Fake Love

Fake Love
Tidak Mau kalah Denganku


__ADS_3

Segera Galen menggeser tombol hijau di ponselnya. Saat Galen ingin menempelkan ponsel ke dekat telinganya suara yang sangat ia kenal sudah nyaring terdengar meski ponsel itu belum sampai di dekat telinganya.


"Dasar cucu nakal. Mentang-mentang sedang gencar produksi. Ponsel tak pernah di aktifkan, bagaimana kalau ada apa-apa dengan Oma mu dan kamu tidak tahu itu?" cecar omelan Oma Ratih pada GalenRatih dari seberang teleponnya.


Galen sedikit menarik ponsel saat Oma Ratih mengomel. "Galen, kamu dengar Oma tidak?" Hardik Oma Ratih.


"Galen dengar, Oma! Jelas bahkan sangat jelas, aku dengar suara Oma yang merdu ini," balas Galen dengan sedikit meledek.


"Kenapa kamu harus mematikan ponsel. Mana cucu menantu Oma? Oma ingin sekali mengobrol dengannya, Oma kangen!" lanjut Oma Ratih.


Ponsel Oma Ratih beralih kepada Kartika.


"Iya, Kak. Mana Kak Aline? Bagaimana, apa baju dinas yang aku kirim di pakai olehnya." Kartika yang ada di dekat Oma Ratih ikut nimbrung.


Galen mengubah mode menjadi video call.


"Kak Galen kok gak pake baju, sih?" Kartika menutup wajah dengan sebelah tangannya.


"Kakak baru habis mandi? Mau santai dulu, menikmati sore hari yang indah! Kalian tau pemandangan di sini luar biasa indah, Oma!" cetusnya.


"Dih, tau deh yang lagi beneran honeymoon."


"Loh, emang beneran bulan madunya!"


"Sudah... Sudah..., sekarang Oma tanya Aline mana?" Oma terlihat tidak sabar.


"Apa Oma tidak mau menanyakan kabarku. Aku cucumu loh, Oma!" ucap Galen sambil merebahkan tubuh di kursi yang ada sandarannya.


"E-eh dia malah tiduran, Oma!" adu Kartika.


"Galen..., Mana Aline?" Oma kembali bertanya.


"Aline tidur, Oma! Dia sangat kelelahan! Aku tidak tega membangunkannya kalau Oma masih ingin mengobrol sama dia." Galen menunjukan jari telunjuk lalu sedikit menggoyangkannya.


"Ah... Kamu pasti bohong?" desak Oma.


"Aku tidak bohong, Oma!" Galen kembali berdiri lalu perlahan kembali masuk ke dalam kamar. Tak lupa ia membalikkan kamera ponsel ke arah Aline. "Kalian jangan berisik! Nah lihat 'kan, Aline sedang tidur." Setelah menunjukkan Aline yang tengah tertidur lelap, Galen kembali merubah mode kamera. Mereka kembali bertatap muka lewat video call nya.


Galen kembali berbalik langkah. Dengan perlahan menutup pintu kamar, Galen sudah berada di luar kamarnya lagi. kembali menuju kursi santai sambil tiduran menikmati indahnya sunset sore ini.


"Kasian sekali cucu menantu, Oma. Pasti kamu terus memaksa dia, sampai dia terlihat sangat lelah seperti itu?" ucap Oma Ratih setelab melihat Aline yang tertidur pulas.


"Aku tak pernah memaksa, Oma! Aline yang sangat bersemangat melakukannya. Bahkan pagi tadi juga dia ngajak bergelut di air. Aku hanya menuruti keinginannya." tutur Galen.

__ADS_1


Oma Ratih membelalakan mata mendengar ucapan Galen.


"Kalian jangan main di dalam air. Malu kalau di lihat orang! Nggak baik melakukan itu di luar ruangan. Kalau ada yang melihat bagaimana? Oh, Gal... meskipun di sana sepi, tapi kamu bisa menahan Aline untuk tidak melakukan hal itu di luar." Oma Ratih menggelengkan kepala menduga Aline dan Galen berbuat nganu nganu di dalam air di luar kamarnya.


"Kasian cucu menantu Oma kalau kamu gencar terus begituan. Bisa sakit dia, karna kurang istirahat."


Galen merasa bingung dengan ucapan Oma. Ia diam sesaat. Kemudian Galen tertawa setelah sadar dengan alur pembicaraannya dengan Oma Ratih.


Pasti omanya itu mengira Galen selalu menerkam Aline. Dan saat ini, Aline tertidur karena kelelahan setelah nganu bersamanya.


Galen malah berpikir terus mengerjai Omanya. Senyum jahil sambil menaikkan sedikit alisnya. Galen tunjukkan kepada Oma Ratih dan Kartika.


"E-eh ini anak kalau di kasih tau, malah senyum sendiri!" Suara Oma masih terdengar mengoceh.


Ada rasa rindu beberapa hari tidak bertemu dengan wanita paruh baya itu.


"Aline lebih suka dengan yang banyak tantangannya, Oma. Sama seperti aku. Kita satu frekuensi 'kan?" Galen kembali mengerjai Oma Ratih. "Dek, kapan kamu pergi ke Amerika?" tanya Galen kepada Kartika.


"Masih lama! Sekitar dua mingguan lagi." balas Kartika.


"Oh."


Oma Ratih terlihat berbisik pada Kartika. Sehingga Galen tidak mendengar ucapannya. Tapi setelah selesai, Galen malah melihat Kartika menyerahkan ponsel kepada Oma Ratih. Gadis itu lalu beranjak dari sisi Oma, entah kemana ia akan pergi.


Karena tidak tahan dengan pemikiran Oma Ratih, Galen mengeluarkan tawa renyahnya.


"Hahaha..." Galen tertawa begitu kencang membuat Oma heran melihatnya.


Memang benar Galen tak pernah bosan untuk bertempur nikmat dengan Alinem Tapi pemikiran Oma terlalu berlebihan. Aline kecapean karena kelelahan akibat aktivitasnya tadi di trekking dan berkeliling pulau. Istrinya juga lebih suka hal yang menantang untuk ia jelajahi.


Mungkin Oma Ratih berpikir lain tentang hal itu.


"Dasar cucu nakal, apa ada yang lucu dari ucapan Oma!"


Galen masih tertawa tapi tidak sekencang tadi. Pria itu sedikit melirik ke dalam kamar melihat Aline tidak terganggu karena tawa kencangnya.


"Oma... Aku mau tanya apa yang Oma pikirkan tentang Aline?" tanya Galen masih dengan kekehan tawanya.


Oma Ratih tidak menjawab, hanya mentap tajam kepada Galen.


"Oma... Istriku kelelahan habis berkeliling pulau dan mendaki Bukit, Oma!" tutur Galen. Emang Oma pikir, dia kelelahan karena apa?" Galen menggelengkan kepala pelan dengan pemikiran Oma Ratih.


Oma Ratih membulatkan matanya.

__ADS_1


"Apa...,! Oma kira kamu yang terlalu semangat 45 sampai cucu menantuku lelah seperti itu.


"Aku tidak gila Oma! Meskipun ada benarnya juga kalau sekarang Aline jadi candu buatku, Oma." Galen kembali tertawa pelan.


Oma Ratih menggelengkan kepala pelan. Wajar saja sih, yang namanya pengantin baru pasti ada rasa penasaran setelah merasakan nikmat yang baru mereka rasakan. Jadi aktivitas pembibitan akan lebih sering di lakukan.


"Ya sudah, nikmati bulan madu mu dengan baik. Jangan terlalu lelah. Oma tunggu kepulangan kalian dari sana!" ucap Oma Ratih sebelum mengakhiri sambungan teleponnya. "Kalau dia sudah bangun, hubungi Oma. Oma kangen sama dia!" ucapnya lagi.


"Apa Oma hanya kangen sama Aline, sama aku tidak!"


"Tidak! Jangan lupa pesan Oma tadi. Awas kalau cucu menantuku sakit, akibat ulahmu!" ancam Oma Ratih.


Galen memasang muka melas nya. "Oma tega sekali padaku! Lihat saja nanti kalau ----"


Ucapan Galen terhenti begitu saja, saat video call nya tidak tersambung dengan wanita paruh baya itu.


Baru saja Galen meletakkan ponsel miliknya di atas meja. Benda pipih itu kembali berdering.


Galen mengira Oma Ratih yang kembali menelepon. Sampai Galen melanjutkan ucapannya yang tadi terputus sepihak oleh Wanita paruh baya itu. Ia nyericos tanpa


melihat nama di layar ponselnya.


"Saya Aldo, Tuan!" cekal Aldo saat Galen nyerocos panjang lebar seakan Aldo adalah Oma Ratih.


"Aldo. Kenapa kamu diam saja tidak membantah." omel Galen terkejut saat mendengar bukan suara Oma Ratih di seberang telepon melainkan suara asistennya.


"Tuan terus berbicara saya tidak berani mencegahnya."


"Ckk... Kamu itu, Ada apa?" Tanpa basa basi Galen langsung bertanya.


"Maaf, Tuan. Saya mau mengabarkan kalau besok pagi saya menikah dengan Rima!"


"Apa?" pekik Galen sangat terkejut mendengar ucapan Aldo. "Kamu tidak mau kalah denganku ternyata, Do!" Galen menyunggingkan senyum mendengarnya.


.


.


.


.


Baca kelanjutan ceritanya ya...

__ADS_1


__ADS_2