Fake Love

Fake Love
Amnesia Anterograde


__ADS_3

"Gal ... Kamu sadar!" Oma Ratih terharu melihatnya. Tetesan air mata bahagia mengalir begitu saja di pipinya.


Tak lupa Oma Ratih menekan tombol darurat di belakang brankar. Agar petugas medis segera datang ke ruang perawatan.


"Oma ..., " panggil Galen dengan suara pelan seraya meringis menahan sakit di kepala bagian belakang.


"Kamu jangan banyak bicara dulu! tunggu dokter akan memeriksa keadaanmu. Oma senang sekali kamu sudah sadar." Oma Ratih mencium kening cucunya yang baru sadar pasca operasi beberapa hari yang lalu itu.


Rasa bahagia terpancar di wajahnya. ternyata benar usaha Aline yang berbicara melalui sambungan telpon dengan Galen membuahkan hasil. Oma Ratih langsung teringat kepada Aline. Ia berjanji akan memberi kabar kepada Aline jika Galen sadar.


"Tunggu sebentar, Sayang! Oma akan mengabari Aline kalau kamu sudah sadar." Oma Ratih meraih ponselnya di atas nakas tak jauh dari brankar pasien.


Galen mengernyitkan alisnya. "Aline!" ucap Galen terlihat berpikir.


"Iya, Aline kamu baru saja mendengarkan suaranya, tak lama kamu sadar, Nak! dia pasti sangat senang mendengar berita ini." Oma Ratih hendak menghubungi Aline tapi gerakannya tertahan karena ucapan Galen.


"Aline siapa, Oma? apa Aku mengenalnya!" tanya Galen menatap Oma Ratih penuh selidik.


Oma Ratih membungkam mulutnya sendiri. Ucapan dokter akan efek yang ditimbulkan akibat operasi itu akhirnya terjadi. Galen tidak mengingat Aline.


"Kamu ingat, Oma?" Galen mengangguk pelan.


"Aline, apa kamu tidak mengingatnya, Nak!"


Galen mengerutkan alis seraya menggeleng kepala pelan. Oma Ratih masih tak percaya dengan apa yang terjadi.


Tak lama dokter Saragih beserta perawat datang ke ruangan itu. Lekas dokter tersebut memeriksa kondisi Galen.


"Alhamdulillah, sudah sadar ya! bagaimana ada yang terasa sakit? luka bekas jahitan di kepalanya sudah mulai mengering. Apa ada keluhan lain?" tanya Dokter Saragih.


"Dok, cucu saya tidak mengingat seseorang. Ya, dia tidak mengingat Aline." Oma Ratih menjelaskan kejadian tadi. Galen tidak mengenal Aline kekasihnya.


"Kita bicara di ruangan Saya, Nyonya! dan kamu istirahat lah dulu, jangan terlalu banyak berpikir. Rileks agar cepat dalam penyembuhan." Dokter Saragih melepas stetoskop yang berada di tangannya lalu memasukannya ke dalam kantung seragam putihnya. Serta mengajak Oma Ratih menuju ruangannya. Ia akan menjelaskan sesuatu yang terjadi kepada Galen.


"Gal ... Oma tinggal sebentar. Kamu istirahat dulu." Oma Ratih meninggalkan Galen bersama anak buah Tuan Wijaya yang berjaga di depan ruangan itu.


Oma Ratih memerintahkan mereka untuk mengawasi Galen.


Sepeninggal Oma Ratih, Galen tak lekas beristirahat. Ia mencoba mencerna perkataan Oma Ratih mengenai Aline.

__ADS_1


"Aline ... siapa dia? apa hubungannya dia denganku?" gumam Galen sambil mengingat Aline. Tapi sedikitpun tak ada bayangan tentang Aline dalam benaknya.


Galen terus berpikir, tangan kirinya memijit pelan dahi yang merasa sedikit pusing karena berusaha mengingat siapa Aline.


"Siapa Aline? kenapa tak ada bayangan tentangnya sedikitpun," gumam Galen.


"Gal ... semangat ya, bangun! Aku tunggu janjimu," Suara seorang wanita terngiang di telinga Galen. "Kenapa hanya suara itu yang Aku ingat.


Galen memilih memejamkan matanya. Semakin ia berpikir, luka operasinya semakin terasa.


...๐ŸŒด๐ŸŒด๐ŸŒด...


"Efek samping akibat operasi penyedotan cairan itu menyebabkan cucu anda mengalami Amnesia Anterograde. jenis amnesia yang membuat sebagian ingatan yang belum lama tersimpan di memory otak hilang sementara akibat benturan keras di kepala. Penyebabnya hipokampus atau bagian yang terdapat di otak besar bagian kepala belakang mengalami cedera. Hipokampus itu sendiri berfungsi untuk membentuk dan mengatur ingatan serta mengambilnya kembali setelah beberapa terapi." Dokter Saragih menjelaskan secara rinci kepada Oma Ratih dengan menunjukan hasil CT Scan yang di ambil setelah tindakan operasi beberapa saat lalu di layar monitor.


Oma Ratih begitu serius melihatnya. "Apa ingatan cucu saya akan kembali, Dok?" tanya Oma Ratih penasaran. Terlintas Aline dalam pemikirannya kali ini.


"Perlahan bisa tapi jangan memaksakannya. Sadar cepat beberapa hari pasca operasi saja sudah menjadi keajaiban untuk cucu Anda. Biasanya seseorang yang menjalani operasi besar di kepala akan sadar dalam waktu 2-3 minggu. Dekatkan saja ia dengan orang-orang yang hilang dalam ingatannya. itu akan lebih membantunya memunculkan memory yang hilang." Dokter bedah dan syaraf itu memberikan beberapa saran agar Galen perlahan dapat mengembalikan ingatannya.


Oma Ratih termenung mendengarnya. Ada rasa bahagia dan lega saat melihat Galen sadar. Tetapi rasa bingung menyelimuti pemikiran Oma. Ingin memberi kabar kepada Aline akan sadarnya Galen, tetapi Oma Ratih tak tega memberitahu Aline kalau cucunya itu tidak mengingat dirinya. Pasti Aline sedih mendengarnya.


Perlahan Oma Ratih berjalan meninggalkan ruangan Dokter Saragih. Beliau juga memberitahu Tuan Wijaya bahwa Galen yang sudah kembali sadar dan kondisi yang dialaminya saat ini. Semua berkat Aline yang membantunya.


Oma Ratih pun mengijinkannya. Ia akan memberikan pengertian kepada Galen jika sampai mengatakan keberadaan papanya.


"Hati-hati, Gar! Oma berdoa yang terbaik untukmu, cepat kembali dan bawa Aline ke sini!" Oma Ratih mengakhiri sambungan obrolan nya bersama Tuan Wijaya melalui sambungan telpon.


Oma Ratih sempat menanyakan keberadaan Nyonya Mariska kepada Tuan Wijaya. Terakhir ia melihat wanita itu ketika operasi Galen dilakukan lalu menghilang begitu saja sampai saat ini. Sebenarnya tak jadi masalah untuk Oma, hanya saja ia kesal tidak ada sedikitpun perhatiannya untuk Galen, meskipun menjadi ibu tiri setidaknya Nyonya Mariska menanyakan kabar dari anak tirinya itu.


Tuan Wijaya berdalih Mariska sudah kembali ke Indonesia untuk menemani Kartika. Anak perempuan Tuan Wijaya yang juga dekat dengan Oma Ratih dan Galen.


Kini, Tuan Wijaya berada dalam pesawat pribadi yang akan membawanya kembali ke tanah air. Beliau sudah bertekad untuk menyelesaikan masalahnya lebih cepat. kabar angin yang ia dengar dari Oma Ratih tentang Zaki yang tengah menunggu kedatangannya membuat Pria paruh baya itu semakin semangat untuk datang.


Rasa khawatir terhadap putranya masih di rasa tapi ketidakhadiran dirinya saat ini juga bentuk dari sayangnya. Kalau bukan karena dirinya yang sudah menghina Aline tidak mungkin Zaki bisa kembali murka padanya. Selepasnya bercerai dari Mariska Tuan Wijaya akan menata kehidupannya kembali. Ia Ingin melihat anak dari wanita yang ia cintai bisa bahagia.


...๐ŸŒฑ๐ŸŒฑ๐ŸŒฑ...


Kartika beberapa kali menghubungi Tuan Wijaya tapi tak diangkat. Mungkin karena berasa di dalam pesawat. Tuan Wijyaa lebih memilih beristirahat sejenak dalam perjalanannya menuju Tanah Air.


Gadis itu juga mencoba menghubungi Mamanya tapi ponsel mamanya malah tidak aktif beberapa hari ini. Akhirnya Kartika menghubungi Oma Ratih dan meminta Penjelasan kepadanya.

__ADS_1


"Mungkin Papamu sedang dalam penerbangan ke sana," ujar Oma Ratih saat Kartika mempertanyakan keberadaan Papanya.


"Oh, pantas saja, Papa tidak angkat telpon dariku," ucap Kartika saat berbicara dengan Oma Ratih dari sebrang telpon.


Akhirnya Kartika berbicara dengan Oma Ratih, menanyakan kondisi Galen di sana. Kartika mendoakan agar kakaknya itu bisa cepat pulih kembali. Oma Ratih juga sempat menghujat Nyonya Mariska kepada Kartika. memberitahunya akan ketidaksopanan Mamanya yang pulang untuk menemani dia tanpa pamit kepada Oma Ratih.


"Mama pulang ke Indonesia, Oma?"


"Ya, Papamu bilang seperti itu!" jawab oma Ratih.


"Maafkan Mama Mariska ya, Oma!" Kartika merasa tak enak dengan kelakuan Mamanya terhadap Oka Ratih.


"Dia sudah biasa seperti itu, jangan contoh sikap jelek Mamamu ya, Nak!" Oma Ratih sedikit menasehati.


"Iya, Oma."


"Ya, sudah! Oma mau istirahat dulu, mumpung kakakmu juga sedang tidur,"


"Oh, iya Oma, maaf Kartika mengganggu! Oma jaga kesehatan ya, salam sama kak Galen. Nanti Kartika usahakan untuk menyusul kesana."


"Nanti Oma sampaikan,"


Sambungan telpon itu pun berakhir. Karena lelah Oma Ratih beristirahat dalam satu ruangan yang sama dengan Galen.


Kartika mencerna perkataan Oma Ratih, yang berucap Mamanya kembali untuk menemaninya.


Kartika mulai curiga dengan Nyonya Mariska. "Dimana Mama sekarang? Apa mungkin Mama bersama lelaki itu?" pikir Kartika.


Dia beberapa kali melihat Mamanya jalan mesra dan pergi berdua dengan seorang laki-laki yang bukan Papanya.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2