
Pagi hari
“Apa benar Anda yang bernama Chyntia Anya?” tanya salah seorang dari pria berpakaian seragam polisi.
Chyntia mengangguk pelan merasa terkejut dengan kedatangan para polisi ke apartemennya.
“Anda ... Kami tangkap! atas pengakuan dari beberapa orang preman yang menyebut nama Anda dalam keterlibatan yang menyebabkan kecelakaan yang terjadi terhadap Tuan muda Alexander. Ini adalah surat perintah untuk penangkapan Anda!” ujar Pak polisi seraya menunjukan surat penangkapan kepada Chyntia.
“Saya tidak ada hubungannya dengan kecelakaan itu, Pak! untuk apa Anda menangkap Saya?” tutur Chyntia. Tangannya yang memegangi gagang pintu gemetar saat mendengar penuturan dari pria berseragam kepolisian itu. Matanya membulat terkejut saat nama Tuan muda Alexander disebutnya. Ingin mundur tapi ia terpojok. Pria berseragam itu sudah memperingati sebelumnya agar bisa diajak kerja sama.
“Bagaimana bisa pria itu bersama Aline. Aaah ... sial,” batin Chyntia. Lalu bergerak mundur beberapa langkah masuk kedalam apartemennya.
“Mohon kerjasamanya Nona, kalau tidak Kami akan melumpuhkan Anda!” salah satu polisi melangkah maju seiring langkah mundur Chyntia.
“Stop ... Anda tidak berhak masuk ke dalam tempat tinggal Saya. Baik ... Saya akan ikut bersama kalian. Tunggu sebentar!” Chyntia bergegas masuk kedalam apartemennya, lalu menutup rapat pintu depan di mana para polisi sedang menunggunya.
“Yang ...!” panggil Chyntia kepada Derald yang masih berada di kamar mandi. Ternyata perintah dari kekasihnya yang tidak memperbolehkannya keluar dari tempat itu hingga ada ketukan dari Chyntia diturutinya.
“Derald terlihat segar. Rambutnya masih basah habis keramas. Tubuh kekarnya tertutup oleh handuk kimono saat ia keluar dari kamar mandi.
“Kenapa, Beb? Ayahmu mana?” tanya derald sembari celingukan mencari keberadaan ayah Chyntia di ruang tamu yang tanpa sekat sehingga dari dapur bersih bisa langsung melihat ke arah ruang tamu. Bibirnya langsung menyosor ke arah Chyntia, karena tak melihat keberadaan orang lain di sana.
“Ih ... apa sih, Yang? Stop deh, pusing Aku tuh!” Chyntia terlihat panik dan melewati derald memasuki kamar, mencari ponsel miliknya guna menghubungi sang ayah.
Derald mengikuti langkah Chyntia sampai kamarnya. Merasa heran dengan sikap Chyntia yang terlihat cemas dan panik. Lalu meraih pakaiannya yang tercecer di lantai, memasukkannya ke dalam keranjang kotor kemudian mengambil pakaian ganti di lemari. Seringnya Derald menginap di apartemen Chyntia, membuat pakaiannya banyak berada di sana.
Ting ... tong ...
Dukk ... duk ... suara bunyi bel, berubah menjadi gedoran keras dari luar.
“Nona jangan coba-coba melarikan diri,” teriak Pak Polisi dari luar pintu.
Chyntia berusaha menghubungi ayahnya, kepanikan semakin terasa olehnya.
“Di depan ada polisi! Mereka akan menangkapku, Yang! Aku harus bagaimana?” tanya Chyntia seraya mondar mandir memikirkan cara agar ia terbebas dari jemput paksa itu.
“Hah ... polisi, jangan sampai aku ikut terseret masalah Chyntia. Bagaimana ini, aku harus melarikan diri dari sini,” batin Derald setelah rapi berpakaian di hadapan Chyntia.
__ADS_1
Brakk...
Terdengar suara dobrakan keras dari arah ruang tamu. Karena tak ada jawaban dari Chyntia, para polisi itu terpaksa mendobrak pintu yang terkunci itu.
Tiga polisi sigap dengan pistol di tangannya, bersiap-siap agar tersangka tidak bisa kabur. Mereka berpencar di setiap sudut.
“Nona saya tahu, Anda di dalam. Jangan paksa kami melakukan hal yang tidak di inginkan.” Teriak polisi di depan kamar Chyntia.
“Gimana dong, Yang?” Chyntia memegangi tangan Derald.
“Kamu harus ikut bertanggung jawab juga.”
“Itu semua atas perintahmu ya, Beb! Jangan bawa-bawa Aku!" elak Derald tak mau ikut terlibat atas perbuatan Chyntia.
Belum sempat Chyntia menjawab kata-kata Derald polisi sudah mendorong paksa pintu kamar yang tak terkunci itu.
“Angkat tangan ... jangan bergerak!” satu polisi menodongkan pistol ke arah Chyntia. Polisi tersebut pun memberi kode kepada polisi yang lain agar membekuk Chyntia.
“Awww... lepaskan Saya! Saya tidak ada hubungannya dengan kecelakaan itu.” Chyntia mencoba memberontak.
“Anda bisa menjelaskannya nanti.” salah satu polisi itu berhasil memborgol Chyntia.
Derald hanya diam saja seraya mengangkat kedua tangannya saat melihat para polisi itu membawa Chyntia.
Mari ikut saya, Anda bisa melakukan pembelaan nanti, jika Anda tidak bersalah siapkan pengacara untuk membebaskan Anda," ucap Polisi itu lalu menyeret paksa Chyntia. Beruntung keadaan apartemen pagi itu cukup sepi, jadi tak banyak yang tahu ada penangkapan di sana.
Derald terdiam melihat penangkapan itu, di sisi lain dia juga merasa bersyukur kali ini dirinya tidak ikut terlibat dalam kecelakaan Aline dan Galen. Jadi tidak akan ada bukti yang mengarah padanya, sehingga tidak akan ada penangkapan terhadapnya.
...🍁🍁🍁...
Satu minggu kemudian
Rumah sakit Soedibyo
Tut ... tut... tut ... tut ...
Suara monitor dari alat kesehatan masih terdengar di ruangan itu. Tak ada perubahan yang berarti pada Galen. Hasil pemeriksaan lengkap yang sudah di lakukan menunjukan hasil yang cukup baik, tinggal menunggu kesadaran pada sosok pria yang tidur tengkurap itu. Luka yang di terima di punggung dan belakang kepalanya membuat posisinya mengharuskan seperti itu.
Oma Ratih masih setia menemani Galen. Meski tak satu ruangan dengan cucunya itu, Oma Ratih menempati satu ruangan di sebelah ruang ICU tersebut. Dinding yang berlapis kaca memudahkannya mengontrol kondisi cucunya dari balik kamar yang berdampingan itu.
__ADS_1
Pintu kamar tunggu Oma Ratih terbuka pelan. Tuan Wijaya datang bersama istrinya Nyonya Mariska dan kartika putri mereka.
Kartika alexandra Wijaya adalah putri dari Tuan Wijaya bersama Nyonya Mariska. Usianya saat ini menginjak dua puluh tahun. Gadis berparas cantik ini memaksa ikut menjenguk kakak satu ayah lain ibu itu.
Meskipun mereka jarang bertemu, tetapi hubungan antara kakak beradik itu terjalin baik. Sikap Kartika yang manja terhadap Galen membuat mereka dekat. Galen memiliki sifat penyayang meski berpenampilan preman dalam kesehariannya. Berbeda dengan Bara Indrawan, anak Nyonya Mariska dari pernikahan sebelumnya. Sifat cuek dan tak mudah dekat dengan seseorang membuat Kartika merasa enggan bermanja-manja dengan kakak satu ibu itu.
“Mah, istirahatlah dulu, jangan terlalu cape.” Tuan Wijaya mendekati Oma Ratih yang masih berdiri di balik kaca mengamati perkembangan cucu kesayangannya.
“Mama tidak bisa tenang, sampai Galen sadarkan diri. Kenapa bisa selama ini, bukankah kata dokter hasil pemeriksaannya semua bagus?” Oma ratih menoleh ke arah Tuan Wijaya.
“Hai ... Oma, apa kabar?” sapa Kartika seraya mengulurkan tangannya untuk menyalami Oma Ratih lalu mencium pipi kanan dan kiri wanita paruh baya itu.
Sambutan hangat dari Oma ratih untuk Kartika, meski bukan cucu kandungnya. Kartika sering berkunjung ke rumah Oma ratih semenjak Galen memilih tinggal bersama Neneknya itu, sehingga membuat mereka dekat.
“Hai sayang ...” jawab Oma Ratih lalu kembali berkata. “Kabar Oma, tidak baik, lihatlah kakakmu! bagaimana Oma bisa baik jika melihat dia dalam keadaan seperti itu.” Oma Ratih kembali melihat ke sebrang kaca pembatas, dimana Galen berada.
Nyonya Mariska melihat malas percakapan Oma Ratih dengan putrinya. Lekas ia pamit undur diri kepada Tuan Wijaya dengan alasan ada yang menghubunginya.
“Mas, Aku keluar sebentar ada telpon,” bisik Nyonya Mariska ke telinga Tuan Wijaya.
Tanpa menoleh Tuan Wijaya hanya mengangguk pelan. Lalu fokus kembali melihat keadaan anak lelakinya. Beliau pun merasa sedih melihat anaknya terbaring lemah seperti itu.
Nyonya Mariska keluar dengan langkah pelan dengan gaya sombongnya, menjauh dari ruangan ICU ekslusif khusus untuk keluarga Wijaya. Semenjak menjadi Nyonya Wijaya, ia merasa berada di atas kekuasaan. Tuan Wijaya memberikan akses untuk semua keinginannya.
Di ujung ruangan dia mencoba menelpon teman sosialitanya, mengundur acara yang tertunda karena harus mengikuti suaminya Tuan Wijaya ke rumah sakit hingga tak terasa satu jam sudah ia asik mengobrol dengan teman sosialitanya itu, segera ia kembali ke ruangan di mana suaminya berada.
“Kenapa enggak mati aja sekalian, anak itu. Biar penerus perusahaan Aksara Grup beralih kepada Bara atau Kartika! heh ... menyusahkan saja kalau begini. Syukur-syukur dia enggak pernah sadar lagi dari komanya!” ujar Nyonya Mariska sinis mengingat keadaan Galen yang tak kunjung sadar dari komanya.
bersambung
Dukungan ...
mana dukungan nya....
like 👍
komen✍️
Berikan jejak untuk kehadiran kalian.
__ADS_1
Salam hangat dari teteh Author Mayya_zha😘😘