
"Apa kamu takut, Mas! Kamu takut Sandra mengungkapkan bahwa kalian memang memiliki hubungan di belakangku?" Aline mulai lelah, dadanya naik turun menahan amarah. Matanya mulai berkaca-kaca tapi tidak bisa ia menumpahkan air matanya saat ini.
"Jangan menuduhku, Sayang! Itu tidak benar. Silakan dengar apa yang wanita itu ucapkan, jika itu membuat mu merasa lega." Galen tidak kuasa melihat Aline, ia tahu kalau Aline sedang menahan tangisnya.
Kilat amarah di wajah Aline membuat Galen diam. Ia paham jika Aline masih marah dan kecewa saat ini. Galen harus bersikap tenang tidak tersulut emosi.
"Aku ke kamar sebentar," sela Galen saat Sandra akan menceritakan semuanya.
"Jangan menghindar, Mas!" ucap Aline masih dengan ucapan ketusnya.
"Aku mau pakai baju dulu!" sahut Galen sambil membuang napas kasar.
Aline yang melihat Sandra masih memakai kimono merasa risih. ia pun ikut ke dalam kamar menyusul Galen. ia berniat mengambilkan baju untuk Sandra.
Galen melihat Aline masuk ke dalam kamar, ia pikir Aline menyusulnya.
"Sayang... Aku tidak mungkin melakukan hal lebih kepada Sandra. Aku pastikan itu. kamu tahu bagaimana kau, Yang!" Galen mencoba berbicara kepada Aline yang sama sekali tidak menggubris ucapannya.
Aline sibuk mencari baju untuk Sandra. "Kamu mau bawa kemana baju itu, Yang"
Aline mendelik ke arah Galen. "Apa kamu lebih suka melihat Sandra memakai handuk saja di hadapanmu, Mas!" balas Aline.
"Aku sudah menyuruh Aldo mencari baju untuknya, jangan berikan bajumu kepadanya. Ini semua khusus aku belikan untukmu, Yang!" Galen tidak terima dengan apa yang Aline lakukan.
"Ini hanya baju, Mas!" Aline memutar bola mata kesal dan malas dengan tingkah pelit Galen.
Aline menggelengkan kepala mendengar penuturan suaminya. Setelah mendapat pakaian yang si rasa pantas di pakai Sandra, Aline keluar lalu melemparkan baju kepada Sandra.
"Pakai ini, Apa kamu betah hanya memakai itu di hadapan pria lain. Jaga harga dirimu sebagai wanita!" sentak Aline masih dengan nada emosi.
Ingin rasanya Aline menjambak Sandra. memukul dan mencakarnya. Seperti wanita lain yang akan berbuat kasar dan bar bar saat memergoki suaminya berduaan dengan wanita lain selain dirinya.
Tapi Aline tidak seperti itu. Aline hapal betul Galen. Ia hanya ingin mendengar penjelasan Sandra. ingin tahu apa yang Sandra katakan kepadanya sesuai dengan kejadian atau ia malah memanfaatkan keadaan untuk merebut suaminya.
Setelah mereka bertiga berkumpul. Aline kembali menagih ucapan Sandra yang ingin menjelaskannya kepada Aline.
Perlahan Sandra menceritakan semuanya. bukan hanya kejadian semalam. Aline juga mempertanyakan perasaan Sandra kepada suaminya.
Sandra menarik napas dalam lalu membuangnya kasar. Ia tidak berani menatap Galen yang melemparkan tatapan marah dan benci kepadanya.
__ADS_1
"Maaf... Aline, aku tahu aku salah. Aku tidak bisa menahan perasaanku terhadap suamimu. Kebaikannya membuat aku sulit menghilangkan perasaan ini." Setelah mengatakan semuanya kepada Laine Sandra menundukkan kepala. Ia tidak berani lagi menatap keduanya.
Semua yang Sandra ucapkan adalah kebenaran sesuai yang dialami dan dirasakan. Ia sudah memutuskan untuk menjauh dari Galen. Begitu juga dengan pekerjaannya. Kali ini benar apa kata Aline. Harga diri, hanya itulah satu-sarunya yang ia miliki saat ini.
Sesaat ia termenung ketika Aline dan Galen berada di kamar. Sandra menyesali semua yang ia lakukan.
"Kamu tidak perlu ragu dengan suamimu. Saat hilang ingatan saja ia, cintanya masih utuh untumu. Disitulah aku merasa iri, aku ingin merasakan cinta seperti yang Galen berikan kepadamu. Tapi ternyata cintaku salah bertepi. Aku yakinkan padamu, Aline.
Aku dan dia tidak melakukan apapun. Aku salah sudah memanfaatkan Galen yang mengira aku adalah dirimu. Mungkin adalah sedikit kesalahan yang suami mu buat tapi itu dalam ketidaksadarannya. Aku pun tidak menyadari karena lelap tertidur karena terlalu nyaman dalam pelukannya. Jujur aku hanya ingin merasakan kehangatan pelukan orang ku sayang. Tanpa ada niat merebutnya darimu, Aline." ucap Sandra langsung menunduk menahan malu. Rasanya ia benar-benar menjadi wanita yang tidak punya harga diri.
"Kamu dengar, Sayang! Sandra yang memiliki perasaan kepadaku. Tapi Cintaku hanya untukmu, Yang! Aku berani bersumpah." ucap Galen sambil menunjukkan jari telunjuk dan jari tengah membentuk huruf V.
Aline melihat kesungguhan pada Sandra. Binar matanya menunjukkan kejujuran. Tapi tetap saja, dia bersalah. Wanita itu terlalu berani bermain api.
Aline menatap Galen. Matanya kembali berkaca-kaca kali ini ia tidak bisa menahan rasa sesak di dada. Perlahan Aline terisak, air matanya meluncur begitu saja. Ia tumpahkan rasa kesal, benci, kecewa dan sakit hati bersama ia tangisannya.
"Hiks... hiks..." Aline menutup wajah dengan kedua tangannya, ia menangis tersedu-sedu. Pundaknya naik turun seiring tangis yang ia keluarkan. " Aku takut, Mas! Aku takut kamu akan berpaling dariku seperti Derald. Aku takut selama ini hanya cinta palsu yang aku dapat darimu! Aku benar-benar takut kehilangan kamu, Mas!" ucap Aline sedih bersamaan dengan tangisan yang makin kencang.
Galen dengan cepat menarik Aline kedalam pelukannya. "Sayang... Maaf... harusnya Mas jujur dari awal soal kepergian mas kemarin. Maaf...! Mas pernah berjanji, tidak akan pernah membiarkan orang lain membuatmu menangis, tapi kali ini Mas begitu bodoh, Mas sendiri yang menjadi penyebab dirimu menangis, Maafkan Mas, Sayang! Ketakutanmu tidak akan pernah terjadi. Cinta yang mas punya hanya untukmu dan itu tulis mas berikan. Hati Mas tidak akan pernah berpaling dari kamu, Sayang!" balas Galen jelas sehingga ucapannya dapat tersengar oleh Sandra.
Tak ada sahutan dari Aline. Wanita yang kini balik memeluk Galen masih menangis dalam pelukan hangat suaminya itu. Galen makin mengeratkan pelukannya. Mencoba menenangkan istrinya dengan sentuhan dan usapan lembut di pundaknya.
Dengan langkah pelan Sandra meninggalkan pasangan yang kembali bersatu setelah salah paham yang terjadi.
Sandra tidak ingin mengganggu mereka. Ia pergi tanpa pamit.
Maafkan aku, Aline... Galen...
Aku janji setelah ini tidak akan muncul lagi di hadapan kalian.
Sandra berucap dalam hati seraya menatap kedua pasangan yang saling berpelukan itu.
Perlahan ia meninggalkan apartemen itu, Berjalan pelan sambil berpikir apa yang akan ia lakukan setelah ini. Besok ia akan mengajukan surat pengunduran diri kepada perusahaan.
***
Alin melepaskan pelukan Galen setelah ia merasa sedikit tenang meskipun masih sedikit terisak.
Aline mengedarkan pandangannya. Mencari sosok wanita yang ia interogasi penjelasannya tadi.
__ADS_1
"Kemana Sandra?" Aline baru menyadari ketidakberadaan Sandra di sana.
"Dia sudah keluar sendiri, tadi!" Galen paham dengan tatapan Aline yang melarak-lirik mencari sesuatu.
Aline menatap Galen judes sambil memanyunkan bibirnya. Matanya sedikit bengkak akibat menangis.
Galen tersenyum lega. Galen yakin Aline percaya kepadanya. Saat ini istrinya sedang dalam mode ngambek. Saatnya Galen merayu dengan jurus jurus yang ia punya.
"Syukurlah salah paham ini tidak berlanjut terlalu lama. Bisa mati berdiri gue, kalau tidur terpisah dari dia" gumam Galen sambil melirik ke arah Aline yang menjauh dari dirinya.
Aline terlihat berjalan ke arah dapur bersih. Ia masa bodo dengan Sandra yang pergi tanpa pamit kepadanya. Saat ini Aline sedang menyiapkan bubur yang ia bawa ke dalam mangkuk.
Galen mendekati Aline yang terlihat sibuk. "Wah.... sarapan hari ini bubur ayam kampung, terima kasih sayang. kamu tau aja kalau aku mau ini. Perut ku dari semalam seperti diaduk-aduk, nggak enak banget!"
Aline masih dengan mode diam dan acuh. " Loh mau dibawa kemana buburnya, Yang?" tanya Galen bingung. Ia melihat hanya ada sedikit sisa bubur ayam di kotak plastik berlogo tupperware itu. Beruntung masih ada sisa sate kikil dan sate ati ampela.
"Mau aku makan, laper habis nangis sama nahan kesel." celetuk Aline sambil mengaduk-ngaduk bubur yang ia buat sendiri lengkap dengan sate kikil dan sate ati ampela, Aline hanya menyisakan lima tusuk di wadah plastik tupperware.
Bubur yang awalnya Aline bawa untuk Galen. Tidak jadi diberikan karena rasa lapar kembali Aline rasakan. Padahal sebelum berangkat ke apartement, Aline sudah makan satu mangkuk bubur ayam dengan tiga tusuk sate ati ampela.
Galen menelan ludah melihat Aline dengan lahap dan nikmat memakan bubur ayam kampungnya.
Sambil memperhatikan Aline makan, Galen mengambil satu tusuk sate kikil lalu mengigit kikil tersebut, ia keluarkan dari tusukannya dengan mulutnya sendiri.
Lumayan sebagai pengganjal lapar setelah memuntahkan isi perutnya tadi pagi.
.
.
.
.
Baca terus kelanjutan ceritanya ga...
๐๐๐ kasian amat Babang Galen....
rasain tuh, itu akibatnya tidak jujur sama istri.
__ADS_1
lanjut ga gaes.....