
"Jangan mengulur waktu Tuan Pokcoy, katakan apa yang Anda tawarkan kepada saya?" ucap Galen dengan geram setelah beberapa sloki minuman ia tenggak karena meladeni Tuan Pokcoy yang mengulur waktu dengan pembicaraannya malam ini.
Meski rasa pusing dan mual sudah kembali Galen rasakan. Bukanya tidak pernah merasakan minuman beralkohol itu, tapi Galen sudah lama tidak menyentuh barang haram itu lagi.
Dengan santainya Tuan Pokcoy masih menikmati minuman beralkohol sambil memainkan gelas kecilnya.
"Kenapa buru-buru sekali Tuan Alex?" Satu sloki yang ada di tangan Tuan Pokcoy akhirnya lolos juga masuk ke dalam mulut pria tua itu.
Galen terlihat tegas dengan tatapan matanya yang tajam ke arah Tuan Pokcoy.
"Baiklah... baiklah... Sayang sekali pengusaha muda seperti Anda sepertinya tidak suka berlama-lama di tempat seperti ini. Padahal saya akan memberikan hadiah wanita cantik jika Anda mau menemani saya di sini!" Tuan Pokcoy kembali mengulur waktu dengan berbasa-basi.
Galen berdiri dari duduknya, Ia dekati pria tua yang melempar seriangi licik kepadanya. Merasa tidak terima di permainkan seperti itu, Galen meraih baju depan Tuan Pokcoy.
"Jangan bermain-main denganku!" ucap Galen dengan emosi, kali ia tidak bisa menahan rasa kesalnya.
Tuan Pokcoy merasa sesak karena cengkraman keras dari Galen. "Lepaskan Tuan Alex! Anda tidak ingin 'kan di tendang dari tempat ini secara tidak hormat karena membuat kegaduhan."
Galen semakin geram dengan ucapan Tuan Pokcoy. Ingin rasanya ia memaku dan memukul pria tua itu, tapi Galen malas untuk baku hantam malam ini. sekuat tenaga Ia menahan rasa mual yang sungguh menyiksa. Rasanya akan puas jika ia memuntahkan isi perutnya kepada Tuan Pokcoy.
Galen lekas mendaratkan tubuhnya kasar ke sofa yang tadi ia duduki. Mencoba berdamai dengan kondisi tubuhnya, sambil menunggu apa yang akan diucapkan Ruan Pokcoy kepadanya.
Di luar cafe Sandra mencoba masuk ke dalam Cafe The Moon. Penjagaan yang sangat ketat diluar pintu masuk membuat Sandra di cekal oleh dua orang penjaga.
"Maaf, Nona! Anda tidak bisa masuk begitu saja ke dalam Cafe ini!" ucap salah seorang penjaga bertubuh besar dengan otot yang terlihat jelas di bagian kedua tangannya.
"Saya asisten dari Tuan Alex! Beliau sedang ada janji temu dengan Tuan Pokcoy di dalam," ujar Sandra menjelaskan. Ia menjadikan alasannitu agar bisa masuk ke dalam cafe yang elite yang di kenal tempatnya pengusaha kaya dan kalangan atas.
Penjaga yang menginterogasi Sandra berbisik kepada penjaga yang ada di sebelahnya. Tak lama, Sandra diijinkan masuk ke dalam cafe.
"Akhirnya... Aku bisa masuk ke dalam sini! Tapi di ruangan mana Galen berasa ya?" Sandra terlihat sedikit bingung. Ia mengedarkan pandangannya ke semua sudut cafe, tapi tidak ada keberadaan Galen disana.
Suara musik dj sangat memekakkan telinganya. Sandra terus berjalan mencari dimana keberadaan Galen
"Permisi," sapanya kepada salah satu waiters wanita dengan pakaian sedikit seksi yang ada di sana. Suara musik yang sangat keras membuat ucapan Sandra hanga terdengar samar.
Sandra menepuk pundak waiters itu, barulah respon ia dapatkan.
"Apa Anda tau tempat Tuan Pokcoy dimana?" Sandra kembali bertanya dengan suara yang sedikit kencang tetapi tetap saja masih kalah dengan suara musik dj di dalam sana.
"Dia ada di ujung ruangan sana!" balas waiters wanita itu seraya menunjuk suatu tempat dengan jari telunjuknya.
"Oh . Terima kasih!" sahut Aline. Kemudian waiters itu berlalu untuk kembali bekerja.
Sandra melangkahkan kakinya berjalan menuju tempat Galen. Ia ingin memastikan Galen baik-baik saja.
__ADS_1
Sepanjang langkahnya menuju ruangan di aman Galen berada, tidak sedikit pria yang berusaha menggoda Sandra. Penampikan dan bentuk tubuh Sandra yang memang terlihat menggoda membuat para lelaki yang sedang berjoged dalam keadaan mabuk mendekatinya.
"Hai... Cantik, mau kemana?" Tangan Sandra ditarik oleh salah seorang pria yang terlihat mabuk berat.
"Lepaskan!" Sandra melepas paksa tangannya yang di raih pemuda itu.
"Jangan sok jual mahal kamu di sini! Saya bayar mahal jika kamu mau menemaniku malam ini!" Pria mabuk itu kembali mendekati Sandra lalu menodorongnya ke arah sofa panjang yang ada di dekatnya.
"Aw.... " Teriak Sandra karena sekarang posisi pria mabuk itu berada di atasnya.
"Minggir... lepaskan!" Sandra berusaha menghindar tapi tenaganya tidak sebanding dengan pria tersebut.
Orang-orang yang berada di sana terlihat cuek melihat pria mabuk itubyang berusaha melecehkan Sandra.
Di dalam room privat yang Galen tempati, perdebatan sengit masih berlangsung antara Tuan Pokcoy dan Galen.
"Pikirkan itu baik-baik Tuan Alex. Saya akan menanggung semua kerugian dalam proyek tersebut asalkan Anda mencabut semua penyelidikan yang alam berjalan besok," ucap Tuan Pokcoy santai sambil menghisap putung rokok yang terselip di jarinya.
Galen tersenyum miris. Ia di hadapkan dengan sifat licik Tuan Pokcoy. Ia lekas berdiri tanpa menjawab tawaran yang Tuan Pokcoy tawarkan kepadanya.
Tuan Pokcoy mengharapkan Galen menarik berkas penyelidikannya kepada kepolisian perihal masalah proyek yang sedang berjalan di Tangerang. Karena bukti yang Galen temukan cukup kuat mengarah kepada Tuan Pokcoy.
Orang suruhan Galen berhasil menangkap semua yang terlibat dalam masalah itu. Tuan Pokcoy tidak menyangka kinerja pimpin Aksara kali ini begitu teliti dan jeli dalam semua perencanaan. Sangat berbeda dengan Tuan Wijaya
Galen mengelengkan kepala menyaksikan sifat licik rekan bisnisnya itu.
Galen tau niat licik dari Tuan Pokcoy. Papanya pernah menceritakan sedikit perihak sepak terjangnga. Tuan Pokcoy memang ingin sekali membuat Aksara grup hancur dengan membuat kerugian besar pada proyek besar yang sedang dijalani.
Sayangnya Galen terlalu pintar dalam hal ini. Sistem kerja Galen yang saat teliti memperkerjakan orang -orang yang berkompeten agar tidak ada penyalahgunaan dana dan korupsi sudah ia kerahkan tanpa di ketahui pihak manapun. Ia sudah mengantisipasi kejadian ini.
"Pikirkan penawaran saya Tuan Alex, jangan terlalu sombong dengan apa yang Anda capai baru-baru ini. usiamu masih seumur jagung terjun dalam dunia bisnis," ucap Tuan Pokcoy sambil menatap kearah Galen dengan meremehkan.
"Kita lihat saja nanti Tuan Pokcoy, siapkan pengacara hebat Anda untuk melawanku!" Galen berlalu meninggalkan Tuan Pokcoy dengan kekesalannya.
Pyarrr!!
Gelas sloki hancur berserakan di lantai, saat Tuan Pokcoy melemparnya ke sana. Amarahnya semakin membara ketika Galen dengan tangan terbuka berani melawannya.
"Berani sekali putramu kepadaku, Wijaya!" Sarkas Tuan Pokcoy dengan mata yang berapi karena emosi.
Galen segera keluar dari ruangan room privat itu. "Kita lihat siapa yang akan menang Tuan Pokcoy," Galen bergumam sambil berjalan melewati beberapa orang yang sedang asik berjoged dalam cafe tersebut.
Suasana di dalam sana sangat temaram. Hanya lampu kelap kelip di sertai musik yang berdentum dengan keras begitu terasa.
"Galen... Tolong...!"
__ADS_1
Galen menghentikan langkahnya ketika ia mendengar samar namanya di panggil seseorang.
Lekas ia berbalik, tatapannya langsung tertuju kepada seorang pria yang sedang mencoba menjamah tubuh seorang wanita di atas sofa.
Meskipun dalam keadaan yang kurang akan pencahayaan, tapi Galen bisa mengenali siapa yang memanggilnya tadi.
"Lepaskan dia, Brengksek ... !" Galen menarik baju belakang tubuh pria mabuk itu lalu memukulnya cepat.
Bugh!!
Pukulan keras Galen daratkan kepada pria mabuk itu.
Sandra yang terlepas dari kukungan pria mabuk itu segera berdiri kemudian berlindung di belakang tubuh Galen.
"Tolong aku Gal!" bisik Sandra.
"Kenapa kamu ada di sini?"
"Aku khawatir sama kamu, Gal! jadi ku susul ke sini!" lanjut Sandra.
"Aku tidak selemah itu, jadi tidak usah khawatirkan aku!"
"Gal.... Awas!" teriak Sandra saat melihat Pria mabuk itu mendekati Galen dengan sebuah vas bunga di tangannya.
Benda tersebut hendak di lemparkan ke arah Galen.
Mendengar seruan Sandra, Galen lekas menghindar. Ia kembali memegang kendali, pria itu kembali jatuh tersungkur setelah terlempar oleh Galen karena saling baku hantam.
Para wanita yang berada di sana menjerit karena pertengkaran itu.
Kursi, meja dan beberapa fasilitas yang ada di sana rusak dengan sekejap akibat pertengkaran itu.
Galen seakan menemukan tempatnya membuang emosi. Rasa amarah yang ia pendam sedari tadi terlampiaskan kepada pria mabuk itu.
"Hentikan! Atau saya akan laporkan Anda kepihak yang berwajib karena telah berbuat onar di sini!" teriak salah satu penjaga yang datang dengan tergesa setelah mendengar kejadian dari dalam cafe.
"Silakan, laporkan saja!" Galen berlalu meninggalkan cafe tersebut, sebelum keluar dari cafe, ia menyerahkan kartu namanya kepada satu penjaga yang berjaga di pintu keluar.
"Itu kartu nama saya. Hitung semua kerugian kalian, saya akan bertanggung jawab atas semuanya." Galen kembali melanjutkan langkahnya diikuti Sandra yang berjalan di belakang nya.
Sandra melihat tangan kanan Galen yang memar dan sedikit luka sobek di sudut bibirnya. Ia semakin tidak ingin meninggalkan Galen dalam keadaan seperti ini, terlebih semua karena Galen telah menyelamatkan dirinya dari pria mabuk tadi.
.
.
__ADS_1
.
Baca kelanjutan ceritanya ya....