Fake Love

Fake Love
Berhutang Penjelasan Kepadaku


__ADS_3

"CUKUP... Beraninya kalian menghina putri Saya!" Ayah Zaki menyela perdebatan yang sedang terjadi dengan nada marah.


Semua yang berada di sana mengarah ke sumber suara.


Oma Ratih mengerutkan alis melihat kedatangan Ayah Zaki. Begitu pula Tuan Wijaya, beliau terperangah dengan kedatangan Zaki di sana.


"Zaki...," ucap Tuan Wijaya pelan saat Zaki berjalan mendekatinya.


"Zaki," gumam Oma Ratih. Beliau hampir tak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini.


Ayah Zaki menarik lengan Aline agar berlindung di belakangnya.


"Kamu dan wanita itu masih tidak puaskah memfitnah ku dulu! sekarang kalian memperlakukan putriku sama seperti kalian memojokkan ku, di rumah sakit ini pula." Ayah Zaki tersenyum miris seraya menggelengkan kepala. Lalu beralih memandang Aline.


"Ayah sudah bilang jangan pernah temui lagi Galen. Sekarang kamu tau alasanya kenapa Ayah sangat melarangmu!" seru Ayah Zaki.


"Maaf, Yah!" Aline berucap pelan seraya menundukkan kepala.


"Anak kalian tidak bersalah, Jangan libatkan mereka dalam masalah kalian. Bicarakan baik-baik, Ki! Mereka saling mencintai dan kamu tidak inginkan menyapa Ibu dengan baik? Sudah lama sekali kita tak bertemu." Oma Ratih berjalan menghampiri Ayah Zaki yang terlihat emosi memandang Tuan Wijaya.


Oma Ratih sudah menganggap Zaki sebagai anaknya sendiri. Dulu, sibuknya Wijaya saat perusahan yang ia pimpin sedang mencapai puncak kesuksesan.


Zaki selalu membantu agar istri dari sahabatnya itu terpenuhi keinginannya saat mengidam meski malam sekalipun. Ia mengerasa kasian tatkala melihat Indira harus menjalani kehamilan pertamanya tanpa di dampingi Tuan Wijaya yang Indira minta, Ia hanya ingin didampingi saat melahirkan.


Untuk kesehariannya wanita itu tak pernah melewati komunikasinya dengan Tuan Wijaya.


Ayah Zaki mengulurkan tangannya kepada Oma Ratih untuk menyalaminya. Meski diri masih diselimuti emosi, tapi Ayah Zaki masih bisa mengendalikan dirinya.


Dipeluknya sesaat wanita tua yang dulu selalu bersikap baik padanya. Tak lama Ayah Zaki melepaskan pelukanya.


"Saya minta maaf kalau pertemuan pertama dangan Ibu harus seperti ini, tapi Saya tidak bisa membiarkan harga diri putri saya diremehkan oleh mereka, Bu. Saya pamit, suatu saat kita pasti bertemu lagi!" Ayah Zaki memandang ke arah Tuan Wijaya dan Nyonya Mariska.


Ayah Zaki lekas menarik Aline agar berjalan mengikutinya memasuki lift. Diikuti Pak Mulyo di belakangnya.


Galen terlihat bingung dengan apa yang terjadi. Kejadian masa lalu yang tak diketahui olehnya.


"Zak, tunggu sebentar! Aku minta maaf untuk masalah Aline, Aku salah paham padanya. Aline tolong maafkan, Om! Zak, kita harus bicara, Kita juga harus selesaikan kesalahpahaman antara kita, Zak. Aku mohon, Zak! Aku hanya ingin meminta maaf." Tuan Wijaya mencoba menahan Ayah Zaki saat akan menekan tombol lift dengan wajah memohon.


Selama ini tak pernah pria tua itu bersikap merendah. Sikap tegas, dingin dan berkuasa selalu ditujukannya. Selama berpuluh tahun rasa penyesalan ia pendam sendiri.

__ADS_1


Aline merasa tidak tega melihatnya.


"Yah!" kita bicara baik-baik dulu, yah."


"Tidak perlu ada yang dibicarakan lagi. Ayah dan dia hanya orang asing yang pernah saling kenal." Ayah Zaki masih bersikeras dengan pendiriannya.


Galen berdiri dari duduknya di kursi roda. menghampiri Aline dan Ayah Zaki.


"Om, kita selesaikan bersama masalah kalian," ucap Galen. Ia pun berusaha mencegah Ayah Zaki untuk pergi.


Pak Mulyo menahannya. Beliau menghalangi Tuan Wijaya dan Galen dengan tubuh tinggi dan tetapnya.


Pintu lift perlahan tertutup. Aline menangis seraya memandangi Galen. Gadis itu pasrah akan keputusan Ayahnya.


Oma Ratih menghampiri Galen, memberi kekuatan kepadanya. Baru saja cucunya merasakan kebahagiaan, tertawa bersama bahkan membicarakan masa depannya bersama Aline. Kini rasanya akan sulit mewujudkan itu semua.


Tuan Wijaya terlihat putus asa. Saat Zaki berucap tak usah menemuinya ataupun mencarinya. Rasanya penyesalan itu kian bertambah, ucapannya menghina dan meremehkan Aline yang ternyata anak dari sahabatnya itu membuat Zaki makin membencinya.


"Arrgh..." Tuan Zaki memukul lift dengan satu tangannya.


"Papa dan Oma berhutang penjelasan kepadaku!" Galen menatap kedua orang tua yang selama ini ia hormati dengan tatapan tajamnya. Lalu menoleh ke arah layar lift yang menunjukan angka dimana lift itu akan berhenti.


"Awww..." rintih Galen seraya memegangi bagian yang terasa sakit.


Aldo dengan sigap menahan tubuh Galen yang sempat terhuyung dan bersender di dinding. Tapi semua di tepis Galen. Ia berusaha kembali berdiri tegak. Ia ingin segera mengejar Aline.


Oma Ratih langsung menghampiri Galen.


"Gal ... jangan terlalu banyak berpikir. Kesehatan mu baru pulih, biar nanti kita bicarakan dengan ayahnya Aline. Oma janji akan menemuinya! sekarang kita periksakan dulu dirimu, Oma takut kamu kenapa-napa?" bujuk Oma tapi Galen seakan tak mempedulikannya.


"Aku tidak apa-apa Oma, Aku harus kejar Aline!" Galen kembali berdiri lalu berlari menuju tangga darurat berharap masih bisa mengejar Aline.


"Gal ...," teriak Oma Ratih. Beliau terlihat sangat khawatir dengan Galen yang terus memaksakan dirinya.


Aldo menyerahkan barang bawaannya kepada anak buah Tuan Wijaya yang ada di sana. Lalu mengejar bosnya yang sudah jauh melangkah menuruni tangga.


Dengan nafas yang tersengal Galen terus menuruni anak tangga. Ia harus berkejaran dengan laju lift yang begitu cepat turun menuju lantai loby rumah sakit itu.


Kini Aline berada di dalam mobil bersama Ayah Zaki. Gadis itu terus menoleh ke belakang, ia melihat Galen memanggil namanya seraya berlari mengejar mobil yang di tumpangi Aline.

__ADS_1


"Yah ... kasian Galen, dia masih dalam masa pemulihan! Pak Mul, tolong hentikan mobilnya," titah Aline.


Ucapannya sama sekali tak di dengar oleh Pak Mulyo ia lebih memilih mendengarkan Ayah Zaki.


Galen tersungkur di depan rumah sakit. Melihat mobil yang membawa Aline pergi meninggalkannya.


"Aline ...," panggil Galen lirih. Suara nya terdengar sumbang.


"Arrghh," teriak Galen seraya mengibaskan rambut kebelakang dengan jarinya.


Semua orang yang berada di sana melihat kejadian itu. Mereka hanya bisa menyaksikan tanpa berani mendekat.


Aline hanya menatap sedih kearah Galen dari dalam mobil. Semua begitu cepat terjadi. Terlalu mengejutkan untuknya dan Gelen.


Masalah orang tua yang sudah lalu harus menimpa mereka berdua.


Kebahagiaan yang mereka kira ada di depan mata harus terpaksa menjauh karena keadaan.


Sangat sulit untuk Ayah Zaki merestui hubungan mereka. Di tambah ra sakit dahulu mencuat kembali saat mendengar penghinaan sahabat nya kepada putrinya.


...๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ...


Aldo meraih bahu Galen mencoba membantunya untuk berdiri.


Oma Ratih baru saja keluar dari lift berjalan tergesa mendekati Galen. Nenek tua itu merasa iba melihat cucunya. Wajah yang tadi ia lihat penuh aura keceriaan, kini berubah sedih.


"Sudahlah, biarkan susana tenang dulu! nanti kita akan menemui merekamereka," bujuk Oma Ratih seraya menepuk pelan pipi pria yang meringia menahan sakit di kepala.


"Oma harus jelaskan apa yang terjadi kepadaku." Galen menatap wajah nenek tua itu penuh harap.


.


.


.


.


bersambung^^^

__ADS_1


__ADS_2