Fake Love

Fake Love
Mempermudah Jalan Lahir


__ADS_3

Dengan gerakan cepat Sandra merapikan berkas yang berserakan di lantai akibat menabrak Galen.


Keduanya berdiri bersamaan. Galen masih memegangi satu berkas di tangannya.


Sandra menunduk tak berani menatap Galen. Rasanya meski sudah tak bertemu dalam waktu yang lama, tapi ia masih merasa malu. Malu atas semua sikapnya yang begitu rendah di mata Galen.


Sejenak Galen membaca tulisan yang tercetak di lembaran berkas itu.


"Jadwal ulang operasi pemasangan ring pada jantung Nyonya Sarah Amalia," gumam Galen. Pria itu lekas beralih menatap Sandra. "Kenapa harus ada operasi ulang. bukankah harusnya Bu Sarah sudah melakukan operasi.


Sandra mendongak lalu tersenyum miris seraya menatap Galen. " Maaf, Tuan ini bukan urusan Anda lagi. Maaf..." Sandra merampas berkas yang dipegang Galen. Dengan cepat Sandra meninggalkan Galen yang berdiri menatapnya.


Urusan Bu Sarah memang bukan urusan Galen lagi. Tapi rasa penasaran datang pada dirinya, mengingat sakit yang di alami Bu Sarah, ia sangat mengetahuinya.


Apa yang terjadi?


Galen bertanya pada dirinya sendiri. Karena setahu Galen seharusnya Bu Sarah sudah melakukan operasi bersamaan dengan Sandra keluar bekerja. Dan biaya operasinya pun sudah di tanggung olehnya. Galen juga memasukan nama Bu Sarah ke dalam bantuan yayasan perusahaan, jadi Galen tidak secara langsung membantunya kali ini.


"Aldo pasti bisa menjelaskan ini semua," pikir Galen yang kembali melanjutkan langkahnya.


Di luar rumah sakit.


Kenapa harus bertemu dia lagi.


Rasa bersalah ini masih saja terasa.


Maaf... Gal, Aku tidak bisa menerima pengajuan pengobatan yang kamu ajukan ke yayasan.


Semua sudah cukup, aku tidak mau terlalu bergantung kepada bantuanmu.


Batin Sandra kemudian melanjutkan langkahnya untuk segera pulang ke rumah.


Sesampainya di rumah, Sandra melihat Bu Sarah sedang membereskan sisa air hujan di rumah kontrakannya. Semalam hujan lebat dan Sandra belum sempat membersihkannya.


"Ini semua karena Bi Erma, andai saja dia tidak kabur membawa uangku, Ibu pasti sudah di operasi sejak lama," ucap Sandra kesal mengingat adik dari ibunya itu.


Sandra berjalan cepat menghampiri Bu Sarah. "Ibu biar Sandra yang membersihkannya, Ibu istirahat saja! Ini licin kalau ibu jatuh, gimana?" Sandra mengambil alih alat pel yang di pegang Bu Sarah, disandarkannya pada dinding, lalu memapah Ibunya duduk di bangku yang tak jauh dari mereka.


"Ibu bosan harus tiduran terus, Sand! Ibu itu hanya bisa merepotkan mu!" ucap Bu Sarah lalu duduk di bangku. Ia melihat Sandra dengan tatapan sedih. Anak gadis yang selalu ada untuknya.


"Ibu tidak pernah merepotkan ku, Ingat sebentar lagi, operasi dilakukan. Ibu harus stabil sampai waktunya tiba." Sandra meraih tangan Bu Sarah lalu menggenggamnya erat kemudian tersenyum manis kepada ibunya.


Senyum palsu yang ia berikan. Karena hatinya sangat penuh dengan kepelikan hidup."Hanya ibu yang aku punya. Jadi ibu harus sembuh," lanjutnya.


"Sand... Kamu tidak sendiri, kamu jangan lupa ayahmu masih hidup. Kamu masih punya dia. Dan Bibimu... Meskipun dia pergi membawa uang hasil jerih payahmu selama ini. Dia tetap saudara kita. Tapi tetap saja, Ibu malu padamu mempunyai saudara seperti dia." liriknya


Sandra tersenyum getir mendengar ucapan ibunya.


"Aku tidak pernah menganggap dia ada, Bu. Semenjak Ayah memilih wanita itu. Aku sudah menganggap di mati," lirih Sandra dengan tatapan kebencian saat mengingat sang ayah.


Dimana saat itu, ayahnya lebih memilih pergi dengan wanita yang sudah merusak kebahagiaan keluarganya saat itu, ayahnya yang berasal bosan karena terus menerus harus melihat Bu Sarah yang sakit-sakitan kemudian pergi dengan wanita cantik dan sehat yang bisa memuaskan kebutuhan batinnya.


"Lupakan masa itu, Nak. Ibu sadar, tak pernah memberikan kepuasan kepada ayahmu. Wajar jika ia memilih wanita itu."


"Tapi ayah tega meninggalkan ibu dan aku. Dia menghilang tanpa kabar selama ini." sarkas Sandra, bahunya naik turun menahan emosi.


Hening sesaat, Santa mencoba meredakan emosinya jika membahas ayahnya.

__ADS_1


"Maafkan Sandra, Bu! Sekarang ibu istirahat ya!"


"Ibu yang seharusnya meminta maaf, kamu harus mengorbankan hidupmu demi ibu. Seharusnya saat ini kamu sudah menikah, tidak mengurusi ibu terus."


Ia menyudahi pembicaraannya. Ia tidak mau kondisi Bu Sarah menurun.


"Sandra ikhlas, Bu. Makanya Sandra mohon, berjuanglah untuk sembuh. Agar bisa melihat Sandra menikah nantinya." Lagi-lagi Sandra memberikan senyuman kamuflase nya.


"Antar ibu ke kamar, Nak!" pinta Bu Sarah.


Sandra mengangguk.


Akhirnya Sandra memapah Bu Sarah ke kamarnya. Tak lupa memberikan obat rutin ia berikan kepada Bu Sarah.


Usai mengantarkan Bu Sarah dan melihat wanita yang telah melahirkannya itu beristirahat. Sandra hendak meneruskan pekerjaan yang sempat tertunda tadi.


Sejenak ia terdiam, kemudian memandangi botol obat yang ia simpan di atas nakas barusan.


Obat ibu tinggal sedikit.


Aku harus segera membelinya lagi.


Sandra membuang napas berat. Ia harus memutar otak agar bisa mendapatkan uang dengan segera. Andai saja ia tidak mengundurkan diri dari Aksara Grup. Pastinya semua beban hidup yang ia alami saat ini tidak akan terjadi. Gaji yang cukup dan biaya pengobatan ibu sudah terjamin di sana.


Tapi ia tidak mau menjadi wanita jahat. Meskipun Galen akan menempatinya di bagian lain. Tapi rasanya enggan untuk Sandra menerimanya.


Sandra merasa keputusannya keluar untuk mempertahankan harga diri baik untuk dirinya saja tidak untuk Bu Sarah.


Sandra harus berpikir keras bagaimana ia mendapat uang dengan cepat untuk biaya operasi Ibunya.


Sandra teringat dengan Mamih Mawar. Orang yang dulu bekerja sama dengan Bi Erma, orang yang sudah membayar keperawanannya dengan harga yang cukup mahal untuk biaya operasi pertama ibunya dulu.


Aku akan membuat perhitungan denganmu, Bi....


Awas saja, Kalau aku menemukanmu tidak akan aku kasih ampun.


Sandra begitu dendam dengan Bi Erma.


***


Tak terasa dua bulan terlewati dengan kesibukan Galen yang menjadi suami siaga untuk Aline.


Saat ini Aline dan Galen tengah sibuk menyusun perlengkapan baby boy di kamar yang sudah mereka siapkan. Kamar dengan banyak warna soft itu terlihat begitu lembut dan elegan.


Aline menyusun bantal boneka di sofa panjang berwarna putih. Sedangkan Galen menaruh beberapa hiasan dalam bufet kaca.



Mereka berdua bekerja sama mempersiapkan tempat untuk baby boy, yang diperkirakan akan segera launcing tak lama lagi. Menurut dokter, Aline hanya tinggal bersip dan bersabar menunggu waktu saja. Sebab perkiraan lahir hanya tinggal tiga hari lagi, itu bisa terjadi lebih cepat atau bisa mundur.


Kamar dengan warna soft pada semua hiasaan dan acsesorisnya adalah pilihan Aline. Ia tidak mau memilih kamar yang terlalu menunjukan warna khusus laki-laki, ia memilih warna netral yang bisa dipakai oleh bayi perempuan ataupun bayi laki-lak.


"Haah..." Aline membuang napas berat karena lelah.


Wanita dengan perut yang semakin membesar itu tidak tahan jika harus berdiri lama.


Aline duduk di sofa panjang di depan tempat tidur baby boy nantinya.

__ADS_1


Galen menoleh ke arah Aline. Ia lekas mendekati istrinya, "Mas, bilang apa. Biar Mas yang menyelesaikannya," ucap Galen sambil mengecup keningnya, lalu ikut duduk di sisi Aline.


"Aku hanya merapikan tempat tidur dan menyusun bantal boneka ini, Mas. Tapi rasanya sesak sekali. Pinggangku panas, Mas. Kakiku juga sakit saat berjalan." Aline bersandar di sofa itu.


Galen mengalihkan pandangannya ke bawah. Ia melihat kaki Aline yang bengkak. "Apa semakin sakit, Yang?" tanya Galen. "Coba kamu tiduran, Yang!" titah Galen.


Suami siaga itu membantu Aline menaikkan kedua kakinya ke atas sofa.


"Kamu tunggu sebentar, Mas ambilkan minyak urut untuk memijat kakimu." Galen beranjak meninggalkan Aline, ia mengambil minyak urut di kamarnya lewat pintu yang tersambung langsung ke kamar pribadinya.


Tak lama Galen kembali dengan minyak urut di tangannya.


Perlahan Gaken memijat pelan kaki Aline yang bengak.


"Terima kasih, Sayang.... Kamu rela mengalami semua ini demi baby boy!" Galen memijat pelan kaki Aline yang bengkak.


Pijatan yang selalu membuat Aline merasa nyaman. Setiap malam Galen akan selalu mengolesi minyak hangat itu ke pinggang Aline karena istrinya itu merasa pinggang yang panas dan tidak bisa tidur selama satu minggu ini.


Aline selalu terbangun saat malam hanya untuk buang air kecil. Tapi itu terjadi bisa dua sampai tiga kali ia terbangun. Sampai Aline memilih tidak menggunakan kain segitiga pada tubuhnya.


Menyusahkan bagi Aline saat buang air kecil. Dan itu menjadi keuntungan bagi Galen. Kenakalannya selalu saja ada. Ia merayu si bumil untuk bermain singkat, dengan alasan mempermudah jalan lahir.


Galen si suami siaga tidak pernah membiarkannya sendiri. Ia selalu ikut terbangun dan menemani Aline yang selalu gelisah dan tidak nyaman pada tubuhnya.


Aline tersenyum menatap Galen mengingat kesiagaan dan kenakalannya akhir-akhir ini. Yang paling membuatnya menggelengkan kepala adalah pada saat inti pusat Galen akan menerobos memasuki lembahnya, Galen pasti akan mengetuk pintu lembah dan berucap, Baby boy.... Daddy datang kita main maju mundur pelan.


Aline tersenyum geli mengingatnya.


"Yang, ko malah senyum-senyum," tegur Galen.


"Aku membayangkan baby boy lahir, Mas," elak Aline. "Aku bahagia. Meskipun sakit, berat dan berbagai rasa aku rasakan saat ini. Tapi Aku... Sangat bahagia. Sebab Mas, selalu ada buat aku. Dan tak lama lagi baby boy akan hadir diantara kita." ucap Aline sambil tersenyum kepada Galen.


Galen berdiri lalu menyimpan minyak urut di atas nakas setelah selesai memberi pijatan di kaki Aline. Ia kembali mendekati Aline, memberikan kecupan beberapa kali di pipi cuby istrinya itu.


Kecupan semakin menurun, Aline yang tahu gerakan Galen selanjutnya sedikit mencegah.


"Mas... Mau ngapain?" Aline menjauhkan wajah Galen dari pipinya.


"Ngajak maen baby boy sebelum dia lahir!"


Dan sofa yang baru saja rapi oleh Aline kembali berantakan oleh mereka berdua. Kegiatan yang selalu menjadi alasan mempermudah jalan lahir selalu jadi andalan Galen.


.


.


.


Baca kelanjutan ceritanya ya...


Galen kelakuanmu... bini bunting begitu masih aja diajain maen maen asik...


🤪🤪


Mampir ke karya temanku lagi yuk.


karya AuthorAuthor sun_flower95

__ADS_1


Seru loh ceritanya, jangan lupa mampir ya.



__ADS_2