
"Apaaan sih?" Pras menunjuk sesuatu dengan telunjuknya. Wendi mengikuti arah itu.
"Lo lihat noh! itu bukan cewek yang sering sama Bang Galen kan?" Wendi mengangguk saat pandangannya tertuju pada Aline.
"Kita samperin yuk! tanyain si Abang gimana kabarnya? Ko gak pernah datang lagi ke bascam," Pras lekas berjalan meninggalkan Wendi menuju sudut cafe.
"Wooy! bubar ... bubar ... kalian ganggu pengunjung yang lain tau gak!" Kedatangan Pras membubarkan mereka yang masih menggerumuni Aline.
Sebenarnya Aline tak masalah harus memenuhi permintaan penggemarnya. Tapi kali ini ia menyerah karena sedang seorang diri di keramaiam seperti ini. Ternyata meskipun jarang muncul di layar kaca tapi antusias penggemar terhadap kehadiran dirinya masih sangat tinggi.
"Huhhhh... ganggu orang aja, Kak Aline nya aja santai gitu, lo yang rese. "Sorakan beberapa orang menambah riuh suasana.
"Gue pengawalnya jadi dia butuh ketenangan menikmati malam santai ini, udah cukup lain kali lagi. "Akunya tanpa ijin dulu kepada Aline.
Aline tersenyum melihat kedatangan Pras dengan tingkah konyolnya. Gadis itu membiarkan Pras membubarkan beberapa orang yang masih terus berdatangan meminta foto dengannya.
"Yeh, ni artis berani banget keluar sendiri! cape kan di gerumutin orang. untung gue dateng!" ucap Pras membanggakan dirinya.
"Biasa aja, Aku udah bukan artis lagi, mereka aja yang berlebihan."
"Merendah." Pras menggelengkan kepala.
"Hai, pa kabar Lin?" serobot Wendi yang baru saja datang lalu mengulurkan tangan untuk bersalaman.
"Eh, dateng- dateng maen jabat tangan aja, gak bantuin gue dulu bubarin penggemar ni artis." cibir Pras. Tapi tak di perdulikan oleh Wendi.
"Baik." Aline menyambut ukuran tangan Wendi. lalu menoleh ke arah Pras. "Udah duduk dulu, Pras. Thanks ya udah bubarin mereka. kalau gak ada Kamu, ni gigi pasti udah kering harus nyengir mulu!" keluh Aline.
Pras akhirnya duduk di ikuti Wendi di sebelahnya.
"Lin, gimana kabar Bang Galen. lu sering ketemu dia 'kan?" Pras langsung bertanya intinya kedatangannya kepada Aline.
"Aku juga belum ketemu, Galen, Pras. Dia kan di pindah ke rumah sakit diluar negeri untuk operasi. Tapi Oma Ratih mengabariku terus ko! Kalian tau apa yang terjadi pada Galen saat ini?"
__ADS_1
Pras dan Wendi menggeleng sambil berpandangan.
"Setelah operasi, Galen kehilangan ingatan sebagian di masa sekarang. Jadi ia hanya mengingat masa lalunya saja." Aline berucap sedih.
"Termasuk tidak ingat sama lo?" tanya Pras.
Aline mengangguk pelan.
"Oh my god. Dia ingat gak sama kita, Wen? Kita kan baru kenal dia belum lama, ini! Jangan-jangan kita juga hilang dalam ingatannya." ujar Pras.
Akhirnya mereka bertiga berbincang perihal Galen. Membahas bagaimana cara agar Galen bisa mengingat mereka. Akhirnya Wendi memberi ide agar membuat video singkat untuk di berikan pada Galen. Agar Aline bisa menunjukan kepada Galen saat bertemu nanti.
Pras begitu antusias membuat Video. Dia bahkan mengajak beberapa orang yang mengenali Galen agar ikut membuat video singkat.
Aline begitu bahagia melihatnya. Ia makin tidak sabar untuk bertemu dengan Galen.
...🌴🌴🌴...
Semenjak pertolongan Galen pada dirinya yang sudah membayarkan sejumlah uang yang di minta Bu Rosa, mantan majikan Sandra. Wanita itu di minta Galen untuk menemani Oma Ratih. Galen tidak tega melihat nenek kesayangannya itu sendiri saat menemaninya. Padahal ada anak buah Papanya. Tapi meraka semua lelaki.
Semenjak saat itu pula Galen dan Sandra semakin dekat. Sesekali Sandra bergantian dengan Oma menjaga Galen.
Di saat bersama, Sandra banyak bercerita kepada Galen. Tak perduli sikap diam dan dingin seringkali ia terima, tapi Sandra tetap menceritakan kehidupannya. Kenapa dia bisa berada di negeri orang hingga ia sering kali melakukan hal yang tak terpuji, mencuri barang milik orang lain.
Ia tak perduli, yang terpenting baginya. Ibunya di kampung bisa terus menjalani pengobatan. Galen hanya menanggapi ceritanya dalam diam, karena ia masih merasakan kekosongan dalam hatinya.
Sampai Hilang ingatan yang Galen alami membuat sikap urakan dan banyak tingkah itu berubah. Galen menjadi lebih banyak diam dan dingin.
Berbalik dengan sikap Sandra yang banyak bicara membuat suasana menjadi lebih ramai. Oma pun terbantu akan kehadirannya. Meskipun ada Sandra, Oma tak lupa selalu berkomunikasi dengan Aline.
"Oma, biar Sandra aja yang bereskan," ucap Sandra saat melihat Galen baru saja selesai makan disuapin Oma. Sebenarnya Galen menolak karena ia sudah bisa melakukannya sendiri. Tapi Oma Ratih masih saja memanjakannya.
"Terima kasih, San?" sahut Oma Ratih.
__ADS_1
Sandra lekas mengambil alih piring kotor dia tas meja makan pasien. Gadis itu mendorong meja beroda lalu menyingkirkannya ke sudut ruangan. Biasanya akan ada petugas kebersihan yang nanti akan mengambilnya.
Galen hanya diam sambil duduk bersila di atas ranjang pasien. Ia sudah merasa bosan berada di rumah sakit. Dokter yang menanganinya belum memberi ijin untuk nya pulang.
"Oma, tidak bisakah Aku di rawat di rumah saja? Suntuk banget di sini!" keluh Galen.
"Sabar dong! Oma mau kamu benar-benar pulih."
"Ck ... Aku sudah bosan, Oma!" celetuk Galen seraya turun dari ranjang pasien nya. Lalu berjalan menuju pintu keluar.
"Kamu mau kemana, Gal?" Oma sedikit berteriak saat Galen tanpa ijinnya keluar dari ruangan.
"Biar Sandra yang nemenin Oma," ujar Sandra lalu menyusul Galen setelah Oma menyetujuinya.
"Iya ikuti dia., tolong bantu Oma!" Sanda mengangguk pelan.
Dengan langkah sedikit berlari Sandra menyusul Galen yang sudah menjauh darinya.
"Tunggu, Tuan!"
Galen menoleh kebelakang mendengar panggilan Sandra. Karena tergesa-gesa mengejar Galen, begitu jaraknya dekat dengannya. Sandra malah tersandung kakinya sendiri membuat tubuhnya sedikit terhuyung ke depan.
"Aaaa... Tuaan!" Sandra hampir saja terjatuh, tetapi Galen segera menahan tubuhnya.
Akhirnya Sandra jatuh dalam pelukan Galen. Kedua mata mereka saling menatap. Sandra sampai tak berkedip melihat wajah tampan pria di hadapannya ini.
Sikap dinginnya membuat Sandra semakin penasaran dengan pria yang lagi-lagi menolongnya.
.
.
.
__ADS_1
Kalau suka cerita ini, jangan lupa dukungannya ya...