Fake Love

Fake Love
Hai... Kita Bertemu Lagi!


__ADS_3

Aline segera menuruni pelaminan. Gadis itu terus berjalan meninggalkan acara resepsi orang yang sudah membuatnya celaka dan sakit hati.


Chyntia yang menjadi ratu sehari itu merasa kesal akan ucapan Aline. Ia semakin kesal saat berbalik dan melihat Derald terus memperhatikan penampilan Aline.


"Yang... Kamu liatin dia terus dari tadi!" ucap Chyntia marah.


"Gak, ko bukan sama dia. Aku lagi nyari teman sekolahku, kenapa belum datang juga, ya," elak Derald seraya mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan.


"Awas aja kalau kamu perhatiin dia lagi," ancam Chyntia.


Derald merasa risih selalu mendapat peringatan dari Chyntia. Semenjak Pak Baskoro menyuruhnya agar cepat menikahi Chyntia, Derald merasa tertekan. Perintah dari Papa nya Chyntia harus dijalaninya.


Memang kekuasaan adalah hal yang harus dimiliki seseorang saat ini, sehingga lebih mudah untuk memerintah sesuka hati.


Saat berjalan anggun bersama Risa, berniat ingin meninggalkan acara tersebut. Terdengar suara yang ia kenali memanggil namanya.


"Kak Aline!" panggil Siska saat melihat Aline hendak melewati mereka berdua.


"Siska, Bu Leli!" Aline menghampiri mereka berdua. Meski perlakuan Bu Leli buruk padanya dulu, tapi Aline tetap bersikap sopan kepada orang yang lebih tua.


Aline berusaha bersiap baik meski dulu Bu Leli pernah menyakiti hatinya. Ia hampiri kedua orang yang tengah terkagum menatapnya. Sungguh sangat berbeda dengan Aline yang dulu terlihat norak, cupu, penuh dengan jerawat.


"Kak Aline cantik sekali!" puji Siska saat menyapa Aline seraya menempelkan pipi kiri dan kanannya.


"Terima kasih, Sis!" seru Aline lalu mengalihkan pandangannya ke arah Bu Leli.


"Ibu, apa kabar?" Aline menyalimi ibu dari Derald, lelaki yang pernah membuatnya terluka dan sakit hati itu.


"Kabar Ibu baik! Kamu cantik sekali, Nak!" Bu Leli memuji Aline.


Aline tersenyum menanggapinya. Meski ia tahu pujian itu hanya sebuah gombalan untuknya. Ia ingat betul kalau Bu Leli tidak menginginkannya dulu.


"Andai saja Derald kembali sama Kamu, pasti yang duduk di pelaminan kalian berdua!" ucap Bu Leli seraga memegangi tangan Aline lalu mengelusnya pelan. Mencoba mengambil hati Aline kembali.


"Bukankan, Chyntia menantu yang Ibu idamkan selama ini. Dia cantik, kaya, terkenal dan pastinya akan membuat Ibu bangga memperkenalkannya kepada teman-teman Ibu. Harusnya Ibu bersyukur Derald sekarang menikah dengannya!" sahut Aline.

__ADS_1


"Chyntia itu pelit tidak seperti Kamu, mereka menikah sekarang juga karena terdesak. Chyntia sedang hamil saat ini," tutur Bu Leli sontak mendapatkan teguran dari Siska yang berada disampingnya.


"Bu...! jangan ngegibah di sini. Ingat Papanya Kak Chyntia sudah memperingati kita agar tak banyak bicara masalah ini. Jangan sampai ada orang yang mendengar omongan Ibu!" tegur Siska.


Bu Leli membungkam mulutnya sendiri seraya mengedarkan pandangan ke sekelilingnya, berharap tak ada yang mendengar ucapannya.


"Oh, Chyntia sedang hamil! pantas saja pernikahan dilangsungkan secara mendadak," batin Aline.


"Kamu jangan bilang sama yang lain, ya!" bisik Bu Leli kepada Aline.


Aline hanya tersenyum masam mendengarnya.


"Kalau begitu, Saya permisi dulu, Bu, Siska!" pamit Aline.


"Jangan lupa mampir ke rumah ya, Nak! Ibu tunggu!" ucap Bu Leli basa basi.


Aline mengangguk pelan seraya berbalik lalu berjalan meninggalkan kedua orang yang terus memperhatikannya di ikuti Risa di belakangnya.


Ibu dari Derald itu memang pandai mencari muka. Ia akan bersikap manis dan baik dihadapannya, tapi akan menggibahkan hal tidak baik di belakangnya.


"Kamu belum kenal siapa Bu Leli. Dia pandai berakting seperti Derald!" sahut Aline lalu berjalan meninggalkan ruangan resepsi itu, sebelumnya Aline dan Risa sudah berpamitan kepada teman artis yang lain untuk pulang lebih dulu. Bagaimanapun mereka datang bersama ke acara ini. Tak sopan rasanya pergi tanpa pamit kepada mereka.


"Sa, Mbak ke toilet sebentar ya, Kamu duluan aja ke parkiran! Oh, ya di mobil ada baju biasa 'kan untuk ganti?"


"Ada, Mbak!"


"Sip deh."


"Kita mau langsung pulang atau ke tempat lain, Mbak?" tanya Risa. Asistennya itu merasa heran tak biasanya Aline menanyakan baju ganti, jika sudah seperti Risa pastikan akan suatu temoat setelah ini.


Aline dan Risa berpisah di ujung ruangan. Risa berjalan menuju parkiran dan Aline berjalan menuju toilet. Rencananya Aline berniat berganti pakaian di toilet tapi di luar gedung masih banyak wartawan yang menunggu. Karena tamu undangan dari orang-orang ternama datang ke resepsi pernikahan ini, menjadi sasaran empuk untuk berita di dunia entertainment dan dunia bisnis.


Aline berdiam diri, memandangi pantulan wajahnya di cermin. Beruntung tak ada yang masuk ke dalam toilet, saat gadis yang tengah menatap dirinya itu meneteskan air mata tanpa terasa.


Meredakan perasaan yang terasa tak menentu akhir-akhir ini. Melihat mantan kekasih bersanding di pelaminan ada rasa kecewa di hatinya, tapi bukan rasa cemburu. Melainkan rasa penyesalan belum bisa memenuhi keinginan sang Ayah, yang ingin sekali melihatnya menikah. Janji Derald dan cinta palsu yang diberikannha kepada Aline menyisakan kekecewaan yang begitu sakit untuk kedua orang tuan dan dirinya.

__ADS_1


Bohong kalau Aline tidak sakit hati melihat mantan kekasihnya menikah apalagi pasangannya saat ini adalah orang ketiga dalam hubungannya dulu. Terlebih Chyntia orang yang menghinanya saat kebohongan Derald terbongkar waktu itu.


Bagaimanapun pria itu pernah menjadi kekasihnya meski kehadiran Aline tak pernah diakui di hadapan banyak orang. Mungkin saja jika penampilan dulu Aline seperti saat ini, Derald akan mempertahankannya.


Umurnya sudah tidak muda lagi. 26 tahun bagi seorang wanita adalah umur yang cukup untuk berumah tangga. Aline berharap hubungannya dengan Galen yang baru tumbuh itu bisa berujung bahagia.


Hubungan yang mereka awali karena kebersamaan, sering bertemu dan melempar ejekan dan candaan membuat mereka merasa nyaman. Hingga perasaan tumbuh di antara keduanya.


Aline membuang napas kasar, seakan membiarkan semua yang pernah hadir di masa lalu pergi tanpa bekas. Ia hanya berharap yang terbaik untuk masa depannya. Berharap hubungannya dengan Galen tak ada cinta palsu lagi.


Dengan segenap harapan baru Aline menguatkan hatinya. Teringat dengan janji menemui Galen di rumah sakit membuat Aline segera mengakhiri penyesalannya. Semoga kisah cinta baru tumbuh antara dirinya dan Galen akan berubah manis sampai pelaminan.


Tak ingin berlama-lama di sana, Aline berjalan sedikit tergesa ingin mempersingkat waktu. Tapi sial bagi gadis cantik itu, gaun yang dipakainya terinjak olehnya sendiri, sehingga membuat tubunya nyaris terjatuh jika tubunya tak di tangkap oleh tangan kekar yang kini menahan tubuh ramping Aline.


"Aaargh ..." Aline berteriak saat tubunya terhuyung ke belakang seraya memejamkan mata, pasrah jika harus terjatuh saat itu.


"E-eh ko gak sakit," gumam Aline. Ia mengira akan terjatuh ke lantai saat itu.


"Tidak sakit kalau Aku menahan tubuhmu," cetus Pria yang menolongnya sehingga gadis itu tak sempat terjatuh ke lantai sontak membuat Aline membuka pejaman matanya.


Aline mengerutkan alis merasa pernah melihat pria yang melingkarkan tangan pada tubuh rampingnya


"Kamu!"


"Hai... kita bertemu lagi!"


.


.


.


.


bersambung

__ADS_1


__ADS_2