Fake Love

Fake Love
Persiapan Pernikahan


__ADS_3

Usai makan malam. Mereka berkumpul sebentar di ruang keluarga.


Tuan Wijaya yang baru datang langsung ikut bergabung bersama mereka.


“Mana cucuku?” tanya Tuan Wijaya kepada Aline.


“Zayn sudah tidur, Pah! Papa mau makan atau bersih-bersih dulu?” Aline menawari Tuan Wijaya.


“Tidak perlu, Papa sudah makan di luar tadi! Papa hanya mau menyampaikan sesuatu,” ujar Tuan Wijaya.


“Apa, Pah?” Galen menimpali.


“Bara menghubungi Papa. Dia akan menikah!”


“Kapan? Kenapa Kak Bara tidak memberitahu aku, Pah?” Kartika ikut bertanya.


“Untuk waktunya Papa tidak tahu, Kakakmu bilang dia akan segera melaksanakannya setelah sampai di Jakarta. Saat ini dia berada di Bandung!” lanjut Tuan Wijaya.


“Syukurlah, akhirnya anak itu menikah juga. Ternyata ucapan Oma di dengar olehnya.”


Galen dan Aline saling pandang. Hanya mereka berdua yang tahu alasannya kenapa Bara ingin cepat menikah.


Obrolan mereka berakhir setelah satu jam berbincang. Bara sudah menganggap Tuan Wijaya sebagai orang tuanya sendiri. Bara juga sempat memberitahu Ayah wira soal pernikahannya. Untuk Nyonya Mariska Bara akan memberitahunya secara pribadi. Sebab ada yang harus ia sampaikan kepada mama yang sudah melahirkannya itu.


Bara sangat menghormati orang tuanya meskipun Mama Mariska seakan memanfaatkan dirinya tapi ia tidak pernah melewati batas kebaktiannya sebagai anak.


****


Cinta memang tidak tahu kepada siapa akan berlabuh. Siapa yang menyangka jika malam indah itu menjadi awal tumbuhnya perasaan di antara mereka. Awalnya Bara dan Sandra saling menambatkan hati mereka tanpa ikatan. Seiring berjalannya waktu ketika benih itu tumbuh dalam rahim Sandra, Perasaan itu muncul begitu saja di saat kenangan kebersamaan mereka malam itu, saling mengisi hati yang kosong, saling berkeluh kesah. Kenyamanan terasa malam itu.


Kesalahpahaman yang terjadi antara mereka telah berakhir.


Saat ini Bara begitu memperlakukan Sandra dengan lembut dan hangat. Sandra tidak pernah menyangka pria yang ada di hadapannya saat ini akan menjadi suaminya.


Tok ... Tok... Tok


Ketukan pintu ruangan mengembalikan kesadaran Sandra dari kekagumannya pada Bara.


“Biar aku yang lihat siapa yang datang ke sini!” ucap Bara dan mendapat anggukan dari Sandra.


Saat membuka pintu dia orang wanita dan pria berumur berdiri di hadapan Bara. Wanita yang tadi pagi memberi tahu arah peternakan juga berada di sampingnya.


“Kamu, ngapain kamu ke sini?” tanya Bara ketus kepada Rara. Ia masih merasa jengkel dengan sikap gadis yang ada di hadapannya ini.


Mendapat tatapan tidak bersahabat dari Bara. Rara lekas berlindung di balik tubuh Pak Budi.


“Maaf, Tuan! Saya ke sini mau melihat keadaan Sandra. Bagaimana keadaannya? Putri saya bilang Sandra pingsan dan di bawa ke rumah sakit,” ucap Pak Budi dengan nada sopan dan sedikit menunduj saat berbicara.


“Keadaannya lebih baik sekarang ini, kalian tau dari mana Sandra berada di sini?” tanya Bara penuh selidik. “Apa hubungannya gadis ini dengan Kalian?” lanjutnya.


“Gadis ini adalah putri kami, Tuan!” jawab Bu Mirna yang juga tertunduk.


Mereka merasa takut dan segan dengan pertanyaan Bara yang penuh selidik.


“Biarkan mereka masuk, Mas!”


Bara menoleh ke arah Sandra, anggukan dari wanita yang kini telah menjadi penghuni di hatinya itu membuat Bara mengizinkan mereka masuk.


“Silakan masuk, tapi bilang pada putri kalian agar menjaga jarak dariku!” ucapnya sambil berlalu mendekati Sandra.


Bu Mirna, Pak Budi dan Rara ikut masuk ke dalam ruang perawatan Sandra.

__ADS_1


“Bu Mirna dan Pak Budi sudah ku anggap seperti orang tuaku, Mas. Kalau bukan karena mereka, entah bagaimana hidupku sekarang ini!” ucap Sandra saat Bara tiba di depannya kemudian tersenyum canggung kepada Pak Budi dan Bu Mirna yang ada tepat di belakang Bara. Sandra merasa tidak enak hati kepada mereka dengan sikap Bara.


Sebab, Sandra pun belum kenal seluruhnya kepribadian pria itu.


“Tapi aku tidak suka dengan gadis itu, dia terlalu agresif. Harusnya sebagai wanita dia bersikap sopan kepada pria yang baru dikenalnya.”


Pak Budi dan Bu Mirna langsung menoleh ke arah Rara. Memberi tatapan penuh tanya kepada putrinya itu. Terkadang sikap putri mereka itu terlalu berani kepada lawan jenis. Mereka juga bingung harus seperti apa cara mengubah kelakuan Rara.


“Memangnya apa yang Rara lakukan, Tuan?” tanya Pak Budi membuat Bara menoleh kepadanya.


“Putri Anda mencoba merayu. Saya tidak suka dengan wanita seperti itu!” Bara menjelaskan.


“Teh Sandra juga wanita yang pintar merayu laki-laki. Buktinya Tuan Braja sampai suka padanya! Anda juga pasti kena rayuan Teh Sandra ‘kan sampai dia hamil,” ucap Rara sinis membuat Bara mengepalkan tangannya.


Saat Bara hendak memberi pelajaran pada gadis itu, Sandra mencegahnya. Pak Budi juga berusaha melindungi Rara.


“Aduh, Neng! Kunaon sih malah nyieun masalah didieu. Tadi cek mama ge di bumi wae. Te kedah milu (Aduh, Neng! Kenapa sih niat malah buat masalah di sini. Tadi kata mama juga dirumah sana. Nggak usah ngikut.” Bu Mirna merasa malu dengan ucapan Rara.


“Sandra... Maaf jika kedatangan Ibu, bapak dan Rara malah membuat gaduh di sini,” ucapnya sambil menunduk sopan.


“Pak Budi tidak perlu bersikap seperti itu.” Sandra hendak turun dari tempat tidurnya tapi Bara mencegah.


“Kamu masih belum pulih ingat kandunganmu!” cegah Bara dan Sandra mengikutinya.


Sandra mantap Bara. Tatapan sedih saat melihat sikap Pak Budi dan Bu Mirna yang merasa terpojok dengan kelakuan Rara putrinya.


Bara memberikan kedipan di kedua matanya dan anggukan pelan kepada Sandra seakan memberi kode kepada wanitanya itu kalau semua akan baik-baik saja.


“Bapak dan Ibu tidak perlu minta maaf, saya hanya menyayangkan dengan sikapnya saja.” Bara berbicara kepada Pak Budi, kemudian beralih menatap Rara. “Dan kamu harus tau, wanita yang kamu anggap perayu laki-laki ini adalah calon istriku. Memang benar dia telah merayuku, sehingga hati ini luluh kepadanya. Dan ucapan yang kamu lontarkan kepada Sandra itu telah memfitnahku. Kita tidak pernah bersama dan bersenang-senang. Jangan kamu kira aku akan bertanggung jika itu terjadi. Itu tidak akan!” ucap Bara tegas dan membuat Rara merasa kesal.


Tanpa banyak bicara Rara keluar dari ruangan itu dengan perasaan kesal.


Pak Budi hendak mengejar putrinya tapi Bu Mirna melarangnya.


Usai kepergian Rara. Bara berbicara serius kepada Pak Budi dan Bu Mirna. Sesuai dengan keputusan mereka berdua. Sandra akan kembali ke Jakarta, ia akan mengundurkan diri dari peternakan Tuan Braja. Bara juga akan menemui pria yang sempat bersitegang dengannya tadi.


“Kami akan menikah di Jakarta, Pak! Saya harap kalian bisa menghadirinya. Saya juga berterima kasih karena selama ini kalian sudah menjaga Sandra dengan baik. Bersikap seperti orang tua baginya,” ucap Bara dengan nada sopan.


“Alhamdulillah, memang lebih cepat lebih baik, iya ‘kan, Bu?” Pak Budi beralih kepada Bu Mirna.


Bu Mirna mengangguk setuju. “Sandra sudah seperti anak kami sendiri. Kami bertetangga sudah lama. Alhamrumah Bu Sarah juga pernah memberi amanat kepada saya, meminta tolong agar menemani dan menjaga Sandra. Saat ini kami limpahkan amanat itu kepada Anda, Tuan. Tolong jaga Sandra! Berikan dia kebahagiaan. Saat ini waktunya dia bahagia setelah perjuangan berat dan pengorbanan yang ia lakukan untuk ibunya,” ucap Bu Mirna membuat mata Sandra berkaca-kaca.


“Itu pasti, Bu. Dia akan bahagia bersamaku, bersama anak kami, nanti!” balas Bara.


Bu Mirna mendekati Sandra, tidak tahan menahan hari. Lekas Sandra menghamburkan diri ke dalam pelukan Bu Mirna. Dengan cepat pula Bu Mirna menyambutnya.


Mereka saling berpeluk. Bu Mirna merasa tanggung jawabnya menjaga Sandra sudah berakhir. Ia yakin Sandra sudah bersama orang yang tepat.


“Tersenyumlah. Sudah waktunya air mata yang selama ini kamu tumpahkan berganti dengan kebahagiaan. Ibu tahu selama ini kamu berusaha menutupi kerapuhanmu. Tapi ibu berharap setelah ini, kamu menjadi wanita kuat. Harus kuat untuk bahagiamu dan calon bayi yang ada dalam kandunganmu ini!” Bu Mirna mengelus pelan perut Sandra yang masih rata sambil tersenyum hangat kepada Sandra. Seseorang yang sudah ia anggap sebagai anaknya sendiri itu.


Lumayan lama Pak Budi dan Bu Mirna di sana. Pak Budi bersama Bara duduk di sofa mengobrol santai berdua. Bahkan Pak Budi mendapatkan tawaran kembali bekerja sebagai supir di perusahaan Bara, atau menjadi supir pribadi di rumahnya nanti.


“Terima kasih atas tawarannya, Tuan. Saya akan bicarakan dulu dengan istri saya nanti, memang benar sangar sulit berjualan di kampung. Untung yang kami dapat hanya bisa menutupi kebutuhan hari itu saja,” tutur Pak Budi.


“Bapak bisa hubungi Sandra nanti jika kalian memang bersedia kembali bekerja di Jakarta. Maaf... Saya angkat telepon dulu!” pamit Bara meninggalkan Pak Budi.


Pak Budi berasa senang ada pilihan pekerjaan lain selain berdagang kue basah di pasar. Setelah pulang dari rumah sakit tawaran yang Bara berikan akan ia sampaikan kepada istrinya nanti.


Bu Mirna pun mengakhiri obrolannya saat melihat suaminya berjalan ke arah mereka.


“Sudah sore, Buk. Kita pulang!” ajak Pak Budi.

__ADS_1


Mereka pamit karena harus belanja lagi bahan-bahan untuk membuat kue besok.


Bara yang terlihat sibuk menerima telepon dari seseorang lekas menutup teleponnya ketika Sandra melambaikan tangan kepadanya.


“Mereka mau pulang!” ucap Sandra pelan.


“Oh, ya!” sahut Bara lalu mengulurkan tangan untuk berjabat tangan dengan Pak Budi.


“Terima kasih atas semuanya. Jangan pernah ragu jika kalian meminta bantuan kami nantinya,” ucap Bara dengan sopan dan ramah tidak seperti pertama mereka bertemu.


“Bu ... Pak! Maaf! Saya tidak bisa mengantar kalian! Sekali lagi terima kasih, mungkin setelah keluar dari rumah sakit, Mas Bara akan mengantar saya ke rumah kontrakan. Ada beberapa barang yang akan diambil di sana!” ujar Sandra setelah itu ia menyalimi keduanya.


“Ya, sekalian pamit dulu dengan tetangga mu di sana. Bagaimana pun mereka mengenalmu!” Titah Bu Mirna.


“Ibu pasti sangat kehilangan kamu! Tidak ada lagi yang membantu ibu. Andai saja Rara mempunyai sikap sepertimu, ibu pasti akan bersyukur sekali.


“Sikapku seperti itu karna keadaan yang memaksa, Bu! Mungkin ... akan sama jika orang tuaku lengkap dan memanjakan ku seperti Rara.


Sandra tersenyum lalu meraih tangan Bu Mirna.


“Aku akan selalu menjadi anak Bu Mirna dan Pak Budi, meskipun nantinya kita jarang bertemu. Kalian adalah orang tuaku.” Ujar Sandra.


Pak Budi Dan Bu Mirna akhirnya pamit dari sana.


Tinggallah Bara dan Sandra berdua lagi.


“Persiapan pernikahan kita sudah siap di Jakarta,” Ungkap Bara.


“Hah ... Secepat itu, Mas! Tapi aku belum mengumpulkan persyaratannya.


“Kamu lupa aku siapa? Dengan cepat aku akan dapat semua berkas-berkasmu.”


“Tapi Mas begitu lama menemukanku!” Sandra menunjukkan wajah cemberut.


“Itu berbeda. Kita sudah bertemu lebih dulu, sebelum aku memulainya,” sanggah Bara tidak mau kalah.


“Artinya ... Aku memang tidak berarti sampai kamu harus menunda mencari keberadaan ku.


“Oh, Sandra! Kamu sudah tahu alasannya!” ucap Bara frustasi jika melihat Sandra hendak merajuk.


“Iya... Aku tahu, Mas!” Seketika Sandra tersenyum. Membuat perasaan Bara lega.


“Kamu, mengerjaiku!”


Sandra menggeleng. Bara pun mendekatinya, mengelitiki pinggang wanita itu sampai sampai Sandra tertawa geli dibuatnya.


“Ampun, Mas! Geli!” Sandra berusaha menghindar. Namun, malah membuat mereka saling bertatapan dengan jarak wajah yang begitu dekat.


Sandra menghentikan tawa saat Bara melepaskan kelitikannya, mencoba mengatur napas yang terengah-engah.


Bara memegang dagu Sandra agar menatapnya kembali. Perlahan Bara memiringkan wajahnya saat melihat bibir merah muda di hadapannya. Sandra secara naluri menutup mata menyambut apa yang akan dilakukan Bara selanjutnya.


Tok... Tok... Tok..


“Permisi, Nyonya. Waktunya pemeriksaan lebih lanjut.”


.


.


.

__ADS_1


...Bersambung...


Woi... suster apa dokter yang datang tuh. ganggu aja.


__ADS_2