
Galen menoleh ke arah suara yang memanggilnya. Tapi Sandra menahannya.
"Tuan tolong tiupi dulu, mataku!" pinta Sandra.
"Ck... merepotkan. huh... " setelah meniupi mata Sandra, Galen segera melepaskannya. Sedangkan Sandra masih mengucek mata yang kelilipan akibat ada yang masuk kedalam matanya. Binatang kecil yang tadi berhasil di ambil Galen. membuat mata Sandra memerah di buatnya.
"Kakak ... Aku kira kalian sedang--"
Tiba-tiba Oma Ratih masuk ke dalam ruangan. "Ini obat matanya!" Beliau terkejut melihat seseorang di dalam ruangan. "Gar, sudah lama datang?" sapa Oma kepada Tuan Wijaya.
"Kami baru sampai Oma." Dipeluknya wanita yang usianya melebihi setengah abad tapi masih terlihat segar itu.
"Aline, Kartika! Oma senang kalian sudah datang. Sebentar Oma beri obat tetes ini dulu sama Sandra." Oma Ratih mendekati Sandra lalu menyodorkan obat yang baru saja ia pinta dari perawat.
"Kamu bisa pakai sendiri kan? cepat obati, biar tidak infeksi" Sandra mengangguk pelan.
"Terima kasih, Oma" sahut Sandra.
Aline yang semula mengira Galen dan Gadis yang tak ia kenal akan berciuman itu merasa lega karena dugaannya ternyata salah. Ia berusaha menutupi rasa sedihnya.
"Bagaimana kondisi Kamu, Nak?" Tuan Wijaya menyapa Galen seraya memeluk putranya itu.
"Baik," jawab Galen singkat. Ia dan Tuan Wijaya memang jarang berkomunikasi, sehingga hubungan mereka terlihat kaku.
Setelah semua masalah selesai. Tuan Wijaya berjanji pada dirinya sendiri akan memperbaiki hubungannya dengan putra- putrinya.
"Syukurlah, maaf Papa baru bisa datang kemari. Papa harus menjemput dia." Tuan Wijaya menunjuk Aline dengan pandangan matanya. "Papa sudah dengar kondisimu dari Oma. Sabar, perlahan ingatanmu akan kembali." Tuan Wijaya menepuk pelan pundak Galen.
Pandangan Galen tak lepas dari Aline yang sedang bersapa dengan Oma.
"Oma bagaimana kabarnya?" sapa Aline setelah mereka melepas pelukan.
"Baik, sayang." Oma Ratih beralih pada Kartika. "Kamu apa kabar, cucu perempuan Oma!"
Kartika menyalimi Oma Ratih yang sudah menganggapnya seperti cucu kandung nya seperti Galen.
"Oma!" Kartika lekas memeluk Oma Ratih menumpahkan kesedihan yang ia rasakan.
Sebelumnya Oma sudah mengetahui kabar mengenai Nyonya Mariska dari Tuan Wijaya.
"Sudahlah jangan bersedih, ada Oma yang kan menjagamu."
Kartika mengangguk pelan kemudian kembali memeluk Oma Ratih.
Sandra terdiam melihat keakraban dan kehangatan mereka. Baru kali ini ia melihat kehangatan keluarga. Gadis itu pun melihat Galen dan Aline saling menatap satu sama lain.
"Apa ini gadis yang bernama Aline? dia cantik sekali! dan kenapa hati ini jadi gelisah melihatnya," batin Sandra.
Sandra lebih memilih keluar ruangan tanpa pamit. Ia sadar bukan siapa-siapa di sini. Gadis itu tidak mau menganggu moment pertemuan mereka.
__ADS_1
Aline meninggalkan Oma Ratih yang masih menenangkan Kartika.
Pandangan Aline dan Galen bertemu. Kedua netra itu saling mengunci. Ingin rasanya Aline berlari berhambur ke dalam pelukan Galen. Tapi tak ia lakukan karena Aline tahu situasinya.
Aline berjalan mendekat ke arah Galen.
Galen terdiam, entah harus berbuat apa. bisikan Papanya membuat Galen berpikir.
"Dia gadis yang selama ini kamu cintai. Maafkan Papa sudah membuat kalian terpisah!" setelah berbisik Tuan Wijaya meninggalkan Galen yang terpaku menatap Aline.
Tuan Wijaya mendekati Oma Ratih. Terlihat Kartika sudah sedikit tenang bersama Oma.
"Oma sudah makan?" tanya Tuan Wijaya kepada Oma yang terus mengelus pelan pundak Kartika.
Oma Ratih mengelengkan kepala pelan.
"Kita makan dulu. Kamu juga belum makan, Sayang! untuk Aline kita Take away saja makanan untuknya." Tuan Wijaya membelai pipi Putrinya.
"Biarkan Aline berbicara dengan Galen, Oma." Tuan Wijaya berbicara setengah berbisik. Beliau akan memberi ruang untuk Aline dan Galen.
Oma Ratih melihat ke arah Aline yang kini berdiri berhadapan dengan Galen. Lalu menyetujui usul Tuan Wijaya.
Akhirnya Tuan Wijaya, Oma Ratih dan Kartika keluar dari ruang perawatan. Tak lupa mengajak Sandra yang duduk menunggu mereka di luar ruangan. Mereka sengaja meninggalkan Aline bersama Galen.
Kecanggungan sempat tercipta tapi Aline lekas melempar senyum kepada Galen. setelah tatapan mereka saling mengunci.
"Baik, sudah lebih baik yang pasti," jawab Galen sambil tersenyum kaku.
"Pasti kamu merasa asing dengan kehadiran ku, benar 'kan?"
Galen mengangguk, merasa tak enak jika benar adanya jika ia merasa asing dengan Aline. ia sama sekali tidak mengingat kenangan tentang Aline.
"Kalau begitu, kita mulai dari awal. Biar kita kembali saling mengenal. Kenalkan Aku Aline Barsha." Aline mengulurkan tangan untuk berjabat dengan Galen.
Galen terdiam sesaat. Lalu menerima ukuran tangan itu.
"Kamu Galen. Tuan Galen Alexander yang hobinya memanggil Aku cepol, mengejek dan yang paling menjengkelkan jahil nya bikin kesel," ucap Aline seakan ia menjadi Galen yang memperkenalkan dirinya seraya tersenyum ceria. Padahal hatinya ingin menangis.
Galen pun tersenyum mendengar penuturan Aline. Akhirnya mereka tertawa bersama.
Galen menarik tangan yang berjabat dengan Aline.
"Maaf, aku belum bisa mengingatmu."
Suasana hening kembali. Galen merasa tidak enak hati kepada Aline.
Aline kembali bersikap ceria dengan senyumnya yang membentuk lesung pipi khas miliknya. Di balik keceriaan hatinya sedih tak ada kenangan yang tersisa yang di ingat Galen.
"Apa kamu akan membiarkan Aku berdiri terus tanpa mempersilakan duduk. Kamu tau gak, Aku sampai belum sempat minum karena begitu semangatnya ke sini!" celetuk Aline.
__ADS_1
"Oh ya, maaf, silahkan duduk!" Galen mempersilakan Aline untuk duduk di sofa tunggu yang ada di ruangan itu.
Aline duduk dan Galen duduk bersebrangan di sofa.
Ruangan kelas VIP itu terdapat sofa dan dua tempat tidur khusus untuk pasien dan satu orang yang ikut berjaga.
Aline tersenyum melihat tingkah canggung Galen. Dan itu membuat pria di hadapannya merasa penasaran.
"Kenapa?" tanya Galen. Aline menggeleng sambil terus menyunggingkan senyumnya.
Aline menertawakan rambut Galen yang mulai tumbuh itu seperti landak.
"Aku ambil minum sendiri aja ya," seru Aline.
"Terserah." Galen merasa sedikit kesal karena Aline masih saja tersenyum meremehkannya.
Aline berjalan menuju lemari pendingin yang ada di ruangan itu. sesekali ia menoleh ke arah Galen sambil terus tersenyum.
Dua botol minuman berbeda rasa berada di tangan Aline. Aline menarik sedikit sudut bibirnya. "Ternyata meski hilang ingatan tapi ia tidak lupa minuman kesukaannya." batin Aline seraya memperhatikan botol minuman yang ia bawa.
Galen sedikit acuh dan dingin dengan keberadaan Aline karena Galen yang sekarang adalah Galen yang diam dan tak banyak bicara.
"Gal, stok susu botolnya banyak juga! ternyata kamu ingat sama minuman kesukaanmu." Aline mendekat ke arah Galen, tapi sayang nya gadis itu tersandung kakinya sendiri membuat Aline hampir saja terjatuh kalau tidak di tahan oleh Galen.
"Hati-hati." Galen membantu Aline berdiri. Tak ada jarak di antara mereka. Manik mata cokelat Aline dengan bulu mata lentik itu menyita perhatian Galen sampai Aline berdiri tegak di hadapannya.
Luluh sudah pertahanan Aline. Sedari tadi ia menahan ingin memeluk Galen. Gadis itu takut Galen akan merasa terganggu olehnya. Aline berusaha bersikap layaknya Galen masih mengingatnya. Ia berusaha menjadi Aline yang banyak bicara saat ini, karena menurut Oma, Galen kembali dengan sikap diam dan acuhnya. Sama seperti sikapnya sewaktu masih tinggal bersama Mariska, mama tirinya.
Aline menjatuhkan kedua botol yang di genggamnya. Dirinya berhambur memeluk tubuh Galen. Kekasih yang ia rindukan.
"Gal ... Aku merindukanmu, tolong biarkan seperti ini sebentar saja. Aku mohon!" Aline memeluk erat tubuh Galen. Menumpahkan rasa rindunya kepada pria yang kini bisa ia peluk raganya.Tapi entah dengan hati dan pikirannya.
.
.
.
.
.
Semoga kalian suka dengan kelanjutannya.
dukung terus karyaku ya.
Terima kasih kepada readers yang setia membaca.
like, komen dan beri dukungan kalian untuk Author.
__ADS_1