Fake Love

Fake Love
Halangan Lagi


__ADS_3

Akhirnya Bara menemukan berkas perjanjian dengan peternakan greenfills di akhir tumpukan berkas yang Joni kumpulkan.


Pria yang penampilannya sangat kusut berantakan itu menghel nafas kasar seraya merebahkan tubuhnya kasar di sofa. Ternyata mencari alamat dalam tumpukan berkas juga memerlukan tenaga.


Bara segera menelpon Joni, yang tengah bermimpi indah. Mendengar nada dering di ponselnya membuat mimpi indahnya itu hancur sekejap mata.


“Akh... siapa sih yang telepon tengah malam begini!” omel Joni dengan malas membuka mata. Pria yang sempat mengumpat itu langsung menegakkan badannya setelah tahu siapa yang meneleponnya itu.


“Pak bos! Hallo ... Pak, ada apa, maaf saya baru angakt teleponnya.


“Besok ... Atur jadwal pertemuan kembali dengan Tuan Braja! Bilang sama dia, kita akan ke peternakan besok siang,” ucap Bara dari seberang telepon.


Rasanya ingin cepat bertemu dengan Sandra. Benar kata Galen ia harus menanyakan langsung kepada Sandra agar mendapatkan kejelasan. Jika memang benar Sandra sudah menikah dan kehamilannya saat ini adalah hasil perbuatannya dengan Tuan Braja, Bara akan mundur dan harus berbesar hati menerima kenyataan yang ada.


Dirinya harus ikhlas, kebahagiaan memang belum berpihak padanya.


Tapi jika kehamilan Sandra saat ini adalah hasil perbuatannya malam itu, Bara akan maju untuk mempertanggung jawabkan semuanya.


Joni diam sesaat, mengingat jadwal kerja yang sudah ia susun sebelumnya.


“Maaf, Pak! Sepertinya satu minggu ke depan Anda tidak bisa mengubah jadwal kerja. Setiap hari akan ada investor yang akan melihat pabrik kita yang baru itu. Mereka yang akan bekerja sama dengan perusahaan baru kita,” balas Joni menjelaskan.


“Apa tidak bisa kamu mengubah sehari saja jadwal kerjaku?” harap Bara yang merasa putus asa setelah mendengar penjelasan Joni.


“Saya rasa tidak bisa, Pak! Saya mendapat jadwal ini dengan susah payah karena mencocokkan dengan jadwal mereka yang sangat sibuk. Anda juga susah payah ikut tender beberapa kali untuk mendapatkan kesepakatan ini dengan mereka. Jika jadwal itu dirubah begitu saja, apa tidak akan membuat mereka kecewa, Pak? Jangan sia-siakan kerja keras anda selama ini untuk perusahaan yang baru yang Anda impikan. Sebab saya sangat yakin produk olahan yang di produksi oleh pabrik kita, akan sangat laku di pasaran,” tutur Joni dan Bara pun membenarkan ucapannya.


“Baiklah kalau begitu, tolong atur waktu segera untuk ke sana?” Akhirnya Bara pun mengalah.


Bara tidak mau perjuangannya selama ini sia-sia. Mendirikan perusahaan baru yang selama ini ia impikan sudah tercapai, Bara tinggal mengepakkan sayap agar jerih payahnya terus berkembang dan sukses dalam dunia perdagangan.


Mengapa sangat sulit untuk kita bersama, Sandra.


Apa memang kamu bukanlah untukku.


Bara memijat pangkal hidungnya. Rasa pusing semakin terasa.


Ia melihat waktu di jam yang melingkar di pergelangan tangannya.


Waktu menunjukan tengah malam. Susana kantor pasti sangat sepi, hanya ada security yang berjaga di sana. Rasanya malas untuk pulang ke rumah. Tetapi mau tidak mau harus ia lakukan. Bara harus memejamkan mata dan beristirahat, besok akan ada tamu penting yang akan datang ke perusahaannya.


Ia tidak mau mengacaukannya hanya karena ia lelah karena mengantuk.


****


Hari demi hari Bara lewati dengan tidak sabar. Setiap hari ia menanti semua jadwal kerja pentingnya selesai. Setelah para investor datang ke pabrik pengolahan susu yang sudah beroperasi hampir satu bulan itu. Mereka merasa puas dengan sistem kerja serta pengolahan dan pengemasan yang mengikuti standar terbaik dunia.


Sudah dipastikan pengolahan produksi akan semakin meningkat, Bara harus memastikan peternakan Tuan Braja siap untuk memproduksi susu terbaiknya. Bara semakin tak sabar ingin menemui Sandra.


Satu minggu telah berlalu, berita suksesnya perusahaan yang baru bara rintis juga terdengar oleh Tuan Wijaya. Beliau juga merasa bangga dengan prestasi yang bara raih.

__ADS_1


Tuan Wijaya menelepon Bara, menyuruhnya datang ke kediaman yang pernah ia tinggali dulu untuk makan malam bersama. Padahal keinginan Bara untuk segera ke kampung Merundu sudah sangat ia nanti. Tapi Bara tidak mau membuat Papa tirinya merasa kecewa. Bara kembali mengenyampingkan keinginannya.


Sempat ingin menanyakan langsung kepada Tuan Braja tentang Sandra rasanya tidak benar. Itu adalah pembahasan di luar pekerjaan. Lagipula Bara belum sempat banyak bicara dengan Tuan Braja. Pertemuan singkatnya hanya saat mereka berada di klinik.


“Akhh... kenapa ada saja halangannya.” Bara melempar pelan ponsel yang ada di tangannya membuat Joni yang berada di depan nya sedikit tersentak.


“Halangan apa bos?” tanya Joni heran setelah mendengar ocehan Bara.


“Begitu sulit untuk bertemu dengan wanita itu,” gumam Bara yang bisa di dengar oleh Joni.


Asistennya itu mengerutkan alis mencerna ucapan Bara.


Wanita itu, siapa yang di maksud Pak Bara?


Apa wanita yang bersama Tuan Braja karena sempat beberapa kali pak bos menanyakan wanita itu kepada saya.


Ah... Saya harus mencari tahu lebih dulu.


Pikir Joni, karena selama ini bosnya itu sama sekali tidak pernah membawa masalah pribadinya dalam pekerjaan. Apalagi masalah wanita, jarang bahkan tidak pernah. Hanya urusan Nyonya Mariska yang selalu membuat Bara pusing. Bahkan Joni pun kadang ikut pusing di buatnya. Nyonya Mariska kalau sudah datang ke kantor selalu memaksa, dan ujung-ujungnya pasti masalah uang.


Malam hari pun tiba, Bara datang seorang diri ke Kediaman Tuan Wijaya. Hal yang paling menarik perhatiannya adalah bayi montok yang berada di pangkuan Kartika saat pertama kali masuk ke ruang keluarga.


Bayi itu sedang terkikik geli karena Galen menciumi perutnya. Galen dan Kartika duduk lesehan di karpet sedangkan Oma Ratih duduk di sofa. Mereka sedang asik bercengkerama di sana. Sungguh suasana yang sangat Bara rindukan. Sudah lama ia tidak pernah merasakan kebersamaan keluarga.


Hari-harinya ia sibukkan dengan pekerjaan. Bara sangat berambisi ingin memiliki perusahaan sendiri, bukan hasil dari warisan yang memang sudah mempunyai nama sebelumnya.


Bara menyalami Oma Ratih sopan, tak lupa menyapa Galen dengan anggukan saja. Kartika yang lebih muda juga dengan sopan menyalami Bara.


“Mau sama siapa, Oma?” balas Bara yang langsung mendaratkan bokongnya di sofa. Setelah menyapa semuanya, kemudian Ikut bergabung dengan mereka.


“Sama calon istrimu ‘lah, emang mau sama siapa? Masa sama istri orang,” sergah Oma.


Bara tersenyum miris mendengar ucapan Oma.


“Lihat adikmu, Galen! dia sudah mempunyai anak. Apa yang mau kamu cari lagi? Perusahaan sudah punya atas kerja keras sendiri lagi, carilah wanita yang mau mendampingimu, memberi semangat dan berjuang bersama.” Oma Ratih memberi nasehat pada Bara.


Galen menarik sudut bibirnya. Tersenyum kecil melihat Bara yang tidak bisa berkutik jika berada di hadapan Oma Ratih.


“Dia sudah dapat, Oma! Cuman kabur, besok juga mau di susul,” celetuk Galen dan mendapat tatapan tajam dari Bara


.


“Doakan saja, Oma!” Bara lekas mengalihkan pembicaraan soal wanita pendamping dengan mendekati baby Zayn.


Akan semakin panjang urusannya. Bisa jadi Galen keceplosan dengan masalah nya.


Bayi yang di tengkurapkan oleh Kartika di karpet terlihat begitu lucu. Baby Zayn menggerak-gerakan tangan dan kakinya hendak menggapai mainan di depannya, tapi tidak bisa.


Baby Zayn perlahan menggeser tubuhnya ke depan terlihat sangat lucu dan mengemaskan. Tapi kejahilan Kartika yang menjauhkan mainan itu saat baby Zayn sudah mendapati apa yang ia tuju, malah membuat Bayi lucu itu menangis kencang.

__ADS_1


Bara yang ada di samping baby Zayn terkejut, lekas pria itu menggendongnya. Tapi Bara terlihat kaku dan takut karena baby Zayn meronta dalam gendongannya, Bayi itu seakan menolak di gendong Om nya. Sebab mereka jarang bertemu. Zayn hanya mau di gendong sama orang yang ia kenali wajahnya saja.


“Aunty nya jahat, ya. Nih, biar Om cubit.” Bara mencubit gemas pipi Kartika.


“Kakak, sakit!” keluh gadis itu.


“Abisnya kamu, jahil sama dia.” Ketus Bara. “Eh... Kenapa Zayn tidak mau diam!” Bara terlihat kesulitan Zayn kembali meronta ke arah Kartika, minta di gendong. Tapi Bara menahannya berusaha memenangkan dengan caranya sendiri tapi sayang tidak berhasil. Baby Zayn malah semakin kencang menangis.


“Bukan jahil, tapi melatih! Biar baby Zayn bergerak maju ke depan.”


Ruang keluarga itu menjadi ramai dengan tangis dan perdebatan antara Bara dan Kartika.


Tuan Wijaya terlihat berjalan menuruni anak tangga saat mendengar tangisan dari cucunya.


Bersamaan dengan Aline yang muncul dari ruang makan.


“Kenapa dengan Zayn?” tanya Tuan Wijaya.


“Sepertinya mengantuk, Pah! Sudah waktunya dia tidur. Dari tadi diajak main aunty nya terus!” jawab AlineAline yang berjalan cepat mendekati Bara.


“Abisnya baby Zayn nya ngemesin.” Kartika mencubit pelan pipi gembul baby Zayn. Tangisannya pun semakin kencang. Bara terlihat panik harus berbuat apa.


“Makanan sudah siap, yang di tunggu juga sudah datang, Papa sama yang lain makan aja duluan, aku mau nidurin Zayn dulu!” ucap Aline kepada semuanya.


Nyonya muda di rumah itu baru saja selesai membantu Mbak Ira menyiapkan santapan makan malam.


Aline mendekati Bara yang terlihat kesusahan menenangkan baby Zayn.


“Sini ... sama Mommy, Sayang!” ucap Aline. Suaranya langsung dikenali baby Zayn.


Baby montok itu langsung mengulurkan tangannya ke arah Aline dengan wajah sedih dan tangisan khas bayi.


“Cup ... Cup... Sayang! Siapa yang nakal? Aunty, ya?” Nanti mommy cubit aunty nya!” bisik Aline seraya menimang baby Zayn dalam pelukannya. Perlahan tangis baby Zayn mereda, berganti dengan mata yang perlahan terpejam.


“Sepertinya dia ngantuk, Sayang!” ujar Galen yang menghampiri Aline, kemudian mencium singkat pipi gembul putranya. Baby Zayn sempat terusik tapi dengan cepat Aline kembali menimangnya.


“Aku bawa Zayn ke kamar dulu, Mas! Kalian makan saja duluan, nanti aku nyusul!” ucap Aline yang mendapat anggukan dari Galen.


“Ayo, kita makan dulu, keburu dingin hidangannya!” Oma Ratih juga mengajak kepada semuanya.


Kartika berjalan bersama Oma Ratih beserta Tuan Wijaya. Sedangkan Galen mendekati Bara.


“Kamu harus belajar menenangkan bayi, biar predikat sebagai suami sedikit berguna. Kasihan Sandra nanti kalau cara gendong kamu seperti tadi. Menenangkan bayi menangis saja tidak bisa!” ejek Galen kemudian berlalu meninggalkan Bara yang hendak menendang Galen tapi hanya tendangan angin saja, sebab Galen berhasil menghindar.


Aline yang melihat tingkah mereka berdua, menggelengkan kepala. Semenjak hubungan mereka dekat, tidak ada jaim atau diam lagi bagi keduanya. Galen dan Bara terlihat lebih dekat dan sering bertukar pikiran.


Baca terus kelanjutan ceritanya ya.


Jangan lupa komen dan like nya.....

__ADS_1


__ADS_2