
"Gal... kenapa?" panggil Aline dengan nada khawatir karena melihat Galen diam membeku dengan tatapan kosongnya.
"Gal... " Aline menggoyang pelan tangan calon suaminya yang terlihat sedang meringis kecil.
Gadis itu sangat khawatir terjadi sesuatu kepada Galen.
Galen menunduk menatap Aline, karena postur tubuh pria itu lebih tinggi darinya
"Yank!" rintih Galen kemudian tangan kekarnya memegangi perutnya sendiri. "Aku lapar!" Senyuman tak bersalah Galen berikan kepada Aline.
Galen berhasil mengerjai Aline, sontak membuat calon istrinya yang nampak khawatir itu membulatkan matanya lalu melayangkan cubitan pada perut Galen.
"Yank, perutku lapar kenapa malah di cubit? jadi tambah perih nih!" Galen mengelus perut yang terkena cubitan dari Aline.
"Lagian kamu tuh, Aku sudah khawatir setengah mati tau gak? takut kamu kenapa-napa." Aline menatap tajam Gaken lalu menghembuskan napas berat.
Tatapan itu membuat Galen menggaruk tengkuknya dengan senyum kakunya.
"Maaf, Yank! kita makan dulu, yuk! Aku belum sempat makan dari tadi," ucap Galen dengan nada memohon membuat Aline merasa kasian terhadapnya.
"Aku nemenin kamu doang ya? perutku masih kenyang!" akunya.
"Gak pa-pa, yuk!" Galen meraih tangan Aline lalu menggenggamnya erat. Ia sangat bersemangat kali ini.
Aline mengangguk sambil tersenyum simpul ke arah Galen. Mereka berdua berbalik arah menunda masuk ke dalam area kota tua, guna mencari pedagang makanan yang ada di pinggir jalan. Meskipun waktu menunjukan sore hari tapi tempat itu masih terlihat ramai pengunjung.
Mereka berdua terus berjalan kaki sebelum menemukan tempat makan yang pas menurut Aline.
Sepanjang perjalanannya, Aline menceritakan kenangan yang pernah mereka rangkai di tempat itu. Melihat Aline bersemangat bercerita membuat Galen terus tersenyum mendengarkannya.
Gadis ceria, banyak bicara dan ramah itulah yang saat ini Galen tangkap dari kepribadian Aline.
Beberapa kali saat berjalan Aline sengaja menghentikan langkahnya ketika melihat pedagang yang usianya sudah berumur.
"Ibu, topinya berapa?" tanya Aline pada seorang ibu tua yang duduk sambil menjajakan dagangan topinya.
"Empat puluh ribu, Neng?" jawab ibu tua itu.
Aline melepas genggaman tangan Galen yang masih saja menempel di tangannya. Gadis itu memilah milih topi bundar mirip dengan topi nona Belanda. Pilihan Aline jatuh pada topi berwarna pink dengan aksen bunga kecil di pinggirnya.
"Bagus gak?" Aline meminta pendapat Galen saat mencoba topi tersebut.
__ADS_1
Galen pun mengangguk menanggapinya, Aline juga memilihkan topi untuk Galen. Gadis itu lekas memakaikan topi kepada Galen setelah menemukan yang cocok untuk calon suaminya itu.
"Biar gak terlalu silau kena cahaya matahari sore," ucap Aline, lalu beralih kepada Ibu tua penjual topi itu. " Sama yang ini jadi berapa, Bu?"
"jadi sembilan lima aja, Neng!" ucap Ibu tua itu sambil sedikit membungkukkan badannya.
Dua lembar uang seratus ribu Aline keluarkan dari tas selempangnya, lekas Aline sodorkan ke tangan Ibu tua itu.
"Biar aku yang bayar," cegah Galen saat Aline akan membayar topi. Tapi Aline menggelengkan kepala menolaknya lalu dengan cepat ia sodorkan uang yang ada di tangannya kepada ibu tua itu.
"Ini bu, uangnya! Terima kasih ya, Bu. biar sehat dan laris daganganya." Aline meraih tangan Galen agar melanjutkan perjalanannya.
"Makasih, Neng! loh neng uangnya kebanyakan," seru Ibu tua penjual topi sedikit berteriak.
"Rejeki buat ibu!" balas Aline sambil menoleh kebelakang sesaat lalu berbalik melanjutkan jalan kali pelan bersama Galen.
"Ya Allah, terima kasih, Neng! Alhamdulillah, semoga kalian berdua di berkahi kebahagiaan," teriak ibu tua itu.
"Amin ...," jawab Aline dan Galen kompak saat mendengar doa yang di panjatkan untuk mereka berdua.
Mereka saling bertatapan kemudian saling melempar senyum. Sepanjang perjalanan mereka berdua, terdengar para pedagang yang menawarkan barang jualannya kepada orang-orang yang jalan melewati pera pedagang. Agar para pengunjung tertarik untuk membeli barang yang mereka jual.
Aline masih merangkul tangan Galen kembali gadis itu menghentikan langkahnya di depan gerobak yang menjual ketoprak.
"Di sini?" jawab Galen seraya melihat kondisi sekitar penjual ketoprak yang Aline sebut.
Tak ada meja panjang di sana. Hanya bangku plastik yang ada. Saat tidak ada pembeli bangku itu di dusun meningkat agar tidak memakan tempat karena satu pedagang dengan pedangan lainnya jaraknya begitu dekat.
Aline mengangguk lalu duduk di bangku plastik yang berada di belakang penjual ketoprak itu. Gadis itu menarik lengan Galen agar mengikutinya.
"Kami ikut makan juga 'kan Yank?" Galen ikut duduk di bangku plastik tepat di samping Aline.
"Iya, aku jadi ikut laper." Aline tersenyum malu, belum lama ia berucap perutnya masih kenyang, tapi gadis itu malah mengajaknya makan ketoprak. "Kamu bakalan ketagian ngerasain makan di sini!" bisik Aline pada Galen yang diam seraya memperhatikan keadaan sekitar.
Kebetulan hanya ada satu orang pembeli yang sedang makan di tempat itu.!
"Bang, ketopraknya dua ya! cabenya satu aja!" ucap Aline pada si Abang penjual ketoprak.
"Siap, Neng! dua duanya cabenya satu?" tanya penjual ketoprak sambil menyiapkan piring untuk meracik ketoprak.
"Iya, Bang."
__ADS_1
Aline melihat Galen yang tengah memperhatikan orang-orang yang berlalu lalang di sekitar mereka.
"Kenapa makin ramai? padahal sudah sore! apa tempat ini baru buka?" tanya Galen heran kepada Aline.
Ia melihat semakin sore pengunjung yang datang semakin ramai.
"Pagi dan sore hari pasti sangat ramai, Gal!" apalagi menjelang malam, cuaca sudah tidak panas lagi. Akan ada pertunjukan musik nanti!" ungkap Aline.
Di sela obrolan ringan Aline dan Galen. Ada dua orang gadis yang sedang memilih kacamata yang tempat jualannya tepat di samping penjual ketoprak. Aline pun melihat tingkah kedua gadis itu.
Mereka berdua tengah memperhatikan Galen yang sedang mengedarkan pandangannya menikmati keramaian sore hari di luar pintu masuk kota tua.
Kedua gadis itu saling berbisik sambil melihat ke arah Galen yang oenampikanya sore ini membuat para gadis terpukau.
beruntung Galen membawa pakaian ganti saat pulang dari kantor, hingga ia tidak perlu memakai jas kantor saat ini.
Tapi penampilannya kali ini malah membuat ia jadi perhatian para gadis.
Dan Aline menatap kedua gadis itu lalu beralih kepada Galen.
Ternyata benar keduanya tengah memperhatikan Galen dari tadi, mereka sengaja berlama-lama memilih kacamata agar bisa melihat Galen dari dekat. Aline pun sadar akan itu, membuat Aline kesal dan mengerucutkan bibirnya.
"Menyebalkan," gerutu Aline tapi masih bisa di dengar oleh Galen.
*
*
*
Kesal apa cemburu Aline...
Kita jalan-jalan di kota tua dulu. Ini hasil penelusuran Author saat libur lebaran kemarin. Apa yang Author liat pengennya si di curahkan di sini.
Biar Aline membuat kenangan baru bersama Galen.
Terima kasih untuk kalian yang sudah setia membaca karya ini.
Masih dengan promo karya. Jangan lupa mampir ke karya teman Author yang lain ni.
__ADS_1
bersambung>>>