
Brak...
Pintu terdorong keras oleh Galen.
Ada Aldo dan beberapa anak buahnya di dalam ruangan itu. Dua diantaranya adalah anak buah Bara.
Galen melempar asal map yang ia terima, tak peduli isinya apa. Karena itu tak berarti untuknya.
"Keluar kalian semua," titah Galen dengan keras.
Semua orang yang berada di dalam ruangan itu lantas keluar, meninggalkan Galen dan Ferdi berdua di dalam ruangan itu.
Tatapan Galen mengarah pada pria yang duduk dalam keadaan terikat dengan kain yang menyumpal mulutnya.
Aldo sengaja melakukan itu, karena sepanjang perjalanan menuju tempatnya saat ini, Ferdi terus meronta dan mengeluarkan kata-kata kasar untuk Tuan muda dan Tuan Besar.
Galen berjalan pelan, mendekat ke arah Ferdi yang sama-sama sedang menatap dirinya. Di cengkramnya leher pria tersebut. lalu diarahkan wajah Ferdi agar lebih menatap dirinya. "Kamu, beraninya menyentuh calon istriku!" cengkramannya semakin kuat, balasan sinis ia dapatkan dari Ferdi. Mata pria bajingan itu menyipit, sudut bibirnya melengking meski dalam keadaan mulut tersumpal kain terlihat senyum sinis dan puas dalam diri Ferdi.
Bugh...
Galen melepas cengkramannya, berganti dengan pukulan keras ia daratkan di pipi Ferdi. Saking kerasnya kain yang menyumpal mulutnya terlepas begitu saja.
"Hahaha... " Ferdi terkekeh sinis dan puas. "Saya sudah merasakan lebih dulu tubuh calon istrimu, Tuan Alex yang terhormat." Ferdi mulai mengeluarkan suaranya setelah kain yang menutupi mulutnya terlepas. Senyum mengejek tertarik di sudut bibir pria yang tengah menahan sakit itu.
Dalam kondisi tangan dan kaki terikat. Tubuhnya memang tidak mampu membalas Galen. Tapi bibirnya terus berusaha memancing amarah Galen. makin lama Ferdi makin berusaha membuat Galen tersulut emosi.
"Brengsek."
Brakk...
Brugh...
Kursi yang mengikat Ferdi jatuh bersama tubuhnya, pipi sebelah kirinya tak terlewatkan mendapat kembali pukulan dari Galen.
"Heh...," Ferdi mendongak sambil menyeringai ke arah Galen yang berdiri di hadapannya. "Kamu hanya berani saat keadaanku terikat seperti ini," ejeknya dengan tujuan Galen mau melepaskan ikatan di tubuhnya.
Galen mengepalkan kedua tangannya, makin geram dengan Ferdi yang masih banyak berkilah. "Do ... !" panggil Galen. Dengan sigap Aldo masuk ke dalam ruangan itu. "Buka semua ikatannya, saya mau lihat, seberapa kuat bajingan ini menantang saya," titah Galen segera dilakukan Aldo.
Asistennya itu dengan kasar membangunkan Ferdi, lalu membuka semua ikatan tali yang mengikat tangan dan kakinya.
__ADS_1
Ferdi terlihat meregangkan otot-ototnya yang kram. Mata elang Galen terus menatap bajingan di hadapannya itu.
Aldo bergerak mundur, tanpa keluar dari ruangan. Ia takut tuannya melakukan hal yang tidak boleh ia lakukan. Aldo sangat mengenal Galen. Ia tidak segan menghabisi orang yang telah bertindak kejam.
Bukan Aldo, takut. Tapi musuhnya ini sedang dalam pencarian kepolisian. Jika tidak, Aldo pun tak akan mencegahnya. Dia tidak mau bosnya ikut terseret dalam kasus hukum akan merusak reputasinya sebagai CEO perusahaan Aksara Grup yang belum lama ini ia pegang.
Dengan langkah kaki yang pincang Ferdi mendekati Galen. Sebuah kepalan tangan mengarah ke perut Galen. Tapi dengan cepat Galen meraih tangan itu lalu membalikan tubuh Ferdi dengan satu tangan yang di putar ke belakang tubuh bajingan itu lalu didesakkan kepunggungya.
"Dari dulu sudah saya katakan jangan macam-macam. Kamu pernah di beri kesempatan untuk berubah, tapi sama sekali tidak kamu lakukan, BAJINGAN...?" Galen mengeratkan tangan Ferdi, satu tangan Galen mengait di leher Ferdi.
Situasi mulai memanas, Aldo hanya jadi penonton di sana, Ia tahu bosnya sama sekali tidak membutuhkan bantuan darinya.
Saat Galen semakin erat mengaitkan tangan di leher Ferdi. Tangan bajingan itu menyikut perut Galen. Membuat pria itu sedikit limbung dan melepaskan kaitan tangannya di leher.
Bugh...
Sikutan yang keras dan tepat pada sasaran diterima Galen. Pria itu sedikit meringis dan memegangi perutnya. Aldo sempat ingin menolong, tapi Galen mengangkat tangannya memberi intruksi pada Aldo agar diam saja di tempat.
Galen kembali berdiri tegap, sambil tersenyum mengejek ke arah Ferdi. "Ternyata tubuh lemahmu masih bisa melawanku, bajingan ...," Galen melangkah cepat ke hadapan Ferdi.
Bugh...
Bugh...
Ferdi masih memaksakan dirinya untuk melawan. Karena masih tidak terima dengan apa yang Galen perbuat kepadanya. Memasukkannya ke dalam penjara, mengambil semua anak jalanan sebagai tempatnya mendapat uang. Membuat Wina pergi meninggalkannya. Dan yang paling terasa sampai detik ini, hadiah dari Galen yang membuat kaki kanannya pincang.
Sudut bibir yang sobek dan mengeluarkan sedikit cairan berbau anyir, membuat Ferdi meringis sambil memegangi perutnya yang sakit akibat hantaman pukulan dari Galen.
Galen kembali mendekati Ferdi. Mencengkram kerah baju dengan kedua tangannya, mendorong tubuh orang yang sudah lemah itu.
Lagi-lagi pukulan Galen layangkan di perut dan lebih parah mengarah pada bibir Ferdi. "Itu balasan karena telah berani menyentuh wanitaku," ucap Galen dengan penuh penekanan emosi. Masih ada kilat amarah dalam jiwanya. Ingin rasanya menghabisi bajingan yang jatuh bersimpuh di hadapannya itu.
Sambil meringis menahan sakit Ferdi duduk sambil tertunduk wajahnya sudah membiru akibat pukulan, sudut bibirnya mengeluarkan cairan berwarna merah, semua tidak sebanding dengan yang Aline alami saat ini.
Galen berbalik melangkah mendekati meja di belakangnya, diraihnya map cokelat yang Wendi titipkan padanya. Dilemparkan map tersebut ke arah Ferdi.
Plak..
Map itu tepat menengenai wajah Ferdi.
__ADS_1
"Saya masih berbaik hati memberikan titipan dari istrimu." Galen duduk di bangku sambil terus menatap Ferdi. "Buka, saya ingin lihat, apa yang istrimu berikan kepada suami yang tega menjual dirinya kepada lelaki hidung belang demi mendapatkan uang!" Kedua tangannya bertumpu di atas lutut, dengan tubuh yang sedikit membungkuk ke depan. "CEPAT!" titahnya keras.
Dengan tangan gemetar Ferdi membuka map cokelat itu, dirogohnya isi di dalam map tersebut, saru amplop kecil dari pengadilan agama dan sebuah foto anak kecil berusia sekitar tiga tahun dikeluarkannya.
Galen masih sabar menunggu pria di hadapannya membuka satu persatu titipan dari istrinya itu.
Pria di hadapannya terlihat menangis saat memegangi foto anak kecil itu. Galen mengerutkan alis melihatnya. Penjahat seperti Ferdi bisa menangis tersedu seperti itu.
Pria yang sudah kehabisan tenaga itu mengesot pelan ke arah Galen. Ferdi berucap sambil terbata. "Tolong, ijinkan saya bertemu Wina dan anak saya, saya ingin melihat mereka sebentar saja. Saya ingin melihat senyumnya sekali saja," ucap Ferdi dengan wajah memohon.
Galen tersulut emosi saat mendengarnya. Ia lekas berdiri. "Apa kamu bilang, ingin melihat senyum anak istrimu." Kilat amarah terlihat di wajah Galen.
Bayangan kondisi Aline saat ia menemukannya di markas masih ia ingat jelas. Teriakan histerisnya pun masih terbayang dalam benaknya.
Galen berjalan cepat ke arah Aldo dirampasnya pistol yang berada tergantung di pinggang asistennya itu, tertutup jaket bomber hitam miliknya. Galen sangat hapal karena Aldo selalu membawa benda tersebut kemanapun mereka pergi, untuk antisipasi penjahat yang akan menyerang mereka di manapun.
"Tuan, jangan!" Aldo tersentak dengan gerakan tiba-tiba dari Galen yang merampas pistol di balik jaket bombernya.
Pistol itu mengarah kepada Ferdi.
Matanya yang memerah dengan tatapan tajam dari mata elangnya membuat Ferdi menelan salivanya. Bajingan itu berpikir tak akan bisa melihat wajah anak kecil dalam foto tersebut.
"Maafkan saya, Tuan!" ucap Ferdi masih dengan nada memohon.
Mendengar ucapan itu makin membuat Galen tak bisa mengendalikan dirinya. "Maafmu itu tak akan bisa mengembalikan kesucian calon istriku." Ditariknya pelatuk tersebut dua kali tembakkan Galen arahkan kepada Ferdi.
"Saya belum menyen....
Dor....
Dor...
"Aarrghh...."
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung>>>>