
"Adem banget, Yank. Sekalian yang ini dong!" jari telunjuk Galen menenunjuk pada bibirnya. Pria tampan itu meminta lebih membuat Aline tersipu malu.
Senyuman simpul yang terpancar di wajah Aline makin menggemaskan untuk Galen.
"Oh, My god kenapa lama sekali menuju halal, wanita di hadapanku ini makin membuatku gemas dan ingin memangsanya. Cobaan... Godaan, berat, sungguh berat!" Galen menepuk jidatnya sambil merebahkan tubuhnya di sandaran bangku yang ia duduki.
Aline membungkam mulutnya merasa geli dengan ucapan Calon suaminya itu.
"Apaan sih, Gal! jangan lebay deh."
"Beneran, Yank! ternyata banyak rangkaian acara yang akan kita lewati, kenapa tidak langsung akad aja sih!" keluhnya.
"Tidak akan berkesan kalau seperti itu, Aku mau melewati rangkaian adat Sunda dan siraman seperti teman-temanku yang sudah menikah!" ucap Aline sambil membayangkan rangkaian acara itu lalu menyedot orange jus yang tersisa di gelas yang ia pegang saat ini.
"Sabar... sabar...!" oceh Galen yang merasa tak sabar ingin segera menghalalkan hubungannya dengan Aline.
Aline terkekeh kecil mendengarnya.
Obrolan santai dilewati oleh kedua pasangan yang makin hari semakin bertambah mesra itu.
Kedua calon pengantin itu melewati kebersamaannya dengan menambah kenangan baru untuk Galen.
Galen ingin Ingatannya kembali, tapi bagi Aline kembali atau tidak yang terpenting untuknya saat ini adalah hati Galen tetap untuk Aline.
Pria yang saat ini bersamanya itu akan merangkai biduk rumah tangga dengan dirinya seperti yang pernah mereka rencanakan dulu, saat Galen belum mengalami amnesia.
Perdebatan dan kejahilan Galen saat mereka berbincang terkadang membuat Aline tertawa dan merajuk. Dan itu membuat dua orang dari kejauhan yang tengah berjalan ke arah mereka penasaran.
"Asik bener sih, Bang ngobrolnya?" sapa Pram tanpa basa basi kepada Galen. Pria yang baru saja datang itu, lupa kalau Galen tidak mengingat dirinya. Ia langsung duduk di bangku tanpa di persilakan.
Wendi yang datang bersamanya menyenggol pelan tubuh Pram.
"Apaan sih, Wen?" Wendi lekas menunjuk ke arah Galen, memberitahunya kalau tatapan Galen kepada temannya itu sangat tajam dan menyeramkan.
"Ops, sorry gue lupa!" Pram sedikit menciut mendapat tatapan tajam itu. Pria itu mengalihkan sapaannya kepada Aline.
"Hai, Apa kabar, Mbak Aline?" sapa Pram yang mengulurkan tangannya kepada Aline. Gadis itu pun hendak membalas uluran tangan Pram. Tapi dengan cepat Galen meraih tangan Aline agar tidak menyentuh uluran tangan dari Pram. "Kabarnya baik! silakan duduk!" ketus Galen.
"Gal ...," Aline melirik Galen. Gadis itu tercengang dengan kelakuan Galen yang tak ingin Aline bersentuhan dengan pria lain selain dirinya.
Tangan gadis itu terus di genggam oleh Galen. Calon suaminya itu bersikap posesif dan terlihat cuek kepada Pram dan Wendi. Aline menggelengkan kepalanya melihat sikap Galen.
__ADS_1
"Silakan duduk, Pram, Wen! Sorry, Galen emang agak sedikit posesif sekarang ini, jadi maklumin, ya!" ucap Aline pelan. Ia melirik ke arah tangannya yang digenggam erat Galen lalu mendongak menatap calon suaminya itu.
"Beda deh yang mau jadi penganten mah!" cebik Pram. Lalu melambaikan tangannya ke arah Waiters agar ia bisa segera memesan minuman.
"Cola drink, satu, ya!" ucap Pram kepada Waiters wanita yang baru saja datang. "Kamu apa, Wen?" lalu beralih kepada Wendi.
"Samain aja." sahut Wendi.
"Cola drink dua, ya!" ucap Pram pada Waiters itu. "E-eh, jangan lupa camilannya juga!" serunya lagi.
Dengan tanggap Waiters tersebut mencatat pesanan mereka.
"Ada lagi yang mau di pesan?" tanya Waiters tersebut.
"Itu aja, cukup.Tapi saya boleh pesan si Mbak pelayan buat nemenin saya di sini." Pram menaikkan alisnya menggoda Waiters wanita itu.
Senyum malu ditunjukkan oleh waiter cantik itu. "Sebentar, akan kami buatkan meminumannya. Mohon ditunggu?"
Galen menggelengkan kepala melihat Pram bersikap genit kepada Waiters itu. Lalu mencodongkan tubuhnya agar mendekat kepda Aline. "Kamu jangan terlalu dekat dengan dia, genit begitu!" gerutu Galen sambil menatap tajam Pram.
Aline membiarkan saja Galen bertingkah semaunya. bahkan Galen malah menautkan jemarinya di sela jemari Aline.
Galen melirik kedua pria yang kini duduk berhadapan dengannya.
"Biasa aja Bang, ngeliatinnya! Serem banget dah! Gue gak bakalan bawa pergi calon bini lu, tenang aja!" celetuk Pram saat Galen terus menatap mereka.
"Sorry," ucapnya datar.
"Gimana kabar lu, Bang, sehat?" tanya ucap Wendi mengulurkan tangannya.
Mau tidak mau Galen melepaskan genggaman tangannya pada Aline. Ia menghargai Wendi yang bersikap sopan kepadanya.
"Baik," jawab Galen.
"Sehat badan mah, Wend, otak dia yang sakit, ah ..., lu basa basi bisa banget. Lu tau kan dia am, am--," Pram nampak berpikir akan kelanjutan ucapannya.
"Amnesia," sambung Wendi penuh penekanan. "Gimana sih, lu gitu aja gak tau," ucap Wendi sebal sambil menoyor pelan kepala Pram dengan tangannya.
"Nah itu, amnesia!" Pram membalas dengan menoyor balik kepala Wendi tapi terlebih dulu Wendi bisa menghindar lalu menjulurkan lidah meledek Pram.
"Weww, gak kena!" Mereka berdua malah berdebat dan saling toyor menoyor.
__ADS_1
"Sini! gak sopan lu, ya. pegang kepala orang yang lebih tua!" Pram mengaitkan tangan ke leher Wendi, lalu mencekiknya pelan.
"Sorry ... sorry, ampun abisnya lu duluan yang mulai."
Pram terkekeh puas melihat Wendi yang pasrah. "Hahaha, sebelum si Abang ngelarang, gue bakal nganiaya, lu!" candanya sambil menjitak pelan kepala Wendi.
"Bang, lu jangan lama-lama amnesianya dong, di Rumah Asuh Pram nganiaya trus nyuruh-nyuruh gue mulu, Bang!" adu Wendi.
Aline tersenyum geli melihat perdebatan mereka berdua. Meski sering berdebat dan berselisih tapi jika salah satu diantara mereka ataupun yang lain, keduanya sangatlah solid dalam menolong.
Galen hanya mengerutkan alis mendengar ucapan Wendi, rupanya ia juga tidak ingat dengan Rumah Asuh yang sudah didirikannya untuk anak jalanan yang sudah ia tolong dari jeratan Fredi. Preman yang berkuasa dan sering memaksa anak-anak jalanan mengemis dan memeras hasil keringat mereka.
"Aku sudah pernah cerita mengenai Rumah Asuh, Aldo telah mengurisnya dengan baik. Nanti kita kesana!" bisik Aline yang mengerti arti dari kebingungan Galen.
Galen mengangguk lalu meraih tangan Aline kemudian menciumnya pelan di hadapan Pram dan Wendi. Sikap mesranya memuat kedua orang yang berada di harapannya melongo melihatnya.
.
.
.
.
.
.
**Kasian banget sih kalian jadi kambing ganteng. Liat yang bermesraan.. sana peyuk peyuk aja batang sama batang... ๐๐๐
Mohon maaf kemarin tidak up. ada kendala dalam RL. Semoga kalian yang masih setia di sini, di beri kesehatan...
Banyak banyak lah tersenyum meski Real Life sangat membuat pusing tujuh keliling.
Promo deui gaessss.
Mampir ke karya temanku**...
Bersambung>>>
__ADS_1