
Di nikahi oleh orang paling berkuasa di Negara ini, merupakan keinginan semua wanita. Termasuk Nyonya Mariska, entah keberuntungan atau keinginan mendapatkan dengan paksaan yang ia lakukan. Sehingga dirinya bisa menjadi nyonya besar di mansion utama milik Tuan besar Anggara Wijaya.
"Semua akan kita dapatkan, Nak! Papa Anggara saja bisa Mama dapatkan. Apalagi sebuah jabatan untukmu. Mama akan mendapatkannya kembali," Nyonya Mariska menyeringai licik ke arah Galen yang sedang di wawancara oleh beberapa wartawan di layar televisi.
Bara hanya diam tak bersuara. Keningnya mengkerut. Tak mengerti dengan ucapan Mamanya.
Balai Permadani, Jakarta
Acara besar yang digelar di Bali Permadani, Jakarta itu sudah berakhir. Kini giliran penampilan dari penyanyi terkenal tampil di atas panggung.
Galen mengajak Aline untuk makan malam bersama di restauran yang letaknya masih satu gedung dengan acara itu, sebelum mereka keluar dari gedung mewah itu.
Dengan sopan Aline menolak ajakan tersebut. karena ia tahu, Ibunya pasti sudah menyiapkan makanan untuknya.
"Maaf, Gal! Gue gak bisa. Ibu pasti sudah menyiapkan makan malam buat Gue, tadi sebelum berangkat kesini, Ibu berpesan agar segera pulang," ucap Aline ragu. Ia merasa tak enak hati dengan Galen.
"Enak ya, masih diperhatikan sama nyokap," Galen mendengus sedih.
"Gimana kalau Lu, ikut ke rumah sama gue? lu bakalan ketagihan deh kalau ngerasain masakan Ibu!"
"Emang boleh?" tanya Galen.
"Bolehlah. Yuk! udah malem pasti Ibu nungguin deh? tapi nunggu Risa dulu deh! ko lama banget sih," gerutu Aline.
drttt ... drttt...
Dengarkanlah
Di sepanjang malam aku berdoa
Bersujud dan lalu aku meminta
Semoga kita bersama
Dengarkanlah
Di sepanjang malam aku berdoa
Cintaku untukmu selalu terjaga
Dan aku pasti setia
Nada dering dari ponsel Aline nyaris tak terdengar karena suara musik yang begitu keras di ruangan tersebut, tetapi Galen dan Aline masih bisa mendengar meski samar-samar.
Aline segera meraih ponsel di tas mini yang dibawanya, lalu menggeser tombol hijau pada layar ponselnya.
"Halo, Kenapa Ris? ko lama banget gak balik lagi." Aline langsung mencecar Risa dengan pertanyaan saat menerima telpon.
"Bunga sama pialanya sudah disimpan di mobil Mbak Aline, tapi Aku sedikit curiga Mbak? tadi pas Aku keluar lebih dulu dari penjaga yang bantu Aku bawa barang, ada beberapa orang deket mobil Mbak Aline." Risa menjeda ucapannya sesaat lalu kembali berkata. "Aku takut mobilnya di curi." Risa berbicara agak keras karena suara Aline kalan dengan suara musik yang ada dalam ruangan itu.
"Ya, udah! Mbak aja deh yang keluar. Lagian mau pulang juga ko!," seru Aline.
"Gal ... keluar aja yuk! Risa gak bisa masuk, dia nunggu di parkiran," bisik Aline tanpa mematikan sambungan telponnya dengan Risa.
"Sa, Kamu di sana sama siapa. Kalau sendiri mending minta petugas jaga aja nemenin Kamu." Aline terlihat khawatir.
"Aku sama Aldo, Mbak!"
"Aldo siapa?" tanya Aline dari sebrang telpon. Dahinya mengkerut, seingat Aline Risa tidak punya teman yang namanya Aldo.
"Barusan kenalan Mbak! Hehe ... katanya si dia itu asistennya Tuan muda Alex, si Mas preman itu!" Risa berbicara sambil berbisik di telpon. Takut Aldo mendengar omongannya.
__ADS_1
"Oo," Aline mengakhiri sambungan telponnya.
Galen sudah berdiri menunggu Aline yang masih asik menerima telpon.
"Yuk!" ajak Aline sudah mengakhirinya obrolannya bersama Risa.
Galen menatap Aline lalu beralih menatap lengannya memberikan kode kepada Aline agar mengandeng tangannya.
Aline tersenyum menanggapinya. Kemudian dengan cepat menggandeng tangan Galen agar cepat keluar dari dalam gedung acara tersebut.
Sepanjang kaki mereka berdua melangkah. sorotan kamera dan Kilauan cahaya blitz masih terasa terlihat sedang mengabadikan gambar mereka berdua.
Senyum hangat dari keduanya serta lambaian tangan dari Aline sebagai tanda perpisahan kepada para wartawan ditanggapi baik oleh mereka.
Sesampainya di tempat mobil Aline terparkir. Aline menghampiri Risa yang tengah asik mengobrol dengan seorang lelaki yang tak dikenal.
"Sa," panggil Aline pelan.
Risa dan Aldo menoleh ke arah sumber suara.
Aline dan Galen berjalan berdua keluar dari gedung acara melangkah pelan menuju parkiran.
"Mbak Aline." Risa melihat keberadaan Aline lalu mendekatinya. Sedangkan Aldo membungkukkan sedikit badannya di hadapan Galen, memberi hormat kepada Tuan Muda nya itu.
"Kamu baik-baik aja 'kan?" tanya Aline terlihat cemas memandang Risa.
"Enggak Mbak! Aku gak pa-pa ko. Ada dia yang nemenin Aku," ucap Risa seraya menunduk malu saat melirik Aldo.
Merkea berempat terlihat serius membicarakan sesuatu.
Di dalam mobil putih mewah milik Chyntia tak jauh dari tempat mobil Aline terparkir, Mereka berdua masih terasa panas dan emosi saat memasuki mobil.
Chyntia melihat ke arah Galen dan Aline yang berdiri begitu dekat.
"Kamu mau ngapain mereka, Beb?" tanya Derald curiga.
"Lihat saja nanti! Yuk jalan. Kita tinggal tunggu berita viral-nya aja besok!," titah Chyntia kepada Derald.
"Huh ... terserah Kamu deh, tapi Aku tidak mau tanggung jawab, ya?" tolak Derald.
"Ya sudah kalau tidak mau, jaga berharap Aku bakal ngasih Kamu kepuasan malam ini." Chyntia cemberut kesal.
Derald merasa tak rela jika malam ini tidak mendapatkan kepuasan batin dari Chyntia. hubungan mereka baru sekedar pacaran tapi keduanya saling memenuhi kebutuhan batin tanpa menikah. Itu sudah biasa mereka lakukan semenjak awal mereka berpacaran.
"Ok .. ok.. jangan ngambek gitu dong. Tapi malam ini berikan servis tunggang kuda, ya?" rayu Derald.
Chyntia mengangguk seraya tersenyum simpul. Ia merasa tak sabar mendengar berita esok hari. Berita yang akan menggemparkan dunia hiburan menurutnya.
Mobil mewah berwarna putih itu bergerak perlahan meninggalkan Balai Permadani. Melewati Aline, Galen, Aldo, dan Risa yang memandang ke arah mobil tersebut.
"Itu 'kan mobilnya saingan Mbak Aline!" ujar Risa.
Aline mengerutkan alis. "Siapa?" tanya Aline karena bingung dengan ucapan Risa tentang saingan.
"Chyntia Anya. Dia kan selalu sinis banget sama Mbak Aline kalau pemotretannya bareng."
Aline hanya tersenyum mendengarnya.
"Hanya perasaanmu saja, Ris!" sergah Aline.
"Gal ... jadi 'kan ikut kerumah?" tanya Aline.
__ADS_1
Galen melirik ke arah Aldo. Asistennya itu mengerti dengan lirikan bosnya.
"Biar saya pulang sendiri, bos."
"Ris, Kamu temenin Aldo aja mau gak? kita kerumah bareng. Ibu masak banyak loh, katanya. Pasti seneng banget dia banyak yang ikut pulang," ujar Aline.
"Mas Aldo ... gak pa-pa Risa yang nemenin?" tanya Risa dengan nada malu-malu.
"Mari ... silakan! Aldo mempersilahkan Risa untuk ikut naik mobil milik Tuan muda G. Alexander.
Risa merasa tersanjung dengan perlakuan Aldo. Senyum sumringahnya ditunjukkan kepada Aline seraya melambaikan tangan.
"Duluan ya, Mbak Aline," ucap Risa lembut dengan senyum jahilnya.
Risa dan Aldo mengerti, Aline dan Galen masih butuh waktu berdua untuk mengobrol.
Hampir beberapa Minggu tak bertemu. Membuat Aline sedikit kaku, apalagi di acara tadi Galen memberi perlakuan istimewa kepadanya di hadapan banyak orang.
Galen membuka Pintu mobil milik Aline.
Aline tak langsung memasukinya.
"Apa tidak kenapa-napa, kalau lu naik mobil gue yang biasa ini, gak senyaman mobil lu, loh?" tanya Aline ragu.
"Gue lebih nyaman pake motor. Cepetan masuk!" titahnya memaksa.
"Ish ... galak banget! tadi di dalam aja baiknya. sekarang udah ngajak perang lagi." Aline memanyunkan bibirnya seraya masuk kedalam mobil.
Galen memutari bagian depan mobil lalu masuk ke dalam mobil bagian kemudi. Sebelumnya Ia sudah minta kunci mobil pada Risa sebelum asisten Aline itu pulang bersama Aldo.
Galen yang akan mengemudikan mobil Aline, karena sampai saat ini Aline si pemilik mobil masih belum bisa menyetir sendiri.
Dari kejauhan dua orang terkejut dengan paa yang dilihatnya.
"Loh kenapa Pria itu malah ikut masuk ke dalam mobil itu. Si bos kan nyuruhnya dua wanita tadi 'kan?" tanya lelaki bertubuh besar kepada temannya yang berdiri disampingnya.
.
.
.
.
Haduh ... bakal ada berita apa ni besok......
katanya sih bakal viral ... apa sih?? kepo ya.π
Dukung terus ceritaku...
Dukungan kalian tuh berarti banget loh buatku
likeπ
komenβοΈ
vote
hadiah juga boleh
π·π·
__ADS_1
ββ
Salam hangat dari Teteh Author Mayya_zha πππ