
Keduanya sama-sama berjalan saling mendekat. Saat jarak mereka hanya beberapa jengal, keduanya terdiam.
Tatapan mereka kembali beradu. Tetapi bukan kilatan marah kali ini.
Pancaran rasa rindu terpancar dari kedua netra para sahabat itu. kepala tangan Tuan Wijaya mengendur. Pukulan pelan ia layangkan pada pundak Ayah Zaki sambil berkata, "Sudahlah Aku cape, Zak! harus berselisih paham denganmu, Maafkan sahabat mu yang bodoh ini!" lirih Tuan Wijaya.
Senyum bahagia terukir di wajah Ayah Zaki. Beliau merangkul tubuh pria yang ada di hadapannya dengan wajah lebam karena pukulan darinya. Kedua sahabat itu saling berpelukan. Saling memaafkan satu sama lain.
"Sebuah keajaiban, Aku mendengar pengakuan seseorang yang berkuasa mengakui kebodohan dari dirinya," sindir Ayah Zaki kemudian menepuk pelan pundak Tuan wijaya. Seakan memberikan jawaban bahwa ia telah memaafkan sahabatnya itu. Mereka saling meregangkan pelukan. saling bertukar kata-kata yang ada dalam benak masing-masing.
Bu Winda bersyukur suaminya dan Tuan Wijaya tidak meneruskan balas membalas pukulan. Ia sempat khawatir kepada suaminya karena yang Bu Winda tahu, Tuan Wijaya adalah pemegang sabuk hitam dan ilmu bela dirinya patut diperhitungkan.
"Kamu tau, Jay! Sebenarnya Aku sudah memaafkan mu dari dulu. Aku bersyukur dalam kesengsaraanku, pertolongan dari Babeh Rojali aku dapatkan. Mungkin kalau kamu tidak melakukan itu Aku tidak bisa bertemu Winda. Wanita yang begitu sabar menemaniku dalam kesusahan saat itu. Di balik kesengsaraan ada rasa syukur yang Aku rasakan. " Ayah Zaki menaikkan kedua alisnya menggoda Bu Winda. Wajah Bu Winda pun merona menahan malu lalu menunduk.
Aline merasa lega melihatnya. Ia kira Ayahnya dan Tuan Wijaya akan kembali baku hantam.
"Ayah!" panggil Aline pelan.
Kedua sahabat yang sedang melepas rasa rindu itu meregangkan pelukan mereka.
Tuan Wijaya Menoleh ke arah Aline yang matanya berkaca-kaca karena melihat sahabat yang lama berselisih kini bersama dan saling memaafkan.
"Sini, Nak!" titah Tuan Wijaya pada Aline.
Aline melirik Ayah Zaki dan mendapat anggukan dari ayahnya itu. Dengan langkah pelan Aline mendekat ke arah Tuan Wijaya.
"Nak, tolong maafkan sikap Om tempo hari karena sudah menghinamu!" Tuan Wijaya memegangi kedua pundak Aline saat Aline berada di hadapannya.
Aline mengangguk pelan. "Aku sudah memaafkan, Om, ko! melihat kalian sudah berbaikkan Aline sangat bersyukur, Om," ujar Aline.
"Sifat kamu memang jatuh dari ayahmu, Nak! Om merasa lega. Perasaan Om kali ini terasa tenang, tak ada yang mengganjal di hati." ungkap Tuan Wijaya.
Persahabatan yang lama terputus karena kesalahpahaman kini bersatu kembali. Bertahun- tahun rasa sesal di pendam oleh Tuan Wijaya. Hari ini ia terbebas dari rasa penyesalan itu.
Mereka berempat akhirnya duduk bersama di teras yang biasa digunakan bersantai oleh Ayah Zaki.
Bu Winda pamit undur diri untuk mengambil air hangat dan salep untuk mengobati Tuan Wijaya. Awalnya Aline yang akan mengambilnya, tapi Ibunya melarang. Ia memberi kesempatan Aline agar lebih mengenal Tuan Wijaya lebih jauh.
"Bagaimana keadaan Galen setelah sadar, Om!" Aline memberanikan diri bertanya. Sedari tadi ia ingin menanyakan hal itu kepada Tuan Wijaya. Karena Oma Ratih hanya memberitahu keadaan Galen baik-baik saja tapi tidak dengan amnesianya.
__ADS_1
"Alhamdulillah Galen baik-baik saja, tapi ada satu hal yang belum Oma sampaikan kepadamu!" Tuan Wijaya menjeda ucapannya, ia merasa ragu menyampaikannya kepada Aline. lalu kembali berucap. "Galen mengalami Amnesia Anterograde saat ini, dan Om berniat ingin mengajakmu bertemu Galen agar ia bisa mengingat kembali separuh ingatannya yang hilang." Tuan Wijaya berbicara seraya memandangi respon dari Aline.
Aline tampak sedih mendengarnya, "Berarti dia tidak mengenaliku, Om?"
Tuan Wijaya mengangguk pelan.
Aline melirik Ayahnya kemudian menunduk. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Ingin rasanya menemui Galen dan membantunya. Tapi ia takut ayahnya tidak memberinya ijin.
"Aline ingin sekali bertemu Galen, Om! tapi--"
"Pergilah, Ayah memberimu ijin, Nak!" ucapnya pada Aline sontak membuat gadis itu mendongak menatap Ayah Zaki. Anggukan pelan didapatnya dari Ayah kesayangan nya itu.
"Terima kasih, Ayah!"
Senyum bahagia mengembang di wajah cantik putrinya. Ayah Zaki melihat itu.
"Nak, coba susul ibumu, kenapa lama sekali mengambil air hangatnya!" titah Ayab Zaki kepada Aline.
"Baik, Yah! tunggu sebentar ya, Om."
Tuan Wijaya mengangguk pelan.
Aline meninggalkan Ayah Zaki dan Tuan Wijaya berdua di teras. Selagi menunggu Bu Winda kembali. Ayah Zaki bertanya tentang Mariska yang tidak tampak kehadirannya bersama sahabatnya itu.
"Heh... Aku akan bercerai dengannya!"
"Kenapa? bukankah hubungan kalian baik-baik saja," Ayah Zaki heran mendengarnya.
"Baik-baik saja di depan umum tapi tidak dengan kenyatannya. Dia sudah berkhianat padaku. Wanita itu berselingkuh. Tapi Aku juga bersalah dalam hal ini. Meskipun dalam kebutuhan lahir, Mariska menerima gelimangan harta tapi tidak dengan kebutuhan batin. Aku tidak bisa melakukannya dengan Mariska. Kamu tau Aku lelaki yang paling setia dengan cinta. Aku tidak bisa melakukannya tanpa cinta," Tuan Wijaya bercerita singkat.
Rutinitas dahulu kini tercipta kembali. mempunyai tempat bertukar pikiran dan bercerita membuat beban Tuan Wijaya berkurang.
"Tak mau menyentuh tapi jadi Kartika," sindir Ayah Zaki.
Tuan Wijaya mendelik ke arah Ayah Zaki. Orang yang menyindirnya hanya cengengesan kecil.
"Itu karena mabuk dan itu kedua kalinya aku menyentuhnya. Dan Kartika terbukti darah dagingku. Aku akan memperjuangkannya."
"Permisi, Mas!" sapa seorang wanita membawa baskom kecil berisi air hangat dan handuk kecil beserta salep menghentikan obrolan mereka.
__ADS_1
"Loh, kemana Winda, Nab? bukankah dia yang mengambil ini semua. Kemana istriku itu?" tanya Ayah Zaki kepada Jainab.
"Istri, Mas lagi cek bahan masakan yang baru datang! Ck baru di tinggal sebentar udah di tanyain. Enggak bakalan kabur dia!" cebik Jainab.
"Ya sudah, kamu tolong obati lukanya," titah Ayah Zaki kemudian menunjuk Tuan Wijaya dengan dagunya.
"Emang gak bisa sendiri ya?" Jainab merasa malu harus berhadapan dengan laki-laki.
Jainab adalah saudara jauh dari Babeh Rojali di Cianjur. Semenjak menjadi janda, ia sering jadi bahan gunjingan tetangganya di kampung. Jadi, Jainab lebih berhati-hati jika berdekatan dengan semua lelaki.
"Ini bukan Cianjur, Nab! gak akan ada yang nyindirin kamu! Jay, Saya kedepan dulu sebentar," Tuan Wijaya mengangguk pelan menyetujuinya.
"Saya tinggal sebentar, Jay! Tuk ..." Ayah Zaki menjitak kepala Tuan Wijaya saat ia berdiri dari duduknya dan handak turun dari teras lesehan itu.
"Aww ... apalagi sih, kenapa malah jitak kepala!" Tuan Wijaya sedikit meringis seraya mengusap kepalanya.
"Satu lagi ketinggalan. Itu balasan karena sudah menghina putriku!" Ayah Zaki tertawa renyah bisa mengerjai Tuan Wijaya. Ia lekas meninggalkan mereka berdua.
Sepeninggal Ayah Zaki, Jainab mendekati Tuan Wijaya yang duduk lesehan.
"Maaf, Tuan! Saya bantu obati lukanya?
Jainab tersenyum tipis ke arah Tuan Wijaya. Lesung pipi seperti Aline terlihat di pipi putih janda tanpa anak itu, ternyata ada keturunan yang menurunkan lesung pipi kepada Aline.
Tanpa sadar Tuan Wijaya membalas senyum Jainab dan lebih memilih diam saat wanita itu mengompres luka lebam di pipinya. tatapan Tuan Wijaya tak beralih dari wajah manis Jainab membuat wanita itu semakin canggung dibuatnya.
.
.
.
.
Terima kasih sudah setia di karyaku.
Tinggalkan jejak kehadiran kalian. agar aku terus semangat up.
Mampir juga ke karya temanku momy ida. ceritanya seru.
__ADS_1
buat nambah bacaan kalian.