
Aline jalan dengan tergesa-gesa, mencari tempat aman untuk bersembunyi agar tidak berpapasan dengan Tuan Wijaya dan keluarganya yang sedang berjalan cepat menuju lift seraya menggandeng nenek tua yang masih gagah, tak terlihat jelas wajah nenek itu. Di sebelahnya nenek itu berdiri wanita cantik yang berjalan anggun mengikuti langkah Tuan Wijaya memasuki lift.
"Untung udah keluar dari lift, kalau tidak buru-buru bisa bertemu mereka," ucap Aline seraya mengelus dadanya pelan. Ia bersembunyi di balik tembok dekat toilet. Dengan gerakan cepat Aline berbalik badan. ingin segera mencari keberadaan Ayah zaki, tapi gerakannya menabrak tubuh pria berjas hitam. Tubuh Aline hanya sebatas pundak jika disandingkan dengannya. Penampilan pria itu sungguh berwibawa seperti seorang CEO.
Pria tersebut baru saja keluar dari toilet. Badannya sama sekali tak bergerak saat Aline menabraknya.
"Aww...," keluh Aline saat wajahnya mengenai dada bidang pria bidang yang menunduk melihatnya sehingga membuat kacamata besarnya lepas dari wajah manis Aline.
"Kalau jalan hati-hati!" ucap Bara seraya berjongkok membantu mengambil kacamata Aline yang terjatuh.
Aline seperti Devaju dengan situasi ini, teringat pertemuan Aline dan Galen sama seperti yang dialaminya saat ini. Ia diam tak bereaksi saat Bara berdiri menyodorkan kacamata miliknya. Pandangannya kosong menatap ke bawah.
"Hei... malah melamun, dia!" tegur Bara sontak membuat Aline tersadar dari lamunannya.
"Ah, ya, maaf sudah menghalangi jalan Anda." Aline mendongak ke arah Bara. Mata berbulu lentik dengan bola mata cokelat itu berkedip saat memandang Bara.
Senyum simpul Aline menimbulkan lesung pipi di wajahnya. merasa tak enak hati telah menabraknya.
"Cantik, tapi sepertinya Aku pernah melihatnya?" ucap Bara dalam hati. Kemudian mengingat di mana Bara melihat Aline.
"Dia, 'kan, gadis yang bersama Galen di acara penghargaan perfilman itu!" ucapnya kembali dalam hati.
"Mas ... woi! yah, dia malah gantian bengong!" Aline segera merebut kacamata di tangan Bara. "Terima kasih, sekali lagi maaf, ya!" Aline membungkukan sedikit badannya kepada Bara kemudian meninggalkan Bara yang terdiam memandangnya.
Bara hanya bisa tersenyum melihat sikap Aline. Dari tempatnya berdiri, pandangan Bara terus berpusat pada tubuh gadis yang baru saja menabraknya, hingga tubuh itu menghilang sampai luar gedung rumah sakit.
"Kenapa dia harus menutupi kecantikannya? sedang apa dia di sini? bukan kah dia juga mengalami luka saat kecelakaan bersama Galen?" Bara diam dengan segala pemikirannya.
Di luar gedung rumah sakit, Aline hilir mudik mencari Ayah Zaki, bertanya kepada satpam dan beberapa orang di sana. Menyebutkan ciri-ciri ayahnya. Sampai kepanikannya melupakan cara gampang untuk mengetahui keberadaan sang Ayah.
"Oh, ya. Kenapa tidak di telpon aja ya? ih dasar Aline kalau lagi panik gini, otaknya jadi males mikir, " efeknya pada diri sendiri.
__ADS_1
Di rogohnya ponsel yang ada di dalam tasnya. Segera ia menghubungi Ayahnya.
tutt... tutt...
"Ko, gak diangkat sih? duh jangan-jangan Ayah lagi diintrogasi lagi sama penjaga itu." Aline semakin dibuat cemas. Dicobanya kembali menghubungi nomer Ayah Zaki.
"Halo, Nak!" jawab Ayah Zaki dari sebrang telpon.
"Alhamdulillah... Ayah jawab juga!" seru Aline saat mendengar suara Ayah Zaki.
"Ayah di mana? gak kenapa-napa 'kan? Aline dari tadi nyariin!" cerocos Aline.
"Kamu sudah selesai dengan Galen, 'kan?kita pulang sekarang Ayah ada di parkiran rumah sakit, cepat!" titah Ayah Zaki.
"Iya, Yah. Aline sebentar lagi sampai parkiran. Tunggu, ya!" Aline berjalan cepat menemui Ayah Zaki.
...๐๐๐...
Gadis yang pernah menjalin hubungan dengan Galen itu, tak pernah menyangka bahwa pria yang ia tinggalkan saat rasa sayang itu sedang membuncah di hati Galen yang merupakan penerus kepemimpinan di perusahaan ternama di Indonesia.
Sepanjang perjalanannya, Bella bercerita kepada Oma Ratih alasan kepergiannya ke luar negeri untuk mengejar pendidikannya. Padahal itu semua bohong. Selama dekat dengan Galen. Bella sama sekali tidak mengetahui status pria tersebut, yang Bella tau Galen adalah pria biasa yang kerja di sebuah perusahaan. Karena itulah dia memilih meninggalkan Galen lalu pergi bersama pria lain yang lebih sering mengajaknya shoping dan membelikan barang-barang mewah.
Awalnya Galen terpuruk karena kepergian Bella, tapi setelah mencari informasi tentangnya, Galen kecewa dan balik membencinya Wanita yang sudah meninggalkannya. Kalau saja Bella tau status Galen, pasti dia akan lebih memilih bersamanya daripada harus pergi dengan pria bule itu.
Acara yang disiarkan live beberapa hari lalu, membuat Bella terkejut. Melihat berita yang beredar tentang Tuan Muda Alex yang selama ini tak pernah mau mengungkapkan siapa dirinya itu ternyata pria yang sudah di tinggalkannya tanpa alasan.
Bella pun bertekad kembali ke negara asalnya setelah melihat berita tersebut. Pacar bule yang menjanjikan kemewahan dan kesenangan padanya hanya memberinya kesenangan sesaat, selebihnya Bella hanya dijadikan pemuas batin saja.
Bagai mendapat lotre, Bella langsung bersedia saat anak buah Tuan Wijaya menemukannya di rumah kedua orang tuanya. Memang niat awal Bella akan mendekati Galen kembali sesampainya di Indonesia. Gayung bersambut, seakan Tuhan memperlancar aksinya. Wanita yang gila kemewahan itu akan melakukan segala cara agar bisa meraih cinta Galen kembali.
Perjalanan menuju rumah sakit sebentar lagi sampai. Tuan Wijaya mendapat dua kabar bahagia dari Aldo dan Tomy.
Tomy mengabarkan sedang bersama Tuan Zaki Rahmadi, orang yang selama ini dicari Tuan Wijaya. Sedangkan Aldo mengabari kondisi Galen yang sadar dari komanya.
__ADS_1
Tuan Wijaya lebih memilih melihat kondisi Galen terlebih dulu, serta menyuruh Tomy menemani Zaki sampai ia datang menemuinya.
Di parkiran rumah sakit
"Ayah ...!" panggil Aline lalu berjalan mendekatinya.
"Syukurlah, Ayah gak kenapa-napa? Aline khawatir sandiwara Ayah terbongkar tadi!" Aline menerima helm yang disodorkan Ayah Zaki lalu memakainya.
"Sandiwara." Ayah Zaki mengernyitkan dahi bingung, lalu mengingat kalau Aline belum tahu masa lalunya bersama Tuan Wijaya.
"Tadi ko bisa, asisten Tuan Wijaya kenal sama Ayah?" tanya Aline masih penasaran dengan apa yang dilihatnya tadi.
"Nanti Ayah ceritakan, sekarang kita pulang! Kamu sudah bertemu kan dengan Galen. Syukurlah kalau tidak ada yang mengenalimu, Sudah siap pulang? kangennya terobati 'kan? jadi jangan bengong dan sedih lagi, Ok!" goda Ayah Zaki.
Aline tersenyum mendengar godaan dari ayahnya.
"Siap, Yah!" Aline begitu bersemangat. Tapi hatinya belum merasa puas, meski merasa senang melihat Galen sadar karena kehadirannya. Aline ingin menemani Galen dalam masa penyembuhannya.
Aline sedikit tenang saat keluar dari ruangan ICU. Aldo asisten Galen akan selalu memberikan informasi mengenai pria yang baru saja sadar dari koma itu.
Aline dan Ayah Zaki pulang dengan perasaan lega. Aline lega bisa bertemu dan melihat keadaan Galen, dan Ayah Zaki pun merasa lega tak jadi bertemu Tuan Wijaya. Ayah Zaki masih belum siap bertemu sahabat lamanya itu, yang sudah menorehkan fitnah dan membuat hidupnya berada di titik terendah saat itu.
.
.
.
bersambung
Jangan lupa like komen dan beri dukungan untuk karya teteh ini.
Salam hangat dari teteh Author Mayya_zha๐๐๐
__ADS_1