
"Kamu yakin baik-baik saja? Kita bisa membatalkannya, akan aku atur waktu lagi untuk ke Jakarta," tanya Tuan Braja kepada Sandra yang baru saja masuk ke dalam mobil.
Tuan Braja terlihat khawatir melihat kondisi Sandra. Wajahnya pucat dan terlihat lemas. Tapi wanita itu bersikeras mengaku baik-baik saja.
"Saya yakin, Tuan! Kalau kita menunda pertemuan ini mereka bisa menganggap kita mangkir dan tidak bisa bersikap profesional. Jangan sampai mereka memilih mencari peternakan lain untuk bekerja sama. Saya yakin peternakan Tuan Braja akan semakin berkembang jika bekerja sama dengan perusahaan ini!" Sandra meyakinkan.
Tuan Braja menghela napas pelan. "Iya juga, tapi saya khawatir padamu. saya tidak mau kamu sakit." ucap Tuan Braja dengan terang memberikan perhatian kepada Sandra.
Sandra merasakan itu, ia menoleh sekilas ke arah Tuan Braja yang sedang mentapnya serius.
Seulas senyum Sandra berikan. "Saya baik-baik saja, Tuan! Terima kasih sudah mengkhawatirkan saya. Sebaiknya kita pergi sekarang, supaya tidak kesiangan sampai sana," ajak Sandra membuat Tuan Braja mengangguk pelan.
Tuan Braja pun melajukan mobilnya perlahan keluar dari kampung tempat tinggal mereka.
"Sand!" panggil Tuan Braja memecah keheningan. Sandra pun menoleh menatap Tuan Braja. "Biasakah kamu tidak memanggilku dengan sebutan Tuan?" pinta Tuan Braja.
"Memangnya kenapa, Tuan?" tanya Sandra.
"Aku ingin kita lebih dekat dan akrab saja, kamu bisa panggil nama, atau sebutan lain. Misal Mas atau---"
"Maaf, saya tidak bisa!" Sandra terdiam sesaat. Tuan Braja terkejut mendengarnya, tetapi pria itu masih tetap fokus dengan kemudinya. "Pertama saya adalah pekerja di peternakan Anda. Kedua saya merasa tidak enak hati dengan pekerja yang lain. Lagipula saya merasa tidak pantas buat Anda, Tuan!" lanjut Sandra.
"Kenapa kamu bilang seperti itu? Apa kamu sudah punya pilihan atau memang sudah punya pasangan? Maaf! Saya hanya menebak karena saya tidak pernah melihat kamu bersama laki-laki," sambung Tuan Braja.
"Saat ini saya sendiri." jawab Sandra singkat tanpa ingin melanjutkan.
Tuan Braja mengangguk pelan. "Apa boleh saya mendekati kamu?" lanjut Tuan Braja tidak ingin keheningan kembali diantara mereka.
"Saya tidak pernah membatasi siapapun yang akan mendekati." balas Sandra yang membuat Tuan Braja tersenyum lega. Pasalnya pria itu sangat berharap bisa lebih dekat dengan wanita yang saat ini berada di sampingnya itu.
Obrolan terus berlanjut sesuai kesepakatan mereka. Tuan Braja meminta Sandra mengubah panggilannya, meskipun harapannya bisa dipanggil Mas atau Abang, panggilan Pak juga lebih baik daripada Tuan.
Sesampainya di Jakarta tepatnya di sebuah gedung tinggi bertuliskan MD Grup. Sandra dan Tuan Braja berada. Sandra dan Tuan Braja berjalan ber-iringan. Pertama mereka masuk lalu menuju resepsionis, menanyakan pemilik perusahaan yang sudah membuat jadwal temu dengannya.
__ADS_1
Kedua tamu itu dipersilahkan untuk menunggu sebentar di ruang tunggu. Sebab pemilik perusahaan itu sedang berada dalam perjalanan. Joni-Asisten Bara tiba lebih dulu sehingga bisa menyambut kedatangan Tuan Braja dan Sandra.
Saat ini mereka berada di ruang pertemuan. Sambil menunggu pemilik perusahaan tiba. Joni menjelaskan beberapa poin yang harus di teliti lebih dulu oleh pemilik peternakan. Tuan Braja membacanya dengan teliti dan hati-hati.
Di saat yang bersamaan Joni mendapati ponselnya berdering. Nama Bosnya muncul di benda pipih itu. Hanya kata siap dan baik yang selalu terucap oleh Joni. itu membuat Sandra tersenyum geli tanpa bersuara. Wajah Joni terlihat sangat lucu menurutnya.
"Siap, Bos."
"Baik, Bos."
Joni berucap serius meskipun hanya lewat sambungan telepon begitu terlihat kalau pria itu begitu menghormati bosnya.
"Maaf, Tuan Braja! Sepertinya bos saya agak lama sampai di sini. Beliau terjebak kemacetan. Mohon maaf, akan membuat kalian menunggu lagi!" ucap Joni sopan sedikit menundukkan kepala.
"Tidak apa-apa, Pak Joni. Kami akan menunggunya," balas Tuan Braja.
Tuan Braja kembali membaca poin yang sudah tertulis dalam Perjanjian kesepakatan itu, sedangkan Sandra ijin untuk ke toilet.
Saat berada di depan toilet, Sandra mendapati petunjuk bahwa toilet tersebut mengalami kerusakan membuat wanita itu harus mencari toilet lain yang bisa dipakai. Office boy yang sedang bekerja menyarankan untuk mengunakan toilet di lantai bawah.
"Perusahaan besar tapi toiletnya cuma sedikit," gerutu Sandra seraya melangkah cepat segera menuju toilet.
Sandra memilih menggunakan tangga darurat daripada memakai lift. Baru beberapa langkah menuruni anak tangga rasa mual yang ia rasakan dari tadi tiba-tiba menghilang. Sandra berhenti sejenak takutnya rasa itu kembali datang.
"Kayaknya gak jadi muntah deh." Sandea berpikir untuk kembali ke ruang pertemuan. Ia kembali menaiki tangga. Tepat berada di anak tangga terakhir, Sandra merasakan pusing yang menyerang hebat di kepalanya. Ia berusaha berjalan menuju ruang pertemuan.
Bersamaan dengan lift yang terbuka Sandra merasakan tidak kuat menahan rasa pusingnya, ia pingsan tak sadarkan diri. Tubuhnya hampir saja terjatuh kalau saja seorang pria tidak menangkap tubuhnya.
"Hei.. Nona Anda kenapa?" Refleks Bara menangkap tubuh Sandra. Ia belum sadar siapa yang ia tolong saat itu.
Rambut yang terurai menutupi wajah Sandra.
Office boy yang tadi sempat melihatnya menghampiri mereka.
__ADS_1
"Ada yang bisa saya bantu, Pak!" Office boy menghampiri Bara.
"Siapa wanita ini?" tanya Bara.
Office boy itu memperhatikan baju yang di kenalan Sandra.
"Dia wanita yang tadi keluar dari ruang pertemuan, Pak!" sahut Office boy itu.
"Berarti dia tamuku!" ucap Bara yang mendapatkan anggukan kecil dari office boy itu. "Beritahu Joni aku membawanya ke klinik bawah!"
"Siap, Pak!" Ofiice boy itu berlari ke arah ruang pertemuan.
Sedangkan Bara memperhatikan wanita yang saat ini ada dalam rangkulannya.
"Nona sadarlah!" perlahan Bara mengurai rambut yang menutupi wajah wanita itu.
Alangkah terkejutnya ia saat melihat Sandra. Wanita yang selama ini ia cari.
"Sandra!" ucapnya dengan terkejut.
Bara dengan sigap langsung mengangkat tubuh Sandra, menggendongnya masuk kembali ke dalam lift membawanya ke lantai satu. Dimana terdapat ruang perawatan atau klinik untuk para pekerja yang mengalami sakit.
Bara terlihat khawatir pertemuan pertama dengan Sandra wanita yang selama ini ia cari harus dengan situasi seperti ini.
.
.
.
Baca kelanjutan ceritanya ya.
Akhirnya mereka bertemu...
__ADS_1
Baraagaimana selanjutnya ya....