
Siang ini, Aline sudah bersiap di kamar menunggu Tuan Wijaya menjemputnya. Ayah Zaki di beri kabar oleh sahabatnya itu kalau dia sedang dalam perjalanan menuju rumahnya.
Aline berdiri di depan jendela, melihat ke arah luar. Pandangannya menerawang jauh dengan lamunan yang ada dalam benaknya, sampai ia tak sadar kehadiran Ayah Zaki yang memperhatikannya dari tadi.
"Nak!" panggil Ayah Zaki pelan.
"E-eh, Ayah. Kenapa?" Aline menoleh lalu menghampiri Ayah Zaki yang sudah duduk lebih dulu di sofa.
"Apa yang kamu pikirkan? sampai kedatangan Ayah yang sudah lama memperhatikanmu tidak kamu sadari!"
"Benarkah? kenapa tidak menegur Aline?"
Aline menyusul duduk di samping Ayah Zaki.
"Kamu asik dengan lamunan mu, Nak! apa yang kamu pikirkan?" tanya Ayah Zaki lembut.
"Tidak, Yah. Aline tidak memikirkan apa-apa!"
"Jangan pernah menutupi perasaanmu lagi, Nak! cerita kepada Ayah dan Ibu jika terjadi sesuatu. Jangan di pendam sendiri. Ayah dan Ibumu akan selalu mendukungmu, Nak." Ayah Zaki mengelus pelan pipi putri tercintanya itu.
Aline langsung berhambur kedalam pelukan sang Ayah. Seakan menumpahkan kegelisahan hatinya.
Semalam saat menghubungi Oma Ratih. Aline mendengar Oma Ratih bercerita kepadanya. Semua yang Oma tau tentang kisah Aline dan Galen sudah di ceritakan yang kepada cucunya itu tapi Galen sama sekali tidak mengingatnya sedikitpun.
Ada rasa kecewa dan takut di hatinya. Akankah ia akan terlupakan selamanya oleh Galen. Saat Aline meminta Oma melakukan video call, Ia hrus kembali kecewa karena Galen tidak ada di ruangan. Ia pergi keluar mencari udara segar menurut Oma.
Oma juga memberitahunya bahwa ada seorang gadis bernama Sandra yang Galen tolong di rumah sakit ini, dan sekarang gadis tersebut membantu Oma di sana. Dia akan ikut pulang ke negara yang sama dengan Oma dan Galen nanti.
Aline semakin penasaran mendengar cerita dari Oma Ratih. Ada rasa kekhawatiran dalam hatinya.
"Sudah tenangkan dirimu, sebentar lagi kalian akan bertemu." Ayah menenangkan Aline seraya menepuk pelan pundaknya.
"Tapi Galen tidak mengingatku, Yah!" Aline tertunduk lesu.
"Makanya kamu temui Galen, bantu dia mengingat semua tentang kisah kalian."
"Iya, Yah!" hening sesaat diantara mereka.
"Semoga kali ini kamu mendapatkan kebahagiaan, Nak! Ayah ingin melihatmu segera berumah tangga. Ingin ayah mengutarakan keinginan ini, tapi Ayah takut akan menjadi bebanmu." Pandangannya tak lepas dari Aline yang tertunduk seperti memikirkan sesuatu.
"Yah!"
"Hm"
__ADS_1
"Kenapa di saat Ayah dan Om Wijaya menyetujui hubungan Aline kondisi nya malah berbeda. Galen tak mengingatku. Apa ini pertanda kalau Aline dan Galen tidak berjodoh?" Aline berucap sendu.
Ayah Zaki kembali menenangkan Aline. "Aline ... dengarkan Ayah!" kedua pundak Aline di pegang oleh Ayah Zaki, membuat Aline harus berhadapan dengannya.
"Jodoh, rejeki, kematian sudah di atur sama Yang Maha Kuasa. Kita manusia hanya berusaha dan berpasrah diri. Kalau pun Galen bukan jodohmu setidaknya kamu sudah berusaha. Yakinlah Allah sudah siapkan yang terbaik untuk kamu, Nak! Jangan bersedih, tunjukan wajah ceriamu. Masa mau bertemu kekasih wajahnya kusut begini," goda Ayahnya. sontak membuat Aline tersenyum malu.
...🌴🌴🌴...
Singapore Cahangi Airport, Aline berada. Di temani Tuan Wijaya dan Kartika yang memilih ikut dengan Papanya ke sana. Kesedihan masih di rasakan oleh putri dari pernikahan Tuan Wijaya dan Nyonya Mariska itu.
Aline dan Kartika terlihat akrab walau baru pertama kali bertegur sapa. Banyak yang mereka bicarakan sepanjang perjalanan di mobil dan di dalam pesawat menuju negeri singa itu.
Beruntung Kartika ikut menemani Tuan Wijaya, kalau tidak kecanggungan pasti di rasakan oleh Aline, jika hanya berdua dengan Tuan Wijaya saja.
Kini, Mereka bertiga sudah berada di pintu keluar bandara. Mobil yang akan mereka tumpangi menuju rumah sakit masih belum menampakkan keberadaannya.
"Masih lama, ya, Pah?" tanya Kartika membuat Tuan Wijaya yang sedang serius melihat ponselnya seketika menoleh ke arah Kartika.
"Kenapa, Sayang?" ucap Tuan Wijaya seraya mengelus lembut rambut Kartika. Ada perasaan bersalah saat melihat wajah cantik putrinya bermata sembab. Sudah di pastikan ia habiskan malam tadi dengan menangis.
Sikap Tuan Wijaya terhadap Kartika tak luput dari pandangan Aline. Ternyata di balik sikap dingin dan diam yang mendominasi Tuan Wijaya, ada kehangatan di dalamnya.
"Aku ke toilet sebentar ya, Pah!" pamitnya pada Tuan Wijaya lalu menoleh ke arah Aline. "Kak Aline mau anter gak?" Aline mengangguk dengan ajakan Kartika.
Aline dan Kartika jalan beriringan menuju toilet.
"Kak Aline tunggu sebentar, ya! Kartika gak lama ko." Kartika masuk ke dalam toilet wanita sedangkan Aline menunggunya sembari duduk di kursi tak jauh dari toilet tersebut.
Terdengar samar suara seseorang yang sedang marah dari sebrang toilet pria.
"Kamu ini gimana sih, masa bisa kalah tender. Jauh-jauh kita ke sini hanya mendapat kegagalan. Dasar menantu tak berguna." Tuan Baskara saat murka kepada menantu yang kini bekerja untuk nya itu.
"Saingan perusahaan kali ini berat, Pah. Apalagi perwakilan dari Perusahaan Aksara grup jadi saingan berat kita kali ini."
"Lagi-lagi Aksara grup yang mengalahkan perusahaanku. Saya tidak mau tahu, kamu harus bisa mememangkan tender selanjutnya," bentak Tuan Baskara pada Derald menantunya.
Aline beranjak dari duduknya lalu mengintip dari balik tembok. Ia mengenali suara di balik tembok itu.
"Derald" Aline terkejut melihat pria yang masih berdiri berhadapan dengan pria berumur yang merupakan ayah dari Chyntia. "Sedang apa dia disini?"
Aine tidak menyangka bisa melihat Derald di sini. Tak pernah ia melihat pria yang pernah ia cintai itu menunduk di hadapan orang lain. Kali ini, kehidupan seakan berputar. Derald yang dulu suka memerintah , kini berbalik jadi dia yang di perintah orang lain. Semenjak berumah tangga dengan Chyntia perlakuan papa mertuanya sangat memojokan dirinya.
Bentakkan dan omelan masih keluar dari mulut Tuan Baskoro untuk Derald, membuat Aline merasa kasihan terhadap Derald. Tapi teringat kekecewaan yang digunakan torehkannya, Aline berusaha tak peduli dengan apa yang dilihatnya kali ini. Bagi Aline, Derald adalah kenangan masa lalu untuknya.
__ADS_1
"Kak Aline." panggilan dari Kartika membuat Aline membalikkan badan lalu berjalan mendekati gadis itu. "Sedang apa?" tanya Kartika.
Aline tersenyum ke arah Kartika seraya merangkulnya. " Gak lagi apa-apa, lagi nungguin kamu aja, yuk kita kedepan kasian Papamu nungguin!" ajak Aline tanpa memberitahu apa yang sebenarnya ia lihat.
Aline dan Kartika segera kembali ke tempat di mana Tuan Wijaya menunggunya. Lalu mereka segera bergegas menuju rumah sakit.
Jarak rumah sakit dan bandara bisa di tempuh sekitar lima belas menit. Tuna Wijaya menawarkan Aline agar beristirahat dulu sebelum menemui Galen, tapi ia menolaknya. Aline lebih memilih langsung datang ke rumah sakit dan Tuan Wijaya menurutinya.
Bangunan tinggi bercat putih gading bercampur hijau avocado saat ini berada dalam penglihatannya. Loby rumah sakit dan ruangan periksa yang tertata rapi. Bau khas rumah sakit menyeruak dalam indera penciumannya.
Aline, Tuan Wijaya dan Kartika terus melewati beberapa lantai menuju lantai lima dimana ruangan Galen berada.
Semakin dekat dengan pertemuannya bersama Galen. Hati Aline semakin gemetar. Ia meremas ujung bajunya sendiri. Berusaha membuang rasa gugup yang kini ia rasakan.
"Santai aja, Kak Aline!" goda Kartika.
Aline tersenyum menanggapinya. Mereka sampai di depan ruang perawatan Galen.
"Loh pintu ruangannya kebuka gini, Pah?" Kartika hendak masuk ke dalam ruang perawatan, tapi Aline sudah mendahuluinya.
Baru beberapa langkah Aline berjalan. Langkahnya terhenti begitu saja saat melihat pemandangan yang begitu menyesakkan hatinya.
Sosok pria yang sangat ia kenal membelakanginya, terlihat pria itu sedang menunduk seraya memegangi wajah seorang wanita yang tak Aline kenal.
Gerakan itu seperti seseorang yang hendak menyatukan wajah mereka.
"Galen," ucap Aline pelan dengan suara gemetar. Awal pertemuan yang menyesakkan dada untuknya.
Kartika yang mengikuti Aline di belakangnya pun sontak menghentikan langkahnya lalu menatap ke arah pandangan yang sama dengan Aline begitu juga dengan Tuan Wijaya.
.
.
.
.
.
Wuaaahhhhh..... jadi pengen mewek.
Yang suka cerita ini like komen dan beri dukungan vote atau hadiah ya...
__ADS_1