
Duka begitu terasa si area pemakaman karena isak tangis anak-anak yang beberapa tahun dalam asuhan Bu Rahma dan Ustadz Arifin. Anak-anak begitu sedih mendengar berita meninggal nya Bu Rahma.
Wanita yang sudah seperti ibu mereka sendiri itu, sangatlah berarti bagi anak-anak. Termasuk bagi Pras dan Wendi,
Nasehat selalu Bu Rahma berikan kala Pras dan Wendi tidak pulang ke Rumah Asuh.
Ustad Arifin mengajak semua anak-anak untuk pulang. Meski berat, mereka harus mengikhlaskan nya.
Oma Ratih, Tuan Wijaya serta Kartika pamit pulang lebih dulu. Sedangkan Aline dan Galen ikut pulang ke Rumah Asuh.
.
.
Acara pengajian malam pertama meninggalnya Bu Rahma telah usai. Rima masih dalam suasana berduka. Selama ini, Rima lah yang membantu Bu Rahma dalam mengurus anak-anak jalanan di rumah asuh. Bagi Rima mereka sudah seperti adik sendiri. Kadang Rima juga membantu mengajari anak-anak mengaji. Wanita yang kini sah menjadi istrinya itu diantar ke kamar oleh Aldo.
Setelah mengantar Rima ke kamar untuk beristirahat, Aldo menghampiri Galen yang menunggunya untuk sedikit berbincang mengenai rumah asuh.
"Apa kamu akan tinggal di sini, Do?" tanya Galen saat mereka berdua berada di teras belakang rumah asuh.
"Sepertinya begitu, Tuan! Tapi tidak selamanya," Jawabnya singkat.
"Sebaiknya kamu cari lagi pekerja untuk membantu Ustadz Arifin untuk mendidik anak-anak. Jangan biarkan istrimu nanti terlalu lelah."
"Iya, saya juga berpikir seperti itu, Tuan. mulai besok akan ada beberapa pekerja yang akan membantu di sini. Ada beberapa anak baru yang di bawa Wendi ke sini. Mereka bernasib sama tidak mempunyai orang tua dan tinggal di jalanan." ujar Aldo sambil menatap sebuah ruangan yang biasa di pakai anak-anak berkumpul.
"Atur saja semuanya, jangan sampai mereka tidak mendapat perhatian kita! Kamu bisa ambil cuti kerja mu. Kasian istrimu masih dalam keadaan berduka. Temani dia, aku akan mulai bekerja mulai besok." Galen bangkit berdiri dari duduknya hendak menghampiri Aline yang berada dalam ruangan di mana anak-anak asuh itu berada.
"Siap Tuan!" Aldo menunduk hormat saat Galen berjalan melewatinya.
Wajah -wajah sedih masih terpancar di raut wajah anak-anak yang saat ini berada di ruang kumpul. Aline terlihat sedang menghibur, menenangkan dan memberi semangat kepada mereka.
"Ingat, kalau kalian ingin melihat Bu Rahma tersenyum di syurga sana." Jari telunjuk Aline menunjuk ke atas. "Kalian harus mendoakannya. Jangan lupa juga berdoa untuk orang tua kalian!" Nasehat Aline kepada anak-anak asuh.
Galen berdiri di sisi pintu kemudian menyandarkan tubuhnya di daun pintu sambil melipat tangan di depan dada. Memperhatikan dan mendengarkan apa yang Aline ucapkan kepada anak-anak asuh.
Suami Aline itu tersenyum melihat istrinya berbicara lembut dan keibuan kepada anak-anak. Aline menoleh ke arah pintu. Ia baru menyadari dari tadi diperhatikan oleh suaminya.
Aline melihat waktu di pergelangan tangannya. "Karena waktu sudah malam, lebih baik kalian tidur. Jangan lupa bantu Kak Rima ya, dia pasti sangat merasakan kehilangan seperti kalian. Kak Aline janji untuk sering ke sini!" Aline mengakhiri obrolan ringannya bersama anak-anak.
Rima tidak ikut serta di dalamnya. Ia sudah masuk ke dalam kamar. Pengantin baru itu terlihat lelah karena beberapa hari kurang tidur karena menjaga Bu Rahma di rumah sakit. Dan acara pernikahan yang mendadak, makin membuatnya kurang istirahat.
"Benar ya, Kak Aline. Janji untuk sering ke sini!" ucap salah satu anak asuh.
Aline menunjukan jari kelingking nya."Janji, tapi itupun kalau suami Kak Aline mengijinkan." Aline menoleh kepada Galen.
Galen menurunkan dekapan tangannya.
Menyadari semua tatatapan anak-anak kepadanya. Salah satu anak asuh bernama Zizi, menghampirinya.
"Boleh ya, Tuan. Kalau Kak Aline main ke sini?" ucap Gadis kecil itu sambil menarik tangan Galen.
Galen berjongkok menyamakan tinggi dengan gadis kecil itu.
"Kenapa kami memanggil saya, Tuan?" tanya Galen sambil memegangi kedua bahunya.
__ADS_1
"Karena Kak Aldo memanggil anda seperti itu. Kata Kak Aldo, kita harus sopan dengan Tuan karena kalau bukan dari kebaikan hati Tuan. Kita tidak akan bisa hidup layak di sini!" ucap Zizi jujur.
Gadis itu sering mendapati Aldo yang sesekali datang ke Rumah Asuh menyebut nama Tuan Muda Alex. Jika mereka bertanya Tuan itu siapa, Aldo akan menjelaskan Tuan Muda Alex adalah pahlawan bagi kami.
Galen tersenyum mendengar kejujuran gadis kecil itu.
"Panggil saya Kak Galen saja." Galen mencubit pelan pipi gembul gadia itu. Umurnya diperkirakan sekitar enam tahunan. Pria itu berdiri lalu mengacak rambut Zizi. Kemudian berjalan mendekatk Aline.
"Kakak akan mengijinkan istri kakak yang cantik dan manis ini menemani kalian." Galen tersenyum manis sembari merangkul Aline. "Asalkan panggil saya Kak Galen saja. Jangan panggil Tuan." titahnua kepada anak-anak asuh.
"Bukankah itu tidak sopan, Tuan!" salah satu dari anak asuh kembali bertanya.
"Itu menjadi sopan karena saya yang memerintahkannya. Dan semua yang saya berikan untuk tempat ini dan kalian karena pemberian dari Sang Pemberi Rejeki yang dititipkan kepada saya."
Anak-anak mengantuk paham. "Untuk itu belajarlah dengan sungguh-sungguh sedari kecil, dan jangan lupa berbagi terhadap sesama."
"Baik, Kak." jawab mereka kompak.
Aline dan Galen tersenyum mendengarnya. Galen memberi sedikit nasehat kemudian pamit kepada anak-anak. Mereka berdua juga pamit pulang kepada Ustadz Arifin. Beliau meminta maaf karena tidak bisa mengantar sampai depan.
Pram dan Wendi mengantarkan sampai ke depan. Aldo baru saja terlihat keluar dari kamar. Ia sedikit khawatir kepada Rima karena melihat istrinya sangat bersedih.
"lo berdua sebaiknya lebih banyak di rumah asuh dulu, kasian Ustadz Arifin." ucapnya pada Wendi dan Pram.
"Siap, Bang! kemarin gue jarang pulang soalnya kejauhan dari konter ke rumah asuh, sedangkan paginya harus ikut jadwal kuliah," ujar Pram memberikan alasan.
"Yang penting kalian bisa membagi waktunya untuk saat ini lebih baik kalian lebih sering di sini!' tegas Galen.
"Iya, Bang! lagian, sekarang kami tinggal tunggu kelulusan saja. Doakan kami, Bang!" Wendi ikut nimbrung.
"Pasti, Bang. kami tidak akan lupa. Kami akan menganggap merka seperti Bang Galen menganggap saya dan Wendi saudara Bang Galen. Terima kasih, kalau bukan berkat Abang, kami bukanlah apa-apa. Kami juga pasti luntang lantung di jalanan kalau tidak bertemu Bang Galen," tutur Wendi menambahkan.
Aline hanya jadi pendengar saja di antara mereka. Tanpa ikut nimbrung dalam obrolan suaminya.
Dalam hati Aline merasa bangga kepada Galen. Ternyata selama berada di jalanan. Hal positif banyak Galen berikan kepada sekitarnya. Bahkan Rumah Asuh itu pun didirikan saat suaminya menghabiskan waktu di jalanan.
Mobil hitam mewah milik Galen akhirnya keluar dari pekarangan Rumah Asuh.
Pandangan Aline tak lepas dari menatap Galen sambil tersenyum.
Galen bukan tidak menyadari mendapat perhatian istrinya. Ia memberi keleluasaan Aline untuk menatapnya.
"Masih belum puas, Yang. Mandangin aku dari tadi," tegur Galen sambil terus fokus dengan kemudinya.
"Belum .. Aku masih belum puas! Beruntung banget aku Mas, dapetin kamu," cetus Aline masih tersenyum menatap Galen.
"Yang... Aku masih nyetir, nih!"
"Lah hubungannya apa?" Aline terlihat bingung.
Galen menepikan mobil mewahnya di pinggir jalan, tanpa peduli akan simbol yang menunjukan di larang parkir dekat sana.
"Kok berhenti, Mas! ini 'kan kawasan dilarang Par---"
Galen lebih dulu membungkam mulut Aline dengan bibirnya.
__ADS_1
Aline membulatkan matanya, tapi tidak menolak dengan serangan dadakan Galen. Galen meraih tengkuk leher Aline agar lebih leluasa menyesapi bibir merah berwarna cery yang menjadi candu untuknya.
Sentuhan yang tak pernah Aline tolak. Setiap sentuhan Galen mampu membuat Aline melayang.
"Ugh..." Aline semakin menikmati permainan Galen. "Mas ... Jangan di sini!" cegah Aline saat Galen menurunkan sentuhan nya menyusuri leher putih miliknya. Gigitan kecil dan kecupan membuat tubuh Akine berdesir.
Beruntung mobil Galen memiliki kaca mobil yang tidak bisa di terawang dari luar. Hanya orang yang berada di dalam mobil itu yang bisa melihat keadaan luar mobil.
Tok ... Tok...Tok...
Kaca mobilnya di ketuk dari luar. Alien memaksa Galen utnuk menyudahi sentuhannya. Kancing kemeja Aline sudah terbuka sebagian. Beberapa jejak kepemilikan sudah terlukis di daerah gundukan yang terbungkus rapi itu.
Melihat siapa yang berada di luar mobil. Galen segeran merapikan rambut Aline dan membantu mengancingkan kembali kemejanya.
"Ckkk... Menganggu saja!" gerutu Galen yang merapikan penampilannya juga.
Aline hanya tersenyum mendengar gerutuan suaminya.
"Kamu yang tidak tahu tempat, Mas!"
"Tapi kamu menikmatinya, Yang!"
Aline tertunduk malu, benar sekali ucapan Galen. Ia malah menikmati setiap sentuhan nya meski mereka sadar. Mobil yang mereka kendarai berada di jalur tidak aman.
Pak polisi kembali mengetuk kaca.
Saat kaca mobil turun sedikit. Pak polisi memberikan gerakan hormat kepada Galen.
"Malam Pak. Maaf...! Anda ... saya tilang, karena berada di tempat yang tidak seharusnya." Pak polisi mengeluarkan secarik kertas tilang. Meminta Galen menunjukkan Kartu identitas dan surat kendaraannya. "Anda lihat simbol di sana. Di larang parkir di tempat ini!" ucap polisi tegas sambil menunjuk simbol lalu-lintas.
Pak polisi terlihat terkejut saat membaca biodata Galen. Dengan malu polisi itu, kembali lagi memberikan kartu Identitas kepada Galen."Maaf Tuan, saya tidak tahu kalau anda adalah Tuan Muda Alex." ucap polisi itu pelan.
Sepertinya Galen tidak jadi kena tilang. Polisi itu mengurungkannya karena melihat identitas Galen.
Galen yang tahu alasan pak polisi tidak jadi menahan surat-surat miliknya. Galen malah memanggil polisi itu lalu berkata.
"Tilang saya sesuai kesalahan yang saya perbuat. Jangan membedakan siapa saya dengan orang lain. Jika saya salah, saya juga harus menerima hukuman atas kesalahan saya!" ucapnya pada polisi itu.
ucapan Galen membuat polisi itu kembali menuliskan surat tilang untuk Galen.
"Terima kasih..." ucap Galen sopan.
"Maaf, Tuan!" balas Pak polisi merasa tak enak kepada Tuan Muda yang sudah di tilangnya.
"Lakukan pekerjaanmu dengan baik!"
.
.
.
Baca terus kelanjutan ceritanya ya....
Makanya Galen sabar dikit dong, masa orang kaya salah parkir. Hotel banyak ko..๐๐
__ADS_1