
Makan malam berlangsung dengan hikmat. Tidak ada obrolan berat di sana. Hanya sesekali bertanya dan menjawab pertanyaan Tuan Wijaya.
Aline menyusul setelah memastikan baby Zayn tidur dengan nyaman. Ada satu nanny yang menunggu baby Zayn di kamar, takut putranya itu terbangun saat Aline tidak ada di sampingnya.
Usai makan Oma ratih dan Kartika pamit lebih dulu ke kamar mereka masing-masing. Kartika mengantarkan Oma lebih dulu ke kamarnya.
Aline yang ikut bergabung belakangan juga lebih dulu pamit kepada semuanya. Sebab Zayn terbangun mencari dirinya. Ia terbiasa memberikan asi secara langsung dari sumbernya daripada harus melalui botol. Ia ingin ikatan terjalin secara alami saat proses oemberian asi itu berlangsung.
Terbukti baby Zayn begitu lengket kepadanya. Ikatan batin antara ibu dan anak itu semakin kuat ketika proses menyusui secara langsung. Bagi Aline menyusui baby Zayn melibatkan kontak kulit langsung antara ibu dan bayi. Ikatan emosional yang tercipta antara dia dan baby Zayn memberikan rasa nyaman dan tenang.
Tepukan pelan dan lembut yang Aline berikan di pantat gemoy baby Zayn membuat putranya itu tidak rewel dan cepat tertidur. Kadang Galen merasa iri ketika melihat baby Zayn di perlakukan istimewa seperti itu, tapi Aline bisa mengatasinya.
Sebagai seorang istri dan ibu ia harus bisa membuat ayah dan anak itu tidak merasa terbedakan. Aline seperti mempunyai bayi dua jika Galen sudah berada di rumah.
Seperti saat ini, mengetahui papa nya sedang berbicara serius dengan Bara.
Galen memilih menyusul istrinya ke kamar, tapi sebelumnya ia membuatkan Aline segelas susu khusus ibu menyusui kemudian membawanya ke kamar. Galen tersenyum melihat gaya tidur baby Zayn saat menyusu. Aline menempelkan jari telunjuknya di bibirnya, memberi kode kepada Galen agar suaminya itu tidak mengganggu.
Anggukan kepala pun Galen berikan kemudian meletakkan gelas berisi susu yang ia pegang di atas nakas lalu ikut duduk di sebelah Aline, mencodongkan sedikit tubuhnya kemudian mencium pucuk kepala Aline dari belakang.
“Sepertinya Zayn agak rewel malam ini,” ucap Galen setelah mendaratkan ciuman singkat pada Aline.
“Ya, dari tadi siang dia banyak bergerak dan aktif sekali, tadi saja dia sudah bisa merangkak tapi tidak lama,” jelas Aline.
Aline tidak mau melewatkan perkembangan sang buah hati, ia ingin menyaksikan sediri setiap perkembangan Baby Zayn. Makanya ia rela mengurus sendiri baby Zayn, kadang kurang tidur dan terbangun malam hari. Semua ia jalani tanpa mengeluh.
Aline hanya mempekerjakan satu baby sister untuk membantunya, selebihnya ia kerjakan sendiri.
“Mas, tunggu kamu di kamar sebelah aja, ya?”
Alin mengangguk menjawabnya.
“Jangan lupa susunya di minum!” Galen memperingatkan.
“Iya, Mas... Terima kasih sudah dibuatkan.” Balas Aline tanpa mengubah posisinya.
“Sama-sama, Sayang!” Galen kembali mencium Aline, kali ini di bibir. Kalau saja istrinya sedang tidak menyusui, Galen sudah memperdalam ciumannya.
Aline hanya bisa tersenyum mendapat perlakuan manis dari Galen. Suaminya yang berlalu meninggalkan kamar baby Zayn.
Baby Zayn kembali tertidur dalam dekapan Aline. Tepukan lembut dan nyanyian merdu membuat bayi itu lebih cepat memejamkan mata. Dengan peln dan hati-hati Aline bangun dari tempat tidur bayi yang ukuranny abesar itu.
Baby Zayn sudah terbiasa tidur sendiri di kamarnya. Kamar yang letakknya di sebelah kamar Aline dan Galen.
__ADS_1
Setelah menidurkan baby Zayn, Aline mencium pipi gembul putranya. Bibir mungil itu masih bergerak seperti menyedot asi. Aline tersenyum melihatnya.
Semakin hari semakin menggemaskan pertumbuhan Baby Zayn.
Lekas Aline turun dari tempat tidur yang sudah dirombak ukurannya jadi lebih besar dan lebar tidak seperti ranjang bayi sebelumnya. Di pinggir tempat tidur tetap di pasang penghalang yang melindungi Zayn agar tidak terjatuh saat tertidur.
“Selamat tidur jagoan mommy, mimpi indah ya, sekarang giliran daddy mu yang harus mommy urus.” Aline terkikik geli dengan ucapannya sendiri. Mengingat manja suaminya sama seperti Zayn yang merengek minta di tidurkan.
Di tidurkan dalam arti berbeda.
Aline memasuki kamar tidur yang bersebelahan dengan kamar baby Zayn. Dilihatnya Galen yang duduk menyandar di tempat tidur, terlihat begitu serius dengan ponsel di tangannya.
“Bara masih di bawah, Mas?” tanya Aline yang mendekatinya.
Galen mengangguk. “Ada sama Papa, lagi bicara serius kayaknya!” Galen lekas menyimpan ponselnya. “Zayn sudah tidur?”
“Sudah! Dia sangat lelah hari ini, bisa merangkak meski cuman sebentar dari siang kartika membantuku mengasuhnya. Adik mu itu sangat menyukai anak kecil,” Tutur Aline seraya ikut duduk di samping Galen.
Pria itu sedikit menggeser tubuh agar Aline bisa duduk di dekatnya.
“Sepertinya sebentar lagi Kartika akan jadi aunty lagi!” Ucapan Galen sontak membuat Alin menoleh ke arahnya.
“Maksudmu, Mas!”
“Aku sudah mencari tahu keberadaan Sandra. Dan wanita itu ternyata masih sendiri di tempat tinggalnya yang baru. Bara salah paham saat pertama mereka bertemu.” Galen melanjutkan cerita kepada Aline, tidak ada yang ia tutupi.
Mereka selalu bertukar pendapat dan pikiran mengenai semua yang dialami keduanya.
Mereka akan saling memberi solusi disetiap masalah yang terjadi.
Itulah kunci keharmonisan dalam berumah tangga.
“Sandra sudah ketemu, di mana dia sekarang?” tanya Aline penasaran bagaimana kisah Bara selanjutnya.
“Dia ada di Kota Lembang, Bandung. Bara mengira Sandra sudah menikah dan pria yang menjalin kerja sama dengannya, karena waktu pria itu menunjukkan perhatian yang berlebihan, tapi aku yakin bayi yang ada dalam kandungan Sandra adalah anak Bara,” Ucap Galen membuat Aline menatapnya tajam.
“Itu hanya feeling Mas saja, sayang!” balas Galen kaki, ia melihat tatapan yang kurang baik dari istrinya itu.
“Awas kalau Mas macam-macam dengan Bara!”
Bola mata Galen sedikit melolot mendengar ucapan Aline.
“Macam-macam gimana, sih, Yang! Satu macam aja gak habis habis, malah bikin mau lagi dan lagi!” oceh Galen yang langsung mendapat cubitan kecil di perutnya.
__ADS_1
Tindakan yang paling ampun membuat Galen meringis sakit.
“Ampun, Yang! Mas itu bukan pria yang gampang celap celup sana sini. Cukup satu gua yang Mas masuki!”
“Mas....” pekik Aline mendegar ocehan suaminya. Galen tidak pernah menyaring setiap ucapan jika bersama Aline.
Tapi pria itu begitu dingin dan irit bicara jika berada di luar.
Galen merebahkan kepalanya di pangkuan Aline mengesek-gesekan wajahnya di depan perut Aline.
Sudah dipastikan Galen akan meminta jatahnya sama seperti baby Zayn. Bayi besar itu juga selalu berdalih perlu asupan vitamin dan gizi dari Aline.
Tak butuh lama untuk Galen melayangkan rayuan maut kepada Aline.
Mereka berdua tengah bergelumut panas saling menyalurkan gelora yang memuncak. Tak ada kata bosan bagi Galen. Istirnya itu seolah menjadi candu buatnya. Sebab, semakin sering melakukannya semakin banyak gaya yang mereka ketahui setiap sudut ruangan kamar pun jadi tempat untuk mengeksplor gaya ber-cinta mereka.
Bara dan Tuan Wijaya tidak terusik dengan kegiatan Galen di kamarnya. Jelas saja, erangan dan ******* tidak terdengar. Galen sudah mengantisipasi sebelumnya. Kamar tidur tempat mereka beradu keringat kenikmatan itu sudah terpasang penyadap suara. Jadi, meskipun sekencang apapun Aline mendesah, suaranya tidak akan terdengar bahkan di kamar sebelah sekalipun.
“Papa bangga sama kamu, Bara! Tapi rasanya tidak perlu menyerahkan kembali perusahaan yang sudah papa beri untukmu Kamu bisa mengelola ke-dua perusahaan itu bersamaan. Sama seperti Galen!” Tuan Wijaya merasa kecewa dengan keputusan Bara.
“Maaf, Pah! Bukannya Bara tidak sopan. Tapi perasaan Bara terasa berat, aku hanyalah anak tiri dan semua pemegang saham tau akan hal itu, sedikit banyak aku mendengar selentingan yang kurang enak di dengar. Tapi aku bersyukur dengan itu semangat untuk mendirikan perusahaan baru sudah tercapai. Aku minta maaf, jika keputusan ini membuat Papa kecewa, tapi yakinlah Kartika akan lebih baik memegang kepemimpinan selanjutnya. Bukankah anak itu masuk fakultas bisnis?”
“Tapi dia seorang wanita, Bara!” elak Tuan Wijaya.
“Jangan menganggap rendah wanita, Pah! Bara yakin Kartika akan sukses. Biarkan dia mengambil keputusan nanti, sekarang ini Bara masih memegang kendali perusahaan yang papa amanahkan kepada Bara. Tapi setelah Kartika siap terjun dalam dunia bisnis. Barakan menyerahkannya,” Ujar Bara.
Tuan Wijaya hanya menghela napas kasar dengan keputusan Bara.
Di balik itu semua rasa bangga tersendiri dirasakan Tuan Wijaya. Meskipun ia membenci wanita yang melahirkan Bara, tapi sayang nya tulus kepada anak kandung dari Nyonya Mariska itu.
Dalam obrolan Bara dan Tuan Wijaya sama sekali tidak membahas ataupun menyinggung soal wanita seperti Oma Ratih. Tuan Wijaya mengerti dengan sikap anak tirinya itu. Bara akan menceritakan sendiri nantinya jika anaknya itu sudah siap.
Bara pun pamit kepada Tuan Wijaya. Papanya menyuruh Bara untuk menginap di rumah itu Bara menolak. Ia lebih bersemangat untuk pulang ke rumah. Sebab besok pagi rencana yang sudah seminggu ini ia tunggu-tunggu akan segera terlaksana.
Pergi menemui wanita yang berhasil membuatnya tidak bisa tenang sebulan ini terlebih mengetahui Sandra sedang hamil. Berbagai pikiran ada dalam benaknya.
Anak siapa itu. Ia tidak mau salah menduga lagi. Jika memang benar itu adalah anak yang hadir dari hasil perbuatannya dengan Sandra. Bara akan berusaha meluluhkan hati Sandra meskipun akan sangat berat. Sebab Sandra terlanjur kecewa dengan sikap Bara yang acuh terhadapnya. Sandra merasa tidak diinginkan oleh pria itu.
.
.
.
__ADS_1
Baca terus kelanjutannya ya...
*Nanny sama seperti baby sitter tapi tugas nanny mmbantu menjaga bayi sekitar 24 jam dan ikut tinggal di rumah majikan. sedangakan Baby sitter biasanya membantu menjaga bayi dalam kurun waktu beberapa jam saja.