
Di sini, di JM mall Aline dan Galen berada. Setelah mengetahui kehamilan istrinya Galen sama sekali tidak mengijinkan Aline bergerak sesuka hatinya. Bahkan untuk berjalan pun, Galen selalu menegurnya jika terlalu cepat melangkah. Aline harus berjalan pelan dan santai, sangat membosankan menurutnya.
Aline hanya bisa mengerucutkan bibirnya.
"Mas... Aku gak betah jalannya kayak siput begitu, kalau lelah 'kan bisa istirahat, Mas!" protes Aline karena Galen terlalu posesif padanya.
"Tapi aku khawatir sama kamu, Yang!" balas Galen.
"Tapi aku tidak apa-apa, Mas!" Aline merasa kesal karena sikap Galen.
Aline berjalan mendahului Galen menuju toko pakaian dalam.
Galen membuang napas berat dengan sikap ngambek Aline.
Memasuki stand penjual pakaian dalam, Aline tidak begitu bersemangat. Ia hanya mengambil beberapa pasang saja, termasuk Bra khusus ibu menyusui. Aline pikir akan berguna nanti.
Aline lekas membawa pakaian dalam pilihannha ke kasir. Pegawai kasir yang melayaninya tersenyum ramah kepada Aline.
"Sudah Mba ini saja!" Aline menyodorkan barang belajaannya untuk di bayar.
Petugas kasir menghitung dan merapikan belajaannya milik Aline.
"Totalnya satu juta lunas ratus, Bu!" Ucap kasir tersebut.
Aline menyodorkan kartu blackcard yang ia punya. Kartu itu khusus untuk Aline berbelanja kebutuhannya sendiri, beda lagi untuk pengeluaran kebutuhan rumah tangga.
"Tidak usah Bu, Mas tampan itu memberikan kartu ini untuk membayar semua belanjaan ibu." Kasir toko memberitahu.
"Oh, begitu ya!" Alin kembali memasukkan kartu balckcard miliknya.
Lalu apa gunanya kartu kalau belanja kebutuhanku pun kamu yang bayarin, Mas.
Batin Aline seraya tersenyum simpul dengan tatapan yang mengarah kepada suaminya.
Galen sempat protes karena Aline sama jarang sekali memakai uang di kartu itu.
Aline lebih sering menggunaan uang di kartu khusus untuk kebutuhan rumah tangga.
Entah sayang atau takut saat menggunakannya. Tapi kali ini Galen yang akan membayar semuanya.
Setelah belajaannya terbayar, Aline merasa heran kenapa belajaannya jadi banyak. Ia merasa tidak sebanyak itu mengambil barang.
"Mbak, Maaf ini bukan punya saya!" ucap Aline kepada kasir.
"Kata Mas tampan yang ada di sana, ini semua buat Mbak!" kasir itu menunjuk seorang pria yang sedang duduk di ruang tunggu sambil memainkan ponselnya.
Aline menggelengkan kepala dengan apa yang Galen lakukan.
Pantas saja saat Aline memilih beberapa barang di sana, karyawan toko itu meminta tolong untuk mencoba beberapa barang yang ia pilih alasannya sedang memilihkan untuk seseorang yang ukuran tubuhnya sama persis dengan Aline. Ternyata itu hanya alasan saja, memang barang-barang tersebut diperuntukkan untuknya.
__ADS_1
"Dan ini kartu pembayaran milik Mas tampan itu." kasir itu mengembalikan kartu gold milik Galen.
Sudah dipastikan saldo dalam kartu berwarna gold itu mempunyai nominal yang sulit untuk disebut jumlahnya.
Alin menghampiri Galen yang masih asik dengan ponselnya. "Mas... Kenapa membelikan banyak sekali pakaian untukku!" tanya Aline saat tiba di hadapan Galen. Barang-barang yang sudah dibayar di bawa oleh karyawan toko di belakang Aline.
"Itu buat kamu, Sayang!" ucap Galen tanpa mengalihkan atensinya.
"Aku tidak butuh sebanyak itu, Mas!" ucap Aline manja dan sedikit mendesak.
Galen menatap Aline lalu memasukan ponsel ke dalam saku. Baginya Aline adalah prioritas nya nomer satu. Ya, Aline dan bayi yang ada dalam kandungannya saat ini adalah kebahagiaannya.
"Kamu pasti akan membutuhkannya nanti! Sudah selesai 'kan? Kita pulang ke rumah ya, Oma sudah menunggu mu," ajak Galen yang berdiri lalu meraih tangan Aline kemudian digengamnya erat.
Baru beberapa langkah berjalan. Tiba-tiba Aline menghentikan langkahnya
"Mas..." panggil Aline mencekal langkah Galen.
"Apalagi, Sayang! Oma sudah menunggu kita dirumah!"
Aline menunjuk belanjaan yang dipegang karyawan toko.
"Enggak mungkin mereka yang bawa belanjaan kita 'kan Mas!" sindir Aline secara tidak langsung menyuruh Galen yang membawakannya. Senyum jahil terukir di wajah cantik Aline.
Semenjak berat badannya yang bertambah, dengan pipi yang semakin cubby, Aline semakin terlihat cantik. Wanita itu semakin cantik saat tersenyum dengn lesung pipi yang sanagt jelas terlihat.
Dengan semangat tanpa malu dan risih, Galen menjinjing lima buah paper bag belanjaan. Merasa apa yang butuhkan sudah terpenuhi Aline mengajak Galen untuk pulang. Dari dulu Aline memang tidak terbiasa terlalu lama di tempat perbelanjaan seperti ini, ia lebih senang menghabiskan waktu di taman bermain dan taman kota di banding tempat seperti ini.
"Mas, aku jadi nggak sabar buat beli perlengkapan bayi untuk anak kita!" ucap Aline dengan senyuman di wajahnya, tangannya meraba perutnya yang masih rata.
"Kenapa tidak sekarang. Kamu bisa pilih sesukamu!"
Aline menggeleng pelan.
"Gak boleh, pamali kata orang tua dulu. Sebelum kandunganku menginjak usia tujuh bulan." Aline menjelaskan, tapi tatapan matanya terus mengarah ke toko tersebut.
"Aku hanya mau lihat-lihat saja, boleh?" Aline meminta persetujuan Galen.
"Boleh, kenapa tidak?" Galen memindahkan barang-barang yang ia bawa ke tangan satunya. Mengumpulkannya menjadi satu.
Andai saja hari ini bukan hari libur, pasti ia tidak akan repot seperti ini. Pasti ada Aldo yang mengatasinya. Tapi saat ini, Aldo memilih menonaktifkan ponsel kerjanya.
Ia sudah berjanji akan menghabiskan waktu liburnya bersama istri tercinta yang ngidam ingin bersamanya seharian ini.
Aline mengembangkan senyumnya saat Galen menyetujuinya. Ia menggandeng tangan Aline masuk ke dalam toko perlengkapan bayi itu. Lalu menitipkan barang yang mereka bawa kepada karyawan toko tersebut.
"Mas... lucu-lucu banget!" ucap Aline dengan ceria.
Galen merasa sangat senang melihat kebahagiaan Aline.
__ADS_1
"Mas mau anak perempuan apa laki-laki?" tanya Aline.
Galen dengan setia mengikuti langkah Aline, ia selalu ada di belakangnya.
"Apa saja, Asalkan kami dan bayi kita melewati persalinan dengan lancar dan sehat."
"Ah.... Mas!" Aline tersanjung dengan harapan Galen, pelukan langsung Aline berikan untuk suaminya itu.
"Mau cari keperluan untuk bayi laki-laki apa perempuan, Bu?" tanya karyawan toko yang datang menghampiri mereka berdua.
"E-eh... itu---" Aline terbata menjawabnya seraya melepas pelukannya dari Galen.
"Kami ingin melihat-lihat dulu, Istri saya lagi ngidam mau pilih-pilih baju bayi." Galen memotong ucapan Aline untuk menjawabnya.
"Oh, seperti itu! Ya sudah, kalau ada yang Anda cari dan butuh bantuan. Panggil kami saja!" ucap karyawan toko itu.
"Ya, terimakasih Mba!" balas Aline merasa tidak enak kalau mereka hanya masuk untuk melihat-lihat saja.
Aline terus melihat semua perlengkapan bayi satu persatu. Rasanya tidak sabar untuk membelinya begitu juga dengan Galen. Kali ini Galen lebih memilih bersabar daripada melanggar petuah orang tua. Jangan membeli perlengkapan bayi saat kandungan masih dalam usia sangat muda. Pamali menurut petuah itu.
Galen sudah pernah merasakan ganjaran akibat tidak bisa bersabar, ia ingat saat kejadian yang Aline alami. Ia tidak mau kejadian buruk terjadi kepada kandungan Aline juga.
Saat sedang memelihat perlengkapan bayi perempuan. Aline bertemu dengan seorang wanita sedang menggendong bayi perempuan yang sangat lucu. Aline mendekatinya kemudian menyapa mereka.
"Lucu sekali anaknya?" sapa Aline kepada seorang wanita yang sedang memperlihatkan maianan boneka kecil kepada bayi perempuan itu.
"Iya, dia lucu dan menggemaskan," wanita itu menciumi bayi montok yang di gendongnya. "Tapi dia bukan anakku! Dia keponakanku." balas wanita itu.
Bayi itu tertawa kegelian diciumi seperti itu.
Aline melihat ada keanehan pada kondisi fisik bayi itu. Melihat itu Aline teringat dengan bayi seseorang yang ia lihat beberapa bulan lalu di rumah sakit.
.
.
.
.
Baca terus kelanjutan ceritanya ya.
Mampir yuk ke karya temanku.
tak kalah seru juga ceritanya.
..
__ADS_1
.
.