
"Lu," Aline terkejut melihatnya.
"Kenapa? terpesona ya, Lu! liat penampilan gue sekarang!" bisik Galen.
"Bukan terpesona, tapi kaget aja. Kok bisa lu ada di sini? ngapain?" tanya Aline menelisik penuh curiga.
"Gue tamu kehormatan di sini!" ucap Galen jujur tapi dianggap bercanda oleh Aline.
"Hmmfft ..." Aline membungkam mulutnya sendiri dengan tangannya. Lalu berbisik ke telinga Galen. "Jangan suka bercanda, ini bukan situasi yang tepat untuk itu, Gal."
Gerakan tubuh yang sedikit condong ke arah Galen membuat Aline sedikit terhuyung sehingga usai berbisik Aline mendaratkan bibirnya di pipi Galen.
Galen tersenyum jahil ke arah Aline.
"Kali mau ngucapin terima kasih cukup ucapan juga bisa, pol ...! enggak usah cium segala. Di depan banyak orang lagi. Tuh lihat mereka pasti udah dapet pose terbaik tadi." Galen tertawa renyah, sontak membuat Aline tersipu malu, membuat wajahnya semakin merona.
Gerakan yang dilakukan Aline yang tadinya hanya sekedar berbisik tidak menyangka akan mencium Galen tanpa disengaja. Itu membuat dirinya terlihat canggung.
Galen berdiri tegap siap untuk berjalan di atas karpet merah panjang menuju tempat acara. Pria itu memberikan kode kepada Aline agar menggandeng tangannya.
Dengan senyum disertai lesung pipi yang membuatnya makin cantik, Aline menggandeng tangan Galen dan beriringan jalan berdua di atas karpet merah dengan pelan.
Kehadiran mereka berdua menjadi sorotan di sana. Bahkan jadi sasaran empuk para wartawan yang siap mencecar mereka dengan berbagai pertanyaan. Cahaya sinar blitz dari kamera terus memotret kehadiran Aline dan Galen.
Chyntia dan Derald pun tak luput memperhatikan kehadiran wanita yang kini jadi perhatian publik itu.
"Coba dulu Kamu berhasil menghancurkan wajah gadis norak itu, Yang! Pasti dia tidak akan setenar ini sekarang!" ucap Chyntia dengan nada marah kepada Derald seraya melipat tangan di depan dada, matanya terus menyoroti langkah Aline.
"Ssstttt," Derald memberi kode kepada Chyntia agar memelankan ucapannya.
"Beb, kalau bicara liat tempat dong! bisa terdengar wartawan nanti. Beruntung Mereka enggak laporin kita ke polisi, kalau mereka ngelakuin itu, sudah tamat karir kita berdua, Beb," ujar Derald.
"Lagian Kamu, cuma sama Preman begajulan itu aja takut. Pasti dia cuman ngancem. Bisa-bisanya juga tuh si Aline bawa preman itu ke sini. Kaya enggak ada cowok lain aja?," gerutu Chyntia.
"Tapi penampilan tuh preman, lumayan sih? ganteng juga kalau pakai jas seperti itu!" batin Chyntia.
Chyntia masih memperhatikan Galen dan Aline yang sedang berjalan menuju ruangan tempat berlangsungnya acara.
"Makin cantik aja, Aline! gue bakalan rayu dia lagi. Pasti kaya mendadak dia. Secara dia sekarang banyak job pemotretan dan membintangi beberapa film layar lebar. Pundi-pundi rupiah pasti sudah membengkak di rekeningnya."
Pembawa acara terdengar mengumandangkan suaranya untuk pembukaan acara di dalam ruangan.
"Mbak Aline ... Mbak Aline ... boleh wawancara sebentar ya sebelum masuk ke dalam?" panggil salah seorang wartawan wanita sekalian bertanya lalu berjalan cepat mendekati Aline dan Galen.
Panggilan itu membuat Aline menghentikan langkahnya dengan memegang buket bunga di tangannya.
"Ya, silakan!" jawab Aline sopan seraya tersenyum manis. Begitu juga dengan Galen.
__ADS_1
Mereka yang ada di sana tidak mengenal siapa Galen. nama Galen adalah panggilannya bersama teman-temannya. Tak pernah ia menyebutkan dan memberitahu siapa dia sesungguhnya kepada teman nongkrong, Aline atau kepada siapapun yang mengenalnya sebagai Galen.
"Ini pacar nya Mbak Aline, ya?" Wartawan wanita itu bertanya lagi saat mereka berhadapan. Aline dengan Galen. sedangkan wartawan itu bersama kameramen yang siap meliput ke berita.
Aline melirik sekilas ke arah Galen. Pria tersebut hanya tersenyum kearahnya. Itu membuat Aline memutar mata malas.
"Kita hanya teman ko, kebetulan sama-sama datang menghadiri acara ini!" Aline berucap santai.
"Yang bener Mbak Aline, ko sampai cium mesra begitu?" Aline terdiam dengan pertanyaan lanjutan dari Wartawan wanita itu. Bingung harus menjawab apa.
"Doakan saja yang terbaik untuk kita berdua," sambung Galen.
Wartawan wanita itu memberikan beberapa pertanyaan lagi kepada Aline dan Galen.
Sempat beberapa kali mereka mengajukan pertanyaan kepada Galen, siapa dia sebenarnya karena selama ini tak pernah melihat pria yang bersama Aline itu ada di berita.
Galen hanya tersenyum menanggapinya.
"Nanti kalian akan tau sendiri siapa saya!" jawabnya tegas.
"Kami permisi." Galen menepuk tangan Aline yang membelit tangannya seraya memberikan senyum manis kepada gadis yang tingginya masih lebih rendah darinya.
Aline mengangguk pelan lalu berpamitan sopan kepada kedua wartawan yang baru saja selesai mewawancarainya secara singkat itu.
"Mbak Aline," panggil Risa saat Aline baru saja berjalan beberapa langkah. Ia melepas tangannya yang membelit lengan Galen.
"Ya ampun, Sa! Aku lupa kalau datang ke sini sama Kamu! maaf ya?" Aline nyengir tanpa rasa bersalah.
"Mbak dia cowok yang sering sama Mbak Aline 'kan? ganteng banget sih!" bisik Risa pelan tetapi masih bisa terdengar oleh Galen.
"Jangan dipuji, nanti dia terbang! Oh iya, Sa. boleh titip ini?" Aline mengangkat sedikit buket bunga lili yang dipegangnya.
"Mau dikemanakan bunganya? yang ngasih tau aja bunga kesukaan Mbak Aline!" seru Risa.
"Apa sih yang gue gak tau tentang dia?" sahut Galen seraya melirik Aline.
"Gue lebih suka bunga deposito." ucap Aline tegas kepada Galen seraya menyerahkan buket bunga itu kepada Risa kemudian berjalan pelan mendahului Galen untuk masuk ke dalam ruangan karena acara sudah mulai lima belas menit yang lalu.
Kedatangan Aline dan Galen masih jadi perhatian para tamu yang sudah hadir dan duduk di bangku yang sudah disediakan sesuai urutan. Aline mencari jatah kursi miliknya. Para tamu undangan tidak berebut untuk mendapatkan kursi. semua sudah di atur oleh tim sukses dari acara tersebut.
"Nona Aline, silakan! kursi Anda di sebelah sini," ucap kru yang bertugas mengarahkan para tamu undangan agar duduk dengan tertib.
"Mas,g maaf! boleh saya minta kursi tambahan untuk teman Saya." Aline melirik Galen kemudian berbicara lagi kepada kru tersebut. "Terima kasih sebelumnya."
"Sama-sama, Nona. silakan tempati saja kursi yang ada, sebentar saya akan menambahkan kursi kembali." Kru menunjuk sopan lalu pamit undur diri dari hadapan mereka.
Suara lantunan musik dan lagu disertai para penari menjadi acara pembuka di Ajang Penghargaan Film Indonesia itu. Beberapa nominasi pun sudah diumumkan.
__ADS_1
Derald dan Chyntia terpilih menjadi Aktor dan Aktris pasangan terbaik di tahun ini. Berkat duet akting yang dijalani mereka di satu judul sinetron membuat kedua pasangan ini terjebak cinta lokasi. Publik pun sudah mengetahui viral -nya berita tentang mereka.
Waktu terus berjalan pembawa acara pun membacakan beberapa kategori. Setelah mengumumkan siapa saja artis yang menerima penghargaan dan masuk nominasi, kini saatnya penentuan untuk artis pendatang baru terfavorit.
"Ini dia penghargaan untuk kategori artis pendatang baru terfavorit jatuh kepada--, Ayu pembawa acara menjeda kalimatnya sesaat. Lalu membacakan nama penerima penghargaan bersama Daniel pembawa acara pria dalam acara tersebut.
" ALINE BARSHA ..." ucap kedua pembawa acara itu dengan kompak dan semangat.
"Tepuk tangan yang meriah untuk Aline Barsha, silakan untuk penerima penghargaan untuk naik kembali ke atas panggung," seru Daniel dengan semangat.
"Wah ... hebat sekali ya, Niel! Aline ini, artis pendatang baru tapi malam ini dia borong tiga piala sekaligus," puji Ayu seraya tersenyum ke arah Aline yang sedang berjalan menaiki tangga, Daniel mengulurkan tangannya agar Aline bisa menaiki anak tangga dengan mudah.
Ayu jabat tangan lalu mencium pipi kiri dan kanan memberi selamat kepada Aline untuk ketiga kalinya. Sedangkan Daniel hanya berjabat tangan saja.
Dua orang dayang yang bertugas membawakan Piala sudah terlihat hadir diantara mereka.
"Baiklah akan kita panggilan ketua pimpinan dari FMC TV, Bapak Kusmayadi agar segera hadir untuk memberikan piala kepada Nina Aline," ucap Daniel pada micropon agar suaranya terdengar jelas.
"Silakan, Bapak Kusmayadi di persilakan untuk memberikan piala."
"Selamat kepada mantan pegawai teladan saya di kantor, sekarang sudah menjadi artis terkenal ya? Aline Barsha ini adalah mantan pegawai saya. Kita patut mencontohnya. Dengan semangatnya dia berubah lebih baik sampai seperti sekarang ini. tepuk tangan untuk Aline." Bapak Kusmayadi memberikan sedikit informasi tentang Aline.
"Patut di contoh sekali ya .. hebat ni Aline Barsha ini." puji Ayu kembali kepada gadis yang sedang memegang piala penghargaan.
"Silakan untuk Aline agar memberikan beberapa kata untuk para penonton yang datang."
Dengan keberanian yang ia tanamkan Aline memberikan sedikit ucapan terimakasih kepada semua orang yang sudah membantunya hingga sampai saat ini. Satu persatu nama ia sebut, termasuk nama Galen yang ia sebut sebagi penyemangat dalam perubahan penampilannya.
"Sekian itu saja ucapan terima kasih yang saya ucapkan, mohon maaf jika ada kesalahan kata yang terucap oleh bibir Saya. Oh iya, Satu lagi. Jangan pernah merendahkan dan menghina seseorang karena penampilan mereka. Dunia terus berputar, kehidupan seseorang pasti akan berubah. Jadi janganlah bersiap sombong apalagi melupakan kebaikan orang yang berjasa dalam kehidupan kita. Selamat malam dan terima kasih," ucap Aline tegas pandangannya tertuju kepada Derald dan Chyntia yang tengah serius melihat ke arah Aline.
Di kursi tamu yang ia duduki, bersisian dengan kekasih yang selalu berada bersamanya kapanpun dan Di mana Chyntia berada. Gadis cantik kekasih dari Derald yang kali ini hanya mendapat satu penghargaan marah melihat Aline yang sedang di puji dan jadi pusat perhatian para Wartawan. Apalagi piala yang tiga tahun terakhir ini selalu berada di tangannya sebagai artis terfavorit harus berpindah tangan kepada Aline.
"Yang ... Kamu harus bantu aku buat balas dendam sama Aline. Aku tidak terima dengan ucapannya barusan." Chyntia memprovokasi Derald agar mau membantunya merusak karier Aline kedepannya.
"Wah .. bijak sekali kata-katanya Aline," ucap Daniel memuji Aline.
"Satu lagi penghargaan yang akan diberikan oleh Pemimpin baru perusahaan Aksara Grup.
Tuan muda G. Alexander yang saat ini katanya sudah berada di tengah-tengah kita! Wah ... benarkah?"Ayu melotot membacakan berita yang tertulis di buku panduan pembawa acara.
"Suatu kehormatan untuk kita yang berada di acara ini bisa bertemu langsung dengan tuan muda yang selama ini hanya bisa kita dengar namanya, tanpa bisa melihat wajahnya," ucap Daniel yang ikut penasaran dengan sosok Tuan muda Alex ini.
"Kita langsung panggil saja, ini dia Tuan G. Alexander ...! dengan segala hormat kami persilakan naik ke atas panggung untuk memberikan satu rangkaian bunga cantik untuk Artis terfavorit kita Aline Barsha," Ayu dan Daniel kompak menyebut nama Aline Barsha.
Diiringi musik yang terdengar begitu kencang memekakkan telinga. Perlahan sosok pria yang tak pernah menunjukan dirinya di hadapan banyak orang itu, kini berani menampakkan wajahnya. Tubuh tinggi tegap itu berjalan pelan dengan gaya maskulin ke arah Aline dan beberapa orang yang berada di atas panggung.
Semua orang melongo tak percaya dengan kehadiran sosok yang tampan paripurna itu. Termasuk Aline, tubuhnya kaku tak bergerak, pandangannya terus menatap ke arah sosok pria yang dikenalnya selama ini sebagai Galen sedang berjalan mendekat ke arahnya.
__ADS_1
Pandangan mata itu tak putus dari naiknya Galen ke atas panggung sampai berada tepat di hadapannya saat ini. Kedua mata itu saling mengunci, rasa tak percaya, senang, kagum terpancar dari bola mata mereka.
bersambung....