
Jerit dan isak tangis Kartika sama sekali tidak dipedulikan oleh Seno. Pria itu sudah berkabut gelora. Tatapan matanya sekaan ingin menerkam gadis itu.
Sambil melangkah mundur Kartika terus meraih benda yang ada di dekatnya. Apa pun itu ia lemparkan ke arah Seno.
Kecepatan menghindar Seno lakukan. Ia menangkis semua benda yang terarah kepadanya.
“Jangan takut, cantik! Aku akan bermain pelan. Kamu pasti akan nyaman dan menikmatinya. Ayolah! Mama-mu juga sudah menikmatinya denganku. Sampai dia tidak ingin lepas dariku!” ucap Seno yang terus berjalan maju menghampiri Kartika.
Saat ini Kartika terus berjalan mundur sampai ke dapur minimalis di apartemen itu. Di ikuti Seno, Pria itu sudah tidak sabar ingin segera menerkam gadis di hadapannya ini.
“Menjauh dariku, Bajingan! Benalu sepertimu tidak pantas hidup!” Kartika berteriak dan terus melindungi diri dari serangan Seno, tangannya meraba semua benda yang ada di belakangnya.
Beruntung bagi Kartika, yang ia raih adalah sebuah pisau. Dengan cepat diarahkannya pisau tersebut ke arah Seno.
“Menjauh dariku atau aku akan membunuhmu, Penipu!” hardik Kartika berusaha memberanikan diri dengan mengarahkan pisau ke tubuh Seno.
Sayangnya, apa yang dilakukan Kartika meleset. Seno kembali bisa menghindarinya.
“Haha... Aku makin tertantang untuk segera merasakan pertempuran nikmat kita, Cantik!”
Kartika semakin gemetar memegangi pisau tersebut. Ia tidak tahu harus berbuat apa lagi. Saat ini yang ada di pikirannya adalah menghindar dari pria brengsek yang ada di hadapannya ini.
‘Aku harus bagaimana? Apa aku mengakhiri hidup ini daripada aku harus merasakan sentuhan dari bajingan itu?’
Batin Kartika saat melihat pisau yang ada di tangannya.
****
“Kamu benar tidak pa-pa, Sayang?” tanya Bara pada Sandra. Istrinya itu mengeratkan pegangan pada rangkulannya terhadap Bara, suaminya.
Sandra menggelengkan kepalanya. “Aku baik-baik saja, Mas! Tapi Mama?” ucap Sandra pelan kemudian bertanya kepada Bara soal Nyonya Mariska yang pergi tanpa pamit kepada mereka dengan raut wajah yang penuh dengan kekecewaan dan amarah.
“Mama pasti baik-baik saja, Sayang! Lebih baik kamu beristirahat, jangan terlalu banyak berpikir negatif. Kamu harus ingat pesan dari dokter. Jangan sampai kondisi kamu turun akibat terlalu jangan berpikir. Ingat baby kita!” ucap Seno seraya mengelus pelan perut Sandra yang terlihat sedikit membuncit.
Kehamilan Sandra pada trimester pertama membuat kondisi ibu hamil itu sedikit terganggu. Baru minggu-minggu ini perubahan baik ia dapatkan karena itulah Bara sangat menjaga kondisi Sandra. Ia tidak mau istrinya terlalu banyak berpikir berat yang menganggu kesehatan Sandra dan bayinya.
Meskipun tidak menyusul Nyonya Mariska tapi Bara tidak acuh begitu saja. Ia tetap memerintahkan anak buahnya untuk membuntuti mama-nya.
“Sialan kamu Seno!” teriak Nyonya Mariska sambil memukul stir mobil saat ia masuk ke dalam mobilnya.
Nyonya Mariska langsung tancap gas keluar dari rumah Bara. Ia hendak memberi pelajaran kepada kekasihnya itu.
Kekasih yang sudah Nyonya Mariska percaya ternyata bermain api di belakangnya.
Amarah dengan napas yang memburu dirasakan Nyonya Mariska. Ia ingin sekali melampiaskan semuanya.
Sambil mengemudikan kendaraan, Nyonya Mariska mengecek ponselnya. Ada banyak panggilan tak terjawab dari Seno.
__ADS_1
Pria itu juga mengirimkan pesan chat kepada Nyonya Mariska yang isinya memberitahukan kalau dia akan segera sampai di apartemen. Seperti yang sudah dibicarakan sebelumnya kepada Nyonya Mariska. Seno akan mengalihkan nama dari kepemilikan toko atas nama Mariska Rahmadi kepada Seno Setiawan.
“Jangan harap kamu akan membodohiku lagi, Seno! Ternyata apa yang aku rasakan beberapa waktu ini benar adanya. Sikapmu berbeda dari biasanya, mungkin karena kamu sudah berselingkuh dan merencanakan akan menyingkirkan diriku. Sialan kamu, Seno!” Mama Mariska menggengam erat kemudinya. Seakan melampiaskan kemarahannya di sana.
Selain bukti penipuan yang dilakukan Seno, Nyonya Mariska juga mendengar sendiri percakapan Seno dengan seseorang.
Seno memerintahkan seseorang untuk menghabisi Nyonya Mariska seakan-akan terjadi kecelakaan pada wanita itu, tapi setelah Seno mendapatkan tanda tangan pengalihan kepemilikan toko berlian yang nilai jualnya sangat tinggi itu.
‘Semoga penipu itu belum sampai di apartemenku. Jangan sampai ia sampai lebih dulu, sebab di sana ada Kartika!’
Batin Nyonya Mariska. Wanita itu dengan cepat menginjak pedal gas pada mobilnya berharap kecepatan kendaraan itu membuatnya cepat tiba di apartemen.
Di apartemen.
Kartika beberapa kali melawan saat Seno berhasil menangkap dirinya. Gadis itu juga mendapat tamparan di pipi putihnya sehingga sudut bibirnya sedikit sobek dan mengeluarkan sedikit cairan berbau anyir.
Masih mampu bertahan. Meski pakaian yang dipakainya sudah sedikit sobek akibat ulah dari Seno. Tapi ia tidak bisa berkutik saat Seno kembali berhasil menangkapnya. Kartika pingsan akibat tamparan keras itu. Sehingga dengan mudah Seno membelai setiap inci dari tubuh gadis manis di hadapannya itu.
“Tidak akan ada yang bisa menolongmu, Kartika!” Bisik Seno di telinganya. “Andai saja kamu tidak memberontak aku tidak akak sekejam itu pada tubuhmu ini. Pipi mulus ini tidak akan terluka jika kamu tidak melawan, Sayang!” tangan Seno terus membelai pipi Kartika terus menurun ke bawah.
Tatapan matanya sudah membara melihat keindahan tubuh bagian depan itu.
Brak...
Dorongan pintu yang keras membuat Seno menghentikan aksinya.
“Bajingan, apa yang kamu lakukan pada putriku?” teriak Nyonya Mariska saat melihat Seno mengukung tubuh Kartika di kamarnya. Tempat yang biasa mereka tempati saat pertarungan nikmat terjadi.
“Sayang! Aku hanya---,” ucapannya terputus begitu saja sebab Nyonya melempar semua bukti dari Bara ke wajah Seno.
Kemudian mendorong Seno hingga tubuh pria itu sedikit tersungkur tapi ia masih bisa kembali berdiri.
Nyonya Mariska mendekati Kartika dan berusaha menyadarkan putrinya itu.
“Sayang..., Bangun! Maafkan Mama! Bangunlah, Sayang!” Nyonya Mariska berusaha menepuk pelan wajah Kartika.
Beruntung Kartika merespon Nyonya Mariska. Ia perlahan membuka matanya. Kartika langsung memeluk wanita yang ada di hadapannya itu.
“Aku takut, Mah! Tolong Kartika!” ucap Kartika dengan nada ketakutan dan gemetar.
Pelukan mereka tiba-tiba terpisah saat Seno menarik tangan Nyonya Mariska dan memaksa wanita itu untuk menanda tangani sebuah berkas yang Seno bawa tadi.
Pria itu sudah tidak peduli apapun sekarang.
“Ikut aku!” teriak Bara seraya menarik paksa Nyonya Mariska keluar dari kamarnya.
“Sakit... Seno! Lepaskan tanganku!” titah Nyonya Mariska dengan nada kasar.
__ADS_1
“Kamu harus menanda tangani dulu berkas ini!” Bara membuka map yang isinya satu lembar kertas berisi surat pernyataan pemilik kepemilikan.
“Cuih, tidak sudi aku menandatanganinya kali ini, aku memang ingin melakukannya tapi setelah tahu kamu bermain api di belakangmu. Aku tidak akan pernah menandatangani semua itu!” Nyonya Mariska meludah ke wajah Seno. Itu semakin membuat pria itu murka.
Seno langsung mencekik leher Nyonya Mariska Membuat wanita itu menjerit kesakitan.
Kartika yang melihatnya mencoba berjalan meski dengan tertatih sebab kakinya sempat terbentur meja akibat pemberontakan nya tadi terhadap Seno.
“Lepaskan mama-ku!” teriak Kartika yang keluar dari kamar kemudian memukul Seno semampunya. Tak ada lagi benda yang bisa ia gunakan sebab tempat itu sudah seperti kapal pecah dengan semua benda yang tidak berada di tempatnya.
Seni mendorong tubuh Kartika dengan keras sehingga gadis itu tersungkur membentur tembok.
“Arghh...” jerit Kartika. Tubuhnya merosot begitu saja. Tapi masih tersadar.
“Kartika!” teriak Nyonya Mariska.
Seno yang melihat Mariska berdiri mendekatinya lekas mengambil pisau yang tergeletak di lantai.
Pria itu merangkul tubuh Kartika kemudian mengarahkan pisau itu ke lehernya.
“Cepat tanda tangani berkas itu atau kamu akan kehilangan putrimu!” ancam Seno.
Nyonya kartika menggelengkan kepala merasa menyesal dengan kebodohannya selama ini.
“Dadar penipu, aku sudah bodoh bisa tertipu olehmu bajingan!”
“Cepat lakukan atau aku akan tusuk dia!”
Kartika meringis saat ujung mata pisau itu sedikit melukai lehernya.
Kali ini Nyonya Mariska meneteskan air matanya melihat putrinya dalam kesakitan.
Tanpa banyak berpikir Nyonya Mariska langsung menandatangani berkas itu.
Seno langsung menyambar berkas tersebut lalu melepaskan Kartika begitu saja.
Tubuh yang sudah lemah tanpa tenaga itu tersungkur kembali. Nyonya Mariska langsung mendekati Karitka kemudian menarik tubuh Sandra ke dalam pelukannya.
“Maafkan, Mama, Sayang! Mama sudah begitu bodoh menyia-nyiakan kasih sayang kalian terhadap mama,” ucap Nyonya Mariska kepada Kartika.
Senyum tipis terpancar dari wajah Kartika meski luka lebam dan sobek ada di sudut bibirnya.
“Aku dan Kak Bara ingin Mama berubah lebih baik,” ucapnya pelan dan mendapat anggukan dari Nyonya Mariska.
“Mama akan ikuti apa keinginan kalian. Hanya kalian yang tidak akan menipu mama!” balas Nyonya Mariska. Ia sudah tidak ada keinginan lagi selain kemabli kepada anak-anak nya dan berusaha menjadi lebih baik. Selama di perjalanan wanita itu sudah memikirkan ini semua.
Tapi setelah berucap kepada Kartika sesuatu terjadi pada wanita itu.
__ADS_1
Matanya melotot seakan menahan sakit. Kartika merasakan ada cairan kental terasa oleh tangannya dari tubuh belakang mama-nya.
Bersambung