
Tok... Tok... Tok..
“Permisi, Nyonya. Waktunya pemeriksaan lebih lanjut.”
Sandra langsung menarik diri. Wajah merona dan tertunduk malu karena hampir saja mereka berciuman.
Berbeda dengan Bara, wajah pria itu biasa saja. Bahkan terlihat santai.
“Kita lanjutkan nanti!” ucap Bara membuat Sandra mendongak menatapnya. Wajah pucat pasi yang tadi pagi mengisi wajah wanita itu kini berubah merona menggantikannya. Sepertinya kondisi Sandra berangsur membaik.
“Kita periksa dulu, istrinya ya, Pak!” ucap suster yang merasa canggung kepada mereka berdua.
Mendengar ucapan suster Sandra hendak mengelak. “Saya bukan ist---,” ucapannya terpotong karena Bara lebih cepat berucap kepada suster.
“Sekalian pemeriksaan kandungan, suster! Saya ingin memastikan bayi kami baik-baik saja!” Bara menatap Sandra lekat dengan tatapan penuh cinta.
Suster yang melihat kedua insan yang tengah menebar pandangan cinta itu hanya bisa tersenyum.
“Baik, Pak! Tunggu sebentar ya, Dokter nya sedang ada pasien lain. Nanti Beliau ke sini, kok!” suster memberitahu. “Tekanan darah sudah normal. Bagus semua kok, kemungkinan besok juga sudah bisa pulang,” lanjutnya.
Suster itu pun melepaskan alat yang dipasang di tangan Sandra setelah mengetahui tekanan darahnya.
Dokter yang tadi pagi menangani Sandra kembali lagi. Dengan ramah dan sopan sang dokter menyapa Sandra.
“Wah, sudah sadar ternyata. Bagaimana, sudah lebih baik?” tanya dokter kepada Sandra.
“Lebih baik, Dok!” Jawab Sandra.
“Syukur lah, saya tidak tega melihat suami ibu. Dia terlihat sangat sedih melihat istrinya tak sadarkan diri, apalagi saat ini ibu sedang mengandung.” Sandra mencerna ucapan Dokter.
‘Benarkah Bara sesedih itu melihat ku tak sadarkan diri. Tapi aku juga mendengar sendiri ucapannya tadi.’
Sandra tersenyum, lekas ja menoleh ke arah Bara. Yang begitu serius melihat tindakan dokter kepadanya.
Sandra diperintahkan tiduran di brankar. Suster yang memeriksanya tadi lekas mengolesi gel ke perut Sandra.
Sebuah alat USG yang dokter gunakan untuk memeriksa kandungan Sandra sudah siap di gunakan.
Alat itu ditempelkan pada kulit perut Sandra yang masih rata.
“Ini dia janinnya. Masih kecil ya, sangat rentan dari guncangan. Ibu hamil juga tidak boleh stres dan banyak pikiran.”
Bara begitu serius mengamatinya, ia menoleh ke arah Sandra. Keduanya saling membalas pandangan.
__ADS_1
Bara meraih tangan Sandra lalu menggenggamnya erat. Rasa bahagia terpancar dari keduanya.
Penjelasan dan pemeriksaan dokter kandungan usai sudah. “Mas... Apa kamu tidak ada pekerjaan lain selain bersamaku di sini?” tanya Sandra.
Bara menyelenggarakan sambil terus menyuapi Sandra dengan makanan yang ada di tangannya.
Sandra masih merasakan mual, sesekali memuntahkan makanan yang ia makan sebelumnya.
Bara terus menemani dan memperhatikan kondisi Sandra. Memberi minum dan menyuapi makanan sehat dan buah dengan waktu yang berjarak. Ia mengikuti perintah dokter. Sering makan meski hanya sedikit. Itu akan mengurangi rasa mual, di tambah asupan gizi untuk ibu dan bayi tercukupi.
Bahagia itu yang di rasakan Sandra. Mendapati perhatian dari Bara saat ini. Pria yang belum sah menjadi suaminya. Ia berharap setelah menikah, sikap Bara lebih dari ini. Apalagi saat anaknya lahir nanti.
***
Kediaman Tuan Wijaya.
Aline mengeluarkan suara melengkingnya saat kejutan ia dapatkan di depan rumah.
Jika suara men-desah mungkin Galen akan semangat mendengarnya tapi kali ini bukan itu.
“Mas... Ini apa-apa sih? Kenapa sampai satu mobil box begini?” teriak Aline saat mendapati paket dari Surabaya atas namanya.
Galen yang masih asik dengan makanannya sedikit tersedak mendengar istrinya berteriak dari pintu luar. Kartika dan oma Ratih masih berada di meja makan bersama Galen menunggunya sampai selesai makan.j
“Ada apa?” tanya Tuan Wijaya saat melihat banyak barang yang di keluarkan dari dalam mobil box berukuran besar.
“Letakkan di sebelah sana saja, Mas?” titah Aline pada petugas kurir seraya menunjukkan tempat kosong di samping ruang tamu.
“Mas Galen, aku minta dibelikan oleh-oleh hanya beberapa macam saja. Paling saru box banyaknya. Lah sekarang yang datang malah baru ngisi satu toko.” Aline menggelengkan kepala memberitahu kan Tuan Wijaya soal kelakuan putranya.
Tempat bermain baby Zayn. Jika siang hari tempat itu akan penuh dengan berbagai macam mainan anak-anak, sore hari baby sitter sudah Membersihkannya.
Aline mengira hanya satu box makanan yang kurir paket keluarkan. Setelah bertanya kepada kurir tersebut ternyata semua atas nama Aline Barsha. Alangkah terkejutnya dia. Mendapatkan banyak makanan dengan berbagai rasa dan jenis.
“Sudah selesai semua, Bu!” ucap Kurir paket itu.
“Terima kasih, Mas!” balas Aline sambil melepas kepergian si kurir paket yang membawa segudang makanan pesanannya.
Usai makan Galen bersama Oma dan Kartika menyusul nya. Aline terlihat sedang membongkar isi kardus satu persatu.
“Ini sih, beneran buat ngisi toko!” gumam Aline dengan keterkejutannya.
“Banyak sekali!” Celetuk Galen yang muncul tiba-tiba di ruang tamu.
__ADS_1
“Wah, banyak sekali makanannya. Bisa betah aku si sini kalau begini caranya,” timpal Kartika ketika melihat Aline sedang membongkar beberapa kardus.
Aline menghampiri Galen yang ikut terkejut melihat kiriman paket yang ia kirim.
Galen tidak menyangka ternyata bisa sebanyak itu. Pantas saja ia saat membayar tagihan dari toko tadi siang. Galen harus membayar dengan jumlah yang besar. Sesuai dengan jumlah barang ternyata.
“Mas, kamu ini, gak bisa ketitipan pesanan ya? Untuk apa makanan sebanyak ini coba? Aku hanya minta ini saja, kenapa jadi satu toko yang kamu beli?” Aline memasang wajah marah kepada Galen sambil menunjukkan beberapa makanan yang ia ambil dari masing-masing kardus
Suaminya itu hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Telah salah melakukan sesuatu.
“Mas 'kan tidak tau kamu suka nya rasa apa? Jadi, Mas suruh pelayan toko ambil semua barang dengan berbagai rasa,” ucapnya pelan sambil mengikuti langkah Aline yang masih cemberut karena kesal.
Kartika terlihat begitu bersemangat memilih berbagai macam makanan beraneka rasa khas Surabaya itu. “Wah... ternyata ada kopi jahe juga, Pah?” ucapnya Pada Tuan Wijaya yang ikut melihat-lihat isi setiap kardus.
Begitu juga Oma Ratih. Wanita paruh baya itu lekas mendekati pelan Kartika dan Tuan Wijaya menggunakan tongkatnya.
“Kelakuannya sama sepertimu dulu. Kamu ingat saat Indira minta dibelikan pembalut saat stoknya habis,” ucap Oma Ratih.
Tuan Wijaya diam sambil berpikir, mengingat-ngingat kenangan masa lalunya bersama Indira.
“Aku beli pembalut dari berbagai merk dari tak bersayap hingga bersayap dengan berbagai ukuran. Semua aku beli karena bingung harus beli yang mana, niatnya sih hanya tidak mau membuat Indira kecewa. Sikap Aline sama persis seperti Indira waktu itu, dan bodohnya Galen---,” Tuan Wijaya terdiam tidak melanjutkan ucapannya.
“Bodohnya Kak Galen sama dengan Papa!” sambung Kartika dan mendapat cekikikan dari gadis itu dan Oma Ratih.
Keduanya lekas masuk kembali ke ruang keluarga, ingin menikmati oleh-oleh yang Galen bawa.
Tuan Wijaya ingin marah tapi perkataan putrinya itu memang benar adanya. Kelakuan Galen sama persis dengannya. sifatnya pun sama, setia pada satu wanita.
Dalam diam Tuan Wijaya menatap dinding dimana ada gambar foto Indira di sana.
'Aku rindu padamu, Sayang'
Batinnya sambil terus menatap wajah cantik dari wanita yang sudah sangat lama meninggalkannya.
.
.
.
.
...Bersambung...
__ADS_1
Sabar Pak duda, janda lagi otw....