
Aline sudah rapi memakai pakaian rumahannya, Baju kemeja lengan panjang yang longgar dan celana berbahan halus agar nyaman di pakai.
Terlebih agar bisa menutupi luka di pergelangan tangan Aline.
Zainab membantu Mama Ami merapikan barang bawaan. Hanya satu hari Aline dirawat dirumah sakit itu. Sebenarnya dokter belum mengijinkan Aline untuk pulang, tapi Galen yang memintanya langsung.
Galen juga menginginkan Aline berada di tempat yang nyaman untuknya, mungkin di rumahnya lah Aline bisa merasa aman dan tenang.
...***...
Satu jam perjalanan dari rumah sakit menuju rumah Aline. Kini, mereka sudah berada di kediaman Aline.
Gadis itu tak mau di papah saat memasuki rumahnya. Bi kesih yang cerewet dan banyak bertanya ikut serta menyambut kedatangan mereka langsung diaZainab menempelkan jari telunjuk di bibirnya memberi kode agar Bi Kesih diam saja tak banyak bertanya. Karena biasanya Bi Kesih paling banyak bicara bersama Aline.
Sampai di kamar miliknya Aline di tuntun Bu Winda agar segera beristirahat. Tapi gadis itu hanya duduk di tepi tempat tidur. Hanya Galen yang mengikutinya sampai ke kamar. Ayah Zaki dan Zainab menunggu di ruang tamu.
Aline masih diam tak bersuara. Banyak yang gadis itu pikirkan tapi masih ia tahan untuk tidak diungkapkan. Galen mendekati Aline, seakan mengerti apa yang sedang di rasakan Aline.
"Sayang... istirahatlah, jangan memikirkan hal yang terlalu membebani dirimu. Satu hal yang pasti... Aku akan tetap bersamamu, jangan pernah berpikir ingin melepaskanku. Kita hadapi bersama, Sakitmu adalah sakitku, bahagiamu adalah bahagiaku." Galen meraih tangan Aline lalu menempelkannya di pipi dengan rahang yang mulai di tumbuh sedikit bulu halus.
Semenjak sibuk bekerja, Galen belum sempat mencukurnya. Ia pikir setelah cuti bekerja dan menjelang pernikahannya ia baru akan berhias diri.
Aline tak merespon tapi gadis itu terus memandangi Galen karena tingkahnya. Gadis itu merasakan ada kesungguhan dalam diri Galen. Ketulusan cinta untuknya, sentuhan lembut yang menenangkan jiwanya. Sejenak Alone menikmati sentuhan tangan hangat dari Galen.
"Sekarang, istirahat lah!" titah Galen dengan nada lembut tapi terrdengar memaksa.
"Tapi aku sudah... " Galen mencekal bibir Aline dengan jari telunjuknya.
"Tidak ada yang berubah, dari awal aku kenal kamu, sampai sekarang. Jadi, tolong... sayang... jangan siksa aku dengan kesedihanmu, Ok!"
Aline mengangguk pelan sambil menunduk. Meski begitu sulit baginya, tapi dukungan dari Galen untuknya sangatlah besar. Ia ingin melewati ini semua.
__ADS_1
"Bu," panggil Galen seraya mendongak menatap Bu Winda.
Bu Winda mendekat lalu memegang bahu Aline. Saya ke bawah dulu, Ayah tadi meminta saya untuk berbicara dengannya.
"Ya, silakan. Biar Ibu menemani Aline di sini," Bu Winda menatap Aline. "Kamu tidak sendiri, Nak!" tegasnya.
Aline tersenyum kecil keoada Bu Winda. Galen merasa lega, perlahan senyuman itu kembali. Pria itu pastikan, senyuman itu akan terus menghiasi wajah Aline.
Biarlah hari ini menjadi mendung dan gelap, tapi esok hari ia pastikan akan cerah secercah mentari pagi.
Galen kembali menatap Aline. "Aku keluar dulu, kalau lama-lama di sini, bisa langsung di seret ke KUA sama Ayah! aku sih berharap banget bisa begitu, Sayang... biar cepat!" canda Galen.
Gelengan kepala dengan sedikit senyuman respon dari Aline. "Nah begitu, aku semangat kalau lesung pipi ini mulai terlihat, Istirahat, ya! Nanti setelah itu berikan aku senyuman andalan kamu setiap saat, Ok!"
Senyuman andalan yang paling Galen suka. Senyum manis gadis berlesung pipi.
Galen mengacak pelan rambut Aline pelan. Setelah pamit kepada Aline dan Bu Winda, Galen menemui Ayah Zaki di ruang keluarga. Zainab sudah tak terlihat di sana, Wanita itu juga mengundur waktu kepulangannya ke Cianjur. Menurut Bi Kesih, bus menuju ke sana sudah tidak ada lagi kalau lewat dari jam empat sore tadi. Jadi, Zainab memilih esok hari untuk hari kepulangannya.
Hanya ada mereka berdua saat ini.
Ayah Zaki melihat keningnya sendiri. Sejak semalam ia tidak bisa tidur. Hanya sesekali memejamkan mata, tapi beban di hatinya selalu mengusik ketenangan tidurnya.
"Ayah sudah memikirkan kelanjutan pernikahan kalian, Gal. Rasanya tidak mungkin untuk melanjutkannya." Ayah Zaki menjeda ucapannya. "Kejadian malam itu telah membuat putri ayah ternoda. Ayah takut, putri ayah membuat keluarga kalian malu akan kejadian ini." Ayah Zaki berbicara dengan suara parau. Ayah dari Aline itu terpaksa mengambil keputusan sendiri. Ia yakin Aline punya pemikiran sama dengannya.
"Saya tidak pernah merasa malu, Yah. Dan tidak ada yang tau tentang kejadian ini. Saya sudah memerintahkan anak buah saya untuk mengawasi agar kejadian ini tidak tersebar." Galen membuang napas berat. "Saya akan tetap menikahi, Aline. Saya Terima jika harus menundanya, saya mengerti kondisi Aline saat ini. Tapi tolong, Yah. Jangan pernah membatalkan pernikahan ini!" ucap Galen dengan menghiba. Ia sangat tahu segal keputusan yang diucapkan oleh Ayah Zaki, Aline pasti mematuhinya.
Ayah Zaki diam membisu. ia pun bingung harus berbuat apa. Tapi ia tidak mau melemparkan beban kepada Galen. Ia takut beberapa bulan ke depan Aline mengandung anak dari pria brengsek itu.
"Kamu bersedia menunggu satu bukan kedepan. Ayah takut kalau Aline mengandung benih dari orang yang sudah memperkosanya." Ayah Zaki terlihat pasrah dengan keadaan.
"Saya bersedia. Meskipun Aline tengah mengandung saat itu, saya bersedia menjadi ayah dari anaknya nanti," ucap Galen tegas.
__ADS_1
Obrolan masih berlanjut. Ayah Zaki terlihat rapuh akan kejadian yang menimpa putrinya. Galen menegaskan tidak perlu ada yang di khawatirkan. Ia memberitahu Ayah Zaki kalau pria brengsek yang berbuat jahat kepada Aline sudah tertangkap. Galen juga tidak sabar untuk segera memberi pelajaran kepadanya.
Ada rasa syukur yang di rasakan Ayah Zaki. Proses hukum akan segera berlanjut. Hasil visum yang akan keluar esok hari akan memberatkan hukuman penjahat itu dan mempercepat prosesnya. Meskipun ia tahu semua takkan bisa mengembalikan kehormatan putrinya.
Galen pamit setelah mendapat kabar dari Aldo. Mereka sudah berada di suatu tempat. Sebelum menjebloskannya kembali ke dalam penjara. Galen ingin membuat perhitungan dengan pria tersebut.
"Bang," panggil Wendi yang menunggu kedatangannya dari tadi.
Pras dan Wendi menunggu di depan sebuah bangunan yang biasa di jadikan tempat mereka berkumpul saat Galen masih dengan jiwa bebasnya di jalanan.
"Mana bajingan itu?" tanya Galen dengan mata yang memerah tersulut emosi.
"Di dalam, Bang!" seru Pras.
Galen hendak melewati mereka berdua, tapi sebelumnya Wendi mencekal langkahnya.
"Bang," Galen menoleh dengan tatapan elangnya. "Bininya Ferdi nitip ini buat dia. Tadi pagi gue dan Pras datang ke kontrakan bininya!" Wendi menyerahkan map cokelat, Galen merampasnya cepat. Tak mau membuang waktu untuk bajingan itu. Galen lekas masuk ke dalam gedung itu. Terus melangkah cepat dengan emosi yang menguasai diri.
Brak!
.
.
.
.
.
Bersambung>>>>
__ADS_1