Fake Love

Fake Love
Perlahan Ingatan Itu Kembali


__ADS_3

Makan malam bersama saat itu menjadi malam yang berkesan untuk Sandra. Tak pernah ia merasakan kebersamaan keluarga dari dulu. Yang gadis itu tahu selama ini hanya mencari uang yang banyak untuk pengobatan sang Ibu yang kini sakit keras dan di rawat oleh adik dari ibunya itu.


*


*


Satu jam setengah mereka lewati dari Bandara Changi Singapura sampai di Bandara Soekarno-Hatta.


Kendaraan yang akan membawa Galen menuju kediaman Tuan Wijaya sudah menunggu mereka.


Tak butuh waktu lama. Kini mereka telah tiba di kediaman Tuan Wijaya. Sambutan dari para pekerja yang mengabdi pada Tuan Wijaya menyambut kedatangan Tuan Muda Alex.


Semua membungkuk pelan saat Galen berjalan pelan memasuki hunian mewah itu. Termasuk Aldo yang ikut membungkuk hormat menyambut kedatangan bos nya itu.


“Selamat datang Tuan Alex, kami senang Tuan sudah pulih dan bisa beraktifitas kembali,” sapa Aldo seraya membungkuk hormat pada Galen.


“Hm,” Galen mengangguk pelan. “Terima kasih, Al! Kamu pasti sangat lelah meng-handle pekerjaanku seorang diri.


“Itu sudah menjadi tugas saya, Tuan!” ucap Aldo merendah.


Aline berjalan beriringan dengan Galen. Di ikuti Kartika yang berjalan pelan seraya merangkul Oma Ratih yang terlihat kelelahan. Sedangkan Sandra tertinggal di belakang. Ia menatap takjub melihat kemewahan rumah Tuan Wijaya.


“Ternyata mereka keluarga tajir melintir! Wah beruntung sekali Aku mendapat tawaran pekerjaan membantu asistennya Galen. Orangnya yang mana ya?” gumam Sandra sembari mengamati satu persatu pelayan yang menyambut kedatangan mereka.


Ketika mendapat tawaran pekerjaan dari Galen untuk membantu asistennya, Aldo. Sandra langsung menyetujuinya mengingat saat ini Ia tidak mempunyai uang sepeser pun untuk ia kirim ke Bi Erma. Ia juga belum memberi kabar kepada keluarganya perihal dirinya yang sudah tidak menjadi TKW dan kepulangannya saat ini ke negara asalnya.


*


*


*


Aline masih setia menemani Galen di dalam kamarnya. Mereka berdua masih saja asik bercerita.


Pintu kamar Galen di buka lebar karena Aline merasa tidak enak jika berduaan dalam satu kamar bersama Galen. setidaknya jika pintu itu terbuka akan ada yang mengawasi mereka.


Aline dengan sabar menceritakan hal yang ia ketahui selama mengenal Galen. Ada hal yang sangat membuat Galen penasaran.


Galen tak sabar ingin segera bertemu dengan teman- teman satu tongkrongan sesuai dengan yang Aline ceritakan.


“Sabar, Gal. Kamu harus sehat betul baru Aku akan mengajakmu ke sana!” seru Aline saat Galen terus memaksa mengajaknya ke taman kota.


“Aku merasa lebih baik, sekarang. Kalaupun rasa sakitnya kembali terasa, Aku akan bilang sama kamu, Yang!”


Aline menghela napas berat. Rasanya pria di hadapannya ini jadi lebih keras kepala. “Kalau kamu masih memaksa, pergi sendiri aja, lebih baik Aku pulang!” sewot Aline sembari berdiri dari duduknya di sofa.


“Ok... Ok.. Maaf! Tapi kamu janji bakal nemenin Aku bertemu mereka.”

__ADS_1


“Kalau tidak bersamaku, mau sama siapa kamu ke sana?” sahut Aline masih dengan nada sewot dan wajah yang cemberut.


Galen mencubit gemas pipi putih Aline yang mengembung.


“Hahaha, kamu lucu kalau ngambek begini!”


“Ihh, lepas!” Aline menepis cubitan Galen di pipinya. Lalu berbalik membelakangi Galen.


“Udah dong jangan ngambek. Iya aku nurut deh sama perawat tersayang ku ini!” Galen mengeser tubuhnya agar lebih dekat dengan Aline.


Satu tangan ia selipkan di pinggang Aline, memeluk Aline dari belakang. Menempatkan dagu Galen di salah satu pundak Aline.


“Terima kasih sudah mau bersabar untukku. Memberitahuku semua yang pernah Aku lalui bersamamu," bisik Galen membuat kulit Aline meremang.


Hembusan napas Galen terasa hangat menerpa tekuk leher Aline. Reflek Aline menoleh ke samping membuat bibir Aline dan Galen menempel sempurna. Keduanya merasakan hangatnya deruan napas mereka.


Tak mau melewati kesempatan, Galen meraih bahu Aline agar menghadap ke arahnya. Ia mendekatkan wajahnya dengan cepat membungkam bibir Aline yang hendak mengeluarkan suara, menyesap bibir Aline pelan.


Awalnya gadis itu terkejut, tapi perlahan ia memejamkan mata menikmati sentuhan Galen.


Melihat Aline menerima sentuhannya. Galen semakin memperdalam ciumannya, membelit dan bermain lidah seakan mengabsen isi bibir sensual yang saat ini saling beradu dalam waktu.


Perlahan Galen melepaskan pungutanya keduanya saling memandang seakan mendalami perasaan yang kini mereka rasakan.


Akhirnya Galen merasakan manisnya bibir yang dari kemarin ia lihat terus bergerak menceritakan semua kisah mereka tanpa lelah.


Beruntung meskipun pintu kamar Galen terbuka lebar tak ada yang berani masuk. Kecuali Oma Ratih, tapi wanita tua kesayangan Galen itu sedang beristirahat bersama Kartika di kamarnya. Sedangkan Sandra berada di kamar tamu di antar Mbok Yem. Sebelum pulang ke rumahnya gadis itu akan beristirahat sementara di sana. Rencananya Ia akan ikut pulang bersama Aline nanti.


Toktoktok


“Permisi, Den!” Mbok Yem masuk ke kamar Galen dengan membawa nampan berisi makanan dan jus kesukaan Galen.


Galen menempelkan jari telunjuk di bibir, memberi kode agar Mbok yem berbicara pelan.


“Maaf, Den. Ini Mbok bawakan cemilan dan jus buat Aden sama Non Aline,” ucap Mbok yem dengan suara yang begitu pelan.


“Simpan di sana saja, Terima kasih ya, mbok!”


“Sama-sama, Den. Mbok permisi!” Mbok Yem pun keluar dari kamar dengan sopan.


Galen terus memperhatikan wajah Aline yang tertidur bersandar di sofa. Sepertinya ia kelelahan karena Galen terus memaksanya bercerita detail tentang beberapa hal yang masih membuatnya penasaran.


Sebuah senyuman terukir di wajah Galen. Tangannya terulur menyingkirkan helaian rambut yang menjuntai menutupi wajah Aline. Diselipkan beberapa helai rambut itu ke belakang telinganya. Aline sempat terusik karena sentuhan Galen.


“Beruntungnya Aku bisa mendapatkan gadis sepertimu!” gumamnya pelan.


Galen masih meneliti wajah Aline. Sesaat ia memejamkan mata, sekelebat bayangan gadis berkacamata besar sedang menelungkupkan wajahnya, lalu mendongak kearahnya setan berucap, tolong Aku, hadir di benaknya. Galen lekas membuka mata lalu memperhatikan kembali wajah Aline. “Kenapa gadis itu kamu, Yang? Apa yang kamu alami dulu, sampai harus menyedihkan seperti itu.” Galen membelai pelan pipi Aline.

__ADS_1


Tidak tega melihat Aline tertidur duduk bersandar di sofa. Perlahan Galen menggendongnya dan memindahkannya ke tempat tidur agar bisa beristirahat dengan leluasa. Aline yang awalnya ingin menemani Galen beristirahat sekarang malah sebaiknya.


Galen yang baru saja keluar dari kamarnya menghentikan langkahnya karena sapaan dari Oma Ratih.


“Loh, kamu tidak istirahat? Kemana Aline?” tanya Oma Ratih saat mendapati Galen sendiri.


“Aline tidur, Oma! Biarkan dia istirahat dulu, dari tadi Galen mengajaknya untuk menceritakan kisah kami!”


“Gal... Jangan terlalu memaksa untuk berpikir keras. Dokter sudah mengingatkan perlahan saja!” Oma Ratih mengingatkan.


“Ya, Oma. Galen paham ko, tapi..., Aku sempat mengingat sesuatu Oma!” ungkap Galen.


Oma Ratih mengerutkan alis menanggapinya. “Apa?”


“Aku melihat gadis berkacamata dalam keadaan menyedihkan dan meminta pertolonganku. Seingat ku, kemarin Aline menceritakan penampilannya sebelum bertemu denganku, Oma!”


Oma tersenyum lega. Perlahan meski hanya sedikit tapi ingatan Galen akan kembali.


“Ya, itu benar. Dia Aline, gadis beberapa kali telah membantumu dalam keadaan tak sadar. Entah perasaan kalian yang saling mengikat. Setiap mendengar suara Aline saat kamu tidak sadarkan diri saat itulah tak kan lama, kamu akan tersadar. Kali ini, Aline pun kembali berjuang agar kamu ingat semuanya.”


Galen mengangguk paham.


Di bawah ada ayah dan Ibunya Aline. Mereka sengaja datang ke sini ingin melihat keadaanmu.


“Oma, tapi Aline sedang tidur di kamarku! Apa orang tuanya tidak akan marah?” Galen terlihat kebingungan.


“Memangnya kenapa? Kalian tidak berbuat macam-macam kan saat Oma tinggal beristirahat?” tanya Oma Ratih penuh selidik.


Galen menggelengkan kepala lalu tersenyum masam seraya menggaruk lehernya yang tidak gatal. “tidak sih, Oma! Hanya sedikit!”


Oma membulatkan matanya mendengar penuturan Galen.


“Sedikit gimana?” Oma Ratih menjewer kuping Galen. Membuat cucunya itu meminta ampun kepadanya.


.


.


.


.


Kenapa kayak enggak greget ya isi tulisan ini..


apa karena abis perjalanan ya. jadi masih ada rasa mabok-maboknya.


semoga kalian suka deh..

__ADS_1


__ADS_2