Fake Love

Fake Love
Satpam Dalam dan Depan


__ADS_3

Obrolan dengan calon mertuanya malam ini memberi pengalaman baru buat Galen.


Selain nasehat, Ayah Zaki juga menceritakan bagaimana dulu saat Galen masih dalam kandungan Indira-mamanya.


Anak combro sebutan untuk dirinya dari Ayah Zaki tak bisa begitu saja di percaya.


"Ayah jangan asal deh? yang benar saja, tega sekali menyebut aku yang masih dalam kandungan anak comro." Galen menggelengkan kepala tak percaya.


"Memang benar, saat itu kalau tidak salah, usia kandungan mama mu sekitar enam bulan. Ayah sampai harus keliling kota Jakarta demi mendapatkan makanan itu!" tutur Ayah Zaki.


Galen begitu serius mendengarkannya. "Sedekat itukah, Ayah dengan Mama ku, apa Ayah yakin tidak menyimpan perasaan untuknya saat itu? seseorang yang sering bertemu dan bersama bukannya besar kemungkinan ada rasa?" Galen sedikit curiga.


Bahkan tak hanya Galen. Saat itu banyak yang bilang bahwa Zaki adalah Suami Indira. Karena selama kehamilan, wanita cantik yang tengah mengandung itu jarang sekali di temani suaminya- Anggara Wijaya.


Kesibukan mengurus perusahaan yang tengah sukses dan makin bersinar itu membuat Tuan Wijaya sangat sibuk. Beliau bahkan hanya sempat berada di rumah sebentar saja, selebihnya ia lebih banyak bolak-balik luar kota dan luar negeri.


Indira saat itu mengerti kondisinya, wanita itu tidak mau menghambat kesuksesan suaminya.


Ayah Zaki tersenyum miris. "Bukan hanya kamu yang berpikir seperti itu, Ayah sudah menanggap mamamu seperti adik sendiri. Terlebih, Papamu menitipkannya pada Ayah. Hanya perasaan iba saat itu, membayangkan seorang wanita menjalani kehamilan sendiri. Sebab itulah, Ayah selalu menuruti keinginannya di masa ngidam."


"Kenapa Papa tidak mau berkorban sementara waktu, Heh, egois!" Galen tersenyum kecut.


"Kamu tidak tau perjuangan Papa mu mendirikan perusahaan itu, Gal. Banyak yang ia korbankan. Ayah sangat kenal dengan Wijaya. Dalam hatinya, ia sangat tersiksa meninggalkan mamamu sendiri menjalani kehamilannya. Beruntung Indira wanita yang kuat, sampai ia tak mau menceritakan sakit yang ia alami pada papamu."


"Iya, aku tahu itu. Oma juga menceritakannya padaku," sahut Galen.


"Haha, sudahlah! kenapa bahas masa lalu yang menyedihkan. Almarumah mamamu sudah bahagia sekarang, tinggal kamu yang membahagiakan putriku." Ayah Zaki menghembuskan napas berat lalu menatap Galen penuh intimidasi.


"Dan ingat anak combro, kalau kamu berani membuat putri ayah sedih lagi, kamu akan merasakan golok kesayangan ayah melesat di lehermu!" ancam Ayah Zaki membuat Galen bergidik ngeri.


"Yah, serem amat sih, ngomongnya."


"Makanya, jangan macam-macam sama putriku!"


"Enggak yah, paling dua, tiga, macam, tapi ..."


"Tapi apa?" seribot Ayah Zaki saat Galen masih bicara.


"Dua, tiga, macamnya nanti kalau sudah sah," ucap Galen seraya menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal.


Ayah Zaki masih menatap tajam pada Galen. Sikap lembutnya tadi tiba-tiba saja berubah. Pria yang tak lama lagi akan menjadi mertua Galen itu meneguk teh jahe hangatnya pelan.


"Ngobrolin apa sih, Yah, asik banget?" tanya Aline baru saja datang dari dalam rumah.


Rambut yang setengah basah dengan pakaian piyama lengan pendek menunjukan lengan putih Aline. Senyuman andalan tak lupa ia pancarkan di wajah cantiknya.


Penampilan sederhana tapi bisa membuat mata Galen tak berkedip dan menelan salivanya.

__ADS_1


"Ya, ampun godaan apalagi ini?" batin Galen. Dengan segera ia kembali bersikap sewajarnya dan tidak tergoda, takutnya Ayah Zaki melihat tatapan mesum nya terhadap putrinya.


"Ayah hanya memberi peringatan sedikit sama Galen, kalau sampai dia macam-macam dengan kamu, dia bakal ngerasain elusan manis dari golok Ayah!"


Ayah Zaki meraih cangkir miliknya. hendak membawanya ke dalam rumah.


"Ayah masuk dulu, kamu temani calon suamimu! Ingat jangan kelamaan, udah malem. Gak enak juga sama tetangga!" Ayah Zaki memperingati, lalu beralih menatap Galen. "Kamu jaga jarak, jangan kelamaan mandangin Aline, awas mesum tuh pikiranmu!"


deg


"Wah, apa Ayah bisa baca pikiranku, ko bener banget!" batin Galen.


Setelah berucap, Ayah Zaki masuk ke dalam rumah. tapi Beliau tak langsung masuk ke kamarnya. Ketiak berjalan melewati ruang tamu, ia melihat istrinya, Bu Winda sedang memberskan beberapa barang ke kardus.


"Ngapain, Bu?" Ayah Zaki mendekat, penasaran dengan apa yang dilakukan istrinya.


"Ini, nambahin oleh-oleh buat Zainab besok."


"Jadi dia pulang besok?" tanya Ayah Zaki seraya mendaratkan tubuhnya duduk di sofa yang ada di dekat sana.


"Jadi! Ayah beneran besok gak bisa nganterin?" Bu Winda memastikan.


"Ayah, gak bisa bu! besok pengiriman daging dan bahan pokok datang ke kedai pusat. Belum lagi Ayah harus bagi buat dua kedai yang lain! mungkin kalau pulang sore Ayah bisa nganter!" usul Ayah Zaki.


"Kalau berangkat sore, serem di jalannya,Yah 'kan masih sepi jalanannya," ujar Bu Winda.


"Gak, Ibu gak akan kasih ijin. Biar Zainab naik bus aja kalau begitu," ucap bu Winda sarkas.


"Terserah ibu deh. Udah selesai belum itu beres-beresnya? kalau udah, coba sini deh, Bu! Ayah Zaki duduk di sofa. Lalu meletakkan cangkir yang ia bawa.


Bu Winda mendekati Ayah Zaki. Ternyata sang suami hanya menginginkan di pijat lembut kepalanya.


"Di kamar aja, yuk, Yah?" ajak Bu Winda.


"Eh, jangan. nanti kalau Galen udah pulang kita lanjut di kamar, sekarang kita jadi satpam dulu," bisik Ayah Zaki.


Bu Winda hanay menggelengkan kepalanya.


"Pijit lagi, Bu!" Ayah Zaki malah menaikkan kedua kakinya kemudian berbaring di atas sofa, kepalanya berada di atas pangkuan Bu Winda.


Di Luar rumah Aline.


"Seger banget sih, Yang!" goda Galen hendak mendekat duduk di samping Aline.


"Eits, udah di situ aja, ada satpam loh, mantau kita berdua dari dalam!" cegah Aline membuat Galen celingak celinguk memperhatikan arah pintu depan.


"Yang bener, Yang!"

__ADS_1


"Liat, aja sendiri! aku sih yakin. Ayah gak mungkin langsung masuk kamar!" ujar Aline.


"Ya udah, kita berjarak aja dulu. Tapi kalau udah sah, deket terus, ya?" Galen kembali menggoda.


"Ih, pasti mesum deh!" sungut Aline.


Galen tertawa renyah, senang sekali mengoda Aline.


Keduanya kini, tengah asik melanjutkan obrolan seputar rencana pernikahan mereka. Ada sedikit perdebatan menemani obrolan itu.


"Aku gak mau, pokoknya kita udah sepakat dengan konsep yang tadi siang di sepakati loh!" ucap Aline dengan wajah cembetut.


"Tapi ini, konsep indoor juga bagus, Yang?" usul Galen.


Pria itu melihat konsep terbaru resepsi di dalam ruangan yang cukup menyenangkan.


"Pokoknya, gak mau! kalau konsep Rustic Wedding kan leluasa. lebih berbaur dengan alam." Aline masih keukeuh. "Kalau kamu ganti konsep, pengantin wanitanya juga ganti, jangan aku!" ancam Aline.


"E-eh, jangan, Yang! Ok, ok, udah jangan cemberut lagi. gak jadi ganti konsep ko!" bujuk Galen.


Acara bujuk membujuk harus berakhir karna Aldo tiba di halaman rumah Aline.


Asistennya itu datang untuk menjemput Galen.


Galen melirik ke arah Aldo.


"Deh, udah datang aja, belom dapet jatah semangat buat malam ini. Ah, sial! di dalem satpam mengerikan, di luar satpam menyebalkan," gerutu Galen pelan.


Biasanya ia tak pernah peduli dengan sekitarnya saat ingin bermanja dengan Aline. Tapi semakin dekat hari pernikahannya, ia malah takut. Pamali menurut petuah Ayah Zaki.


.


.


.


.


Mohon maaf dua hari kemarin Author gak up. Kalian sehat sehat kan?


Kalian tau, diam saat mendapat perlakuan yang tidak adil itu, menurut Author adalah sikap paling ampuh dalam menyikapinya.


kita akan berintropeksi diri dalam diam tersebut. sedih ya di saat satu kesalahan menutupi semua kebaikan yang di lakukan selama ini.


Hahay, Author lagi melow nih, baper terus. saling diem dieman sama seseorang. ☺


Semoga cepat terselesaikan malasahnya supaya lancar jaya ngetiknya.

__ADS_1


__ADS_2