Fake Love

Fake Love
Menikmati Indahnya Malam


__ADS_3

"Lu gak pa-pa Bang?" tanya Wendi saat Galen membuka pintu mobilnya.


Orang-orang yang berada di sekitarnya saling meringsut untuk melihat kondisi korban.


"Gue baik-baik aja!" jawab Galen lalu mengalihkan tatapannya kepada orang sekitar. " Maaf ya, sudah buat perjalanan kalian terganggu. Ban mobil saya bocor, jadi mobil yang saya kendarai sedikit oleng. Alhamdulillah saya dan calon istri saya baik-baik saja!" Galen menangkupkan kedua tangan di depan dada dengan sedikit membungkuk kepada orang sekitar.


"Syukur kalau tidak kenapa-napa, Mas!" ucap salah satu dari mereka.


"Ya, kami baik-baik saja. sekali lagi mohon maaf sudah mengganggu perjalanan kalian."


"Lah dia baik-baik aja, kenapa gak langsung keluar dari mobil tadi, bikin orang sekitar khawatir aja," bisik Pram yang baru datang menyusul Wendi.


Perlahan mereka yang berhenti dan melihat kecelakaan itu mulai meninggalkan tempat kejadian. Wendi dan Pram membantu petugas kepolisian yang tiba di tempat kejadian agar jalur lalu lintas kembali lancar.


...***...


Aline dan Galen terlihat sedang berbicara dengan petugas kepolisian. Menceritakan kronologi yang terjadi. Pria itu meminta maaf atas kejadian yang terjadi telahvmengakibatkan kemacetan di jalan tersebut.


"Terima kasih, Pak! sekali lagi saya minta maaf atas kejadian ini!"


"Tidak apa-apa tuan, lain kali berhati-hati dalam berkendara." Petugas kepolisian pun berlalu dari tempat kejadian karena semua masalah sudah teratasi.


Galen tak bebas begitu saja. Pria itu mendapat surat peringatan tilang dari polisi tadi. Sebagai warga negara yang mematuhi hukum dan aturan Galen menerima itu. Ia akan menjalani proses sidang tilang sesuai jadwal yang di tentukan.


"Mana kunci motor, lu?" Galen menengadahkan tangannya, meminta kunci motor milik Pram.


Pram sedikit bingung dengan Galen. Sepertinya ada hal aneh yang terdengar, tadi saat berada di Kota Tua, nada bicara Galen terdengar kaku. Tapi kali ini, pria yang berada di hadapannya itu seperti sikap Galen yang ia kenal.


"Woy, malah bengong!" sentakan Galen menyadarkan Pram.


Pram melempar kunci motor dari tangannya. Dengan tepat Galen menangkap benda tersebut.


"Kalian tunggu Aldo datang kemari. Ia akan bereskan semua ini, gue pinjam motor lu, besok lu berdua ke tempat biasa!" ucap Galen membuat kedua orang yang ada di hadapannya cengo.


Galen meraih tangan Aline agar mengikutinya. Sebelum melangkah jauh, Galen menepuk pundak Wendi yang ikut termangu terlihat sedang berpikir.


"Gak usah bingung, gue udah kembali. Cepetan pulang, ntar Ustad Arifin nyariin kalian, gagal loh jadi calon menantu baik untuk anaknya!" ucap Galen sambil memakai helm, ucapannya membuat Wendi tersadar.


"Wah, bener firasat gue, ingatan lu dah balik, Bang!" teriak Wendi saat Galen dan Aline sudah menaiki motor gede milik Pram.


"Lu mau kemana, Bang? hati-hati!" seru Pram saat melihat kedua pasangan itu sudah siap melaju.


Galen menunjukkan jari jempolnya kepada mereka berdua.


"Yank, pegangan,"


"Kita mau kemana, Gal?" Aline melingkarkan tangannya di pinggang Galen. tapi posisi mereka masih sedikit berjarak.


"Nganterin calon bini, pulang! takut kalau kemalaman ada yang jagain di depan pintu sambil megang golok."


"Ih, kalau beneran Ayah Zaki nungguin begitu, emang mau?"


Galen bergidik ngeri mendengarnya.


"Jangan, Pol. E-eh, Yank! Aku takut lihat sangarnya Ayah Zaki kalau marah."

__ADS_1


"Dih," desis Aline.


Grunggg!!


Galen menarik gas membuat Aline menubruk punggung kokoh Galen. Kini posisi merka tanpa jarak. Pria yang berada di hadapan Aline itu memgunggingkan senyum.


"Sengaja deh, bikin kaget aja," desis Aline sebal lalu mencubit as pinggang Galen.


"Auch, sakit Yank!"


"Lagian suka jahil deh!"


"Tapi suka 'kan?" goda Galen membuat Aline menarik kedua sudut bibirnya.


Galen menarik tangan Aline agar mempererat pegangannya.


"Pegangan yang kenceng," seru Galen di balik helmnya lalu menurunkan kaca pelindung helm tersebut.


"Ya," Aline berpeganagn erat memeluk Galen.


"Woy, banyak drama banget sih mau naik motor juga, kapan nyampenya," sindir Pram.


Gerungan motor di berikan untuk Pram dan Wendi. sebel motor itu melaju meninggalkan tempat kejadian kecelakaan.


"Dih, sotoy! mulai deh, baru sebentar ingatannya balik tapi udah ngajak ribut," Pram menggelengkan kepalanya.


"Sue, bener- bener apes banget sih, kita Wen! malah disuruh ngurusin mobil ini. Bang Aldo masih belum sampai juga, lama bener, Asli tuh Bang Galen bener-bener ingatannya udah balik sepenuhnya kalau kaya gini!" gerutu Pram yang sedari tadi sudah merasa jengkel dengan Galen.


"Yeh, lu mah bukannya emang itu harapan kita. Supaya ingatan Bang Galen balik lagi!"


Tak lama Aldo datang bersama anak buahnya. mengecek mobil yang di bawa Galen. Benar dugaan Aldo ada orang yang menyabotasenya.


Pram dan Wendi saling pandang saat mendengar penuturan asisten Galen itu. mereka berdua mengingat- ngingat dengan siapa saja yadi mereka bertemu saat bersama Galen.


Tak ada hal aneh yang patut di curigaan saat itu. Tapi Pria itu tetap akan menyelidikinya lebih lanjut. Aldo akan mencari tau kebenarannya. Ia tidak mau kecolongan lagi untuk yang kedua kalinya.


*


*


"Yank!" panggil Galen sambil terus fokus mengendarai motor.


"Hm." Aline mendekatkan wajahnya. Gadis itu menopangkan dagu di atas pundak Galen membuat wajahnya begitu dekat dengan Galen.


Pelukan tanpa jarak itu membuat keduanya semakin dekat.


"Benar kita langsung pulang aja."


"Iya,"


"Berhenti sebentar ya, di atas sana" Galen menunjuk jalan layang yang ada di depannya.


"Ya"


Galen melajukan cepat motornya menuju tempat yang tadi ditunjuk olehnya.

__ADS_1


Pria itu melepaskan helam yang ia pakai Saat motor yang mereka kendarai berhenti di atas jalan layang. Disana mereka bisa melihat suasana malam kota jakarta yang indah dengan lampu dan jalan yang terlihat ramai.


Aline pun melepaskan pegangannya di pinggang Galen. belum sampai terlepas, Galen sudah menarik tangan itu kembali.


"Tetap seperti ini, peluk aku dari belakang."


Aline menuruti kemauan Galen.


"Terima kasih sudah bersabar menungguku." Aline makin mempererat pelukannya.


"Aku akan selalu menunggumu, menemanimu, dan bersabar untukmu, Gal!" Aline menyandarkan kepalanya di punggung kokoh Galen.


Keduanya menikmati malam ini dengan saling mencurahkan rasa rindu. Berbicara dari hati ke hati.


Terangnya cahaya lampu di Jakarta pada malam hari menambah keindahan malam itu. Keduanya saling merangkai rencana kehidupan mereka di masa depan.


Tertawa lepas dan keceriaan keduanya saat ini menjadi kebahgiaan yang tak pernah mereka lupa.


"Aku kira kamu akan lepas juga kejadian saat kamu masih amnesia. kalau kamu lupa berarti kamu tidak ingat kalau kamu sudah ...."


"Melamarmu!" sela Galen.


"Kamu ingat?"


"Pasti lah, aku tak kan pernah lupa, Sayang. Kita puaskan kebersamaan malam ini, besok-besok pasti susah bertemu dengan mu, pasti Oma akan melarang kita sering-sering bertemu."


"Kenapa?" Aline menunjukan wajah bingungnya.


"Kita kan menjalani masa pingitan, Yank!"


Aline tersenyum. "Benar juga."


Galen mengacak gemas rambut Aline, berdua bersama gadis itu seperti tak ada beban dalam hati Galen. jiwanya lepas bahagia.


Obrolan santai dan canda masih saja terlontar dari mulut Galen.


Aline bersandar di bahu pria itu, keduanya tengah berdiri di sisi pembatas jalan, menikmati keindahan malam kota Jakarta.


karena tak hanya mereka yang berada di sana. Ada beberapa pasangan lain juga yang tengah menikmati indahnya malam ini.


.


.


.


.


Maaf, kemarin tak sempat up, Author dalam perjalanan balik lagi ke rumah. Rasanya tak masih tak percaya ibu mertua telah tiada, ya karena kita jarang berjumpa jadi rasa kehilangan itu tak terlalu berasa. Tapi kehilangan tetap ada. Semoga Beliau di tempatkan si tempat terindah di sisi Allah SWT. Amin.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2