
Esok hari
"Wah, selamat ya! Kamu berhasil melewati masa sulit. Saya yakin Kamu bisa melewatinya, pasti karena dukungan orang yang selalu setia bersama kamu." ucap Dokter Fitri seraya menoleh kepada Galen.
Pria itu selalu setia berasa di sisi Aline-istrinya.
"Ya, Saya sangat bersyukur, Dokter! Saya jadi tidak takut untuk mendekatinya." Balas Galen sambil tersenyum menatap Aline dan mendapat balasan yang sama oleh istrinya itu. "Tapi kalau tidur kadang istri saya suka tiba-tiba terbangun gitu, kenapa ya?" tanya Galen dengan nada khawatir.
"Di bawah alam sadarnya, masih tersimpan sedikit ketakutan. Jadi secara tidak langsung pasti akan terjadi seperti itu. Nanti juga akan hilang dengan sendirinya. Terus bisikan ucapan lembut yang menenangkan hati dan jiwanya saat ia terpejam."
Aline dan Galen mengangguk paham. Keduanya masih mendengarkan kata demi kata dari psikiater muda itu.
"Apa selanjutnya aku masih harus kontrol ke sini, Dok?" tanya Aline setelah satu jam mereka konsultasi.
"Saya rasa cukup. Saya melihat tidak ada tekanan, ketakutan dan rasa cemas lagi dalam diri nyonya. Rileks, ungkapkan apa yang mengganjal di hati, agar tidak berkelanjutan dengan adanya pikiran yang membuat hati anda resah. Dalam hal ini kalian berdua harus kompak."
"Saya mengerti, Dok!" balas Galen.
"Terima kasih, sudah membantu saya." Aline berdiri lalu mengulurkan tangan ke arah Dokter Fitri.
"Sama-sama," Dokter Fitri ikut berdiri membalas jabatan tangan dari Aline beralih kepada Galen yang juga mengikutinya.
***
Usai konsultasi dengan Dokter Fitri, Aline dan Galen berjalan meninggalkan ruangan tersebut.
Sambil berpegangan tangan mesra, pasangan pengantin itu saling melempar senyum bahagia. Terus berjalan melewati beberapa ruangan. Tiba di ujung ruangan, ruangan yang terdengar isak tangis dari beberapa bayi yang ada di dalam ruangan tersebut.
"Mas..." Aline menghentikan langkahnya seraya menoleh ke arah ruangan bayi yang terlihat jelas dari luar ruangan. Genggaman tangan mereka terlepas. Tangan Aline beralih menempel pada kaca bening di hadapannya.
Tirai yang menutupi ruangan itu akan di geserkan jika siang hari, agar para orang tua atau keluarga dari para bayi-bayi itu bisa melihatnya dari luar.
"Kenapa, Sayang?" tanya Galen yang ikut sejajar berdiri disampingnya.
"Mereka lucu-lucu sekali!" ucap Aline sambil menatap takjub melihat bayi-bayi mungil yang tertidur pulas dalam box bayi masing-masing.
"Kita akan segera memiliki nya," bisik Galen di telinga Aline yang membuat tubuh nya berdesir. "Kamu mau berapa anak?" tanya Galen membalikkan tubuhnya jadi bersandar pada dinding.
"Mas, maunya berapa?" Aline malah bertanya balik.
"Hmmm ..., sepertinya dua saja cukup sesuai anjuran pemerintah," jawabnya setelah berpikir.
"Aku mau banyak, nggak cuma dua!" tolak Aline sambil menggelengkan kepala. Mendengar itu Galen sangat bersemangat.
"Ok. siap Sayang! Setelah ini kita harus mulai produksi, supaya cepat menghasilkan. Harus rajin dan sering berduaan!" ucapnya dengan semangat membuat Aline mendelik ke arahnya.
__ADS_1
"Mas... Ih... ngomongnya!" decak Aline.
"Loh emang bener 'kan? kalau ingin cepat jadi, kita harus kerja sama, Yang!" dalih Galen seakan mengibaratkan kegiatan berhubungan suami istri seperti sebuah pekerjaan. Tapi benar pekerjaan halal, kerja membuat keturunan.
Aline menggelengkan kepala menanggapi ocehan suaminya. Ia kembali menatap ke dalam ruangan bayi. Aline melihat sesosok pria tengah berdiri di depan kotak kecil bening yang biasa disebut inkubator. Di dalam sana terlihat jelas bayi mungil sedang menggerakan kakinya. Ada sesuatu yang ganjal dan mengganggu penglihatan Aline. Satu kaki bayi mungil itu tidak mempunyai telapak kaki, bahkan kakinya hanya sampai betis saja.
Hatinya terenyuh melihat itu. "Mas ...," panggil Aline pelan sambil mengarahkan tatapannya kepada pria yang ia lihat di dalam ruangan bayi.
Galen mengikuti arah tatapan Aline. "Bukankah itu, Derald? Apa mungkin Chyntia sudah melahirkan?" tanya Galen.
Aline mengangkat bahu menanggapi pertanyaan suaminya. "Lihat bayinya, Mas!" titah Aline.
Galen pun menurutinya. Ia memicing seakan tidak percaya dengan apa yang ia lihat.
"Kasihan sekali bayinya, Sayang!" ucap Galen sambil terdiam terpaku melihat makhluk kecil yang terus menggerakkan kakinya.
Saat sibuk memperhatikan bayi tersebut. Keduanya tak sadar Derald sudah keluar ruangan. Dengan sangat pelan, Derald menutup kembali pintu ruangan. Dirinya terdiam saat melihat Aline dan Galen sedang berada di luar ruangan.
"Aline ...," panggil Derald dengan suara pelan tapi Aline dan Galen masih bisa mendengarnya. Keduanya menoleh ke sumber suara.
Sungguh Aline tidak menyangka bisa berhadapan lagi dengan pria yang dulu pernah memiliki cintanya, orang yang meninggalkan luka perih dan kebohongan yang teramat sakit untuknya. Sampai Aline sempat menjadi seseorang yang penuh dendam. Tapi rasa syukur akan terbongkarnya kebohongan Derald yang selama ini ia terima, Aline bisa bertemu dengan Galen. Bisa merubah penampilannya, menjadikannya wanita yang penuh semangat untuk perubahan hidupnya.
Aline diam membeku. Rasa benci yang dulu ia rasakan jika mengingat perlakuan Derald memang sudah tak tersisa lagi, kini melihat Derald dalam kondisi seperti ini membuat hati Aline merasa iba kepadanya. Sangat terlihat jelas wajah lelah pria tersebut.
Galen pun diam memperhatikan interaksi keduanya. Tak ada rasa cemburu, karena Galen yakin hati Aline sepenuhnya telah menjadi miliknya seorang.
"Hai ... Apa kabar?" sapa Derald seraya mengulurkan tangan ke hadapan Aline.
Aline menatap Derald lalu beralih kepada tangan yang terulur kepadanya. Tanpa ragu ia menerima uluran tangan itu. Mereka pun saling berjabat tangan.
"Baik ...!" jawab Aline singkat.
Derald bergantian berjabat tangan dengan Galen. Keduanya saling melempar senyum.
"Mmm... Apa Chyntia sudah melahirkan? cepat sekali waktunya?" Tanya Aline ragu. " Maaf, maksudku--"
"Bayi kami lahir prematur!" sela Derald, pria itu mengalihkan tatapannya menembus ruangan bayi di mana putrinya berada.
"Usia kandungannya baru tujuh bulan, ada sesuatu yang terjadi terhadap Chyntia sampai bayi kami harus lahir lebih cepat." Derald tersenyum miris, seakan berat ia menunjukannya.
"Dimana Chyntia?" Aline kembali bertanya.
Diam ... Derald belum membuka suara untuk memberikan jawaban.
Galen berbisik pelan kepada Aline. Seakan mengerti kalau dua orang yang pernah berhubungan itu memerlukan ruang untuk berbicara.
__ADS_1
"Sayang ... Aku tunggu di lobi saja, Hubungi aku kalau terjadi sesuatu," bisik Galen.
Ada rasa khawatir saat ia meninggalkan Aline bersama Derald, tapi menurut Galen keduanya harus saling berbicara tentang masa lalu, paling tidak saling menerima dan memaafkan keadaan yang sudah berlalu dan terjadi saat ini.
Aline dengan cepat menatap suaminya, sambil menggelangkan kepala. Kedua netra suami istri itu saling menatap, seakan berbicara hanya lewat tatapan mata. Galen seakan mengijinkan Aline untuk berbicara dengan Derald berdua saja.
Tanpa menunggu jawaban dari Aline. Galen berjalan meninggalkan mereka berdua.
Aline sama sekali tidak bergeser dari tempatnya berdiri saat ini. Tubuhnya kembali berbalik, ikut menghadap ruangan di depannya, di mana ia melihat bayi Derald yang membuka mata sambil mengisap jempolnya.
Hening sesaat, tak ada pembicaraan di antara mereka berdua.
"Chyntia berada di ruang ICU, kondisinya semakin buruk pasca operasi pengangkatan bayi kami." Derald menjawab pertanyaan Aline sebelumnya.
"Lalu apa yang terjadi dengannya? Kenapa bisa kondisinya kayak gitu?" balas Aline lirih tanpa menatap lawan bicaranya. Mereka berdua fokus pada objek yang sama untuk di tatap. Bayi kecil yang masih merah, sangat mungil. Karena usianya yang belum cukup untuk di lahirkan.
Derald menarik napas lalu membuangnya perlahan. "Chyntia beberapa kali melakukan aborsi dan meminum obat untuk mengugurkannya. Tapi ... Sang Pemilik Kehidupan tetap membiarkannya hidup sampai saat ini. Dengan kondisinya yang cacat."
Aline membungkam mulutnya sendiri sambil menggelengkan kepalanya. Tak terasa satu tetes air mata keluar dari sudut matanya. Aline merasakan kesedihan yang luar biasa. Ia sangat menyayangkan sikap Chyntia yang tega berbuat seperti itu kepada darah dagingnya sendiri.
"Kenapa kamu tidak mencegahnya?! Apa kamu tega melihat dia lahir seperti itu?" lirih Aline. Ia berpikir Derald dan Chyntia tidak berperasaan. Tega berbuat jahat pada calon bayi mereka.
"Aku terlambat mengetahuinya. Chyntia menutupinya dariku. Dia berambisi untuk melenyapkan bayi kami setelah mengetahui jenis kelaminnya. Papa Chyntia tidak menginginkan cucu perempuan Ia hanya mengakui bayi laki-laki. Mungkin karena itulah Chyntia bersikeras mengugurkannya." Derald berucap sangat sedih, matanya sudah berkaca-kaca sambil terus menatap putri kecilnya.
Aline diam sambil medengarkan Derald yang terus menjelaskan sesuatu kepadanya. "Melihat kondisi putriku, Aku sadar bahwa ini karma untukku karena memperlakukanmu buruk, dulu! Aku ... minta maaf, Aline." Derald tertunduk dalam seakan menyesali apa yang sudah diperbuatnya. "Memang terlambat untuk berkata seperti ini sekarang. Setelah karma menimpaku. Mungkin kedepannya aku harus bisa melindungi putriku dari cemoohan orang - orang yang mungkin akan memandang kekurangannya. Maaf ... Maafkan perlakuan ku dan Chyntia yang buruk padamu, Aline!" Mohon Derald dengan suara tertahan bercampur tangis.
.
.
.
.
.
Bersambung
Apa yang kita perbuat di masa lalu, pasti kita akan menuai hasilnya di kemudian hari.
Karma pasti berlaku, jika tidak kepada kita yang berbuat bisa jadi kepada orang yang berkaitan dengan kita.
Karena itu, Berhati-hatilah bersikap. pandai-pandailah membawa diri. kelak baik buruk yang kita lakukan di masa lalu, akan kita rasakan hasilnya di hari kemudian. Belajar mengikhlaskan dan memaafkan. Bisa mengurangi beban agar kita lebih mudah melangkah meniti kehidupan yang lebih baik.
.
__ADS_1
.