
Saat ini Galen dan Aline saling melempar senyum setelah melihat layar yang ada di hadapan mereka.
Dokter Laila yang memeriksa Aline, membenarkan bahwa saat ini Aline sedang hamil. Saat Sang Dokter memeriksa perut bagian bawah Aline, memang sudah terasa seperti ada benjolan kecil di sana.
Dokter memprediksi kehamilan Aline memasuki usia sembilan sampai sepuluh minggu terasa dari besar janin tersebut, karena dokter kandungan pasti bisa memperkirakan usia kandungan saat merabanya.
Aline sempat ragu karena dua bulan terakhir ia masih mengalami siklus menstruasi, meskipun hanya sehari dua hari saja, dan itupun hanya flek tanpa ada warna merah berbekas.
"Biasanya akan seperti itu untuk awal kehamilan. Flek tanda kehamilan atau disebut juga perdarahan implantasi terjadi saat sel telur yang dibuahi atau embrio menempel pada lapisan dinding rahim. Flek yang keluar ini dialami setidaknya 20% wanita saat awal kehamilan atau pada 12 minggu pertama kehamilan. Jadi besar kemungkinan saat itu Bunda sudah hamil," ungkap Dokter Laila memberikan penjelasan kepada Aline.
Aline mengangguk mencerna ucapannya.
Galen yang berada dia samping istrinya hanya diam tanpa berkomentar karena ia tidak mengetahui sama sekali tentang kehamilan. Ini adalah pertama untuknya.
"Apa tidak ada keluhan dari Bunda? Misalkan mual muntah di pagi hari, atau sering merasa pusing dan lemas," tanya Dokter Laila.
Aline menggeleng lemah,"Sama sekali tidak, Dok! Tapi...." Aline melirik ke sebelahnya, dimana suaminya ikut mendengarkan ucapan Dokter Laila. "Suami saya sering mengalami mual muntah tidak hanya pagi hari saja, tapi dengan beberapa aroma yang ia hirup, suami saya bisa muntah sampai ia lemas," ujar Aline.
Dokter Laila beralih kepada Galen. "Apa Anda sampai saat ini masih merasa mual muntah atau pusing?" tanya Dokter Laila kepada Galen.
"Kalau saat ini tidak, tapi ada beberapa aroma yang membuat saya mual dan pusing. Sampai saat ini kadang terasa, tapi saya tidak pernah merasakan hal itu saat bersama istri saya dok, bawaannya malah ingin dekat terus," ucap Galen dengan melirik ke arah Aline sambil menaikkan alisnya jahil.
Aline memutar bola matanya malas. Di saat seperti ini dia masih bisa menggoda.
Dokter Laila tersenyum melihat tingkah Galen.
"Jadi Anda yang mengalami sindrom Couvade?"
Galen mengantuk sambil mengerutkan alis mendengar penuturan dokter itu, tidak dengan Aline karena ia sudah tau sebelumnya.
Dokter Laila mengerti dengan reaksi Galen. Ia harus sedikit menjelaskan tentang sindrom Couvade itu kepada Galen.
"Couvade Syndrome, atau kehamilan simpatik, adalah masalah yang terjadi pada pasangan pria dari wanita hamil yang mengalami gejala saat hamil. Memang, hal ini dapat membuat seorang pria mengalami gejala berupa sembelit, gas, kembung, mudah marah, mual, dan lainnya. Meski begitu, masalah ini hanya bersifat sementara dan tidak menimbulkan masalah serius."
Ada rasa lega yang Aline rasakan saat mendengar penuturan Dokter Laila karena ia sangat tidak tega melihat suaminya saat mengalami itu semua.
Galen menganggukkan kepala saat mengetahuinya. "Syukurlah kalau saya yang merasakan itu semua, Saya tidak sanggup kalau melihat istri saya yang mengalami gejala itu." Galen menggelengkan kepala seraya menatap Aline.
Aline tersenyum mendengarnya. Galen rela mengantikan keadaan yang membuat dirinya seperti wanita yang hamil. Mengalami mual, mintak bahkan tubuh yang serasa tak bertenaga setelah itu.Sungguh Galen membuat Aline begitu terharu mendengarnya.
__ADS_1
"Terima kasih, Mas... Kamu rela merasakan itu semua untukku," ucap Aline dengan haru.
"Lebih baik Mas yang merasakan daripada Mas melihat kamu kesakitan dengan rasa itu semua."
"Wah... hebat sekali ya, calon ayah ini. Pasti semua akan terbayarkan saat melihat buah hati kalian lahir, nanti!" sambung Dokter Laila.
"Untuk lebih jelasnya kita lihat hasil USG saja ya. Kita lihat usia pasti kehamilan Bunda. Kalau saya hitung dari haid pertama mengalami flek, saat itu Bunda sudah hamil," ajak Dokter Laila kepada Aline.
Aline diminta untuk berbaring di atas brankar. Galen sangat siaga membantu istrinya. Kemudian Dokter Laila mengoleskan ultrasonic gel khusus di perut Aline. Ini digunakan untuk mencegah gesekan yang bisa melukai kulit saat bagian transduser ultrasound digerakan di atas kulit. Gel tersebut digunakan saat ibu hamil akan melakukan USG.
Dokter Laila lekas menggunakan transduser yang merupakan alat USG kemudian ditempelkan pada bagian kulit yang sudah diolesi oleh gel sambil digerak-gerakan.
Setelah mendapati sesuatu yang di cari Dokter Laila menjelaskan kepada Aline dan Galen tentang gambar yang terlihat di layar monitor.
"Ini dia janinnya," ucap Dokter Laila.
"Kenapa kecil, Dok?" tanya Galen, tatapannya begitu tajam melihat gambar yang berbentuk bulatan kecil itu.
"Ukuran badannya kira-kira sudah sebesar buah lengkeng dengan berat sekitar 7 gram dan panjang badan dari kepala sampai kaki sekitar 2,54 sentimeter. Meski masih termasuk mungil, namun Si Kecil sudah bertumbuh semakin kuat," ucap Dokter Laila, ia terus menggerakan alat transduser itu di perut Aline.
Aline dan Galen saling pandang. Galen menggenggam tangan Aline begitu erat seakan saling menyalurkan rasa kebahagiaan saat itu. Mereka terus tersenyum sambil melihat ke arah layar monitor di mana calon buah hati mereka akan tumbuh.
"Usia kandungannya saat ini sudah memasuki 10 minggu. Biasanya Bunda akan merasakan perbedaan pada tubuhnya di usia sekarang ini!"
"Bunda akan merasa baju yang selama ini dikenakan sudah kesempitan dan tidak nyaman. Gunung kembar Bunda juga akan semakin membesar dan membuat B'ra ibu menjadi ketat. Karena itu, ibu mungkin perlu mengganti B'ra dengan yang berukuran lebih besar atau khusus ibu hamil."
"Benar sekali, Dok! Saya rasa itu semua benar. Saya baru saja membelikannya pakaian dalam itu, bahkan ukuran untuk bulan berikutnya juga lengkap, model pakaian dalam setelah melahirkan juga saya membelikannya. Dan yang sangat saya suka ukurannya saat ini, lebih menggoda," celetuk Galen membuat wajah Aline merona karena malu. Sedangkan Galen sama sekali tidak menyadari ucapannya.
"Wah, teliti dan jeli sekali calon ayah ini." Dokter Laila terkekeh kecil mendengarnya.
Aline mengerucutkan bibirnya ke arah Galen. sedangkan Galen membusungkan dada merasa telah menjadi suami siaga.
Dokter Laila kembali memeriksa kandungan Aline. kali ini mengunakan Fetal doppler, alat yang digunakan untuk mendeteksi detak jantung janin dalam kandungan secara digital.
Dug... dug... dug...
Alat pendeteksi jantung janin itu berbunyi.
"Kalian dengar?" tanya Dokter Laila. "Ini adalah detak jantung si cabang bayi. terdengar dari suaranya sudah terdengar jelas dan teratur ya. Berarti si cabang bayi siap tumbuh semakin besar di dalam perut Bunda!"
__ADS_1
Ada rasa yang tidak bisa diungkapkan oleh Aline dan Galen setelah mendengar suara itu. Sepertinya ada kupu-kupu terbang di dalam hati mereka. Pertempuran nikmat dan pembibitan yang selama ini mereka lakukan berbuah manis.
Buah cintanya sedang tumbuh di dalam perut Aline.
Setelah semua pemeriksaan selesai. Dokter Laila membersihkan sisa gel yang masih ada di perut Aline. Dengan dibantu Galen Aline turun dari brankar. Mereka kembali duduk untuk mendengarkan lebih lanjut penjelasan dari Dokter Laila.
"Karena kondisi janin dan ibu baik-baik saja. Saya hanya meresepkan vitamin saja. Meski begitu, Bunda harus rajin minum vitaminnya dan ingat makanlah makanan yang penuh gizi," ucap Dokter Laila.
"Tenang saja, Dok! Saya pastikan istri saya akan mendapatkan makanan yang penuh dengan gizi yang baik," serobot Galen.
Aline hanya menggelengkan dengan ucapan Galen.
"Hebat sekali, calon ayah ini. Begitu bersemangat dengan kehamilan istrinya. Dan untuk Anda saya resepkan obat pereda mual dan muntah, juga ada vitamin agar anda tidak terlalu lemas." Galen dan Aline begitu serius mendengarkan. "Satu lagi untuk calon ayah yang begitu siaga ini."
"Apa, Dok!" tanya Galen penasaran.
"Karena usia kandungan istri Anda masih muda, sangat rentan dari guncangan dan gerakan yang terlalu membuat dia lelah, sebaiknya Anda sabar agar tidak melakukan hubungan dulu dengan istri Anda!"
Galen membulatkan matanya. "Seberapa lama, Dok?" Galen terlihat begitu takut dengan ucapan Dokter Laila.
"Selama trimester kedua selesai, bisa jadi sampai kandungannya kuat."
"Sayang... Untuk merasakan mual dan muntah bahkan pusing Mas akan sanggup menjalaninya tapi untuk masalah yang satu ini, rasanya Mas tidak sanggup," lirih Galen dengan raut wajah melasnya.
Dokter Laila dan Aline tersenyum kecil melihatnya. Ternyata Aline mengerti bahwa sang dokter tengah mengerjai Galen.
.
.
.
Baca kelanjutan cerita ya.
Mampir ke karya temanku yuk. seru loh.
karya dari Author Te_mi
__ADS_1
.
.