
“Apa bayi itu, anakku? Jawab Sandra!” teriak Bara membuat Tuan Braja dan Sandra tidak jadi melangkah.
Sandra diam mendengar pertanyaan dari Bara. Dadanya kembang kempis menahan sesak. Tangis yang dari tadi ia tahan akhirnya tumpah sudah. Tangan yang ada dalam genggaman Tuan Braja ia lepaskan
.
Tuan Braja melihat Sandra menangis, kemudian ia kembali mendekatinya. “Kamu baik-baik, Saja?” tanyanya pada Sandra.
Hanya anggukan yang Sandra berikan sebagai jawaban. Saat wanita itu menoleh ke samping, ia mendengar seseorang berbisik membicarakan apa yang mereka lihat dan dengar saat ini. Kekhawatiran yang ada dalam benaknya terjadi juga. Cemoohan pasti akan ia dapat setelah ini.
Tuan Braja paham dengan kekhawatiran Sandra, ia menyuruh orang-orang yang ada di sekitar itu agar menjauh. Padahal mereka ingin tahu berita selanjutnya.
Keadaan di tempat itu menjadi tegang. Mereka tidak menyangka Sandra gadis baik-baik yang selama ini mereka kenal hamil di luar nikah. Dan yang menjadi bahan bisikan adalah kesediaan Tuan Braja untuk mempertanggungjawabkan semuanya.
Rara tiba-tiba datang. Gadis itu berdiri tepat di hadapan Sandra. Kehadirannya semakin membuat Sandra kembali kesal. Lekas Sandra berbalik menghadap Bara.
“Bayi yang aku kandung memang anakmu!” jawab Sandra pelan.
“Heh... Kamu menyembunyikannya dariku?” Bara tertawa sinis. "Bahkan menerima pertanggungjawaban dia yang bukan siapa-siapa!” lanjut Bara seraya menunjuk Tuan Braja.
Hilang sudah sikap sopan yang tadi Bara berikan kepada Tuan Braja.
“Lebih baik dia, daripada kamu! Dia selalu ada buat aku, memperhatikan kehamilanku, dan kondisiku sedangkan kamu setelah tau diriku hamil. Kamu pergi begitu saja. Mengacuhkanku, tanpa bertanya apapun! Kamu tahu... Aku sangat mengharapkan kamu mencariku dan bertanya kepadaku, tapi kamu malah menghilang setelah tahu kehamilan ini. Aku sadar memang aku bukanlah siapa-siapa, tak ada artinya kehadiran ku dan bahi ini di matamu!" Sandra tertunduk sambil menangis. Rasanya lepas sudah rasa sesak di dada.
Mendengar ungkapan hati Sandra membuat Bara merasa sedih, menyesal, beban berat seakan menumpuk di bahunya. Ternyata Sandra menunggunya selama ini.
“Teh Sandra, hamil?” tanya Rara yang ada di belakang Sandra. "Sama Mas tampan?"
Mendengar pertanyaan Rara, ia teringat dengan perkataan gadis itu kalau Bara dan Rara baru saja bersenang-senang.
Lekas Sandra mendongak, menatap lurus sehingga kedua manik mata itu saling bertemu.
Bara melihat air mata di wajah Sandra. Tapi tatapan wanita itu terlihat kesal kepadanya.
“Aku akan bertanggungjawab atas dirimu! Maaf, jika selama ini sikapku mengacuhkanmu. Aku yang salah paham padamu, aku kira kamu ada hubungan dengan Tuan Braja bahkan aku berpikir kalian sudah menikah sebab melihat perhatian dan kekhawatirannya padamu saat di klinik waktu itu.
“Bertanggung jawab?” tanya Sandra ragu sambil tersenyum kecut. “Apa kamu juga akan bertanggung jawab pada dia?” Sandra menunjuk Rara yang ada di belakangnya.
“Kenapa aku harus bertanggungjawab padanya? Memang apa yang aku lakukan?”.
__ADS_1
“Kamu masih bisa mengelak! Bukankah kalian baru saja menghabiskan waktu berdua, bersenang-senang sampai dia harus memakai baju milikmu,” tuduh Sandra pada Bara.
Sandra berpikir setelah melakukan hal itu, Rara berganti baju milik Bara. Sebab Sandra pernah mengalaminya saat bersama Bara.
Bara tidak mengerti apa yang dituduhkan Sandra kepadanya. Keningnya berkerut masih menyerna ucapan Sandra, lekas ia mengalihkan pandangannya kepada Rara. Matanya membulat melihat gadis itu memakai baju miliknya.
“Kamu kenapa memakai baju miliku! Siapa yang mengizinkannya?” hardik Bara menatap tajam ke arah Rara.
Tuan Braja yang sudah dewasa dalam menghadapi masalah mulai mengerti dengan keadaan yang terjadi. Sandra dan Bara selalu salah paham. Mereka egois dengan pemikirannya masing-masing. Saling menuduh tanpa alasan yang pasti.
Tapi intinya mereka saling membutuhkan. Ada rasa kecewa di hatinya. Mengetahui Sandra juga memiliki perasaan kepada ayah si cabang bayi.
Bara mendekati Rara, ia tidak terima jika ada seseorang yang memakai sesuatu milinya tanpa ijin.
“Cepat katakan kenapa kamu memakai baju milikku?” Bara mencengkeram baju bagian depan Rara dengan sangat keras sehingga gadis itu sedikit berjinjit karena tarikannya.
Terlihat wajah ketakutan Rara saat Bara memperlakukan dengan kasar.
Joni lekas berjalan cepat mendekati Bara. Ia tahu sifat bos nya itu, Bara tidak akan melepaskan orang yang sudah membuatnya kesal begitu saja.
“Maaf, bos tadi saya yang memberikannya. Hanya ada koper Anda di kamar, semua pakaian saya ada di mobil. Jadi saya mengambil nya,” ucap Joni pelan di telinga Bara. Membuat pria itu melepaskan cengkeraman tangannya dengan kasar. Rara sampai terhuyung karenanya.
“Sandra,” pekik Tuan Braja saat mendapati Sandra pingsan untung saja dengan cepat Tuan Braja menangkap tubuhnya.
“Tanganmu dingin sekali!” ucap Tuan Braja ketiak memegang tangannya.
Bara sangat terkejut ketika mendengar Tuan Braja berteriak. Pria itu mendekatinya cepat.
“Kemarikan! Dia adalah wanitaku.” Bara mengambil alih tubuh Sandra dari dekapan Tuan Braja.
Tuan Braja sama sekali tidak mencegah sebab ia sudah paham apa yang terjadi. Meskipun Sandra ataupun Bara tidak memberitahunya. Helaan napas berat Tuan Braja lakukan. Melihat Bara membawa Sandra dalam gendongannya.
“Mereka hanya perlu bicara berdua, saling bicara dari hati ke hati. Agar salah paham tidak terus berlanjut. Saya akan melepasmu, jika bersama Pak Bara adalah kebahagiaanmu, Sandra,” Gumam Tuan Braja saat melihat Bara telah menjauh pergi.
“Tuan... “Rara mencoba mendekati Tuan Braja, tapi sama sekali tidak dianggap. Tuan Braja berlalu meninggalkan tempat itu.
Rara merasa kesal dibuatnya. Gadis itu mengentakkan kakinya ke lantai. Kedua pria incarannya telah mengacuhkannya.
Rara memilih keluar dari peternakan dan menyusul Sandra.
__ADS_1
Semua pekerja saling berbisik atas kejadian itu.
“Wah, umpami rekan bisnis Tuan Braja narik perjanjian bisnisna. Peternakan iyeu teh moal maju atuh ( kalau rekan bisnisnya Tuan Braja menarik perjanjian bisnisnya. Peternakan ini tidak jadi berkembang dong),” ucap salah seorang dari mereka.
Ada yang mengangguk ada juga yang mengabaikan dengan kejadian itu.
“Ah.. Sabodo teuing, nu penting keun abdi mah, Sapi Tuan Braja tetap aya, jadi bakal terus di peres susuna. Berarti urang damel keneh. Umapami sapi geus teu aya karek abdi ripuh. (ah... Masa bodo, yang penting bagi saya mah, sapi Tuan Braja masih ada. Seumpama sapi sudah tidak ada baru saya pusing)” Salah seorang ikut berkomentar.
Bisikan itu terdengar oleh Tuan Braja saat beliau melewati mereka menuju ruangannya.
Seketika para pekerja itu diam. Satu persatu mereka kembali ke tempat kerjanya masing-masing.
“Mas tampan, tunggu!” teriak Rara saat berada di luar peternakan. Berusaha mengejar mobil Bara.
Mobil Jeep keluaran terbaru itu sama sekali tidak menghentikan lajunya. Meskipun Rara berteriak dan berlari mengejarnya.
“Apa kita berhenti untuk mengajak gadis itu, Pak?” tanya Joni yang terus melakukan mobilnya.
“Tidak perlu, kita harus segera ke rumah sakit. Aku tidak mau terjadi sesuatu pada Sandra dan anakku!” titah Bara
Joni mengangguk. Sebagai asisten Bara, pria itu ketinggalan berita tentang kehidupan bosnya. Sebab Bara tidak pernah mencampur adukkan pekerjaan dan masalah pribadi.
‘Pantas saja, Pak Bos terus menayangkan wanita ini kepadaku. Dan bodohnya aku malah mengiyakan kalau Tuan Braja mempunyai hubungan khusus dengan wanita itu. Ternyata dia adalah wanita pak bos, mantap tokcer langsung tekdung.’
Batin Joni sedikit menyunggingkan sedikit senyum seraya melihat ke arah spion tengah yang ada di dalam mobil. Pak Bara terlihat begitu khawatir dan cemas. Berkali-kali ia membangunkan wanita yang ada kepalanya berada di pangkuan Bara.
“Sand... Bangun! Maafkan aku! Bangun sayang....!” lirih Bara dengan suara yang tertahan. Tangannya kembali menepuk pelan wajah Sandea berusaha membuat wanita itu tersadar.
Begitu perih melihat wanita yang selama ini menghantui pikiran dan hatinya terkulai lemas dengan wajah pucat.
Ingin rasanya Bara memaki dirinya sendiri.
.
.
.
.
__ADS_1
...Bersambung...