


"Yang benar saja dokter. Istri saya sudah sangat kesakitan apa tidak ada cara lain agar bayu kami cepat lahir." tanya Galen panik karena Aline semakin meringis menahan sakit,


.


.


.


Baca terus kelanjutan cerita ya.


Mampir juga yuk ke cerita temanku.


seru juga loh ceritanya.



.

__ADS_1


.


__ADS_2