
Usai membersihkan diri Galen dan Aline bersantai sejenak di dalam kamar. Mereka berdua mengistirahatkan tubuh mereka karena lelah dengan aktifitas yang mereka lewati saat ini.
Pelayan hotel mengetuk pintu kamar, mengantarkan makan siang untuk kedua pengantin baru itu.
Aline membukakkan pintu, mempersilakan pelayan itu untuk menaruh makanan di atas meja. Setelah semua makanan di bawa masuk ke dalam kamar pelayan hotel undur diri dengan sopan, ucapan selamat menikmati pun terlontar untuk pasangan pengantin itu.
"Selamat menikmati hidangan yang kami sediakan, Nona! Jika ada yang diperlukan, Anda bisa mengubungi kami, kapan saja!" ucap petugas hotel itu dengan hormat.
"Untuk saat ini, saya rasa cukup. Tak ada yang kami butuhkan. Nanti saya hubungi jika memerlukan sesuatu," balas Aline juga dengan sopan.
Aline memanggil Galen yang masih asik tiduran di tempat tidur.
"Mas... Makan dulu!" panggil Aline sambil mempersiapkan piring makan untuk suaminya.
Galen terlihat begitu serius memainkan ponsel miliknya. Siang ini, jaringan internet di tempat itu sedang bagus, karena cuaca yang cerah dan bersahabat. Biasanya jaringan internet di sana sangat kurang bersahabat.
"Mas, serius banget sih mainin hape nya? Katanya tidak mau di ganggu!" oceh Aline sambil memperhatikan makanan yang di sajikan. "Kamu pesenan banyak banget sih, Mas! kayak yang habis aja ini makanan." Aline kembali mengomel.
Galen memang menambahkan beberapa menu masakan yang akan di hidangkan ke kamar miliknya siang ini. Tanpa menyingkirkan menu masakan yang akan di siapakan oleh pihak hotel.
Tak ada makanan pedas lagi dalam menu makannya kali ini. Berbagai masakan lezat terhidang di atas meja. Aline menyayangkan tindakan Galen yang sudah memesan makanan terlalu banyak, mubazir menurut Aline.
"Mas... kenapa pesan makanan sebanyak ini! Sayang sekali kalau tidak habis. Jatuhnya malah mubazir kalau tidak di makan," Omel Aline sambil memilih makanan mana yang akan ia makan.
"Kalau tidak habis biar nanti pihak hotel yang akan membagikan nya," sahut Galen sambil terus melihat berita terkini pada dunia bisnis.
"Inalillahi wainnailaihi rojiun," ucap Galen saat membaca berita terkini dalam dunia bisnis. "Yang... Chyntia meninggal dunia!" ucap Galen spontan dan berhasil membuat Aline terkejut. Wanita yang sedang menyendokkan lauk ke dalam piring itu sampai menjatuhkan sendok yang di pegangnya.
Klontang...
Refleks Aline menjatuhkan sendok.
Galen berdiri dari tidurnya, mendekati Aline yang terlihat sangat terkejut.
"Chyn... Chyntia istri Derald maksud kamu, Mas!" Aline meminta penjelasan kepada Galen yang berjalan mendekatinya.
"Iya, Sayang!" Galen sedikit berjongkok mengambil sendok yang terjatuh. Lalu membimbing Aline agar duduk di sofa.
"Kamu tidak pa-pa, Yang!" tanya Galen khawatir melihat Aline yang diam membeku setelah mendengar ucapannya.
"Kasian sekali bayi mungil itu, Mas! Bayi itu bahkan belum sempat bertemu dengan Mamanya," ucap Aline sedih. "Kemarin Derald sempat meminta maaf padaku, ia sadar akan kesalahannya dulu, Mas. Derald juga terima musibah yang saat ini ia jalani adalah karma untuknya karena menyakiti dan telah memanfaatkan ku!" Aline trus berucap. Galen meraih tangan Aline untuk memberinya kekuatan.
__ADS_1
"Kita hanya tinggal mendoakan yang terbaik untuk mereka." Galen mengeratkan genggaman tangannya pada Aline.
Aline menarik napas panjang. Ia juga sudah memaafkan apa yang pernah Chyntia lakukan padanya.
"Ya... Semoga dengan kejadian ini, Derald bisa menjadi ayah yang bisa membesarkan anaknya dengan baik. Semoga Zahera tumbuh menjadi gadis cantik dan kuat. berhati baik sehingga bisa menerima keadaan pada dirinya sendiri. Dan suatu saat nanti akan ada pria yang mencintai dan menerimanya dengan tulus." ucap Aline sambil mendoakan Zahera, anak dari Derald dan Chyntia.
"Derald pasti belajar dari pengalamannya, Sayang!" Aline mengangguk membenarkan ucapan suaminya.
Aline bisa melihat ketulusan dan kesungguhan Derald saat dirinya berbicara dengan pria itu. Ucapan yang ia lontarkan memang sungguh-sungguh dari dalam hatinya. Derald ingin membawa Chyntia dan putrinya untuk hidup sederhana bersama dirinya. Tanpa harta Tuan Baskoro. Tapi, Chyntia sembuh nanti.
Derald tidak mau rumah tangga mereka selalu di tekan dan di atur oleh Papa mertuanya.
"Sudahlah... Kita makan dulu, setelah ini kita akan ke daratan untuk jalan-jalan. Bukankan kamu bosan berada di atas laut terus?"
Aline mengangguk pelan. "Mas, mau 'kan setelah pulang dari sini, kita takziah ke tempat Chyntia." Aline kembali menyiapkan makanan untuk Galen.
"Ya, kita akan ke sana, nanti."
Senyum mengembang di wajah Aline. Merasa lega karena Galen selalu menuruti keinginannya. Aline pun dengan telaten melayani Galen. Mengambil dan menyendokkan nasi dan lauk ke dalam piring untuk suaminya.
Mereka menikmati makan dengan nikmat.
Galen sempat beberapa kali meminta tambahan lauk dan sayur. Pria itu terlihat sangat lapar. Aline sampai menggelengkan kepala melihatnya.
Galen mengangguk sambil terus mengunyah makanan yang ada di dalam mulutnya.
"Pelan-pelan makannya, Mas!"
Aline memberikan gelas berisi air putih kepada Galen. karena melihat Galen menelan makanan agak susah.
Gluk ... Gluk ...
"Alhamdulillah...," Galen merasa lega sudah menghabiskan makanannya.
"Kok makannya dikit, Yang?" tanya Galen saat melihat makanan dalam piring istrinya.
"Aku lihat Mas makan aja, udah kenyang banget!" tutur Aline.
Galen tersenyum malu. "Maklum, Yang. Tenagaku terkuras habis, jadi harus terganti. Biar cukup buat nanti malam!" celetuk Galen.
Aline melayangkan tatapan tajam pada Galen. Ia sudah bisa menebak apa yang akan Galen lakukan nantinya.
__ADS_1
"Apaan sih, Mas!" Aline berdiri meninggalkan Galen dengan senyum menggodanya. Merapikan bekas makan suaminya dan dirinya, membawa piring kotor itu ke dapur kecil yang masih satu lingkup dengan kamarnya.
"Loh, kamu ingat gak apa kata Oma. Kita harus sering-sering kerja biar cepat menghasilkan," cetus Galen. "Kamu tahu, Yang. Suara dan ekspresi mu saat itu membuat aku semakin, Ah..., jadi pengen ngulang!" teriak Galen agar Aline mendengarnya.
"Mas...," jerit Aline mendapat kekehan renyah dari Galen. Pria itu sangat senang membuat Aline cemberut.
Terkadang Galen mengoda Aline dengan menirukan suara istrinya saat mereka mencapai puncak. Aline malu dengan tingkah usil suaminya itu. Mereka kadang seperti duaborang yang sedang berebut mainan. Saling melempar bantal, dan mengelitiki sampai ada yang meminta ampun. Sungguh hubungan yang sangat Aline harapkan.
Galen menyusul Aline yang berada di dapur kecil itu. Membantunya membawa gelas kotor.
"Selain ekspresi di tempat tidur, aku juga ekspresi mu saat marah seperti ini, Yang!" Galen memeluk Aline dari belakang. Aline ingin menghindar tapi Galen dengan cepat menarik tubuhnya untuk ia peluk.
"Jangan cemberut begitu, jadi ngak nih,
island hopping nya? Masih banyak tempat yang belum kita jelajahi." Galen membujuk Aline dengan mengajaknya berkeliling di Teluk Sawai.
"Mas... Jangan berbicara seperti itu, kalau di hadapan orang lain, aku malu!" ucap Aline pelan masih membahas perkataan Galen.
"Tidak mungkin, Sayang..., hanya di depanmu saja! Aku ngomong gitu, hanya untuk menggoda istriku yang cantik dan menggemaskan kalau lagi cemberut, bikin aku candu untuk terus memeluknya," balas Galen langsung menghadiahi menciuman pipi untuk Aline dari belakang. Suaminya itu kembali memeluk erat Aline sedikit menggoyangkan tubuh ke kiri dan ke kanan.
"Mas... geli ih." Aline sedikit menggeser kepalanya, merasa geli dengan rahang pipi Galen yang mulai di tumbuhi bulu-bulu halus.
Wajar saja usai melaksanakan ijab kabulnya, Galen belum sempat bercukur. Pantas saja Alime merasakan gelenyar yang sangat membuatnya merinding hingga ke ubun-ubun saat Galen menyentuh bagian bawahnya. Tapi menjadi sensasi yang ia nikmati.
Galen bisa menjadi suami yang memanjakannya dan mengabulkan keinginannya. Menjadi sahabat, saat ia ingin mencurahkan kegundahan hatinya. Menjadi kakak yang memberi nasihat kepada seorang adik jika ia berbuat salah.
Semua bisa Galen lakukan, terlebih ia selalu menunjukan kasih sayang dan perhatiannya kepada Aline. Sungguh Aline sangat bersyukur cinta mereka bisa bersatu.
Aline berharap rumah tangganya dengan Galen selalu di berikan kebahagiaan. Meski ia tahu, kedepannya pasti akan ada cobaan untuk bahtera rumah tangga mereka.
.
.
.
.
.
Baca terus kelanjutannya ya...
__ADS_1
Jangan lupa like dan komen kalian.