
Di rumah Bara
Sandra bergegas keluar kamar. Ia penasaran dengan suara yang di dengarnya.
Nyonya Mariska berjalan menaiki anak tangga. Beliau mengira Sandra berada di lantai dua. Sebab yang ia tahu kamar Abbas berada di sana. Langkahnya terhenti saat mendengar suara Sandra memanggilnya.
Nyonya Mariska memberikan tatapan sinis kepada Sandra. Ia kembali berbalik dan menuruni anak tangga.
“Heh... Enak sekali hidupmu. Setelah putraku mengangkat derajatmu. Sekarang kamu mulai berani mengatur,” ucap Nyonya Mariska cetus kepada wanita yang baru saja keluar dari kamarnya itu.
Semenjak Sandra tinggal di rumah itu. Bara memindahkan kamar utamanya di lantai satu. Sebab Bara tidak mau Sandra naik turun tangga. Akan sangat berbahaya untuknya.
Bara juga sempat berpikir akan memasang lift khusus di rumah itu seperti yang dilakukan Galen di kediaman Wijaya. Tapi Sandra menolaknya. Istrinya itu tidak ingin Bara melakukan perombakan atas rumah yang sudah ia bangun.
Sandra tidak menghiraukan ucapan Nyonya Mariska. Ia berusaha mengerti akan sikap mertuanya itu. Sandra mengerti bahwa sampai saat ini Nyonya Mariska masih belum sepenuhnya menerimanya sebagai menantu.
Perlahan Sandra mendekati Nyonya Mariska. Mencoba menyapanya.
“Kapan Mama datang? Kenapa tidak memberi kabar padaku? Aku bisa menyiapkan makanan untuk mama,” sapa Sandra. Tangannya terulur untuk meraih tangan Nyonya Mariska tapi Ditepis kasar oleh mertuanya itu.
“Jangan sok baik kamu, wanita ******! Pandai sekali dirimu bersikap baik. Di hadapanmu kamu bersikap manis tapi di belakangku kamu berusaha menguasai putraku!” ucap Nyonya Mariska keras dan kasar kepada Sandra.
Tidak mengerti maksud dari mertuanya. Sandra mencoba berbicara pelan kembali.
“Maksud mama apa? Apa salah Sandra sama mama?” tanya Sandra pelan ia tidak mau ikut terbawa emosi. Ia harus bersabar menghadapi Nyonya Mariska.
Mendengar Sandra berbicara entah mengapa membuat Nyonya Mariska semakin kesal. Ia berjalan cepat mendekati Sandra ingin sekali memberi pelajaran kepada menantunya itu.
“Aw...,” jerit Sandra ketika tubuhnya terdorong dari depan oleh Nyonya Mariska. Beruntung Bu Mirna menyelamatkan Sandra. Sehingga tubuh ibu hamil itu tidak terjatuh dan dalam keadaan baik-baik saja.
“Nyonya tidak pa-pa?” tanya Bu Mirna.
Semenjak bekerja di rumah Bara. Bu Mirna dan Pak Budi merubah panggilan mereka kepada Bara dan Sandra. Sebab menurut kedua orang tua itu tidaklah sopan meskipun mereka orang yang lebih tua. Tapi Bara dan Sandra adalah majikannya saat ini.
“Aku baik-baik saja, Bu!” balas Sandra. Ibu hamil itu kemabli berdiri tegak. Kemudian berjalan menghadapi Nyonya Mariska.
“Maksud Mama apa, bicara seperti itu?” tanya Sandra penasaran.
Nyonya Mariska menyeringai.
“Kamu yang menyuruh putraku untuk mengurangi jatah uang untukku ‘kan? Kamu memang ingin menguasai putraku dan semua hartanya. Dasar ****** licik!” sarkas Nyonya Mariska.
“Mama tidak bisa menuduhku tanpa bukti. Aku tidak pernah tahu dan tidak pernah melarang Mas Bara untuk mengirim uang sebesar apapun kepada Mama,” elak Sandra. Ia tidak mau selalu di tuduh dan dikira ingin menguasai harta suaminya.
“Bohong! Picik sekali kamu, Sandra. Saya pastikan setelah bayi itu lahir, Bara akan menceraikan kamu. Putraku akan ku rebut kembali darimu. Jangan harap kamu bisa menguasainya seorang diri. Aku... Aku yang telah melahirkannya jangan harap kamu bisa merebutnya dariku!” Nyonya Mariska berucap penuh emosi dan kesal.
__ADS_1
Tatapannya tajam ke arah Sandra. Masih tidak puas, Nyonya Mariska kembali mendekati Sandra.
“Aku menyesal sudah mengizinkan putraku untuk menikahimu, bisa saja bayi itu bukanlah darah dagingnya!”
“Cukup, Ma! Sudah cukup mama menuduh dan menghinaku selama ini, aku tidak peduli apapun pemikiran mama terhadapku. Yang pasti aku tidak seperti itu. Aku memang wanita dari kasta rendah tapi aku tidak akan membiarkan mama selalu merendahkanku di belakang Mas Bara. Mama selalu bersikap baik padaku jika ada Mas Bara tapi sikap Mama akan selalu seperti ini jika dia tidak ada!” Sandra mulai tersulut emosi.
Selama kehamilannya Sandra memang mengalami emosi yang tidak stabil. Kadang ia menangis tiba-tiba tanpa alasan.
Mendengar Sandra yang mulai berani padanya. Nyonya Mariska mendekati wanita itu, tangannya terangkat untuk menampar Sandra, tapi dengan cepat seseorang mencegahnya.
“Hentikan mama!” ucap Bara menatap marah pada Nyonya Mariska. “Jangan pernah berani menyentuh istriku.”
Bara melepaskan tangan mamanya dengan kasar.
“Istriku sama sekali tidak tahu soal uang yang aku kirimkan untuk mama! Akulah yang mengaturnya aku sengaja mengurangi jumlahnya,” ujar Bara dengan nada marah kemudian mengalihkan perhatiannya kepada Sandra. “Kamu tidak pa-pa, Sayang?” tanya Bara sembari merangkul bahu Sandra.
Sandra menggelengkan kepalanya pelan. “Tidak pa-pa, Mas!”
Bara meraih map yang ia letakkan begitu saja di meja ketika ia melihat istrinya hendak di tampar oleh Nyonya Mariska. Kemudian kembali berjalan mendekati mamanya.
“Buka dan lihat baik-baik semua bukti itu.” Bara memberikan map berisi surat dan foto-foto bukti kelicikan Seno kepada mamanya.
“Apa ini?” tanya Nyonya Mariska.
“Buka saja!”
“Selama ini aku diam ketika mama selalu meminta uang dalam jumlah sebesar apapun. Aku selalu mengawasi mama, tapi kali ini mama keterlaluan semenjak mengenal Seno. Pria itu tidak baik, dia hanya memperalat mama untuk mendapatkan uang.”
Nyonya Mariska menggelengkan kepala melihat semua bukti yang di beberkan Bara. “Ini tidak mungkin, mama dan Seno sudah menjalankan bisnis berlian sekarang ini, tidak mungkin dia mengkhianati mama!” Mama Mariska seakan tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Apalagi ada beberapa foto kebersamaan Seno dengan seorang wanita muda dan cantik sedang berbelanja dan berlibur bersama dengan kekasih mamanya itu.
“Ini tidak mungkin,” sanggah Nyonya Mariska.
Di apartemen Nyonya Mariska.
Setelah mendapat kode akses dari Nyonya Mariska. Kartika memilih menunggu kedatangan mamanya di sana.
Seperti berada di rumah sendiri Kartika bersantai sambil menonton serial drama Korea kesukaannya.
Satu jam sudah gadis itu menunggu. Tapi Nyonya Mariska tak kunjung pulang.
“Kenapa mama lama sekali?” pikir Kartika.
Kemudian gadis itu kembali menghubungi mamanya. Beberapa kali ia mencoba menghubungi tapi sambungan teleponnya tak terjawab. Hingga akhirnya ia terlelap di sofa itu.
__ADS_1
Di luar apartemen
Seorang pria berjalan dengan semangat seakan ingin segera sampai ke tempat tujuannya. Pria itu pun merasa senang sebab berkas yang ada di tangannya sesaat lagi resmi menjadi miliknya secara resmi.
Beberapa rencana pun sudah ia susun dengan rapi.
“Setelah ini toko berlian itu akan menjadi miliki!” seringainya.
Mengetahui kode akses masuk ke dalam apartemen wanitanya. Seno dengan mudah masuk ke dalamnya.
Betapa beruntungnya saat ia melihat sajian menggoda saat masuk ke sana.
“Kita bertemu lagi, cantik!” uang Seno saat melihat Kartika tertidur di sofa.
Ia berjalan mendekati gadis itu. Tangannya terulur untuk menyentuh kaki putih jenjang milik Kartika. Semakin menggoda menurutnya. Tapi Seno celingak celinguk takut Nyonya Mariska melihat kelakuannya.
Kartika merasakan ada yang datang, perlahan ia membuka mata. Begitu terkejutnya saat Kartika melihat Seno hendak menyentuh tubuhnya.
“Mau apa kamu?” ucap Kartika dengan mata melotot ke arah Seno sembari berdiri dengan tergesa.
“Ops... Sorry cantik! Aku mengganggu tidurmu! Kamu terlihat lebih seksi saat tertidur tadi!” Goda Seno dengan kerlingan mata genitnya.
“Kenapa kamu bisa masuk ke sini? Mama sedang pergi! Sebaiknya kamu keluar dari tempat ini!” usir Kartika dengan raut wajah tidak suka.
“Wah... Kebetulan sekali kalau begitu! Kita bisa bersenang-senang dulu sebelum mamamu kembali. Beruntung sekali aku bisa merasakan tubuh kalian berdua.” Seno meletakkan berkas yang dipegangnya kemudian berjalan pelan mendekati Kartika.
Mendengar ucapan Seno membuat Kartika ketakutan. Gadis itu selangkah demi selangkah mundur seiring majunya gerak langkah Seno.
“Jangan harap kamu bisa menyentuhku, bajingan!” ucap Kartika yang berusaha memberanikan diri.
Seno terus bergerak maju. Pria itu semakin tertantang dengan gadis manis di hadapannya ini. Ia lebih suka dengan perlawanan. Daripada penyerahan yang selama ini ia terima.
“Sepertinya permainan kita akan sangat seru, manis! Aku sudah tidak sabar ingin segera memeluk tubuhmu!” ucap Seno dengan tatapan penuh damba terhadap Kartika.
Kartika menggelengkan kepala. “Jangan mendekat pria brengsek!” teriak Kartika tapi sama sekali tidak berpengaruh sebab Seno sudah diselimuti gairah terhadapnya.
“Mama... Tolong aku!” batin Karitka.
.
.
.
...Bersambung....
__ADS_1
Sambil tunggu up bab selanjutnya mampir ke karya Author yang lain yuk. tinggalkan komentar kalian di sana..