Fake Love

Fake Love
Ajang Penghargaan Film Indonesia


__ADS_3

Aline kembali ke taman menemui Oma Ratih dengan dua botol air mineral di tangannya.


"Maaf, Oma! Aline agak lama. Tadi sebelum beli air, Aline ke toilet dulu. Kebelet pengen pipis. Hehe ..., ini buat Oma!" Aline menyodorkan air mineral botol yang ada manis-manis nya gitu ke Oma Ratih, sebelumnya tak lupa Ia membuka kemasan tutup botol lalu memasukkan sedotan kedalamannya, agar Oma Ratih bisa minum dengan nyaman.


"Oma kira, Kamu pergi gitu aja ninggalin Oma!" sahut Ima seraya menerima air yang diberikan Aline padanya.


"Baik hati sekali gadis ini? kenapa wajahnya mirip sekali dengan orang yang ku kenal ya?" batin Oma Ratih saat melihat dengan teliti wajah Aline di balik kacamata besarnya.


"Kenapa, Oma?โ€ tanya Aline seraya melihat Oma sedang memandangnya dengan serius.


"Tidak kenapa-napa, Oma hanya sedang memikirkan sesuatu saja!" balas Oma Ratih memalingkan wajahnya dari tatapan Aline.


"Nyonya besar ...," panggil pria muda berpakaian jas serba hitam menghampiri Oma Ratih seraya menunduk sopan. Dia merupakan salah satu anak buah dari cucu kesayangan Oma Ratih.


"Ada apa, Saya sudah bilang sama Kamu, kalau Saya sudah bosan di sini baru menghubungimu!" seru Oma Ratih.


"Maaf Nyonya Besar, tetapi Tuan muda Alexander sedang mencari anda. Dia berada di mobil sekarang ini." Pria itu menunjuk mobil hitam mewah yang terparkir tak jauh dari taman tersebut.


"Ck ... cucu durhaka sudah berapa lama dia tidak mengunjungi Oma nya? merepotkan saja. Kenapa tidak dia saja yang datang ke sini menemuiku?" gerutu Oma Ratih seraya bangkit dari duduk santainya bersama Aline.


"Tuan muda harus segera menemui Tuan Anggara di kantor, Nyonya!" anak buahnya itu memberi informasi.


Aline hanya diam melihat perdebatan antara Oma Ratih dan anak buah cucu kesayangannya itu.


"Aline ... sayang! Oma minta maaf, sepertinya harus ikut pulang sekarang sama orang ini." Oma Ratih melirik sinis kepada pria berpakaian serba hitam itu.


Wajah dingin datar tanpa ekspresi ditunjukan pria itu.


"Enggak pa-pa, Oma. Kita bisa ngobrol lagi nanti!" ujar Aline seraya meraih tangan Oma Aline lalu menyalaminya.


"Ya, Oma senang sekali bisa kenal sama Kamu, Nak!" Oma Ratih memeluk sebentar tubuh tinggi Aline sebelum berpisah dengannya.


Oma Ratih melambaikan tangan ke arah Aline ketika meninggalkan taman itu. Suasana di sana sudah mulai sepi. Satu persatu keluarga yang bersantai sore di sana beranjak pulang. Jam sudah mendekati waktu magrib.


Lembayung senja memancarkan warna kuning keemasan membuat sinar yang terpancar ke arah danau memantulkan kembali cahayanya. keindahan taman kota di sore hari ini lah yang membuat Aline merasa rindu akan kedamaian dirinya dulu.


Aline berdiri mematung melihat keindahan Taman Kota. Esok hari ia harus bersiap untuk menghadiri undangan pertama kali untuknya Karena namanya masuk dalam beberapa kategori untuk meraih penghargaan.


***


Di dalam mobil seorang pria duduk menunggu Oma kesayangannya. Gaya pakaian yang dipakainya saat ini sangat jauh dari kesehariannya. penampilannya saat ini mencerminkan seorang CEO perusahaan yang tegas dan dingin.


Dari dalam kendaraanya pula ia memandang ke arah danau, dimana seorang gadis berpenampilan cupu tersenyum ke arah Oma Ratih yang melambaikan tangan kepada gadis tersebut.


"Gue kangen berantem sama lu, Cepol," batin Galen.


Kesepakatan antara dirinya dan sang Ayah. Membuat pria yang biasa berpenampilan preman dengan penuh kebebasan itu mau tidak mau harus mengikuti kemauan Tuan besar Anggara Wijaya.


"Hai, Oma! apa Kabar?" Galen memeluk erat dan mencium pipi kiri kanan Oma kesayangan itu.


"Dasar cucu durhaka, bukannya datang sendiri menemui Oma di taman, malah duduk santai di dalam mobil," ucap Oma Ratih dengan nada marah sedikit membentak, kalau melayangkan tas kecil di tangannya ke kepala Galen.


"Aduh ... Oma. Sakit tau!" Galen memegangi kepalanya yang terasa sakit akibat di pukul oleh Oma Ratih.


"Rasain."


"Kalau Alex keluar nanti bakalan jadi bahan perhatian orang-orang di taman Oma! secara tampannya cucu Oma ini 'kan, paripurna nya kebangetan!" Galen menaik turunkan kedua alisnya merasa bangga pada diri sendiri.

__ADS_1


Galen biasa menyebutnya dirinya Alex dihadapan keluarga besarnya. bahkan semua orang yang bekerja kepada Tuan Anggara Wijaya memanggil dirinya Tuan muda Alex.


Bahkan semua karyawan yang bekerja di kantor ayahnya sangat hapal dengan nama G. Alexander. Calon pemimpin perusahaan Aksara Grup yang sebentar lagi akan dialihkan kepadanya.


Aline pulang setelah melewati liburannya. Besok ia harus kembali bekerja. Malam ini Aline tidur dengan nyenyak setelah melewati hari yang menyenangkan di sela libur bekerja.


Hari ini Aline hanya melakukan beberapa kali pemotretan di gedung Mentawai indah milik Bu Syahrani. Lokasi dan suasana yang cukup mendukung untuk pemotretan membuat hasil karya jepretan kamera dari Wisnu sang fotografer handal patut di acungi jempol.


Bu Syahrani menyuruhnya kembali ke butik, tempat di mana Aline sering menghabiskan waktu untuk pemotretan gaun-gaun berkelas. yang baru lounching.


"Aline ...," panggil Bu Syahrani seraya membawa gaun indah berwarna hitam di tangannya.


"Iya, Bu!" Aline menoleh ke arah Bu Syahrani. Baru saja ia menyelesaikan pemotretan terakhirnya di jam lima sore. saat ini waktunya ia bersiap untuk pulang dan mempersiapkan penampilannya untuk acara nanti malam.


"Ini gaun yang akan kamu pakai nanti malam.


Pasti akan terlihat cantik jika dipakai olehmu!" ujar Bu Syahrani perancang busana gaun-gaun mewah dan elegan.


"Ibu, bisa saja. Semua pasti akan terlihat cantik kalau memakai gaun dari rancangan Anda," seru Aline seraya menghampiri Bu Syahrani untuk membantunya memegangi gaun yang dibawanya.


Mereka tertawa bersama mengobrol santai di waktu senggang keduanya. Bu Syahrani juga memberikan tips khusus kepada Aline agar tampil elegan dan anggun di acara yang pastinya akan dihadiri aktor ternama dan beberapa petinggi perusahaan yang akan hadir di sana.


Beredar kabar bahwa penerus pemimpin perusahaan Aksara Grup yang terkenal itu akan datang menghadiri acara tersebut. Tak pernah ada yang mengenali dan bertemu anak dari pemilik perusahaan yang berpengaruh dalam semua bidang di negara ini. Hanya nama yang selalu terdengar dan dikenal banyak orang.


G. Alexander adalah nama yang tak asing. Namanya dikenal sebagai penerus pemimpin Askara grup. Tetapi Wajah dari pemilik nama tersebut masih menjadi perbincangan, karena si pemilik nama itu tak pernah mau memperlihatkan wajah tampan dan tegas yang disebut-sebut oleh sebagain orang.


Semenjak kepergian mama tercintanya dari dunia ini. Pria ini tak pernah mau muncul bersama Tuan Anggara Wijaya, pemilik dari Askara Grup. Apalagi semenjak pernikahan kedua sang Ayah dengan Mantan asisten mamanya di Rumah Beautiq' klinik sekaligus tempat pembelajaran karakter yang di bangun oleh Almarhumah Ibu Indira Pratiwi, mama dari tuan muda Alex.


Bu Syahriani mengakhiri obrolannya bersama Aline karena model cantik itu harus bersiap untuk menghadiri undangan APFI (Ajang Penghargaan Film Indonesia).


"Selesai," ucap Risa saat membantu Aline menaikan resleting gaun mewah yang di pakainya.


"Sanggul acak aja, biarkan beberapa helai rambut terurai tambahan satu lagi." Risa meraih tas perlengkapan dihadapannya mencari sesuatu di sana.


"Apa?"


"Ini." Risa memasangkan kalung berwarna silver cantik dengan badulan berbentuk bunga berukuran kecil, membuat penampilan Aline makin elegan dan anggun.


"Wah ... cantik sekali kamu malam ini, Aline," ujar Bu Syahrani saat memasuki ruang make-up.


"Cantik 'kan Bu, siapa dulu yang Make-up, Risa!" dengan sombong Risa menyebut namanya.


Bu Syahrani dan Aline hanya tersenyum menanggapinya.


"Terima kasih Bu, Semua berkat bantuan Ibu. kalau tidak ada ibu saya tidak akan bisa seperti sekarang ini!" Aline memegang kedua tangan Bu Syahrani.


"Sama-sama, semoga malam ini malam yang berharga untukmu. Saya harus segera kembali ke ruangan, ada tamu sedang menunggu di sana!" sambung Bu Syahrani seraya meninggalkan Aline dan Risa di ruang make-up


"Let's go. waktunya kita berangkat. untung kita berangkat dari sini. kalau tidak pasti macetnya di jalan enggak ketulungan," ucap Risa seraya memberikan tas kecil yang harus di bawa Aline.


"Terima kasih, Sa. Your are my best assistant!" ujar Aline kemudian berdiri melangkah meninggalkan ruangan tersebut bersama Riri yang penampilannya pun berbeda dari sebelumnya.


Aline ditemani Risa menghadiri acara tersebut, karena Aline belum mempunyai pasangan untuk diajaknya ke sana.


***


Tampak depan Gedung mewah Balai Permadani terlihat ramai oleh beberapa orang yang datang memenuhi undangan dalam acara tersebut. Banyak artis terkenal dan artis layar lebar yang datang silih berganti. Satu persatu dari mereka berjalan melewati karpet merah yang di gelar disepanjang pintu masuk gedung sampai ke tempat acara.

__ADS_1


Salah satunya Derald dan Chyntia yang harus aja turun dari mobil putih mewah yang berhenti tepat di pelataran depan gedung tersebut. mereka berdua memberikan senyum terbaiknya dan sapaan hangat mereka berikan kepada para pemburu berita yang mengabadikan moment kedatangannya.


Chyntia berjalan anggun bergandengan dengan Derald di sampingnya.


Semua wartawan yang berada di sana tak ingin melewatkan untuk memotret pasangan yang pernah Viral itu. Berita tentang mereka kian terkalahkan oleh model sekaligus artis pendatang baru yang di gemari ibu-ibu berdaster dan anak remaja ini.


Gaya pakaian dan keseharian dari artis pendatang baru itu sukses menghipnotis para penggemarnya.


"Rame banget, Ris! duh malu banget ya kalau datang tanpa pasangan ke sini?" Aline berucap seraya memperhatikan sekeliling gedung tersebut.


"Makanya cari, Mbak! jangan hobinya nyari duit terus. Sekali-kali cari pasangan," ejek Risa.


"Jangan gitu dong, Ris! jangan bikin Mbk down nih."


Mobil yang dikendarai Risa berhenti tepat di pelataran gedung. Karpet merah sudah menanti untuk dilaluinya. Perasaan Aline makin tak menentu. Ini adalah kali pertama ia datang ke acara sebesar ini.


"Mbak tunggu sebentar di sini, Aku parkir mobil dulu di depan sana! hebat ya, sampai tempat parkir juga sudah di sediakan untuk seorang Aline Barsha," puji Risa.


"Mbak malu dong, Ris? masa turun sendirian."


"terus mau giman lagi, lebih malu enggak jadi turun. Tuh wartawan udah siap dari tadi, pasti mereka tau bahwa yang ada di dalam mobil ini Mbak Aline," cerocos Risa.


Aline menghela nafas panjang. Mau tidak mau, dia harus segera turun. Satu kaki ia turunkan terlebih dahulu, memperlihatkan kaki putih yang jenjang miliknya. Gaun yang di pakai Aline mempunyai belahan yang tak terlihat jika berdiri, tetapi saat melangkah gaun itu akan membelah seiring kakinya melangkah. Kini Aline berdiri tegap saat mobil yang dikendarai Risa meninggalkannya sendiri di depan gedung Permadani tempat acara akan berlangsung.


Kilauan cahaya blitz dari kamera para wartawan begitu menyilaukan Indera penglihatannya. Aline ragu untuk melangkah, Risa juga belum datang menghampirinya.


Matanya terpejam sesaat memberanikan diri untuk berjalan seorang diri di atas karpet merah yang penuh dengan sorotan pandang mata jika Aline melewatinya.


Ketika matanya terpejam, bau harum dari bunga lili putih merebak ke indera penciumannya. Memberikan ketenangan di hati, Aline tersadar ia sedang berada di mana saat ini saat melihat buket bunga lili di hadapannya Aline membulatkan matanya.



Tangan Aline terulur dengan sendirinya. Menerima sodoran bunga indah ke arahnya. Saat Aline menoleh ke samping, ingin mengetahui siapa orang yang memberinya buket bunga seindah itu. Aline kembali terkejut dengan Pria yang berdiri di sebelahnya. Penampilannya sungguh sangat jauh berbeda dari biasanya. Hanya aksesoris kecik di telinga yang tak pernah dilepasnya.


Pria tersebut tersenyum hangat ke arah Aline.


"Hai"


"Lu," Aline terkejut di buatnya.


.


.


.


.


bersambung...


Jangan lupa like komen vote buat Teteh... bait teteh tuh makin semangat buat update bab baru..


yang punya banyak koin bisa atuh kirim kirim ke sini...


Bunga atau kopi juga boleh


๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜

__ADS_1


Selama hangat dari Teteh author Mayya_zha


__ADS_2