Fake Love

Fake Love
Keberanian Sandra


__ADS_3

"Kenapa Mama tidak pernah berubah. Apakah aku berdosa jika saat ini tidak memenuhi keinginannya. Apa yang Mama lihat dari pria parasit itu. Apa ini sebabnya Ayah memilih menceraikan Mama dulu, daripada terus bertahan dengan semua tingkah dan keinginan Mama," gumam Bara. Sejenak ia terdiam dengan pemikirannya. Keluarga Aya Wira malah terlintas dalam benaknya.


Ayah yang dulu pergi darinya. Lebih tepatnya bukan pergi tapi dipisahkan. Nyonya Mariska sempat memanipulasi cerita bahwa suaminya dulu yang bersikap kasar dan selalu melakukan kekerasan pada dirinya dan Bara. Padahal Nyonya Mariska sengaja mencari perhatian Almarhum Nyonya Indiria agar bersimpati kepadanya.


Kelembutan hati Nyonya Indira dan rasa empati yang sangat tinggi membuat Nyonya Mariska mulai menyusun rencananya. Terlebih ia sangat menyukai Tuan Wijaya yang kaya dan tampan pada saat itu.


Bara mengetahui hal itu setelah ia bertemu dengan Ayahnya beberapa tahun lalu. Sang Ayah sangat bersyukur bertemu kembali dengan putranya.


Putra yang selama ini ia rindukan, bukan tidak ingin mencari tapi ia teringat dengan ucapan Mariska, jika ia berani menunjukan diri di hadapan Bara. Rumah tangganya yang baru akan hancur. Jadi selama ini ia hanya menahan kerinduan kepada putra hasil pernikahannya dengan Mariska.


Bara sendiri lah yang mencari tahu keberadaan sang Ayah karena mencari tahu lewat mamanya sama sekali tidak membuahkan hasil. Mama Mariska selalu mencegah dan menutupinya. Sebab ia takut mantan suaminya itu akan selalu meminta uang kepada Bara, jika tahu keadaan anaknya sukses seperti sekarang ini.


Tapi semua tidak benar. Ternyata setelah bertemu Ayah Wira, ayah kandungnya itu. Semua itu tidak terjadi. Ayahnya hanya bekerja sebagai buruh di bengkel milik temannya itu sama sekali tidak meminta uang kepadanya meskipun beliau tahu Bara adalah seorang pengusaha sukses.


Ayah Wira bahkan sering menolak jika Bara hendak memberinya bantuan untuk anak dan istrinya. Bara mempunyai dua adik tiri yang masih bersekolah.


Keluarga baru ayahnya juga sangat ramah dan sederhana. Kadang Bara lebih betah berada di sana. Kehangatan keluarga ia dapatkan dalam kesederhanaan keluarga Ayah Wira yang baru.


"Sudah lama tidak berkunjung ke sana. Besok jadwalku tidak terlalu padat, sepertinya aku bisa menyempatkan waktu sebentar." Bara sedikit mengulas senyum dengan rencananya untuk berkunjung ke rumah ayahnya.


Sampai di apartemen miliknya Bara langsung merebahkan diri di kasur empuknya.


Nada dering dari ponselnya membuat kenyamanannya harus berakhir. Bara melihat nama Kartika dalam layar ponselnya.


Ia sering bertukar kabar dengan Kartika adiknya. Kartika yang jauh di luar negeri sering menanyakan kabar Mama nya. Meskipun kecewa dengan perbuatan sang Mama,tapi Kartika masih memikirkan keadaan mamanya.


"Kakak sedang apa?" sapa Kartika dari sebrang telepon.


"Baru pulang bekerja."


"Eum... Kak!" panggil Kartika ragu.


"Kenapa? Bagaimana kuliahmu, lancar?"


"Lancar, Kak. Itu... eum... Bagaimana keadaan Mama?" tanya Kartika ragu membuat Bara menghela napas kasar. Baru saja ia membuang perasaan kesal kepada Mamanya itu, sekarang Kartika malah menanyakannya lagi.


"Apa yang kamu harapkan dari Mama, Dek? Dia sama sekali tidak berubah. Kakak menyerah menghadapinya. Dia hidup bersama parasit itu," ungkap Bara membuat Kartika terdiam.


"Keadaan dia baik-baik saja. Kamu tidak perlu khawatir. Kapan kamu liburan? Apa kamu tidak mau pulang ke Jakarta?" tanya Bara seraya bangun dari rebahannya.


"Minggu depan aku pulang Kak! Aku mau lihat keponakan baru ku. Pasti sangat menggemaskan melihatnya." Wajah Kartika yang sendu langsung berubah semangat karena mengingat ia akan segera pulang dan ingin bertemu dengan baby Zayn. "Tapi aku juga kagen sama Mama." lanjutnya kembali dengan suara sedih.

__ADS_1


"Temui Mama kalau kamu rindu padanya. Kita lahir dari rahimnya. Meskipun sikap Mama sudah membuat kita kecewa tapi dia tetap wanita yang pernah melahirkan kita, Dek."


Kartika mengangguk pelan sambil mendengarkan Bara berbicara. Banyak yang dibicarakan kedua adik kakak itu. Tak terasa dua jam mereka saling bercerita.


Bara tersenyum seraya menatap foto Kartika yang sedang lari pagi bersama teman bule nya. Karena Perbedaan waktu Jakarta dengan Amerika hampir 12 jam. Jika di Jakarta pukul 8 malam, sedangkan Amerika pukul 8 pagi.


Bara semakin mendekatkan diri kepada Kartika, karena hanya dia satu-satunya saudara sedarah dengannya. Tapi akhir-akhir ini ia juga berusaha mendekatkan dirinya dengan Galen. meskipun darah yang mengalir di tubuh mereka berbeda.


Rasa sayangnya sama terhadap Kartika. Ia sangat beruntung Tuan Wijaya tidak membedakn pengasuhan terhadapnya dulu. Beliau tulus mendidiknya hingga Bara bisa menjadi pemuda sukses saat ini.


Usai berbincang dengan Kartika, Bara bersiap untuk pergi mencari ke club untuk menghibur diri. Rasanya sudah lama dia tidak berkumpul dengan teman-temannya.


Dentuman suara musik Dj begitu memekakkan telinganya. Warna warni lampu yang berkerlap-kerlip membuat suasana club menjadi semakin mengasikkan. Bara begitu menikmati suasana malam ini. Ia merasa semua masalahnya hilang begitu saja. Beberapa wanita penghibur di sewa teman-temannya Bara untuk menemani mereka.


"Habiskan minumnya Bar, jarang-jarang lo ikut kumpul sama kita," ucap salah satu teman Bara.


Untuk kesekian kalinya Bara meneguk habis minuman yang disuguhkan kepadanya.


"Bara tidak mempedulikan ocehan teman-temannya, bahkan wanita penghibur yang mendekatinya. Bara hanya ingin minum bebas malam ini."


Di apartemen dimana Sandra berada.


Sandra sama sekali tidak melawan. Ia merasakan kesakitan itu dalam diam. Ia tahu jika makin banyak ia menjerit kesakitan akan semakin membuat Tuan Burns senang menyakitinya.


"Arghh... "


Hanya lengkungan suara itu yang Sandra keluarkan dari mulutnya. Saat Tuan Burns kembali melayangkan alat pecut pada tubuhnya.


Tuan Burns mendekati Sandra. Memperhatikan wajah wanita yang meringis kesakitan karena lecutannya.


"Apa kamu paham dengan permainanku, Sayang!" ucap Tuan Burns, tangannya menyusuri wajah cantik Sandra yang meringis menahan perih. Kecupan ia berikan kepada setiap luka yang ada di tubuh Sandra. Seakan luka itu bagaikan sesuatu yang sangat berharga untuknya.


"Anda gila, Tuan!" Akhirnya Sandra berani mengeluarkan suaranya sambil menatap pria yang memandangnya dengan penuh senyum arti.


Pemikiran Sandra ternyata salah. Ia kira Tuan Burns hanya akan bermain lalu melakukan penyatuan. Tapi ternyata salah, pria di hadapannya ini sungguh memiliki kelainan mental. Pria ini hanya ingin menyiksa tubuhmu wanita yang ia bayar saja. Jika wanita tersebut melawan, Pria itu akan terus memberikan luka.


Tapi ketika wanita bayarannya hanya mengeluarkan suara erangan saja, Pria itu akan mengurangi penyiksaannya. Tuan Burns benar-benar saiko. Kenikmatan ia dapat saat penyiksaannya.


Tuan Burns terbahak-bahak mendengar ucapan Sandra. Baru kali ini ia melihat wanita bayaran menatapnya dengan penuh kebencian. Biasanya semua wanita yang ia sakiti akan mengiba, meminta belas kasihan untuk dilepaskan.


"Berani sekali kamu mengucapakan kalimat itu, Sayang!" Tuan Burns makin mendekatkan tubuhnya pada Sandra. "Kamu tahu, bayaran mu malam ini sudah ku bayarkan dua puluh juta, sisanya akan ku bayar nanti. Bahkan aku akan memberikan mu bayaran lebih jika kamu memuaskanku. Suara indah yang keluar dari mulutmu saat kesakitan membuat aku terbang melayang."

__ADS_1


Sandra menggelengkan kepalanya pelan. Aneh memang, tapi kelainan seperti ini memang ada dan bisa terjadi satu diantara seribu. Mereka seakan mendapatkan kepuasan setelah menyakiti seseorang.


Shitt... Pria itu membohongiku.


Batin Sandra kesal.Ia merasa tertipu, karena siang tadi Sandra mendapatkan sepuluh juta untuk awal pekerjaannya. Ternyata pria itu sudah memotongnya lebih dulu, tidak sesuai perjanjian.


"Cuih..." Sandra meludahi wajah Tuan Burns.


Bukannya kesal Tuan Burns malah semakin tertarik dengan Sandra.


"Hahaha... Tidak salah aku membeli mu mahal dari pria itu, ternyata kamu benar bisa aku ajak dalam permainan ku."


"Kamu benar-benar gila, Saiko... Arghh...!" jerit Sandra saat pipinya ditampar oleh Tuan Burns.


Perlakuan itu membuat Sandra tidak sadarkan diri. Tuan Burns tersenyum melihatnya. Pria itu malah melanjutkan cumbu-annya pada Tubuh Sandra yang dipenuhi luka.


Setelah ia puas, Tuan Burns membuka jeratan tali pada kedua kaki dan tangan Sandra. Membopong tubuh yang lemas tak sadarkan diri itu, membawanya ke kamar yang sudah ia sediakan. Tempat istimewa, tempat yang berbeda dengan wanita bayarannya yang pertama.


Sandra akan menjadi wanita pemuas kegilaannya malam ini. Setelah sadar nanti ia akan melanjutkan penyiksaan, keinginannya semakin tertantang oleh keberanian Sandra.


.


.


.


Baca kelanjutan ceritanya ya.


Kenapa aku merasa ngeri sendiri tulis ini ya. Kalian juga gak sih?


Mampir lagi ke karya teman ku yuk.


Tak kalah seru dari sebelumnya.


Karya kak Alya Aziz



.


.

__ADS_1


__ADS_2