Fake Love

Fake Love
Pelukan Hangat


__ADS_3

"Oma," ucap Aline terkejut saat kedua netra mereka bertemu.


"Kamu..." Oma Ratih menegaskan tatapannya, merasa tidak mengenali gadis yang ada di hadapannya itu.


Aline yang Oma Ratih kenal biasa menggunakan kacamata bulat besar membuatnya terlihat cupu. Hanya senyuman dengan lesung pipi lah yang membuat Oma Ratih bisa mengenalinya.


Aline tersenyum senang bisa bertemu Oma Ratih.


"Aline... " Oma Ratih berucap raguragu seraya berpikir.


Aline mengangguk seraya mengulurkan tangan ke arah Oma Ratih. Diraihnya tangan yang terlihat sedikit keriput itu kemudian diciumnya takzim.


"Iya, Oma. ini Aku!"


"Oh... my god, senang sekali bisa bertemu kamu, Nak! sedang apa kamu di sini?" Oma Ratih memeluk gadis cantik bertubuh kecil itu kemudian meregangkannya perlahan.


Pertanyaan Oma Ratih mengingatkannya akan Galen. Aline merasa tak enak jika langsung berpamitan kepada Oma Ratih.


"Aku mau, jenguk-- ." Aline menjeda ucapannya. "Jenguk pacar Aline, Oma!" jelas Aline dengan nada terbata saat berbicara.


Oma Ratih tersenyum mendengarnya. "Berarti sibuk dong? tadinya mau Oma ajak ke kantin kita ngobrol sebentar di sana!" Oma Ratih terlihat sedikit kecewa.


Aline menggeleng lalu mengangguk membuat Oma Ratih tertawa renyah melihat tingkahnya.


"Kamu ini lucu sekali, Nak! gak usah merasa tak enak hati sama Oma. Kita bisa ngobrol lagi nanti. Oma mau ke ruangan dokter syaraf dulu, mau konsultasi perkembangan kesehatan cucu Oma!" tutur Oma Ratih.


"Maaf ya, Oma! Aline memang sedang buru-buru." Aline merasa tak enak hati dengan Oma.


Oma Ratih mengelus pelan pipi putih Aline seraya tersenyum kepadanya.


"Tak apa, sayang. Pergilah! pacarmu pasti sudah menunggu," titah Oma Ratih.


Aline memeluk erat tubuh wanita tua itu. Mereka saling berpelukan hangat. Kemudian saling melepas dan berpamitan untuk kesibukkan masing-masing.


Aline keluar dari lift sedangkan Oma Ratih masuk ke dalam lift mereka bertukar tempat. Gadis itu melambaikan tangan sampai lift tertutup rapat.


Aline segera melangkah cepat menuju ruangan perawatan Galen. Saat membuka pintu gadis itu terkejut melihat kosongnya ruangan tersebut. Tak ada Galen di sana.


"Kenapa tidak ada orang di sini? di mana kamu Gal?" gumam Aline seraya berbalik dari ruangan itu kemudian berjalan tergesa menuju meja perawat yang berada di ujung ruangan. Lebih baik menanyakan kepada suster daripada harus mencari ke setiap ruangan.


Aline tidak mengetahui Galen pindah ruangan. gadis itu begitu kesal mengingat ponsel miliknya tertinggal di mobil.

__ADS_1


Pasti Galen sudah memberi kabar kepadanya dan menghubungi Aline.


"Permisi Sus, pasien atas nama Galen Alexander ko tidak ada di ruangannya, ya?" tanya Aline sopan kepada salah satu perawat yang berjaga.


"Maaf, Nona! Anda siapanya Tuan Alex, ya? Saya harus melaporkan dulu siapa saja yang menjenguk Tuan Alex hari ini." Suster itu memberi penjelasan.


"Saya--, maaf suster tidak jadi. Saya salah bertanya." Aline segera berbalik setelah mendengar penjelasan perawat itu.


Ia takut dilaporkan kepada Tuan Wijaya oleh perawat akan kedatangannya ke rumah sakit. Akan makin sulit baginya untuk bertemu Galen.


Lebih baik ia mencari keberadaan Galen sendiri dengan berkeliling ruangan. Gadis itu harus ektra cepat untuk itu karena waktu jam besok sebentar lagi akan ditutup.


...๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ...


Galen harus berpindah ruangan. Pria yang rambutnya sudah tumbuh sedikit itu merasa jengah karena hampir tiap hari Bella datang menemuinya. Ia meminta perawat memberi tahunya terlebih dulu jika ada yang mencari keberadaannya di rumah sakit ini.


Setelah jarum infus terlepas dari tangannya. Galen merasa jenuh harus menunggu hasil pemeriksaan yang menentukan ijin pulang untuk dirinya. Sedari tadi Galen resah menunggu kekasihnya datang menemuinya.


Berulang kali ia mencoba menghubungi Aline tapi tak ada jawaban dari kekasihnya itu. Ingin sekali Galen menyuruh Aldo mencari tahu keberadaan Aline, tapi dia masih mempunyai perasaan.


Aldo sudah sangat di sibukkan oleh pekerjaan Galen yang beberapa hari ini ditinggalkannya. Pria itu tidak mau lebih membebani asistennya. Meski Aldo akan selalu melakukan perintah darinya sesulit apapun itu.


"Oma lama banget, ya? pasti melimpir dulu deh keliling rumah sakit," tebak Galen.


---***---


Aline merasa lelah telah berkeliling lantai delapan yang terdiri dari puluhan ruangan.


Di ruangan dekat tangga darurat. Aline berdiri seraya menghela napas, merasa pasrah karena pembertihuan waktu jenguk kepada para pengunjung sudah habis.


Baru saja kakinya hendak melangkah ingin menuruni anak tangga, mulutnya dibekap dari belakang, tubuhnya di seret pelan menuju sebuah ruangan di dekat tangga itu.


Aline tidak bisa melihat siapa yang sudah melakukan itu padanya. Tenaga dirinya tak sebanding dengan tenaga pria yang sudah membekapnya.


Tok tok tok!


"Permisi Bapak, Ibu! waktu jenguk sudah habis mohon meninggalkan ruangan karena pasien harus segera beristirahat!" tegur security yang berkeliling ke setiap ruangan. Suara teguran itu tersengar dari ruangan sebelahnya.


Satu persatu pengunjung keluar dari ruang perawatan. Pasien yang di rawat di rumah sakit itu hanya diperbolehkan ditunggu oleh satu orang saja tidak lebih. Dan itu jadi peraturan yang harus dipatuhi oleh semua pasien yang dirawat di Rumah Sakit Soedibyo.


"Jangan berisik! atau kamu akan di usir paksa oleh mereka karena tidak mengikuti peraturan di rumah sakit ini," bisik pria yang membekap mulutnya dengan tangan kekar yang terdapat sedikit perban di punggung tangan pria itu, menutupi bekas jarum infus yang sudah terlepas.

__ADS_1


Aline hapal betul dengan pemilik suara itu. Napas pria itu berhembus hangat di belakang telinganya membuat kulit Aline sedikit meremang.


Aline menoleh kebelakang sedikit mendongak agar bisa melihat wajah dari pria yang selama ini ia rindukan.


Perlahan Galen melepas dekapan tangan di mulut Aline. Gadis itupun berbalik menghadap ke arahnya.


Mereka saling diam tanpa bicara. Kedua netra itu saling mengait. Pancaran rasa rindu tercurahkan di sana.


Tangan Aline terulur menyentuh wajah Galen. Parasnya terpahat sempurna dengan rahang tegas, bibir tipis dan berhidung mancung. Tangan itu terus mengabsen seluruh anggota tubuh yang ada ditubuh Galen.


Pria yang ia rindukan selama ini berada di hadapannya. memperlihatkan senyum dan bulu halus yang tumbuh tipis di sekitar cabang sampai ke dagu. Beberapa hari di rumah sakit membuat Galen tidak bisa berseka diri.


"Cepol..., " panggil Galen lembut dan pelan seraya tersenyum simpul ke arahnya.


"Galen...," balas Aline pelan.


Tanpa banyak bicara Aline segera memeluk tubuh Galen. Kecemasan, rasa khawatir, rindu yang tertahan saat ini ia tumpahkan bersama air mata yang tak kuasa menetes saat memeluk pria yang ada di hadapannya.


Tangis Aline pecah dalam pelukan hangat Galen. Mereka saling memeluk erat. Saling menumpahkan rasa rindu yang membendung selama ini.


.


.


.


.


Bersambung...


Terima kasih yang sudah setia membaca tulisan askara teteh ini.


Mohon maaf jika masih banyk kesalahan kata atau tulisan.


Jangan lupa dukung terus karya ini ya!


like


komen


vote dan gift untuk teteh Author

__ADS_1


Karena dukungan kalian itu sangar berarti untuk karya teteh ini. ๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜


__ADS_2