
Mendapati pria tampan bertanya kepadanya, Rara merasa sangat senang. Mimpi apa dia sepagi ini bisa bertemu dengan pria tampan yang ada di hadapannya.
Mimpi apa aku, bisa berhadapan dengan pria setampan ini.
Apa dia jodohku yang telah lama kamu Engkau sembunyikan ya Tuhan.
Rara malah melamun melihat ketampanan Bara.
“Yah, dia malah bengong!” Bara mengibaskan jemarinya di depan wajah Rara. “Hei, Nona apa kamu tidak dengar ucapanku?” ucap Bara kembali menegur Rara.
Rara lekas pulih dari keterkejutannya. “Ah ..., iya Mas. Saya tahu tempatnya, kebetulan saya mau ke sana!” balas Rara.
Sandra perlahan berdiri dari jongkoknya. Posisinya masih membelakangi Bara dan Rara.
Kenapa wanita ini tidak mau membalikkan badan?
Bara penasaran, tapi Rara berusaha menutupi karena ia tidak mau pria di hadapannya ini malah memperhatikan Sandra.
Semoga Bara tidak mengenaliku, tapi bagaimana jika kita bertemu di peternakan?
Tidak... Tidak... Aku harus menghindarinya.
Batin Sandra masih tetap tidak mau membalikkan badannya.
“Mas, bisa pergi ke sana sama saya! Lebih cepat lebih baik bukan?” Rara menawarkan diri.
“Dia!” Bara menunjuk Sandra dengan dagunya.
Sandra semakin menunduk, ia sangat takut kalau Bara turun dan melihat dirinya saat ini.
“Dia mau ke pasar di ujung jalan ini, mau nganterin kue Ibu. Kalau Mas mau aku antar kalau tidak cari ke sana saja sendiri.” Rara mencoba menarik ulur tawarannya.
“Oke... Oke... Ayo masuk!” ajak BaraBara yang langsung bersiap.
“Yes...,” Rara bersorak dalam hati seraya menyunggingkan senyumnya. Ia berbalik hendak mengucapkan sesuatu kepada Sandra.
“Kamu ke pasar sendiri aja ya, Teh. Aku mau antar mas tampan dulu!” bisik Rara langsung berbalik badan lagi, melangkah meninggalkan Sandra tanpa mau mendengar balasan dari dari wanita yang makin menurunkan penutup kepala dari hoodie yang di pakainya.
Sandra hendak berbicara ke arah Rara tapi dengan cepat ia memalingkan wajah lagi, ternyata Bara tengah memperhatikannya.
Andai saja Sandra menghadap ke arah Bara meski dengan wajah menunduk pasti pria itu akan mengenalinya karena hoodie yang Sandra pakai adalah milik pria itu. Akan sangat mudah untuk mengenalinya.
“Kenapa dia masih melihat ke arah sini, sih?” gerutu Sandra kembali menunduk menyembunyikan wajahnya.
“Wanita aneh!” cebik Bara. Setelah Rara masuk ke dalam mobil, Bara pun bersiap menuju Peternakan Greenfills.
Rara merasa sebal ia kira akan duduk di samping pria tampan itu, tapi ternyata ia duduk di bangku belakang.
__ADS_1
Sandra menatap kepergian mobil mewah itu. Ada rasa penyesalan tapi tidak bisa ia ungkapkan.
Apa aku harus memberitahu yang sebenarnya kepada Bara?
Apa dia akan mengakui anak ini?
Bagaimana jika nanti dia kembali mengacuhkanku, aku sama seperti wanita lain yang datang dalam hidupnya hanya sesaat. Tak ada yang istimewa dengan hubungan kami.
Berbagai pertanyaan muncul dalam benak Sandra. Wanita itu tersenyum miris memikirkan semuanya.
Daripada terus berpikir berat. Sandra lebih memilih untuk meneruskan perjalanannya menuju pasar yang sebentar lagi akan sampai. Semenjak Pak Budi berhenti bekerja, Bu Mirna biasa berjualan masakan matang dan menjual berbagai macam kue basah.
Flashback on
Tadi pagi satu jenis kue masih belum matang. Bu Mirna kesiangan untuk hari ini, ia harus buru-buru ke pasar. Jika ia dan Pak Budi datang lebih siang lagi, bisa jadi dagangan kue basah dan sayur matangnya banyak yang tidak terjual.
Bu Mirna meninggalkan satu panci kukusan yang masih mengepul di atas kompor. Sehingga Bu Mirna menyuruh Rara untuk mengantarkan kue itu ke pasar kalau sudah matang.
Awalnya Rara enggan, ia jarang sekali mau di suruh ke pasar. Gadis itu lebih memilih membantu di rumah saja. Tapi melihat Sandra yang sudah rapi hendak berangkat ke peternakan, Rara ingin ikut dengannya.
Rara ... Sangat tidak mungkin untuk gadis itu mau membawa keranjang berisi kue basah yang masih hangat itu. Kue nagasari yang ada di keranjang ia berikan kepada Sandra untuk dibawanya.
“Tolong, Teh Sandra saja yang membawanya ya!” titah Rara pada Sandra yang sedang duduk di teras rumah karen Rara menyuruhnya menunggu tadi. Gadis itu berhias diri dulu sebelum berangkat.
Biasanya Rara masih asik berselimut manja jam segini. Tapi misinya mendekati Tuan Braja harus ia jalankan. Ada rencana yang sudah ia susun agar bisa mendapatkan pemilik peternakan itu.
Biasanya Sandra pergi ke peternakan hanya berjalan kaki, sengaja ia berangkat pagi-pagi supaya bisa sekalian olahraga santai menurutnya, udara pagi hari di kota Lembang pun sangat menyegarkan untuk di hirup sangat berbeda dengan di Jakarta. Sebab itulah Sabndra sangat betah tinggal di kampung ini.
Sandra dan Rara sudah bersiap tancap gas meninggalkan rumah. Tapi ada sesuatu yang ganjal. Motor matic yang biasa di gunakan itu bannya kempes sehingga mereka berdua harus rela berjalan kaki ke pasar.
Sandra berjalan cepat mengejar waktu. Ia tidak mau kue yang Bu Mirna buat terlambat diantarkan. Akan sayang jika terjual hanya sedikit.
Ada rencana licik yang akan Rara jalankan ketika di perjalanan. Rara sengaja menyenggol keranjang yang Sandra bawa hingga kue-kue itu berjatuhan lalu Rara akan meninggalkan Sandra di tengah perjalanan sendirian. Ternyata niatnya itu berhasil dan membuat keberuntungan menurutnya. Rara bisa bertemu dengan pria tampan yang bertanya kepadanya. Sungguh keberutungan menurutnya.
Flashback off
“Bu maaf, Saya telat ya datangnya?” Sandra dengan segera meletakkan keranjang yang ia bawa ke atas meja dagangan.
Bu Mirna merasa terkejut melihat kehadiran Sandra di sana.
“Loh ... Kenapa kamu yang mengantarkan kue ini? kemana Rara? Terus kenapa jalan kaki tidak pakai motor saja?” cecar Bu Mirna dengan banyak pertanyaan kepda Sandra. Tangannya sambil ikut membantu Sandra meletakkan dan menyusun kue nagasari itu ke nampan untuk dijajakan.
“Bu ... Apa tidak bisa ibu bertanya satu-satu dan pelan? Kasihan Sandra sampai bingung mau menjawab yang mana?” tegur Pak Budi.
“Ya tinggal di jawab saja, apa susahnya?” ketus Bu Mirna dengan sikap sedikit acuh.
Ada sesuatu yang aneh menurut Sandra.
__ADS_1
Sikap Bu Mirna kepada Pak Budi terlihat sedikit ketus. Sepertinya terjadi sesuatu kepada pasangan itu, Sandra takut ia berbuat salah.
“Rara tadi nganter orang ke peternakan Tuan Braja, Bu! Tadi pas mau berangat motorku bannya kempes jadi kami jalan kaki, tadi di jalan rekan bisnis Tuan Braja datang dan bertanya dimana letak peternakan sapi. Jadi, Rara yang mengantarkn mereka sedangkan aku nganterin kue ini ke pasar,” ungkap Sandra membuat Bu Mirna langsung menghentikan gerakannya.
“Apa kamu kenal dengan orangnya, Sand? Kenapa Rara langsung mau saja mengantarkannya? Apa dia tidak takut nanti di culik?” cecar Bu Mirna ia sudah pusing memikirkan sikap anak gadisnya itu. “Pak apa kita salah sudah memanjakan putri bungsu kita itu, Ibu takut dia salah memilih pendamping hidup,” ucapnya pada Pak Budi yang ada di sampingnya.
Bu Mirna selalu didampingi oleh Pak Budi setiap pagi. Mereka akan kembali dari pasar sekitar pukul sebelas siang itu pun jika dagangannya habis.
“Ibu tenang saja! Aku kenal dengan orangnya. Dia adalah rekan bisnis dari Jakarta!” Sandra menjelaskan membuat persaan Bu Mirna sedikit lega.
“Kalau kenal kenapa tidak kamu saja yang ikut dengannya tadi, kalian ‘kan ke tempat tujuan yang sama?” tanya Bu Mirna. “Pasti Rara melarang kamu ikut bersamanya?” tebak Bu Mirna.
“Aku yang tidak ingin ikut bersama mereka, Bu! Aku ingin membantu ibu dan Pak Budi dulu di sini.” Balas Sandra dengan senyum kamuflase.
Bahkan Sandra tidak pernah mengungkapkan prilaku Rara terhadapnya. Ia tidak ingin menambah beban pikiran Bu Mirna dan Pak Budi.
“Nanti bagaimana kalau kamu dibutuhkan saat menyambut mereka? Tuan Braja pasti akan mencari kamu bukan Rara!” ujar Bu Mirna, beliau juga merapatkan tubuhnya ke sisi Sandra. “Kamu juga sedang hamil muda, jangan terlalu lelah,” bisiknya karen atakut Pak Budi mendengarnya.
Bu Mirna belum bercerita kepada suaminya soal kehamilan Sandra. Pasangan suami istri itu malah berselisih semlaah usai Bu Mirna pulang dari tempat Sandra.
Pak Budi mempermasalahkan sikap istrinya yang terlalu perhatian kepada Sandra. Pak Budi mengira sikap Rara saat ini adalah bentuknya dalam mencari perhatian mereka.
Kalau bisa aku tidak ingin ke sana hari ini, Bu.
Aku takut bertemu dengannya. Rasanya belum siap untuk memulai obrolan dengannya.
Tapi kenapa diri ini ingin sekali akaku memeluknya.
Batin Sandra semakin tersiksa, ia pun ingin sama halnya dengan Bara.
Jika Bara ingin tahu kebenarannya dari Sandra.
Sandra juga ingin mengungkapkan yang sebenarnya kepada Bara. Tapi mengapa sangat sulit untuk mereka bertemu.
Saat ada kesempatan bertemu. Ketakutan malah menghantui sandra.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
bersambung